Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Ekstra part 1


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Roni dan Mita akhirnya sudah tiba. Mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami-istri.


Mereka berdua mengadakan resepsi di hotel milik Roni (Lumayan nggak bayar sewa gedung, uang senilai ratusan juta, selamat)


Ruangan ballromm itu, dihias dengan sangat indah, dengan nuansa putih dan bagai di negri dongeng.



Semua sajian makanan juga sangat mewah da pastinya lezat.


Di dalam sebuah kamar Roni sudah tampak gagah dan tampan dibalut dengan tuxedo hitamnya.



Demikian juga dengan Mita yang tampak cantik dengan gaun weddingnya.



Kini mereka berdua berjalan bersama dengan tangan Mita yang masuk di sela-sela tangan Roni, menuju pelaminan yang dihias tidak jauh berbeda dengan tempat para tamu, yaitu putih



Lagu, beautiful in white' mengalun lembut, mengiringi langkah kedua mempelai itu. Jodi sang ayah yang biasa tegar, kini tanpa sadar meneteskan air mata, melihat putranya yang sudah menemukan tambatan hati sama seperti Reyna putrinya.


Bukan hanya Jodi, Reyna juga merasakan hal yang sama. Dia bahkan menangis sesunggukan, ketika melihat kakaknya yang terlihat begitu bahagia berjalan menuju pelaminan dengan menggandeng Mita. Kedua insan itu, tersenyum sambil sesekali saling menatap dengan penuh cinta.


"Sayang, jangan menangis begitu akh! nanti anak kita akan ikut menangis lho. Kamu mau anak kita nanti jadi cengeng? Lagian masa jagoan bisa nangis, benar-benar gak cocok tahu," Adrian mencoba menghibur istrinya dengan cara meledek.

__ADS_1


Bibir Adrian yang tadinya melengkung ke atas, tiba-tiba langsung berubah melengkung ke bawah, disertai dengan kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri, begitu melihat sorot mata Reyna yang menghunus tajam ke arahnya.


"Asal kamu tahu, aku tidak cengeng. Aku ini sedang terharu. Kamu tahukan bedanya nangis karena cengeng atau nangis karena terharu? kalau tidak tahu, kamu sebaiknya belajar lagi. Percuma kami lulus cepat dengan nilai tinggi, tapi membedakan itu saja tidak tahu," Reyna mencerocos dengan sangat cepat, hampir tidak memiliki koma dalam setiap ucapannya.


"Yang penting kan, ada persamaannya, sama-sama nangis." ucap Adrian yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


"Iya, Sayang. Maaf!" desis Adrian, lirih.


"Jangan sekali-sekali kamu mendebat, wanita hamil, kalau mau hidupmu tenang," bisik Aby sambil menepuk-nepuk pundak adik bungsunya itu.


Adrian tidak menjawab sama sekali. Dia hanya mampu mende*sah. Karena dia tahu semenjak Reyna hamil, mood istrinya itu memang sangat sukar untuk dibaca.


Reyna yang tidak kuat untuk berdiri lagi, akhirnya mendaratkan tubuhnya dan menarik keras tangan Adrian untuk ikut duduk bersamanya.


Sementara itu, yang lainnya kembali duduk setelah sepasang pengantin itu, sudah duduk dengan sempurna di atas singgasana mereka, ataupun yang sering disebut 'pelaminan'.


Dia berkali-kali menarik tissue dari atas meja, untuk menyeka peluh yang menetes dari pelipisnya.


"Kamu kenapa, Reyna? Kenapa kamu terlihat pucat?" Celyn yang melihat perubahan wajah Reyna bertanya dengan alis yang bertaut.


"Ka-kamu kenapa, Sayang?" Adrian yang tadinya asik berbicara dengan Aby kakaknya, Calvin dan Kenjo, langsung mengalihkan perhatiannya pada Reyna setelah mendengar ucapan Celyn, kakak iparnya.


"Pe-perutku sakit, Sayang. Tadi sih hanya sekali-sekali. Tapi sekarang sakitnya sangat intens tanpa jeda."


"Bawa istrimu ke rumah sakit, Rian. Reyna mau melahirkan itu, " titah Celyn dengan wajah panik. Dia tahu jelas bagaimana sakitnya kalau hendak mau melahirkan.


Adrian sontak berdiri dan mengangkat Reyna ala bridal style, untuk menuju rumah sakit.

__ADS_1


"Nak, nak, kenapa sih kamu mau keluar, tidak kenal waktu? kenapa harus sekarang coba?"


Mendengar gerutuan Adrian membuat, Reyna kesal. Dia pun menarik keras rambut Adrian karena dalam keadaan dirinya yang kesakitan, masih sempat-sempatnya Adrian suaminya, menyeletuk seperti itu.


Reyna tidak berhenti berteriak di dalam mobil, yang dikemudikan oleh salah satu pengawal keluarganya. Rambut Adrian jadi sasaran Reyna, dan Adrian hanya bisa pasrah, walaupun dia merasakan sakit ketika rambutnya berkali-kali ditarik oleh istrinya itu. Bahkan kancing jas yang dia pakai sudah tidak tahu kemana jatuhnya, demikian juga dengan kancing kemeja atasnya sudah copot, hilang entah kemana. Adrian hanya bisa diam karena dia berpikir kesakitan yang dirasakan oleh istrinya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan sang istri.


"Sabar, Sayang! sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." ucapnya di tengah kepanikannya.


Begitu sampai di depan rumah sakit, dokter dan beberapa perawat sudah standby, menunggu karena perintah Aby. Para petugas medis itu segera membantu Adrian membaringkan Reyna di atas brankar dan langsung mendorong brankar itu menuju ke ruang bersalin.


Beruntungnya, acara sudah hampir berakhir dan para tamu sudah banyak yang pulang. Sehingga tidak perlu untu menunggu lama, seluruh keluarga termasuk pengantin baru, sudah ada di depan ruang bersalin. Raut wajah mereka yang tadinya terlihat khawatir, langsung berbinar, begitu mendengar suara tangisan bayi dari arah ruang bersalin.


Begitu anaknya yang berjenis kelamin perempuan lahir, Adrian meneteskan air mata, dan menghampiri Reyna istrinya.


"Terima kasih, Sayang! terima kasih sudah berjuang melahirkan anak kita." ucap Adrian tulus seraya memberikan kecupan yang bertubi-tubi di puncak kepala istrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Reyna selesai dibersihkan, Reyna dipindahkan ke ruangan perawatan, dan rentetan ucapan selamat langsung diterima oleh Reyna dari semua keluarga dan sahabat.


"Ih, cantik sekali cucu Oma," ucap Amana sambil mengambil alih baby girl itu dari tangan perawat yang baru saja masuk dengan membawa anak Adrian dan Reyna.


"Siapa nama cucuku ini Adrian? jangan susah-susah, biar papa, gampang mengingatnya." celetuk Ardan yang dibalas dengan tawa oleh semua yang ada di ruangan itu.


"Nggak susah kok, Pah. Namanya Andrea Ratnaduhita Bagaskara. Artinya perempuan bagaikan permata dan tangguh. Aku ingin dia tangguh seperti mamanya," ucap Adrian tegas dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.


"Welcome to the world Baby Andrea!

__ADS_1


__ADS_2