Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku pura-pura gak tahu aja deh!


__ADS_3

Matahari sudah menyembulkan dirinya dari balik awan, dan tersenyum menyapa bumi. Kelopak mata Celyn bergerak-gerak, pertanda kalau gadis kecil itu sebentar lagi akan bangun dari mimpi indahnya.


Benar saja, perlahan-lahan kelopak mata itu terbuka dan mengerjab-erjab sebentar untuk menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk ke dalam pupil matanya. Celyn mengedarkan matanya, memindai setiap sudut ruangan, bingung karena sekarang dirinya sudah berada di kamarnya sendiri.


"Bukannya tadi malam aku ketiduran di kamar Kak Aby?" batin Celyn.


Kedua matanya sontak membesar dengan sempurna dan langsung melompat dari atas tempat tidur, begitu mengingat kalau tadi malam dia membawa serta boneka kesayangannya ke kediaman Ardan.


"Maaa! paaa!" teriak Celyn sambil menggedor-gedor pintu kamar mama papanya.


"Ada apa sih, Nak? pagi-pagi gini kamu sudah teriak-teriak?" tanya Rio yang berdiri di ambang pintu dengan muka bantalnya.


"Pah, tadi malam boneka barbie, Celyn kalian bawa pulang juga kan?" tanya gadis kecil itu, yang belakangan ini, pelafalan hutu R nya sudah mulai jelas.


"Boneka barbie? yang mana?" tanya Rio bingung.


"Boneka kesayangan Celyn, Pa. Yang Celyn bawa juga tadi malam ke rumah,Om Ardan," jelas Celyn dengan mimik wajah yang terlihat seperti ingin menangis.


"Ada apa ini? kenapa pagi-pagi Celyn sudah ribut, Sayang?" tanya Jasmine yang muncul dari dalam dengan rambut singanya.


"Ma, boneka barbie Celyn mana? mama bawa balik juga kan tadi malam dari rumah om Ardan?" desak Celyn.


Jasmine dan Rio saling silang pandang, dengan wajah bingung. Seketika Jasmine langsung tersadar dan mengingat boneka itu.


"Aduh, maaf Sayang, mama sama papa lupa bawa balik.Tapi, boneka itu pasti ada di rumah Om Ardan. Jadi, nanti mama akan minta tante Amanda buat mengantarnya ke sini. Atau kita menjemputnya nanti ke sana. Kalau tidak, besok, minta tolong sama Anin atau Aby, buat membawanya ke sekolah." bujuk Jasmine dengan lembut seraya mengelus puncak kepala putrinya itu.


Beruntungnya Celyn bisa dibujuk dan dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Sekarang Celyn mandi dulu, ya. Setelah itu kita sarapan sama-sama." ucap Rio sambil mengecup puncak kepala Celyn.


Celyn memutar badannya, dan melangkah kembali menuju kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa sih Celyn suka sekali sama boneka itu? padahal dia kan punya banyak boneka lain yang tidak kalah bagusnya dari itu." tanya Rio dengan manik yang penuh tanda tanya.


Jasmine menghela napasnya dengan sekali hentakan, " Itu salah aku, Mas. Itu boneka aku beli sendiri pas ultah dia bulan lalu. Aby datang tidak membawa kado apa-apa. Ardan Amanda sudah meminta Aby untuk memberikan kado, tapi Aby menolak. Ardan dan Amanda tidak bisa memaksanya. Tahu sendiri kan kalau Aby tuh keras kepala kaya papanya. Jadi, tuh boneka aku beli besoknya, dan aku bilang ke Celyn kalau itu dari Aby. Aku bilang, 'Aby malu ngasihnya, jadi dia minta mama buat ngasih ke kamu' dan aku juga meminta Celyn untuk tidak berterima kasih sama Aby, biar Abynya gak malu. Gitu, mas? aku juga gak nyangka, karena aku bilang tuh boneka dari Aby dia jadi sayang banget sama tuh boneka." terang Jasmine dengan mimik wajah menyesal.


"Lain kali, jangan biasakan berbohong sama anak. Sekalipun itu buat nyenengin anak, tetap saja itu namanya berbohong, dan akan lebih sakit nantinya kalau dia tahu yang sebenarnya." ucap Rio dengan nada pelan, tapi terselip ketegasan di dalam ucapannya.


"Iya, Mas. Maaf!" ucap Jasmine.


"Ya, udah sekarang kamu telepon Amanda dan tanyakan padanya, apa boneka itu ada di sana, kalau ada, kita ke sana sebelum ke dokter kandungan." pungkas Rio, sambil beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Benar, ma. Aby taruh semua tuh boneka-boneka di dalam box ini. Aby nggak bohong." Ucap Aby dengan sangat yakin.


"Tapi, kalau kamu meletakkannya di sini, kemana perginya tuh boneka?" ucap Amanda dengan kening berkerut. Ya, setelah Jasmine tadi menelepon, Amanda langsung mencari boneka yang dimaksud oleh Jasmine.


"Mana Aby tahu." Aby mengangkat kedua bahunya, cuek.


"Anin, juga kan baru bangun, Ma. Jadi Anin belum sempat buka box itu." sahut Anin


Kemudian, Amanda kembali menoleh ke arah Aby yang terlihat santai.


"Apa kamu mengangkat sendiri box ini ke kamar Anin?" tanya Amanda kembali.


"Tidak, aku meminta tolong sama om Jodi buat mengangkatnya ke kamar Anin." Jawab Aby, apa adanya.


"Coba kamu panggil dia!" titah Amanda.


"Iya, Ma!" Aby berjalan ke arah bel dan menekannya, lalu berucap, "Om Jodi, tolong datang ke kamar Anin, sekarang!"


"Tuh anak kenapa sih selalu nyusahin orang? masa hanya karena boneka begitu saja, sampai segitunya. Kan bisa beli yang baru." Aby menggerutu di dalam hati, merasa sangat kesal , paginya sudah terganggu dengan hal remeh seperti ini.

__ADS_1


Tok ... tok ...


"Masuk!" titah Amada dari dalam kamar.


"Iya, Bu, ada apa memanggil saya?" tanya Jodi, sang Bodyguard dengan sopan dan tentu saja dengan kepala menunduk, tidak berani menatap nyonya Ardan.


"Apa tadi malam kamu waktu memindahkan box ini, ada boneka Barbie yang jatuh?" tanya Amanda tanpa basa-basi.


"Tidak, Bu. Setelah aku membawa box itu, aku langsung keluar dari kamar Non Anin." Jawab Jodi, masih tetap dengan kepala yang menunduk.


"Baiklah, kalau begitu kamu bisa keluar lagi. Terima kasih ya, Jod!" ucap, Amanda dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama, Bu! Saya pamit keluar," Jodi, membungkukkan tubuhnya dan berbalik, kemudian melangkah ke luar, seraya berkata dalam hati, "Orang kaya, kok masih mempermasalahkan mainan sih? kan banyak uang, tinggal beli lagi, kan beres."


"Hmm, nanti lagi deh dicarinya." pasrah Amanda. " By, sekarang kamu kembali ke kamar kamu, dan langsung mandi. Anin juga mandi ya, Nak!"


Aby dan Anin menganggukkan kepalanya. Kemudian Anin melangkah masuk ke kamar mandi, Aby melangkah keluar, menuju kamarnya, sedangkan Amanda langsung menghubungi Jasmine kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aby melangkah masuk ke dalam kamarnya, dengan tanda tanya yang berkecamuk di didalam pikirannya.


"Kemana sih tuh boneka? perasaan aku memegangnya, dan memasukkannya langsung ke dalam box. Tapi kok bisa hilang ya?" tanya Aby pada dirinya sendiri.


"Kalau Om Jodi yang ambil kan gak mungkin. Buat apanya coba? Om Jodi kan laki-laki gagah dan masih muda, belum menikah." Lagi-lagi Aby mengajak hatinya untuk bercengkrama, walaupun hatinya itu tidak pernah memberikan jawaban.


"Coba aku lihat, rekaman CCTV deh." gumamnya. Aby sebenarnya tidak suka di kamarnya dipasang CCTV, karena dia merasa privasinya terganggu. Tapi, Ardan papanya bersikeras untuk tetap memasang, demi keamanannya Dan berjanji akan melepasnya, kalau Aby sudah remaja nantinya. Dan apa yang diputuskan oleh Ardan tidak bisa dibantah oleh Aby.


Aby meraih laptopnya, dan langsung melihat rekaman CCTV di dalam kamarnya. Tampak di layar itu, Aby melihat dirinya yang menatap intens ke boneka Celyn. Kedua matanya langsung membesar ketika melihat dirinya sendiri yang memasukkan boneka itu ke dalam lemarinya.


"Aduh, gawat! bisa malu aku nantinya, kalau mengatakan boneka itu aku simpan di dalam lemari. Atau aku bilang saja, aku menemukannya di kolong tempat tidur. Tapi ... tadi kan sudah dicariin semua di segala penjuru kamar ini, sampai ke kolong tempat tidur, dan tuh boneka tidak ada sama sekali. Masa sekarang aku bilang tuh boneka tiba-tiba ada di sana, kan gak logika jadinya.__ Oh, aku diam saja deh, pura-pura nggak tahu," bisik Aby pada dirinya sendiri, seraya langsung menghapus rekaman CCTV itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2