Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Cakra, Carlos dan Calista


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepat, tidak terasa Kama dan Kalila sudah berusia 2 bulan. Keduanya sekarang terlihat sangat gemuk dan menggemaskan. Cantika yang memilih untuk menunda kuliah, sering mengunjungi Anin untuk melihat bagaimana cara wanita itu mengurus bayi-bayinya. Bukan hanya pada Anin, Cantika juga sering belajar pada Celyn.


Seperti hari ini, Cantika dengan perutnya yang sangat besar, kembali berkunjung ke rumah Anin. Walaupun sebenarnya sudah dilarang, mengingat hari untuk Cantika melahirkan tinggal menunggu hari.


"Hallo baby, Lila! lihat mama mertuamu sudah datang!" masih di depan pintu Cantika sudah berteriak dengan suara cemprengnya.


"Cantika, bisa tidak kalau datang itu gak usah pakai teriak-teriak! lagian siapa yang kamu panggil menantu? Lila itu masih kecil. Lagian anakmu aja belum lahir udah mau main jodoh-jodohan aja," protes Anin dengan mata yang mendelik, kesal.


Cantika tidak merasa sakit hati sama sekali mendengar jawaban ketus dari Anin, karena dirinya sudah terbiasa dengan sikap Anin yang seperti itu


"Ih, kan cuma bercanda,Kak. Lagian kenapa sih tidak mau menjadikan anakku menantumu?Aku berani jaminan kalau putraku nanti pasti tampan dan kalian tidak akan menyesal punya mantu seperti putraku," ucap Cantika dengan PD-nya, membuat Anin hanya menggelengkan kepala dan menghela napas seraya mengusap dadanya


"Lho, Arick kok ada di sini, Kak?" tanya Cantika, ketika melihat Arick yang sekarang berusia, 1setengah tahun itu, bermain sendirian.


"Hmm celyn kan lagi ada di sini. Dia lagi main sama Kama dan Lila di kamar." sahut Anin.


"Lho, ternyata kamu datang, Cantika. Kamu ada lihat Arick?" tiba-tiba Celyn sudah berdiri di anak tangga dengan mata yang mengedar mencari keberadaan putra sulungnya itu.


"Dia tadi ada di sana! eh, di mana dia?" Cantika kaget karena tidak melihat adanya Arick di tempat yang dia tunjuk.


"Arick! Arick sayang? kamu dimana? mau ngajak mama main petak umpet ya?" Celyn memanggil dengan lembut, berharap putranya itu, datang menghampirinya.


Cantika dan Anin tidak mau berdiam diri. Mereka juga ikut serta mencari Arick. Cantika pun berjalan ke arah dapur. Alangkah kagetnya dia, melihat Arick yang sudah duduk di tepi meja makan.


"Kak Celyn, ini dia Aricknya!" teriak Cantika hingga membuat Arick kaget dan mau terjatuh.


Cantika sontak berlari untuk menangkap tubuh Arick supaya bocah itu tidak terjatuh ke lantai.


"Astaga, Arick! kamu kok bisa sampai di atas meja sih, Sayang?" ucap Celyn, langsung mengambil Arick dari tangan Cantika.


"Kamu kenapa Cantika?" tanya Anin dengan wajah panik melihat Cantika yang meringis kesakitan.


"Cantika! ketubanmu sudah pecah, kamu harus melahirkan Sekarang. Bagaimana ini?" Anin dan Celyn terliht panik.


"Aduh, sakittt, sakit sekali kakak." Cantika merintih sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Bagaimana ini? kita harus bagaimana?" ucap Anin dengan panik.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari kedua bayinya dari atas.


"Astaga Arend sendirian di atas!" pekik Celyn sambil berlari ke atas, meninggalkan Anin yang panik sendiri, bingung mau ngelakuin apa. Antara mau naik naik ke atas, melihat keadaan kedua anaknya atau menenangkan Cantika.


"Cantika mana ponselmu? biar aku telepon Calvin,"


Cantika tidak menjawab sama sekali karena rasa sakit yang dia rasakan. Akan tetapi dia memberikan tas yang masih dia pegang ke arah Anin.


Anin dengan sigap langsung mencari ponsel Cantika di dalam tas itu.


"Siapa nama Calvin di kontakmu?" tanya Anin yang tidak menemukan nama Calvin di daftar.


Anin tidak menemukan jawaban apa-apa dari mulut Cantika. Akhirnya dia melihat daftar panggilan terakhir, dan melihat ada nama 'mesin Atma-ku' di sana.


"Dasar, buat nama suami kok mesin ATM-ku sih?" Anin menggelengkan kepalanya seraya menghubungi pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Calvin memaksa untuk ikut masuk, walaupun pada awalnya, dokter tidak mengizinkan. Tetapi, karena dirinya memohon dan Aby juga meminta dokter untuk mengizinkannya, Akhirnya dokter mengalah dan mengizinkan pria itu masuk.


Calvin meringis melihat dengan jelas bagaimana perut istrinya itu dibelah dan dokter mengeluarkan anaknya satu-persatu.


Anak pertama berjenis kelamin laki-laki, demikian juga dengan yang kedua. Sedangkan yang ketiga berjenis kelamin perempuan.


Calvin mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi di puncak kepala sang istri dan berulangkali mengucapkan terima kasih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cantika kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan ruangannya kini sudah penuh dengan orang-orang.


Semuanya tidak sabar untuk melihat baby triplet yang tertidur dengan pulas di box bayi bayi besar.


Satu-satunya orang yang paling heboh adalah Bagas. Dari tadi dia sibuk memamerkan ketiga cucunya itu pada Rio.

__ADS_1


"Bisa tidak kamu berhenti meledekku?" ucap Rio dengan ekspresi wajah kesal.


"Tidak bisa! karena melihat wajah kesalmu, suatu kebahagiaan buatku!" ucap Bagas yang membuat Rio mendengus.


"Besok, aku akan menikahkan Rico, biar aku cepat punya cucu." Ucap Rio di sela-sela rasaa kesalnya.


"Bisa tidak kalian berdua berhenti saling meledek? apa kalian tidak capek?" celetuk Jasmine.


"Kamu juga, bisa tidak berhenti meledek Rio? Kalau tidak bisa, kamu Lebih baik keluar saja dari sini!" cetus Clara sambil menatap tajam ke arah Bagas.


Kedua pria itu pun seketika terdiam, tidak mau berdebat lagi.


"Siapa nama mereka, Cal?" Aby buka suara.


"Putra sulungku Cakra Bima yang artinya, melindungi dan luar biasa, yang kedua Carlos Bimo yang artinya hebat dan luar biasa. Kalau putriku namanya Calista Binar yang artinya perempuan tercantik dan bersinar terang," tutur Calvin dengan bangganya.


"Wah nama yang bagus, aku suka!" ujar Bagas dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


Calvin kemudian menghampiri Arick dan menggendongnya serta membawanya ke arah box dimana ketiga bayi yang baru lahir itu dibaringkan.


"Arick, ayo bilang halo, sama calon istrimu. Kamu mau kan nanti jadi suami Calista?"


Arick yang tidak mengerti sama sekali, menganggukkan kepalanya dengan wajah datar seperti Aby papanya.


"Calvin! kamu apa-apaan sih? jangan main jodoh-jodohkan sekarang. Mereka masih kecil, biarkan mereka mencari pasangan masing-masing yang merek cinta kelak, " ujar Aby.


"Hmm, Biarin aja. Gak salahkan bilangnya dari sekarang. Kalau Arick dan Calista memang tidak berjodoh, sama Arend juga gak pa-pa. Kamu dan Kenjo sudah iparan, aku mau kita berdua besanan, biar adil." Ucap Calvin, membuat Aby dan Kenjo berdecak sambil menggelengkan kepalanya.


"Terserah kamu deh!" ucap Aby pasrah.


"Aku juga mau dong, si Cakra jadi menatuku nantinya buat Kalila," celetuk Anin yang merasa gemas melihat bayi itu, membuat Kenjo mendelik ke arah istrinya itu.


"Bukannya Kak Anin tadi gak suka aku panggil Kalila menatuku? kenapa sekarang mau?"


"Yang tadi sama yang sekarang beda.Tadi kan belum lahir, sekarang kan sudah lahir." ujar Anin sekenanya.

__ADS_1


Kenjo dan Aby hanya bisa menghela napas sambil mengusap wajah masing-masing dengan kasar.


__ADS_2