Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Aku malu!


__ADS_3

"Lupakan! kamu mungkin salah dengar," sangkal Aby, sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak mau Celyn mengetahui,kalau sekarang dia sedang malu.


Wajah Celyn berubah murung begitu mendengar ucapan Aby. Air matanya yang tadi sempat hampir kering, kini mulai merembes lagi.


Melihat hal itu, Aby langsung panik dan membawa kepala Celyn ke dadanya.


"Kamu kenapa, menangis? Sayang, lihat aku! aku tadi berbohong. Aku benar-benar mengatakan kalau aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kamu mau aku mengulangnya? Ok, akan aku ulangi, Aku benar-benar sangat mencintaimu." ucap Aby berulang kali, berusaha menyakinkan istrinya.


Celyn tidak menjawab perkataan Aby. Dia malah menatap manik mata Aby, untuk mencari kebenaran dalam ucapan Aby. Dia melihat kalau memang benar, ada cinta yang besar di manik mata itu sekarang. Akan tetapi, Celyn masih saja merasa ragu.


"Kenapa kamu diam saja, Sayang? apa kamu tidak percaya?"


"Kak, apakah yang kamu katakan itu benar? entah kenapa aku merasa kamu mencintaiku, hanya karena si kembar, bukan karena tulus mencintaiku," ucap Celyn, lirih dan wajah yang sendu. Sumpah demi apapun, hati Celyn sangat sakit ketika mengungkapkan, pemikirannya itu.


Aby mengembuskan napas dengan cukup panjang, merasa kecewa dengan pemikiran Celyn.


"Kamu salah! aku merasa kalau aku sebenarnya sudah mencintaimu jauh sebelum aku tahu kalau si kembar adalah anakku. Mungkin sebelum kamu hamil pun, aku sudah mencintaimu, cuma aku belum menyadarinya," ucap Aby, membuat Celyn tercengang, sulit untuk percaya.


"Kamu tahu kenapa aku berkata seperti itu?"


Celyn menggelengkan kepalanya, pertanda kalau dia memang tidak tahu kenapa.


"Ketika kamu tiba-tiba menghilang dan jarang datang ke rumah, aku mulai merasa kehilangan. Aku mencoba mencari tahu, dengan mengajak Anin berantem yang melibatkan namamu, hanya untuk mencari tahu kabarmu." Aby diam sejenak, untuk meraup udara agar rongga paru-parunya yang sempat kosong, terisi kembali oleh udara. Sedangkan Celyn masih tetap dalam diamnya, setia menanti ucapan Aby lagi.


"Kamu tahu, ketika kamu tidak hadir di acara anniversary orang tuaku, aku merasa kesal, padahal hari itu, aku berkali-kali mematut diriku di depan cermin, memastikan kalau penampilanku benar-benar perfect. Untuk apa? untuk dirimu, dan anehnya pada saat itu, aku menyangkalnya.__ Aku bahkan merasa kesal ketika melihat Kenjo begitu panik, ketika mendengar kalau kamu sedang sakit dari Rico. Aku mengira kalian berdua ada hubungan. Aku mengikuti Kenjo sampai ke rumahmu dan aku benar- babar marah tapi tidak tahu marah untuk apa, ketika melihat Kenjo mengelus kepalamu dan kamu tersenyum padanya." papar Aby, mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan selama ini, berbanding terbalik dengan sikapnya yang dingin.


"Jadi, kenapa kakak, kemarin pergi begitu saja tanpa pamit padaku? bukannya karena kakak __"


"Itu karena aku kesal, ketika kamu menyebut banyak laki-laki yang memujimu cantik. Aku benar-benar tidak suka." Aby menyela ucapan Celyn.

__ADS_1


"Jadi kakak cemburu?"


"Kalau kamu menyebutnya itu cemburu, ya bisa jadi kalau itu memang cemburu. Yang jelas aku tidak suka ada laki-laki lain yang memujimu cantik, selain aku." ucap Aby, tegas


"Walaupun itu papaku?"


"Itu beda cerita,"


"Papa Ardan, Adrian, Kak Kenjo, Kak Cal __? Aby langsung membungkam bibir Celyn dengan bibirnya, agar wanita itu berhenti berceloteh, hingga membuat netra Celyn membesar dengan sempurna.


Ini memang bukan yang pertama atau kedua kalinya, Aby menciumnya. Mungkin kalau dihitung, Celyn sudah lupa berapa kali. Tapi, ini pertama kalinya, Celyn tahu kalau Aby menciumnya karena rasa cinta, jadi debaran itu benar-benar tidak bisa dia hindari.


Aby menjauhkan bibirnya dari bibir Celyn dan melihat wajah wanitanya itu sudah memerah seperti kepiting rebus yang baru saja dikeluarkan dari panci.


"Kenapa kamu jadi cerewet seperti ini sih?" ucap Aby sambil melap bibir Celyn yang masih basah bekas salivanya.


"Apa sekarang kamu masih meragukan cintaku?" tanya Aby, mencondongkan tubuhnya mendekat ke wajah Celyn sehingga wanita itu refleks memundurkan wajahnya ke belakang. Celyn tidak mengeluarkan suara, tapi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil mengerjap-erjapkan matanya.


Celyn menarik napas lega, ketika wajah Aby sudah tidak berada tepat di wajahnya lagi. Akan tetapi, rasa leganya hanya bertahan untuk sementara. Tenggorokannya seakan tercekat, ketika mendengar ucapan Aby kembali.


"Sekarang, giliran kamu. Apa benar kamu sudah mencintaiku dari dulu?" tanya Aby, sambil menatap dalam-dalam ke arah manik mata Celyn.


"Hmm, A-aku ... Emm, Kak, apa kamu sudah memberikan nama pada anak-anak kita?" Celyn mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu jangan coba-coba, mengalihkan pembicaraan, Sayang! kamu kira aku bakal terkecoh?" Aby mengerlingkan, matanya menggoda Celyn.


Celyn menundukkan kepalanya, sambil menggigit bibirnya. Sumpah demi apapun, sekarang dia sungguh sangat malu.


"Mmm, aku ... aku,"

__ADS_1


"Sudahlah! kamu sepertinya berat untuk mengatakannya. Seperti yang aku pernah bilang, anggap sajalah kalau dugaanku tidak benar. Mungkin hanya perasaanku saja , kalau kamu mencintaiku," ucap Aby, memasang wajah pura-pura sedih.


"Siapa bilang, aku tidak mencintai kakak, aku sangat, sangat mencintai kakak kok," Celyn benar-benar terpancing dengan ekspresi sedih, Aby.


"Aku sudah tahu, kok. Aku hanya ingin mendengar pengakuanmu saja," raut wajah Aby benar-benar santai, seperti tidak ada yang terjadi.


"Jadi, Kakak menjebakku?" Celyn mencebikkan bibirnya, kesal.


Aby terkekeh melihat ekspresi Celyn dan menyentil hidung wanita itu dengan gemas.


"Aku sebenarnya sudah tahu, kalau kamu menyukaiku, semenjak kamu menyimpan boneka yang kamu anggap itu dariku, padahal, sebenarnya aku juga bingung sejak kapan aku memberikan hadiah untukmu. Dan anehnya kamu menyimpannya sampai sekarang," jelas Aby, membuat mata Celyn membesar dengan sempurna.


"Jadi, itu bukan dari kakak?" kaget sekaligus malu bercampur menjadi satu.


"Bukan! tapi,setelah boneka itu kamu anggap hilang, dan aku menemukannya serta mengembalikannya padamu, anggap sajalah kalau itu benaran dariku." Ucap Aby, menyunggingkan senyum tulusnya.


"Haish, ini pasti ulah, Mama. aihh, malunya," bisik Celyn pada dirinya sendiri, sambil menutup wajah dengan kedua tanganya.


"Kamu kenapa?" Aby mencoba melepaskan tangan Celyn dari wajahnya.


"Jangan dilepas,Kak! sumpah demi apapun aku benci, kakak." ucap Celyn menutupi rasa malunya.


Aby mengulum senyumnya, menyadari kalau istrinya itu tengah malu saat ini.


"Kamu tidak akan bisa membenciku, karena aku adalah cintamu dan sekarang, kamu adalah cintaku," Aby kembali membawa kepala Celyn ke dadanya, dan memberikan kecupan yang sangat lama ke puncak kepala wanita itu.


Air mata Celyn tanpa permisi keluar dari matanya, menyadari kalau perjuangannya untuk membuat Aby mencintainya, tidak sia-sia. Dia merasa kalau rasa cinta yang dia miliki untuk Aby, kini sudah berbalas.


"Jadi, apa kamu sudah memikirkan siapa nama anak-anak kita?" tanya Aby, lembut seraya menyeka air mata dari pipi istrinya itu.

__ADS_1


Tbc


Terima kasih buat dukungan para readersku yang tersayang. Kalimat penyemangat dari kalian semua, sudah bisa membuatku kembali bersemangat. Aku ingin, balas komen kalian satu persatu, tapi aku memutuskan untuk, menyatukannya di sini. Sekali lagi, terima kasih banyak ya! Send hug virtual buat kalian semua 🤗🤗


__ADS_2