
Amanda sudah tampil cantik dengan gaun berwarna abu-abu panjang sampai menutupi kaki. Dia juga hanya menggunakan riasan sederhana tapi tidak bisa menutupi kecantikan istri dari Ardan Orlando Bagaskara itu. Ya, malam ini adalah acara resepsi pernikahan Bagas dan Clara, setelah tadi pagi mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.
Bukan hanya Amanda, Ardan juga sudah tampil dengan gagahnya, dengan balutan tuxedo hitamnya.
"Sayang, apa udah ada kabar dari Jasmine belum? mereka sekarang udah ada dimana?" tanya Ardan sambil memasang jam tangannya.
"Belum,Mas. Aku coba telpon deh," Amanda berdiri dan melangkah menghampiri nakas untuk mengambil ponselnya. Belum lagi dia mengambil ponsel itu, ponselnya sudah lebih dulu berbunyi dan yang nama pemanggil yang tertera adalah adalah orang yang sama yang hendak dia telepon.
"Halo, Jas. Baru saja aku mau telpon kamu. Kalian sekarang sudah ada dimana?" tanya Amanda tanpa adanya basa-basi.
"Ini kami lagi di jalan, langsung ke tempat acara , Manda. Aku nelpon kamu cuma mau bilang ini." sahut Jasmine dari ujung telepon.
"Lho, bukannya kalian mau nitip Celyn ke sini?" tanya Manda dengan alis bertaut.
"Itu dia, entah kenapa, Celynnya nggak mau ke sana. Katanya dia mau di rumah saja sama Mbak Inah. Aku juga bingung kenapa bisa begitu."
"Oh, begitu? ya udah deh. ck ... pasti Anin bakal sedih nih." keluh Amanda, membayangkan wajah sedih putrinya.
"Maaf, Amanda. Kalian berdua langsung ke acara saja ya, kita ketemu di sana. Papa mama juga jadinya ikut mobil kami, Nih." pungkas Jasmine, mengakhiri obrolan.
Amanda menganggukkan kepalanya seakan Jasmine ada di depannya sekarang.
"Gimana, Sayang? kenapa wajah kamu murung?" alis Ardan bertaut tajam.
"Jasmine tidak jadi menitipkan Celyn ke sini,Mas. Katanya Celynnya nggak mau," jawab Amanda dengan dengan raut wajah kusut.
"Ya udah. Kenapa kamu sedih, Celyn gak ke sini?"
"Mas ini gimana sih? kalau Celyn tidak ke sini, Anin kan jadi sedih. Mas kan lihat sendiri tadi, kalau Anin sangat gembira begitu tahu Celyn Bakal ke sini," ucap Amanda dengan nada kesal.
"Jadi mau gimana lagi? kan anaknya yang tidak mau,"
"Mas, ihhh ... gak ngerti amat sih jadi orang!" Amanda mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, tolong kondisikan bibir kamu! nanti kita melakukannya lagi, dan kamu pasti tahu apa akibatnya. Kita bisa-bisa tidak jadi datang ke resepsi Bagas dan Clara, kamu mau?" ucap Ardan sambil mengerlingkan matanya, menggoda.
__ADS_1
Amanda sontak mengembalikan bibirnya ke posisi semula. Dia tidak mau, kalau apa yang diucapkan oleh Ardan terjadi lagi.
"Mesum!" Amanda, melangkah keluar untuk menemui kedua anaknya. Sementara itu, Ardan terkekeh melihat raut wajah kesal istrinya itu. Kemudian diapun melangkah keluar menyusul Amanda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, kalian berdua baik-baik di rumah ya, mama sama papa mungkin agak larut pulangnya." ucap Amanda sambil mendaratkan bibirnya, mengecup sekilas puncak kepala Aby dan Anin.
"Ma, Celyn mana? kok tidak naik ke atas?" tanya Anin, sambil melihat ke arah pintu.
"Aduh, Celynnya tidak jadi datang, Sayang. Lain kali aja ya, Anin main sama Celynnya." Amanda, mengelus kepala putrinya.
"Ini pasti gara-gara Kakak, makannya Celyn gak mau datang ke sini." Ani menggerutu, menyalahkan Aby.
"Kok salah, kakak? kakak kan nggak ngapa-ngapain," sanggah Aby, tidak mau disalahkan.
"Kakak salah lah, kakak itu, galak sama Celyn. Anin nggak suka." Anin masih tetap dalam posisi kesal pada Aby.
"Galak? kakak nggak __"
"Anin, kok jadi marah sama Kakak? kakak salah apa?" tanya Aby, dengan kening yang berkerut, melihat mata Anin yang masih menatapnya dengan tajam.
"Pokoknya Kakak salah. Kakak itu suka marah-marah sama Celyn. Padahal dia hanya ingin merasakan punya kakak, seperti Kak Aby," intonasi bicara Anin masih tetap sama, ketus.
"Iya deh kakak minta maaf." ucap Ardan pasrah, tidak mau meladeni kemarahan adiknya lagi.
"*K*alau kalian sudah mengeluarkan kata 'pokoknya' aku mah bisa apa? aku lebih baik diam saja, daripada aku pusing. Aku gak bakal menang." gerutu Aby dalam hati.
"Tapi,apa iya aku memang galak sama Celyn? apa aku sudah kelewatan ya?" batin Aby sambil naik ke atas ranjangnya.
"Tuh anak juga, belakangan ini, tidak seperti biasanya. Dia tidak mau menyapa aku lagi. Aneh ... benar- benar aneh." Aby berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu mau kemana, Nin?" tanya Aby, ketika melihat Anin yang melangkah ke luar.
"Anin mau kembali ke kamar Anin, di sini juga ngapain? nanti juga Anin bakal main sendirian dan kakak fokus sama buku, jadi Anin mending kembali ke kamar sendiri." sahut Anin masih dengan nada yang ketus.
__ADS_1
"Ya udah! selamat malam Anin. Nanti tidur yang nyenyak ya!" bukannya membujuk adiknya, Aby justru tidak peka, dan menganggap kalau itu memang murni keinginan adiknya itu.
"ihh," Anin menghentakkan kakinya, dan keluar dari kamar Aby sambil membanting pintu dengan keras.
"Kenapa dengan dia? aku buat salah apa lagi?" gumam Aby dengan kening yang berkerut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amanda dan Ardan memasuki ballroom tempat Bagas dan Clara mengadakan resepsi. Mata keduanya mengedar mencari sosok Jasmine dan Rio.
Jasmine yang sedang menggandeng tangan Rio,melihat kedatangan Amanda dan Ardan. Diapun segera melambaikan tangannya, diikuti oleh Rio.
Amanda tersenyum dan membalas lambaian tangan Jasmine
Sedangkan Ardan seperti biasa hanya melirik dengan wajah datarnya.
"Kalian kok lama?" cecar Jasmine.
"Kami harus membujuk Anin dulu, yang ngambek karena Celyn gak jadi datang."
Jasmine mengembuskan napasnya, merasa tidak enak hati pada Amanda.
"Maaf, ya! aku juga bingung kenapa Celyn tidak mau tadi. Padahal biasanya dia senang banget kalau diajak ke rumah kamu."
"Tidak apa-apa, Jas. Anin juga sudah tidak apa-apa kok tadi." Amanda menerbitkan senyuman manis di bibirnya.
Kemudian dua pasangan itu, mencari tempat untuk mereka duduk. Saat berjalan menuju meja yang mereka tuju, Ardan dan Rio dengan posesifnya mengandeng tangan istri masing-masing, dan memberikan lirikan tajam buat para laki-laki yang berani menatap ke arah istri mereka. Seperti biasa, hanya dengan lirikan saja, nyali para pria itu langsung ciut dan langsung menundukkan kepala.
Mereka berempat akhirnya sampai di meja yang mereka tuju, dan mendaratkan tubuh masing-masing, duduk di kursi yang disediakan. Mereka bercengkrama sambil menunggu Bagas dan Clara memasuki ballroom.
__ADS_1
Tbc