Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kirim saja Clara jadi sekretarisku


__ADS_3

Ketiga pria tampan itu, Ardan, Rio dan Bagas, terlihat berjalan dengan gagahnya memasuki sebuah restoran mewah. Kehadiran mereka langsung mencuri perhatian dari para tamu yang sedang makan siang di tempat itu.


Banyak gadis yang tadinya bermulut lemes tiba-tiba berubah alim dengan memasang wajah 'innocent'nya. Berharap ketiga pria itu memperhatikan mereka dan syukur-syukur bisa kepincut.


Bibir yang tadinya melengkung ke atas, langsung berubah melengkung kebawah, begitu ketiga pria itu sama sekali tidak melirik ke arah mereka.


Ardan terlihat merogoh ponselnya dari dalam saku dan seperti biasa, langsung menghubungi Amanda, istrinya.


"Halo, Sayang. Lagi ngapain nih?" tanya Ardan.


"...."


"Oh, ini lagi mau makan siang, Sayang."


"...."


"Biasa, sama Rio dan kali ini ada Bagas juga. Oh ya, kamu jangan lupa makan juga ya. Nanti aku akan usahakan pulang cepat. Love you." Ardan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, setelah panggilannya dengan Amanda terputus.


Setelah Ardan selesai melakukan panggilan dengan Amanda, sekarang giliran Rio melakukan hal yang sama. Bagas hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri, merasa kesal dengan tingkah sahabatnya yang tidak berhenti-henti meledeknya.


Tiba-tiba ponsel Bagas berbunyi, dan dia langsung merogoh sakunya untuk melihat siapa yang sedang menelepon. Bagas, menghela napasnya, melihat si pemanggil yang ternyata dari mamanya. Ingin mengabaikan Taku dosa, ingin menjawab, pasti ujung-ujungnya akan dapat ledekan dari kedua sahabatnya itu.


Bagas akhirnya lebih memilih diledekin daripada nambah dosa. " Halo, Mah!"


"Kamu udah makan siang, Nak?" terdengar suara ibunya dari ujung telepon.


"Ini lagi mau makan siang, Ma sama Ardan dan Rio," sahut Bagas dengan ekor mata yang melirik kedua sahabatnya yang terlihat sedang menahan tawa.


"Ya, udah. Mama matiin ya telponnya. Jangan lupa pesan mama, Cari Istri!" pesan yang hampir tiap hari selalu tidak lupa diucapkan oleh mamanya, mengakhiri panggilan itu.


"Apa lihat-lihat?!" Bagas mendelik ke arah Ardan dan Rio yang menatapnya dengan tatapan, meledek.


Pesanan mereka akhirnya datang, dan mereka pun langsung menyantap tanpa suara. Ketika lagi asyik menikmati makanan, mereka melihat seorang pemuda yang dari seragamnya terlihat, kalau dia pelayan di restoran ini, sedang dibentak-bentak oleh pelanggan karena membela dirinya yang dianggap teledor dengan membawa pesanan yang tidak sesuai dengan orderan sang pelanggan.


"Maaf ya, Bu.Tapi, Ibu memang memesan menu ini." Ucap pemuda itu, berusaha sopan.

__ADS_1


"Kamu berani membantah ya? Aku sudah bilang bukan ini ya bukan ini! kamu sudah miskin, kerjaan hanya pelayan saja udah belagu, dasar tidak tahu diri kamu!" pelanggan wanita itu tidak terlihat tidak mau mengalah dan malah menghina si pelayan.


"Kalau begitu, aku akan ganti lagi pesanannya," Pemuda itu terlihat berusaha menahan diri dengan bersikap sabar.


"Tidak usah ... tidak usah! seleraku terlanjur hilang makan di sini. Alergi aku melihat mukamu. Gak punya sopan santun. Kamu tidak pernah diajari sopan santun ya sama orang tuamu?"


Brak ....


Pemuda itu menggebrak meja, hingga pelanggan itu terjengkit kaget.


"Ada hak apa anda mengatai orang tuaku? anda mengatakan aku tidak punya sopan santun? apa nggak salah? harusnya anda berkaca pada diri anda sendiri, apa anda sudah punya etika sopan santun? menghina seenaknya, apa itu yang anda sebut sopan santun? dengar, ibu saya selalu mengajarkan kesopan-santunan, bukan jadi orang lemah. Aku sudah sopan, tapi aku bukan orang lemah, yang bisa seenak hati anda hina. Aku boleh anda hina, tapi tidak dengan orang tuaku. Karena apa? karena dirimu tidak bisa dibandingkan dengan mamaku!" ucap pemuda itu dengan tegas. Ketegasan pria itu, membuat tiga pria tampan di ujung sana menatap kagum.


"Yuda! kamu sungguh keterlaluan!" tiba-tiba sang manager perusahaan, muncul dengan tergopoh-gopoh dari ruangannya, begitu mendapat laporan kalau di depan ada keributan.


Sang manger memarahi pemuda bernama Yuda itu dan memaksanya untuk minta maaf. Tapi pemuda itu, tetap bergeming tidak mau meminta maaf. Alhasil manager itupun memecat Yuda hari itu juga.


Pelanggan wanita itu, tersenyum kemenangan melihat Yuda dipecat dengan tidak hormat. Dengan senyum kemenangan, dia beranjak keluar meninggalkan restoran, setelah dijanjikan akan makan gratis di restoran itu selama seminggu, sebagai permintaan maaf.


"Yuda, karena perbuatan kamu, restoran ini sudah mengalami kerugian yang sangat banyak, jadi kamu harus ganti rugi sekarang. Gaji kamu sebulan ini saja tidak cukup untuk membayar ganti rugi." ucap manager itu, sengit.


"Orang seperti kamu harusnya sadar diri. Pelayan seperi kamu, tidak pantas memiliki harga diri." Sang manager, kini ikut merendahkan Yuda.


Yuda terlihat menggeram dengan mengepalkan tangannya. "Bu, apa orang miskin seperti saya, tidak pantas memiliki harga diri? dengar, Bu. Aku sebenarnya bukan pembangkang. Tapi aku akan membangkang demi membela harga diriku. Kita semua sama di mata Tuhan, yang membedakan kita hanya, aku miskin dan anda kaya. Tapi, Bu bumi itu berputar, belum tentu Ibu nantinya akan berada seperti di posisi sekarang."


"Kamu mengutukku, jatuh miskin?" bentak sang manager dengan sengit.


"Bukan mengutuk Ibu. Tapi memang terlihat jelas, kalau Ibu sama sekali tidak cocok jadi seorang pemimpin. Pemimpin yang mengayomi bawahannya, yang bijaksana dalam membela siapa. Yang ada di kepala anda hanya uang dan uang. Pemimpin yang bagus itu seharusnya tahu dulu duduk permasalahannya baru bisa menentukan jalan penyelesaiannya. Anda melihat pelanggan tadi kaya, makanya anda bela, sedangkan saya yang tidak memiliki apa-apa, anda salahkan. Dan satu hal lagi, anda memecat saya di sini di depan orang banyak, anda berharap kalau orang-orang di sini akan menganggap anda tegas, tapi anda salah, sekarang anda justru sedang mempertontonkan ketidakmampuan anda sebagai pemimpin yang bijaksana. Seorang pemimpin yang baik itu seharusnya membawa bawahannya ke tempat lain, dan mengajak bicara empat mata, bukan dengan cara begini," Yuda menyeringai sini ke arah sang manager.


"Hei, diam mulut kamu! Apa gak kamu mengajari saya?! sekarang kamu bayar semua ganti rugi, dan jangan tinggalkan tempat ini sebelum kamu membayarnya. Kalau tidak kamu aku laporkan ke polisi." Pungkas manager itu dengan wajah memerah menahan malu, karena sekarang seperti didikte oleh seorang pemuda yang menurutnya tidak layak.


Ardan hendak melangkah untuk membantu sang pemuda membayar ganti rugi yang diminta oleh sang manager. Akan tetapi, dia mengurungkan langkahnya ketika dia mendengar derap langkah sepatu yang berbenturan dengan lantai, serta suara seorang wanita yang memanggil nama pemuda itu.


"Yuda! ada apa ini? Kenapa kamu bisa bekerja di sini?"


"Kak, Clara ...." gumam Yuda dengan ekor mata yang melirik tajam ke arah sahabatnya, yang dia yakini sudah menghubungi kakaknya itu. Tampak sahabatnya itu meringis dengan mengangkat tangannya dengan jari yang membentuk huruf V.

__ADS_1


Bukan hanya Yuda yang tersentak kaget. Ardan, Rio dan Bagas juga kaget dengan kemunculan Clara. Berbagai spekulasi muncul di kepala ketiga pria itu. Khususnya Bagas. " Wah, wanita ini ternyata suka sama brondong, ckckck," bisik Bagas pada dirinya sendiri.


"Yuda siapanya anda?" tanya manager itu, menyelidik.


"Dia adik saya. Kenapa?" ucap Clara tegas.


"Oh, adiknya ternyata," lagi-lagi Bagas membatin, yang entah kenapa ada perasaan lega yang timbul.


"Oh, anda kakaknya? sekarang tolong anda membayar ganti rugi, kekacauan yang adik anda lakukan.


Clara menghela napasnya dengan cukup panjang. "Berapa yang harus aku bayar?" tanyanya


Manager itu menyebutkan nominal yang lumayan besar, dan Clara langsung memberikan kartunya dan membayar sesuai dengan nominal yang disebutkan oleh manager itu.


Setelah urusan selesai, tiba-tiba Clara menarik telinga adiknya dan membawanya pergi dari tempat itu tanpa melepaskan tangannya dari teling sang adik.


"Kamu ya, disekolahin tinggi-tinggi bukannya bikin tenang , malah bikin masalah terus." omel Clara sepanjang jalan keluar.


" Aw, sakit Kak! Aku sudah cari pekerjaan lain kak, tunggu panggilan aja." Yuda yang tadi terlihat garang, kini seperti kucing kelelep air, tak berkutik di depan sang kakak.


"Wow, Galak, tapi lucu." Gumam Bagas tanpa sadar, hingga Ardan dan Rio menatapnya dengan tatapan menyelidik curiga.


"Ada apa? kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Bagas bingung.


"Kamu suka sama Clara?" tanya Ardan yang yang memang tipe explisit atau straight to the point.


"Tidak! kalian jangan mengada-ngada!" sangkal Bagas, membuat Ardan dan Rio berdecih.


"Oh ya, Dan, kayanya Pemuda tadi cocok jadi asisten kamu menggantikan aku. Dari cara dia berbicara, selain tegas sepertinya dia juga memiliki intelektual yang tinggi."


"Aku juga mikirnya seperti itu! Tapi kalau dia jadi asistenku, bagaimana dengan Clara? dia pasti nanti akan jadi bahan gunjingan para karyawan, karena mereka berdua bersaudara dan langsung mendapat jabatan tinggi." Ardan terlihat mempertimbangkan keputusan yang akan dia ambil.


"Gampang! si Clara kamu kirim saja menjadi sekretarisku, dan kamu cari lagi sekretaris lain." usul Bagas tiba-tiba.


"Heh?" Ardan dan Rio sontak menatap Bagas dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2