Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Kemarahan Rio.


__ADS_3

" Lancang sekali kalian masuk ke ruanganku tanpa izin! Siapa yang memberikan kalian izin masuk ke sini?" bentak Johan dengan angkuhnya.


Ardan tersenyum miring, menanggapi ketidaksenangan Johan atas kedatangannya dan Rio.


"Aduh, Om jangan galak-galak! bisa kena struk nanti."


Tanpa sadar Rio, mendorong keras tubuh Ardan, yang terlihat seperti menyumpahi mertuanya


"Kamu menyumpahiku!" geram Johan.


"Bukan, Om. Mengingatkan saja," sahut Ardan santai sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa, tanpa dipersilahkan terlebih dahulu disusul oleh Rio.


"Siapa yang menyuruh kalian berdua duduk di sana? keluar kalian berdua!" lagi-lagi Johan membentak ke arah Ardan dan Rio.


Ardan lagi-lagi tersenyum miring dan tidak merasa terusik dengan sikap Johan yang mengusir dirinya dan Rio.


"Om Johan, tanpa aku jelaskan, Om pasti sudah tahu alasan saya datang ke kantor Om ini. Aku ingin mengingatkan, Om saja supaya menghentikan niat Om yang ingin menghancurkan Bagaskara company, karena kalau Om masih mau meneruskannya, bukan aku atau papaku yang hancur, tapi Om sendirilah yang akan hancur."


Johan tersenyum miring, meremehkan ucapan Ardan. "Ternyata kamu sudah tahu, siapa yang telah mencuri data- data kerja samamu, dan kamu mau meminta kembali kerja sama yang telah aku ambil, Jangan harap!"


"Om ... Om, sepertinya om lupa siapa aku. Kerja sama yang telah Om ambil, tidak akan bisa membuatku bangkrut. Kerja sama yang om ambil, pengaruhnya hanya sedikit buat perusahaanku. Apa Om kira aku bodoh, menyimpan file data-data kerjasama Yang bisa memberikan profit sangat besar bersamaan, dengan profit yang kecil seperti yang Om ambil? Om, ambil saja semua kerja sama itu, tidak perlu dikembalikan. Karena perusahaan-perusahaan itu juga sudah masuk daftar hitam dalam perusahaanku." terang Ardan dengan angkuhnya.


Johan mengepalkan kedua tangannya, dengan kencang, menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Sombong sekali kamu. Ingat kesombonganmu akan menjatuhkanmu cepat atau lambat,"


"Bukannya perkataan itu, cocoknya ditujukan pada, Om sendiri ya?" sarkas Ardan, dengan tetap tidak menanggalkan senyum miring dari bibirnya.

__ADS_1


"Beraninya kamu ... sebelum aku marah, sebaiknya kalian berdua segera menyingkir dari tempat ini!" Johan menggantung ucapannya dan malah mengusir Ardan dan Rio.


"Om Johan Mahendra yang terhormat, kami tidak akan pergi dari sini sebelum Om mengatakan kalau akan menghentikan niat Om untuk menghancurkan Bagaskara Company." ucap Ardan datar tapi penuh dengan tekanan, mengintimidasi.


"Cih, ternyata kamu segitu takutnya dengan apa yang aku lakukan sampai kamu datang sendiri untuk memohon supaya aku menghentikannya. Tadi kamu begitu sombong, mengatakan kalau kerja sama yang aku rebut tidak akan membuatmu hancur.


"Aku tidak takut Om, aku hanya khawatir, kalau aku bisa khilaf dan menghancurkan, Om balik. Sekarang aku sengaja menahannya, mengingat kamu adalah papa mertua,Rio."


"Dia, bukan menantuku. Karena dia tidak layak untuk menjadi menantuku Suatu saat aku akan berhasil memisahkan dia dengan Jasmine. Cam kan itu?!" bantah Johan dengan sengit sambil menatap benci pada Rio.


"Apa setelah anda hancur, anda akan menganggap aku menantumu? kalau iya aku tidak akan segan lagi." Kali ini Rio buka suara dengan aura yang sangat dingin merasa terhina dengan ucapan Johan, yang masih tetap merendahkannya.


"Hahahahaha, dari ucapanmu terlihat seperti kamu punya kemampuan untuk menghancurkanku. Hei, ingat dan buka matamu lebar-lebar. Kamu itu ibarat kacung saja di keluarga Bagaskara. Bagaimana bisa kamu mau menghancurkanku?"


Rio menggeram dengan rahang yang sudah mengeras, dan wajah yang sudah memerah. Bila bisa terlihat, mungkin dari kepala Rio, akan keluar asap hitam yang mengepul karena hati dan pikiran Rio yang sudah terbakar oleh amarah.


"Kamu kira aku takut? Tanpa bantuan dari Ardan kamu pasti tidak bisa apa-apa. Cobalah kamu menghancurkanku, tanpa membawa-bawa nama Bagaskara, aku kira kamu tidak akan pernah bisa." tantang Johan.


Rio tersenyum miring, di tengah kekesalannya yang masih diremehkan kemampuannya oleh pria setengah baya itu.


"Ardan, selesaikan urusanmu dengan dia, dulu. Dan aku akan menyelesaikan urusanku sekarang!" titah Rio sambil melangkah keluar dari ruangan itu.


Ardan yang mendapatkan perintah dari Rio, langsung meradang. Tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.


"Sial! beraninya dia memerintahku. Awas kamu nanti!" umpat Ardan di dalam hati, karena merasa, baru ini dia diperintah oleh seseorang, kecuali orangtua, guru-gurunya dulu serta tukang cukur. Tukang cukur aja kalau meminta dia untuk tunduk selalu mengucapkan kata maaf terlebih dahulu.


Ardan berdiri dan beranjak mendekati Radit yang dari tadi diam seribu bahasa dengan wajah pucat. "Cih, apa sih yang dilihat Amanda dari laki-laki ini! dilihat dari sisi manapun tampanan aku juga kemana-mana.Selain tampan, aku juga lebih kaya." batin Ardan sibuk memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


"Pak Radit, aku tidak tahu maksud kamu bekerja sama dengan Om Johan, kalau kamu berniat menghancurkanku untuk merebut Amanda dariku, jangan harap itu akan terjadi. Aku __"


"Aku tidak perduli dengan Amada lagi, aku hanya ingin menutut balas, karena kamu lah penyebab Lora meninggal. Kamu bisa saja mengatakan dia bunuh diri, tapi apa kamu kira aku akan percaya begitu saja? Kamu itu licik, Ardan. Bisa saja kamu membayar polisi-polisi itu untuk membungkam mulut mereka." Radit berusaha memberanikan diri untuk menunjukkan kemarahannya.


Ardan terkesiap kaget mendengar tuduhan Radit yang baginya tidak masuk akal. Sejurus kemudian, dari mulut Ardan terdengar kekehan meledek.


"Tahukah kamu, jika orang yang suka berprasangka buruk terhadap orang lain, itu mencerminkan dirinya sendiri. Sama seperti kamu yang menuduh aku melakukan suap pada penegak hukum, menandakan kalau kamu juga sering melakukan yang namanya suap, makanya kamu mengganggap orang lain itu sama seperti dirimu. Asal kamu tahu, walaupun aku punya uang yang melimpah, aku sangat anti dengan hal seperti yang kamu tuduhkan itu. Istrimu hanya mempersingkat cara matinya saja. Karena dia berpikir kalau dia dihukumpun, dia akan mendapat hukuman mati atau sekurang-kurangnya seumur hidup. Kamu tahukan hukuman pada orang yang berniat melakukan pembunuhan? istrimu sudah berencana untuk membunuh putri saya, Anindita. Dan asal kamu tahu, Anin itu putri kandung saya dengan Amanda." Jelas Ardan dengan sorot mata tajam, dan marah karena diingatkan kembali dengan kejadian yang membuat putrinya sempat mengalami trauma itu.


Penjelasan Ardan membuat Radit tersentak kaget. Bukan hanya dia, Johan yang mendengarpun ikut kaget. Mereka kaget karena Ardan menyebutkan kalau Anin itu putri kandungnya. Padahal yang mereka kira, Ardan menikahi seorang janda yang memiliki dua anak dari pria lain.


"Aku kira, istrimu hanya merasa kalau, tidak ada gunanya juga dia hidup lagi makanya dia bunuh diri. Dan kamu pasti tahu jelas, kenapa dia bisa berpikiran seperti itu." sambung Ardan kembali, membuat Radit tergugu.


"Aku rasa urusanku sudah selesai di sini.__ Oh iya, aku cuma mengingatkan kamu, aku memiliki 60 persen saham di perusahaan yang kamu kelola dan otomatis perusahaan itu sudah menjadi milikku. Kamu tenang saja aku akan tetap memberikan keuntungan dari perusahaan itu, sebesar saham yang kamu miliki.Tapi, sekali saja kamu berulah lagi, sisa saham yang kamu miliki, akan aku ambil juga. Cam kan itu!" Ardan memutar badannya, melangkah meninggalkan ruangan itu, menyusul Rio yang sudah keluar terlebih dulu tadi.


Sementara itu, Selepas kepergian Ardan, asisten Johan menerima sebuah panggilan. Dan wajah sang asisten itu, tiba-tiba berubah pucat seperti tidak dialiri darah.


"Pak Johan, investor terbesar kita, menghentikan kerja sama dengan perusahaan kita, dan banyak dewan pemegang saham juga, yang menarik saham mereka dari perusahaan kita. Pak Johan, bangkrut, Pak,"


"A-apa?! t-tidak mungkin." pekik Johan sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.


Brugh ...


Johan tiba-tiba tersungkur tak sadarkan diri.


Tbc


Author remahan rengginang ini tidak bosan-bosannya meminta dukungan dari kalian semua, untuk tetap meninggalkan like, vote dan komen. Agar aku makin semangat buat nulisnya. Thank you😍🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2