Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Rasa penasaran Adrian


__ADS_3

Adrian mengreyitkan keningnya, ketika begitu masuk ke dalam apartemennya dia mencium ada aroma makanan.


"Apa ada yang masak di sini? tidak mungkin mama datang tiba-tiba ke sini kan?" batin Adrian, meletakkan jaketnya di atas sofa dan langsung melangkah menuju dapur.


Matanya membesar dengan sempurna, terkesiap kaget melihat adanya makanan yang tersaji di atas meja dan masih sedikit mengebulkan asap.


"Si-Siapa yang masak ini?" batin Adrian, penasaran.


Adrian hampir terjangkit kaget ketika ada tangan yang merangkulnya dari belakang dengan kepala yang menyender di punggungnya.


Aroma parfum dari tubuh yang memeluknya, menyeruak hingga ke hidungnya, dan dia sangat mengenal aroma itu.


"Apa begitu besarnya cintaku pada Reyna sehingga aku berhalusinasi mencium aroma parfumnya? tapi, siap yang memelukku ini?" batin Adrian.


Adrian berusaha menepis tangan yang memeluknya, akan tetapi tangan itu semakin erat merangkul pinggangnya.


Setelah rangkulan tangan itu sedikit melonggar, Adrian mencoba melepaskan tangan itu dan memutar tubuhnya untuk melihat ke belakang.


Netranya membola dengan mulut yang sedikit terbuka, begitu melihat sosok gadis yang berdiri di depannya. Adrian mengucek-ngucek matanya, untuk memastikan kalau yang dilihatnya adalah nyata.


Adrian beringsut mundur ke belakang, menyadari kalau sosok yang menurutnya jelmaan dari Reyna itu tidak menghilang.


"Pergi kamu! kamu jangan menggangguku lagi! aku ke sini mau melupakanmu,jadi jangan muncul lagi di depanku!" ucap Adrian, berusaha mengusir Reyna yang dia anggap hanya halusinasinya saja.


Mendengar ucapan Adrian, seketika Reyna meneteskan air mata dan dia segera menyekanya.


"Apa kamu, benar-benar ingin melupakanku? berarti kedatanganku ke sini sia-sia." ucap Reyna sambil sesunggukan menangis.


Adrian terbeliak kaget begitu mendengar suara Reyna yang begitu nyata. Antara percaya dan tidak percaya, Adrian datang mendekat dan menyentuh lengan Reyna dengan takut-takut.


"Apa kamu kira aku hantu? aku ini Reyna!" ujar Reyna, yang membuat Adrian mematung seketika.


Melihat Adrian yang terpaku seperti patung, Reyna tersenyum tipis dan menghambur memeluk Adrian.


"Aku mencintaimu, Rian! maaf kalau aku sempat menolakmu dan membuat hatimu sakit!" desis Reyna lirih, yang terdengar jelas di telinga Adrian.


Adrian melerai pelukan Reyna dan mencengkram pundak Reyna.


"I-ini benar-benar kamu?" Reyna mengangguk, membenarkan.


"Aku tidak sedang berhalusinasi?" Adrian kembali memastikan dan Reyna kembali menggangguk dengan seulas senyuman di bibirnya.


Bukannya malah kembali memeluk Reyna, Adrian malah melepaskan pelukannya dan memutar badannya memunggungi Reyna.


"Mau apa kamu ke sini? dan bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Adrian dengan datar dan dingin.


"Aku mau nemuin kamu, Ian. Aku mau ...."


"Bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk tidak muncul lagi di depanmu? tapi kenapa malah kamu yang muncul sekarang di depanku?" Adrian menyela ucapan Reyna, dan sama sekali tidak mau menatap wajah Reyna.


"Maaf, kalau ucapanku sudah membuatmu sakit hati. Tapi, itu murni bukan dari hatiku, Ian." ucap Reyna lirih sambil menundukkan wajahnya.


"Ya, udah! aku maafkan! sekarang kamu bisa pergi, soalnya aku mau istirahat." ucap Adrian.


Tanpa terasa, cairan bening keluar dari sudut mata, Reyna. Dia tidak menyangka, kalau Adrian akan memperlakukannya seperti ini.

__ADS_1


Reyna memutar badannya hendak berlalu pergi. Akan tetapi, dia mengurungkannya dan justru menghambur memeluk Adrian kembali dari belakang.


"Tidak! aku tidak akan pergi, sekalipun kamu menyeretku dari sini. Kalau kamu membenciku, aku akan berusaha untuk membuat kamu, mencintaiku kembali." Ucap Reyna tegas dan mempererat pelukannya.


Adrian bergeming tidak ada niat untuk melepaskan pelukan Reyna, tapi juga tidak ada niat untuk membalas pelukan wanita itu.


Kemudian dia menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Aku tidak membencimu, karena itu tidak mungkin terjadi. Aku juga masih sangat mencintaimu. Tapi, entah kenapa aku merasa kalau kamu datang ke sini karena hanya merasa bersalah saja dan kasihan padaku."


"Tidak! aku benar-benar mencintaimu. Aku datang ke sini bukan karena rasa kasihan. Aku memang ...."


Adrian memutar tubuhnya dan langsung mendekap tubuh Reyna dengan sangat erat, sehingga Reyna kaget dan berhenti berbicara. .


"Apa tadi yang barusan kamu bilang?" tanya Adrian yang ingin mendengar lagi ungkapan cinta dari mulut Reyna.


"Yang mana? yang aku datang ke sini bukan karena kasihan?" tanya Reyna dengan kening yang berkerut.


"Bukan! tapi kata sebelum kata itu."


Semburat merah langsung muncul di pipi Reyna, begitu dia tahu apa kata apa yang dimaksud oleh Adrian.


"Kenapa harus diulang sih?" gumam gadis itu, yang masih bisa didengar jelas oleh Adrian.


"Karena aku tidak jelas mendengar apa yang kamu katakan."


" Tidak mungkin! Aku tadi mengatakannya dengan sangat jelas." Reyna mengerucutkan bibirnya, menampakkan sisi manjanya.


"Masa sih, tapi kenapa tetap kurang jelas juga ya? apa tadi kamu mengatakan kalau kamu membenciku?" pancing Adrian.


"Bukan!" Reyna menggelengkan kepalanya.


"Jadi?" desak Adrian.


"Apa? coba ulangi! aku tidak mendengarnya.". Adrian mencondongkan telinganya ke arah Reyna.


"Aku mencintaimu!" suara Reyna sudah sedikit keras.


"Coba ulangi, aku masih kurang bisa mendengar."


"AKU MENCINTAIMU, ADRIAN!" teriak Reyna tepat di telinga pemuda itu. Sehingga Adrian mengusap-usap telinganya, karena gendang telinganya, berdengung akibat teriakan gadis pujaannya itu.


"Gak usah harus teriak, Reyna!" protes Adrian, hingga membuat gadis yang dipanggil Reyna itu, terkekeh.


"Kamu sih, dari tadi pura-pura tidak dengar. Sekalian aja aku teriak biar kamu bisa dengar. Sakit ya?" Reyna ikut membantu mengusap-usap telinga Adrian.


Adrian merasa hatinya menghangat dan menangkap tangan Reyna dan membawanya ke arah bibirnya, mengecup tangan itu. Kemudian, tanpa pikir panjang dia mengangkat tubuh gadis itu dan memutarnya.


Reyna memegang erat belakang leher Adrian, takut jatuh.


Adrian menurunkan tubuh Reyna kembali ke lantai, dengan perlahan.


"Terima kasih kamu sudah mau mencintaiku!" ucap Adrian sambil memberikan kecupan di puncak kepala wanita itu.


"Tapi bagaimana dengan pria yang kamu katakan kekasihmu itu?" ucap Adrian yang tiba-tiba teringat, akan perkataan Reyna yang mengatakan kalau dirinya mempunyai kekasih.


"Apa kamu benaran percaya kalau aku punya kekasih?" tanya Reyna balik dengan tersenyum misterius.

__ADS_1


"Maksudmu? apa kamu berbohong padaku, kalau kamu punya, pacar?" Reyna menganggukkan kepalanya, hingga membuat Adrian menggeram dan menyentil jidat Reyna.


"Tega sekali kamu membohongiku,"


"Maaf, aku ada alasan untuk itu!" sahut Reyna.


"Apa?" alis Adrian bertaut menunggu jawaban.


"Boleh gak nanti kita membicarakan hal ini? aku sudah lapar dari tadi menunggumu," rengek Reyna.


"Hmm sebenarnya aku sudah makan tadi. Tapi sepertinya sekarang aku sudah lapar lagi." Adrian sontak menyanggah ucapannya sendiri begitu melihat raut wajah kecewa Reyna.


"Ayo kita makan!" Adrian menarik kursi buat Reyna, membuat gadis itu, seketika tersenyum dengan keromantisan Adrian.


"Tapi, tunggu dulu! bagaimana kamu bisa sampai ke sini dan bagaimana kamu tahu apartemen yang aku tinggali, bahkan kamu bisa masuk. Aku kan tidak memberitahukan pasword apartemen ini pada siapapun." celetuk Adrian, menunda untuk duduk dan malah menatap ke arah Reyna dengan tatapan, meminta penjelasan.


"Hmm,Rian bisa tidak kita bicarakan itu nanti? aku serius, kalau sekarang aku sudah sangat lapar. Aku janji, nanti aku akan jelaskan semuanya." pinta Reyna dengan tatapan yang memelas.


"Hmm, baiklah! kamu utang penjelasan padaku. Dan nanti setelah selesai makan, kamu harus langsung menjelaskannya." pungkas Adrian mengalah.


Reyna tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Reyna pun langsung meraih piring dan menyendokkan sedikit nasi ke dalam piring, kemudian meletakkan lauk yang dia masak ke atasnya, lalu memberikannya pada Adrian.


Setelah itu dia melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri


"Wah, ternyata kamu pintar memasak!" puji Adrian sambil mengunyah makanan yang baru saja dia suapkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Reyna tidak menyahut sama sekali. Dia hanya cukup tersenyum mendengar pujian, Adrian.


"Darimana kamu dapatkan bahan makanan ini? kulkas itu kan kosong, belum diisi apa-apa."


"Tadi aku sempatkan buat belanja di supermarket yang di samping gedung ini." sahut Reyna setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Sekarang jelaskan bagaimana kamu bisa sampai ke sini ? bagaimana kamu tahu apartemenku? dan bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Adrian beruntun, tidak sabar.


"Kamu ya, tidak sabaran banget jadi orang. Aku simpan dulu piringnya, cuci baru aku jelaskan." Reyna beranjak berdiri dari tempat duduknya. Kemudian tangannya menumpukkan piring kotor dan membawanya ke wastafel.


"Biar nanti aku yang mencucinya. Kita duduk di sofa aja. Aku benar-benar sudah tidak sabar mendengar cerita darimu." Adrian menarik tangan Reyna dan mengajaknya kembali ke ruang tamu.


Adrian menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa. Tanpa sadar kalau tangan Reyna masih ada dalam genggamannya. Hal itu menyebabkan tubuh Reyna terjerembab jatuh ke atas tubuh Adrian.


Untuk beberapa saat, mata keduanya saling bertaut. Mata Adrian beralih ke bibir tipis milik gadis pujaannya yang seperti memiliki magnet. Adrian menarik tengkuk Reyna dan hendak mendaratkan bibirnya ke bibir gadis pujaannya itu.


Ting nong ...


Tiba-tiba terdengar bel apartemennya berbunyi, hingga membuat Reyna dengan sigap melompat dari atas tubuh Adrian.


Adrian mengembuskan napas kesal, seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia beranjak berdiri dan melangkah untuk membuka pintu.


"Kak Roni!" seru Adrian dengan mata yang membesar dengan sempurna.


"Mana Reyna? dia ada di dalam kan? kalian berdua tidak ngapa-ngapain kan di dalam?" Roni bertanya dengan gaya khas seorang kakak laki-laki,yang mengkhawatirkan adik perempuannya.


"Ini sebenarnya aku lagi ada di mana sih? aku tidak lagi di Indonesia kan? ini benaran di London,kan?" bukannya menjawab pertanyaan Roni, Adrian justru bengong menatap penuh tanya akan kemunculan Roni kakak laki-laki Reyna.


Roni tidak memperdulikan Adrian yang berdiri kebingungan. Dia tidak sabar dan langsung menerobos masuk dan melihat Reyna yang cengengesan ke arahnya.

__ADS_1


Tbc


Please like, vote dan komen dong guys. Kasih hadiah juga boleh.


__ADS_2