Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku mencintaimu,Mas.


__ADS_3

Ardan menghabiskan waktu cukup lama, berendam di dalam bathtub, untuk mendinginkan si Otong yang sempat terbangun tadi.


"Nggak boleh jadi ini, bagaimanapun aku akan meminta hak'ku malam ini. Dia kan sudah jadi istriku, jadi udah jadi kewajibannya dong,buat layanin aku? aku nggak salah kan?" Ardan sibuk bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


Kemudian Ardan keluar dari dalam bathtub dan meraih bathrobe yang dipakai oleh Amanda tadi. Kemudian dia menatap arah pintu, "Aku harus segera keluar dari sini, nanti begitu aku keluar dari kamar, aku akan memasang wajah dingin dan berkata, 'Manda, buka bajumu'. Ya, kalau aku bilang begitu, dengan wajah dingin, pasti dia akan takut dan akan langsung membuka bajunya, hahahahaha!" Ardan berkacak pinggang, dan tergelak dengan apa yang ada dalam bayangannya.


Dengan langkah pasti dan penuh percaya diri, Ardan, membuka pintu dengan keras, serta siap untuk mempraktekkan apa yang sudah dia latih dari dalam kamar mandi. Alangkah kagetnya dia, ketika tidak melihat sosok wanita yang ada dalam pikirannya itu tidak ada di atas ranjang, maupun di atas sofa. Yang dia lihat hanya pakaian ganti yang tergeletak di atas kasur.


Ardan mengedarkan tatapannya ke segala penjuru ruangan untuk mencari keberadaan istrinya. Dia masuk ke area walk in closet, tapi tetap saja dia tidak menemukan keberadaan Amanda. Dia membuka pintu ke balkon, Amanda tetap tidak terlihat.


"Dimana sih dia?" Ardan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Atau jangan-jangan dia ...." di kepala Ardan, bayangan kalau Amanda keluar dari kamar, dengan memakai lingeri, langsung berkelebat. Ya, tadi sebelum masuk ke kamar mandi, Ardan memerintahkan Amanda untuk memakai lingeri warna merah darah yang langsung menarik perhatiannya. Dengan asap yang sudah mengepul dari ubun-ubun kepalanya, Ardan berjalan terburu-buru ke arah ranjang. Dia membuka jubah mandinya dan langsung meraih pakaian yang disiapkan Amanda.


Belum saja, dia berhasil memasukkan kaos oblong kedalam kepalanya, Ardan terjungkal kaget mendengar teriakan Amanda.


"Aaaaaa! ada gajah ... eh, belalai! teriak Amanda yang muncul tiba-tiba dari bawah tempat tidur sambil menutup kedua matanya.


Ardan mendengar kata gajah, sontak melompat ke atas ranjang, tanpa memperdulikan belalai yang dimaksud oleh Amanda melambai dengan manja.


"Gajah? mana gajah? pekik Ardan yang memiliki ketakutan pada jenis binatang itu, akibat pernah dikejar ketika masih seusia Aby.


Amanda membuka tangannya, lagi-lagi dia berteriak, "Aaaaa! Mas, belalainya kok belum ditutup sih?" pekik, Amanda dengan kedua tangan yang kembali menutup matanya.


Mendengar ucapan Amanda, sontak melihat ke benda miliknya, dan akhirnya mengerti, kalau belalai yang dimaksud istrinya itu, adalah sang senjata Laras panjang miliknya.

__ADS_1


Dengan kesal Ardan akhirnya turun dari atas ranjang, dan meraih celana pendeknya. Dia pun langsung mengenakannya, setelah memakai daleman tentunya.


"Hei, buka matamu!" bentak Ardan, kesal. Selain karena kesal, Amanda yang membuatnya kaget, dia juga kesal begitu melihat Amanda tidak mengindahkan perintahnya, untuk memakai lingeri pilihannya. Lihatlah, justru tubuh Amanda sekarang berbalut dengan kaos oblong dan celana pendek miliknya,yang pasti kedodoran di tubuh Amada.


"Apa kamu sudah menutupinya?" sahut Amanda, yang masih setia dengan telapak tangan di wajahnya.


Ardan menarik ujung bibirnya ke atas, membetuk senyuman smirk. Tiba-tiba dia merasa, menemukan momen untuk menjahili Amanda.


"Emangnya kenapa kalau tidak ditutupi? bukannya malam ini, benda yang kamu sebut belalai itu, sudah seharusnya berkelana ya?" Ardan yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Amanda, berbisik dengan gaya yang sensual.


Amanda dengan susah payah, berusaha meneguk ludahnya sendiri. Tenggorokannya juga, seakan tercekat sehingga dia merasa kesulitan untuk bernapas.


"M- Mas Ardan, a-apa- maksudmu? A-aku ...."


Amanda akhirnya memberanikan diri untuk menatap Ardan tepat ke manik mata, laki-laki yang sudah terlihat memerah. Ya, saat ini adik Ardan di bawah sana, yang biasanya memiliki hobby tidur, mulai menggeliat bangun.


"Aku, bukannya tidak siap, Mas. Tapi, aku tidak mau melakukannya,karena hanya ***** saja, sedangkan Mas, Ardan sama sekali tidak mencintaiku." sahut Amanda dengan suara yang gemetar.


Ardan mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Dia menatap tajam ke arah Amanda. Hati dan pikirannya sekarang dipenuhi dengan amarah. Dia kesal, karena Amanda tidak juga peka dengan perasaan yang dia miliki. Sikap dan perhatiannya selama ini, Ardan kira sudah lebih dari cukup, untuk membuktikan kalau dia mencintai wanita itu. "Apakah cinta itu harus diungkapkan? kenapa sih jalan pikiran wanita sulit untuk dimengerti? Arghhh!" Ardan menggerutu di dalam hati.


"Tidurlah!" suara Ardan memerintah dengan suara datar bahkan terkesan sangat dingin.


Amanda melangkah dan membaringkan tubuhnya dia atas selimut tebal yang dia gelar di atas lantai, samping tempat tidur sambil menggigit bibirnya. Amanda merasa dilema sekarang, antara merasa bersalah tidak melakukan kewajibannya, atau mengikuti saran Jasmine untuk membuat Ardan mengungkapkan perasaannya lebih dulu, baru melakukan kewajiban, semuanya bercampur menjadi satu.


"Kenapa kamu tidur di bawah sana? apa untuk tidur di sampingku saja kamu tida sudi? seburuk itukah aku?" suara Ardan terdengar semakin dingin. Amanda sontak duduk dan bangkit berdiri, lalu duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu! justru aku yang merasa kamu yang tidak sudi, kalau aku sampai tidur di sampingmu," Amanda menundukkan kepala, tidak berani untuk menatap manik mata Ardan.


Ardan menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya kembali ke udara dengan sekali hentakan. Sejurus kemudian dia menarik tubuh Amanda, dan membantunya berbaring di atas ranjang king sizenya. Dia pun menyusul Amanda untuk berbaring, kemudian dengan lembut dia membawa Amanda ke dalam dekapannya.


"Tidurlah! kamu tenang saja, aku tidak akan melakukannya, kalau kamu belum siap! Tapi biarkan aku tidur sambil memelukmu begini."


Amanda yang tadinya hendak mendorong tubuh Ardan, seketika mengurungkan niatnya begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria yang sudah sah jadi suaminya itu.


Degup jantung keduanya, saling bersahut-sahutan seakan sedang beradu siapa yang lebih cepat dan tidak ada yang mau kalah.


Beberapa saat kemudian, degup jantung mereka berdua perlahan-lahan mulai normal, dan napas Ardan mulai terdengar teratur.


Dengan memberanikan diri, dan entah dorongan dari mana, Amanda mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Ardan.


"Mas, apa kamu sudah tidur?"


Tidak ada respon sama sekali dari Ardan. Amanda sekali lagi mencoba memanggil Ardan, tetap tidak ada jawaban.


Dengan perlahan dan hati-hati, Amanda mengecup sekilas bibir Ardan dan berbisik, "Aku mencintaimu, Mas." Kemudian Amanda, kembali ke posisi semula meletakkan kepalanya di dada bidang Ardan. Tanpa Amanda sadari, seulas senyuman terbit di bibir Ardan, yang ternyata belum benar-benar tertidur dan bisikin Amanda terdengar jelas di telinganya.


"Aku lebih mencintaimu." Bisik Ardan yang sayangnya hanya berani dia bisikkan pada dirinya sendiri saja.


Author: Entah apa yang merasuki mu, Ardan? Susah banget kayanya ngungkapin perasaanmu sendiri.🤦🤦


Tbc

__ADS_1


__ADS_2