Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Penyelamatan baby Arend


__ADS_3

Roni berlari ke arah mobil yang biasa dia pakai dan langsung melesatkannya, mengejar mobil yang membawa, salah satu baby si kembar.


Sambil melesatkan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan dia langsung memasukan handsfree ke dalam telinganya dan menjawab telepon, tanpa tahu siapa yang yang sedang memanggil.


"Halo!"


"Hallo, Ron, kamu di mana?" sebuah suara yang sangat dikenalinya, terdengar menyahut dari seberang sana.


"Salah satu bayi, Tuan Aby diculik, Pa. Jadi, aku lagi mengikuti jejak si penculik." Jawab Roni, menyahuti si penelepon yang ternyata papanya.


"Kamu, kirimkan lokasi kamu sekarang, biar papa menyusul kamu!"


"Tidak perlu,Pa! aku akan tangani sendiri." tolak Roni, dengan masih tetap mengikuti mobil si penculik di depannya.


"Roni, kamu jangan keras kepala. Kamu kirimkan sekarang juga!" bentak, papanya Roni tegas tak terbantahkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amanda dan Aby tiba di rumah sakin dan betapa kagetnya mereka, ketika mengetahui salah satu anaknya tidak ada.


"Tadi, ada perawat yang mengatakan kalau, anak, Tuan butuh diobservasi, dan setahuku Roni, memerintahkanku untuk mengawasi bayi yang satu lagi, dan dia mengikuti si perawat tadi." jawab, salah satu bodyguard yang sempat disuruh oleh Roni tadi untuk berjaga-jaga di depan ruangan si kembar.


"Kami tidak ada memerintahkan untuk melakukan observasi, Pak. Kalau mau observasi, tidak akan ada pemindahan ruangan. Kami akan melakukannya langsung di ruangan ini." jelas Dokter Susan.


"Brengsek! berarti ada yang lagi main-main denganku." umpat Aby, dengan amarah yang amat sangat.


"Apa ini ada kaitannya dengan Roni? apa dia kembali menghianatiku?" batin Aby, dengan napas yang memburu.


"Aku mau melihat rekaman CCTV di sepanjang jalan ini. Cepat!" suara Aby meninggi, hingga membuat orang yang mendengar bergidik ngeri.


"Ba-baik, Pak! ayo kita ke ruang pengawasan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aby melihat dengan seksama, bagaimana perempuan berpakaian perawat itu, menggendong anaknya dan membawa keluar. Dia melihat interaksi yang cukup alot antara Roni dan wanita itu.

__ADS_1


Aby juga melihat bagaimana wanita itu, kabur secara diam-diam ketika Roni sedang menelepon.


Aby melihat bagaimana Roni, mengejar si penculik dengan menggunakan mobil.


"Berarti ini tidak ada hubungannya dengan Roni. Mudah-mudahan Roni bisa mengejar si penculik itu. Aku harus menghubunginya, dan membantunya. Aku tidak akan membiarkan mereka yang berani mengusikku." ucap Aby dengan mengepalkan tangannya dengan keras.


"Mah, tolong jangan beritahu hal ini pada Celyn! bila dia nanti tanya dimana baby Arend, bilang padanya, kalau ternyata baby Arend masih perlu diobservasi. Aku berjanji akan segera menemukan baby Arend, Ma." ucap, Aby memohon.


"Baiklah! kamu hati-hati ya, Nak. Kamu hubungi papa kamu dan mertuamu sekarang!" Amanda sebenarnya merasa khawatir. Akan tetapi, dia lebih memilih untuk percaya pada anaknya.


Aby meraih ponselnya dan menghubungi Roni. Akan tetapi, Roni tidak menjawab sama sekali. Berulang kali Aby mencoba, tetap saja tidak ada respon dari Roni. Akhirnya jalan satu-satunya, Aby melacak posisi Roni sekarang.


Ketika dia sudah mengetahui di mana posisi Roni, dan begitu dia hendak beranjak pergi. Ponselnya tiba-tiba berbunyi dan melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo," sapa Aby, dengan menautkan alisnya.


"Hallo, Aby! pasti sekarang kamu sedang panik, karena kehilangan anak kamu." sahut suara seorang pria dari seberang sana, dan terdengar juga suara kekehan dari seorang wanita.


"Siapa kamu? kenapa kamu menculik anakku,hah?! dan apa maumu?" bentak Aby, dengan rahang yang mengeras.


"Hei, jangan cuma bebasin Gilang, tapi putriku Shasa juga." terdengar suara seorang wanita, memprotes.


Aby menggeram, dan semakin mengencangkan kepalan tangannya. Dari permintaan yang diutarakan, Aby bisa menarik kesimpulan, kalau yang menculik anaknya adalah, orang tua Gilang dan mamanya Shasa.


"Jadi, hanya itu permintaanmu?"


"Iya! hanya itu,"


Aby terdiam dan berpikir keras. Bingung untuk mengatakannya pada Kenjo, karena setahunya, perusahaan itu sudah diserahkan ke Kenjo oleh papanya.


"Baiklah, kalau begitu! Tapi, jangan sampai kalian apa-apakan anakku. Jika, sedikit saja ada yang terluka pada anakku, kalian akan rasakan akibatnya, " ancam Aby, tegas dan terlihat tidak main-main. Aby akhirnya berencana tidak akan meminta kembali perusahaan itu, dari tangan Kenjo dan Calvin. Akan tetapi, dia akan memberikan salah satu anak perusahaannya yang lebih besar dari perusahaan Gilang sebelumnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Roni terlihat sudah tiba, di tempat di mana bayi Arend dibawa oleh si penculik. Sebuah gedung tua, yang lumayan jauh dari kawasan penduduk. Sepertinya gedung itu, sudah lama terbengkalai.

__ADS_1


Terdengar di telinganya, bayi Arend yang menangis dan disuruh diam dengan cara dibentak oleh suara seorang wanita.


"Berikan bayi ini, susu. Jangan apa-apakan dia, sebelum Aby membawa putraku ke sini dan meyerahkan semua yang ku minta. Setelah itu, kalian semua akan mendapat bayaran dariku." kali ini terdengar suara berat dari seorang laki-laki. Sepertinya laki-laki itu sedang memerintahkan orang suruhannya.


"Hei, bagaimana?" tiba-tiba bahu Roni ada yang mengetuk dari belakang. Ketika Roni, berbalik, ternyata papanya yang sudah berusia seperti Ardan itu, sudah berada di belakang Roni dan yang paling mengejutkan ada Reyna adiknya.


"Mereka sepertinya lebih dari satu, Pah. Aku yakin, mereka lebih dari sepuluh. Kita harus hati-hati dalam bergerak, karena salah satu anak, Tuan Aby ada di tangan mereka." terang Roni, sambil melirik ke arah adiknya.


"Kenapa kamu ikut ke sini? apa kamu tidak tahu, kalau ini sangat berbahaya?" Roni memasang wajah marah pada adiknya itu.


" Aku juga ingin membantu, Kakak dan Papa, dan aku tidak selemah yang kakak pikirkan."


"Sudah, kalian berdua jangan berdebat! sebaiknya kita berpikir, bagaimana caranya, melewati orang yang berjaga di depan itu." pria setengah baya, yang merupakan papa dari mereka berdua, berusaha menghentikan perdebatan kedua anaknya.


Mendengar, ucapan papa mereka, Roni dan Reyna, akhirnya terdiam dan bersama-sama berpikir bagaimana caranya bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan anak Aby.


Sebenarnya bisa saja mereka langsung menerobos begitu saja, karena bela diri mereka sudah tidak bisa diragukan lagi. Akan tetapi, kalau mereka masuk begitu saja, mereka takut kalau otak dari penculikan ini, mencelakai bayi Arend.


Reyna tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Berupa jarum, yang pastinya sudah dibubuhi dengan obat bius.


Reyna yang memang ahli melempar ke sasaran yang tepat, langsung melempar jarum-jarum di tangannya ke arah yang berjaga di depan. Dan benar saja, penjaga-penjaga itu, tersungkur jatuh dan pingsan seketika.


"Ada gunanya juga kamu!" celetuk Roni, tersenyum miring.


"Makanya, berhenti meragukanku! Cetus Reyna, dengan bibir yang mengerucut.


"Sudah, berhenti berdebat! ayo kita masuk!" kembali papa mereka melerai.


Reyna sedikit mengintip ke arah dalam dan melihat baby Arend yang sedang tertidur tanpa pengawasan. Mungkin bayi itu, baru saja diberi minum susu.


Reyna kembali, melemparkan jarumnya yang hanya tersisa satu ke arah salah satu pria bertubuh besar.


Ketika tiga orang yang merupakan otak penculikan dan wanita berpakaian perawat itu serta para pria lainnya, kebingungan dan panik melihat pria bertubuh besar itu tiba-tiba rubuh, Roni dan papanya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka langsung menerobos dan menyerang para pria lainnya yang berjumlah 8 orang. Sedangkan Reyna dengan secepat kilat berlari ke arah baby Arend, bersamaan dengan wanita berpakaian Perawat tadi.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2