Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
mendarat darurat


__ADS_3

Pernikahan sederhana antara Amanda dan Ardan baru saja berlangsung. Kini kedua sejoli itu sudah sah menjadi sepasang suami istri secara hukum dan agama.


Seperti rencana awal, kalau mereka berdua tidak akan mengadakan resepsi, setelah Anin benar-benar dinyatakan pulih. Akan tetapi, walaupun sederhana, keluarga Bagaskara tetap melakukan acara makan malam keluarga di taman belakang kediaman Bagaskara dengan mengundang beberapa tamu dari kolega-kolega mereka.


Tidak tampak senyuman di wajah sang pengantin wanita pada hari ini, seperti ada sesuatu yang membebaninya, berbanding terbalik dengan Ardan yang tidak pernah menanggalkan senyuman dari bibirnya ketika sedang sedang bercengkrama dengan beberapa koleganya. Momen langka ini segera diabadikan oleh para undangan yang tidak pernah melihat senyuman di wajah Ardan.


Wajah tidak semangat dari Amanda, tertangkap jelas oleh Jasmine. Dia pun melangkah, menghampiri Amanda yang sedang duduk menyendiri, memilih untuk tidak bergabung dengan Ardan.


"Hei, pengantin wanita, senyum dong! masa wajahnya kusut banget, seperti pakaian gak tersentuh sama setrika," ledek Jasmine, membuat Amanda mencebikkan bibirnya.


"Kamu tidak bahagia ya dengan pernikahanmu?" tanya Jasmine, dengan tatapan ingin tahu.


"Emm, rasanya campur aduk, Jas. Aku tidak memungkiri ada rasa bahagia karena Aby dan Anin, akhirnya memiliki seorang papa. Tapi aku takut, kalau Ardan terpaksa menikah, hanya karena Aby dan Anin. Dan kamu pasti tahu, ujung-ujungnya kalau terpaksa pasti tidak akan bahagia." sahut Amanda dengan lirih.


Jasmine diam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Dia menatap manik mata Amanda yang sekarang tengah menatap Ardan di kejahuan dengan tatapan yang Jasmine tahu, kalau sudah ada cinta di manik mata Amanda pada Ardan.


"Manda, apa kamu sudah jatuh cinta dengan, Ardan?" celetuk Jasmine, yang membuat Amanda terkesiap, dan kesulitan untuk menjawab.


"Mm, sepertinya iya, tapi aku gak tahu pasti. Apakah aku sudah sampai pada tahap mencintainya, atau masih pada tahap menyukai. Tapi, yang jelas, jantungku selalu berdetak cepat bila ada di dekatnya, hampir sama dengan perasaan yang aku rasakan pada Radit dulu, bahkan lebih."


Jasmine, melengkungkan bibirnya ke atas, dengan sempurna. Lalu dia menepuk pundak Amanda dengan lembut, "Kamu sudah mencintainya, dan dia juga sudah mencintaimu, hanya saja dia tahu mengekpresikan tapi tidak tahu cara mengungkapkannya. Jadi bersabarlah! buat dia, mengakui rasa cintanya padamu," pungkas Jasmine sembari berdiri dari duduknya. Kemudian dia berlalu pergi, setelah pamit dan Amanda mengiyakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Amanda beranjak pergi, meninggalkan acara makan malam karena merasa tubuhnya sangat lelah. Akan tetapi, sebelum meninggalkan tempat itu, Amanda lebih dulu pamit kepada Amara dan Rudi yang sekarang sudah menjadi papa dan mama mertuanya.


"Kamu langsung saja ke kamar Ardan ya, Sayang. Soalnya barang-barang kamu semua sudah dipindahkan ke sana." ucap Amara dengan seulas senyuman yang tulus tersemat di bibirnya.


"I-iya, Mah! kalau begitu aku pamit dulu! " Amanda berlalu pergi, setelah Amara dan Rudi mengangguk kan kepala, mengiyakan.


Amanda melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam rumah utama. Entah kenapa dia tiba-tiba mengurungkan langkahnya, tidak berani untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar Ardan. Akhirnya dia lebih memilih untuk melangkah ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Mungkin karena lelah, tanpa menuggu lama akhirnya Amanda, tertidur pulas, dengan gaun pesta yang masih terbalut di tubuhnya.


Sementara itu, di taman belakang, tampak Ardan mengedarkan matanya, untuk mencari wanita yang baru saja menjadi istrinya. Dia mengerutkan keningnya ketika dia tidak melihat keberadaan istrinya itu dimanapun.


Setelah pamit dan mengucapkan ucapan 'terima kasih' pada para koleganya, Ardan melangkah menghampiri kedua orang tuanya.


"Mah, apa kalian melihat dimana, Amanda?"


"Oh, tadi dia izin masuk dulu, Nak. Kasihan dia, sepertinya dia kelelahan. Kamu susul dia sana!" jawab Amara, yang diangguki kepala oleh Ardan.


" Apa ibu Amanda ada masuk ke dalam?" tanya Ardan pada bodyguard yang berjaga di depan kamar Anin.


"Tidak ada Tuan! Dari tadi kami tidak ada kemana-mana, dan Ibu Amanda sama sekali tidak masuk ke kamar Nona, Anin." sahut salah satu bodyguard yang terlihat masih sangat muda.


"Oh, ya udah, terima kasih," sahut Ardan dengan air muka yang semakin panik.


"Kemana dia pergi?" bisik Ardan pada diri sendiri.

__ADS_1


"Apa kami harus mencari Ibu , Amanda untuk anda, Tuan?" rekan bodyguard tadi buka suara, bertanya.


Amanda mengangkat tangannya, dan memberikan syarat tidak perlu.


Ardan berlari kembali ke bawah untuk menemui orangtuanya. Akan tetapi di pertengahan anak tangga, Ardan bertemu dengan,Mbok Minah, asisten rumah tangga yang sepertinya juga hendak lari ke atas.


"Pak Ardan, maaf, aku melihat, Ibu Amanda tertidur di atas sofa sana. Aku sudah membangunkan ibu, tapi ibu tidak merespon."


Mendengar ucapan, Mbok Minah, Ardan langsung menghambur mendekati sofa yang dimaksud oleh Asisten rumah tangga itu.


Wajah yang tadinya panik, berangsur-angsur berubah normal, dan lega melihat Amanda yang tertidur dengan pulasnya.


"Dasar wanita aneh! ada kamar malah tidur di sini." Gumam Ardan dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Kamu baru saja hilang sebentar sudah membuat, aku kelimpungan dan merasa takut, kehilangan kamu. Apalagi kalau kamu benar-menghilang. Bisa-bisa aku depresi " Ardan menatap wajah damai, Amanda dengan tatapan kagum dan penuh cinta. Tangannya terayun membelai lembut wajah Amanda yang seakan tidak terusik dengan sentuhan jari-jari Ardan.


Dengan lembut, Ardan menggendong tubuh Amanda, ala bridal style dan mengayunkan langkah ke atas untuk membawa Amanda ke dalam kamarnya. Selama melangkah membawa Amanda ke atas, tatapan Ardan tidak pernah lepas dari wajah manis Amanda. Langkah Ardan selama ke atas, seperti tidak terasa ada beban, dengan hanya menatap wajah wanita, yang telah berhasil mengisi kekosongan hatinya.


Sesampainya di depan pintu kamarnya, Ardan merasa kesulitan untuk menggapai knop pintu. Sudah 2 kali dia berusaha untuk membuka pintu, tapi tetap tidak membuahkan hasil. Ketiga kali, tanpa sengaja, kepala Amanda membentur pintu, sehingga wanita itu membuka matanya. Amanda sontak melompat dari gendongan Ardan, karena kaget. Akan tetapi ketika kakinya baru saja menapak di lantai, Amanda terhuyung, hampir jatuh. Beruntung dengan sigap tangan Ardan merangkul pinggang Amanda, sehingga netra mereka saling bertaut untuk beberapa saat. Degup jantung keduanya, berdetak begitu keras dan kencang sehingga bisa tertangkap oleh telinga masing-masing. Semburat merah muncul seketika di wajah Amanda, sehingga menambah kesan menggemaskan di mata Ardan. Bibir nude, milik Amanda seakan memiliki magnet, yang menarik bibir Ardan untuk berlabuh di benda kenyal itu. Bibir Ardan sudah semakin dekat dan Amanda sudah memejamkan matanya, siap menerima datangnya bibir, Ardan.


"Pah, mama kenapa? dan kalian berdua sedang ngapain?"


"Aw!" Karena kaget mendengar suara Aby yang muncul tiba-tiba, Ardan tanpa sadar melepaskan tangannya dari pinggang Amanda, sehingga wanita itu, mendarat darurat di lantai dan memekik kesakitan

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak, dengan mendaratkan jempol-jempol cantik kalian semua ya, gais . Jangan lupa juga buat vote dan komen. Agar aku semakin semangat buat Up. Terima kasih🙏😍🤗


__ADS_2