
Di sebuah tempat, tampak dua sejoli sedang menikmati percintaan mereka. Siapa lagi mereka kalau bukan Shasa dan Gilang.
Suara teriakan dari mulut mereka berdua, pertanda kalau mereka sudah mencapai puncak, dan sudah mendapatkan pelepasan.
"Kamu mau lagi?" tanya Shasa di sela-sela napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Sudah cukup! aku mau menabung tenaga untuk bercinta dengan Celyn nanti," jawab Gilang, sambil menyeringai sinis.
"Kamu yakin, kalau kamu akan puas dengan wanita hamil seperti itu? dia hanya akan jadi batang pisang, yang diam saja, tanpa bergerak sama sekali." ledek Shasa dengan bibir yang cemberut.
"Belum tentu! aku perhatikan, dia semakin seksi dengan perutnya yang membuncit,"netra Gilang menerawang, membayangkan Celyn. Sehingga membuat Shasa semakin jengkel.
"Udah ah! sebaiknya kita bersiap-siap, karena sebentar lagi, bidadarimu itu, akan sampai ke sini," ucap Shasa mengingatkan, sambil berlalu menuju kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita ada di mana?" tanya Celyn dengan mata yang mengedar, menatap sekeliling, tempat yang sangat asing menurutnya. Perasaannya mulai tidak enak.
"Tenang, Bu! Tuan Aby ada di dalam, menunggu Ibu," sahut pria yang baru saja Celyn tahu bernama Roni itu.
Celyn mencoba untuk berpikiran positif dan tetap melangkah mengikuti langkah Roni dari belakang.
"Silahkan masuk, Bu!" Ucap Roni sambil membukakan pintu. Begitu Celyn masuk, Roni langsung menutup pintu begitu saja.
"Pak Gilang! Pak Gilanggg! anda di mana? ini, aku sudah bawa sesuai dengan permintaanmu."
"Apa-apaan ini Roni? Gilang? apa maksudmu dengan Gilang?" Celyn mulai panik.
"Maafkan aku Bu, aku terpaksa ngelakuinnya, karena__"
" Wah ... wah my bidadari sudah sampai rupanya," tiba-tiba Gilang muncul disusul oleh Shasa dari belakang.
"Gilang? kenapa kamu suruh orang bawa aku ke sini?" raut wajah Celyn berubah pucat, menyadari dari gelagat Gilang, kalau dirinya kini dalam bahaya.
"Karena dengan cara beginilah aku bisa menemuimu. Selama ini kamu selalu menolak, jadi terpaksa aku meculikmu dengan cara begini," bibir Gilang terlihat miring, tersenyum sinis ke arah Celyn.
__ADS_1
Kemudian Celyn berpaling menatap ke arah Roni dengan tatapan memelas.
"Kenapa kamu melakukan hal ini? apa kamu tidak takut akibatnya?"
"Maaf ,Ibu aku terpaksa, keluargaku mereka sekap, ibuku juga sedang sakit keras sekarang." Roni menunduk dengan wajah yang lemah, tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Pak Gilang, sekarang tolong lepaskan keluargaku. Ibuku sedang sakit, jadi biarkan aku membawanya ke rumah sakit," mohon Roni dengan wajah memelas.
"Jadi setelah kamu pergi, kamu datang lagi membawa Aby ke sini, begitu? jangan harap! lagian aku masih memerlukan dirimu nanti. Nanti setelah aku, berhasil menikmati tubuh Nyonya mudamu ini, aku membutuhkan dirimu untuk tidur di sampingnya dan aku bisa ambil photo kalian bersama, dan mengirimkannya buat Aby. Jadi, aku tetap selamat dari Aby, Hahahahaha!"
"Dasar licik kamu Gilang! kamu kira aku mau sama kamu? jangan harap!" pekik Celyn, garang.
Tawa Gilang semakin pecah, berbarengan dengan Shasa juga yang ikut tertawa.
"Kalau kamu marah, kamu terlihat semakin menarik, Cel. Aku semakin tidak sabar untuk menikmati tubuhmu. Lagian aku tidak meminta persetujuanmu, karena aku akan memaksamu." Ujar Gilang, dengan manik mata yang berbinar menatap ke arah Celyn, yang kini wajahnya semakin pucat.
"Aku lebih baik mati dari pada kamu sentuh, bajingan!" pekik Celyn lagi.
"Boleh! setelah matipun, tubuhmu masih bisa tetap aku nikmati. Selain itu, anak yang ada di kandunganmu pun akan ikut mati. Kamu pilih mana? kamu mati dan anakmu ikut mati, atau kamu menurutiku, dan anakmu akan aman-aman saja?" ucap Gilang, tersenyum merasa dia atas angin.
"So ,come here babe! aku mau dirimu sekarang," Gilang melangkah menghampiri Celyn sedangkan Celyn langsung bersembunyi di balik punggung Roni.
"Berani kamu menghalangiku, dengan sekali telepon, keluargamu akan disiksa anak buahku di sana, jadi mending kamu minggir sekarang!"
Roni, bergeming mendengar bentakan Gilang. Posisinya sekarang bagaikan buah simalakama, di sisi lain dia ingin melindungi Nyonya mudanya, di sisi lain nyawa ibu, bapak dan adiknya dalam bahaya.
"Tidak, Pak Gilang! tolong jangan apa-apakan keluargamu, dan tolong lepaskan juga Ibu Celyn. Aku mohon!" Roni tersungkur, berlutut di depan Gilang dengan kedua tangan yang mengatur di depan dadanya.
"Siapa kamu berani memerintahku? hah?! sekarang menyingkirlah!" Gilang mendorong tubuh Roni, hingga terjengkang ke belakang kemudian memukul tengkuk Roni, hingga pria itu, pingsan.
Kemudian dengan sekali tarikan Gilang berhasil meraih tangan Celyn dan menariknya dengan keras.
"Ayo ikut aku, cepat!" Gilang menarik-narik Tangan Celyn yang berusaha untuk melepaskan diri.
"Lepaskan aku! kalau tidak aku akan teriak!" pekik Celyn masih berusaha melepaskan tangannya dari tangan Gilang. Dia seakan mengabaikan rasa keram yang timbul di bawah perutnya.
__ADS_1
"Teriak aja sekencang-kencangnya! tidak akan ada yang mendengar teriakanmu di sini, Sayang. Gilang menyeringai sinis ke arah Cekyn yang semakin mundur ke belakang dan berhenti ketika dia tidak bisa bergerak lagu, karena ada tembok membetur tubuhnya.
Sementara itu, tampak Shasa yang tertawa-tawa puas tidak jauh dari mereka.
"Buruan Gilang, cepat bawa dia ke dalam kamar!" teriak Shasa memberikan semangat. Tampak kepuasan yang tercetak jelas di wajahnya.
"Tolong jangan apa-apakan aku!" mohon Celyn dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
Gilang yang sudah tidak sabar langsung menarik paksa tangan Celyn dan membawanya ke dalam kamar.
"Pastikan, pria itu tidak bangun dari pingsannya!" titah Gilang, sambil memberikan sapu tangan dan obat bius ke tangan Shasa.
Sementara itu, Shasa langsung meyemprotkan obat bius ke sapu tangan itu, dan berjalan mendekat ke arah tubuh Roni, dan di saat tubuh Roni menggeliat pertanda hendak siuman, Shasa dengan sigap segera, membekap Roni dengan sapu tangan tadi, sehingga Roni, kembali tidak sadarkan diri.
Merasa Roni sudah tidak bergerak lagi, Shasa kembali melangkah ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa itu. Kemudian dia mengangkat kakinya ke atas meja, berselonjor sambil bermain dengan ponselnya.
Brakk
Pintu terjatuh ke depan karena tendangan seseorang dari depan.
Shasa berubah pucat dan meneguk ludahnya dengan susah payah, melihat kemunculan Aby, Kenjo dan Calvin serta beberapa anak buah Aby. Aby menatapnya dengan mata yang sangat tajam, seperti siap untuk membunuhnya.
Mata Aby mengedar untuk mencari keberadaan Celyn istrinya. Tapi dia tidak menemukannya. Dia justru menemukan tubuh Roni yang terkapar pingsan. Dengan sedikit berlari dia menghampiri Shasa dan mencekik leher wanita itu, sampai wanita itu kesulitan untuk bernapas
"Dimana Celyn ,Hah?" bentak Aby dengan mata yang memerah.
"Di-dia di -di kamar, di- dibawa sama Gilang," sahut Shasa terbata-bata karena merasa kesulitan untuk bernapas.
Aby melepaskan tangannya dari leher Shasa dan mendorong tubuh wanita itu dengan keras, hingga tubuh Shasa terbentur ke tembok.
"Kalian urus dia!" titahnya ke anak buahnya, Kemudian dia berlari menuju kamar yang ditunjuk oleh Shasa disusul oleh Kenjo dan Calvin. Lamat-lamat dia dengar jeritan dan rintihan dari sang istri, membuat api amarah Aby semakin berkobar.
Dengan sekuat tenaga, Aby dan Kenjo menendang pintu hingga pintu tersebut terjatuh.
"BRENGSEK!"
__ADS_1
Tbc
Mohon dukungan, like vote serta komennya dong gais. Thank you.