Anak Kembar Sang Penguasa

Anak Kembar Sang Penguasa
Jauhkan rasa iri!


__ADS_3

"Pa, Aby mau ikut!" pinta, Aby dengan manik mata yang memelas, memohon.


"Aby, kali ini biar papa dan om Rio yang menyelesaikan semuanya. Izinkan papa jadi orang berguna kali ini."


Sebenarnya, Rio ingin tergelak mendengar ucapan, Ardan. Tapi, waktunya tidak tepat.Jadi, Rio hanya bisa tertawa dalam hati dan membatin, "Baru kali ini Ardan jadi orang yang tidak berguna, dikacangin sama anak kecil,"


"Kamu jangan meledek aku,Rio! aku tahu apa yang kamu pikirkan."


Garis bibir, Rio seketika melengkung ke bawah, mendengar bentakan Ardan.


"Ayo, kita berangkat, Yo. Sebelum wanita ular itu, membawa jauh anakku." Aura marah masih terlihat jelas dari nada suara Ardan dan air mukanya.


Sebelum berangkat, dia menoleh ke arah Amanda dan sekali lagi memeluk wanita itu. Lalu dia, berjongkok dan memeluk, Aby.


" Kamu, bantu papa buat jagain mama kamu. Yakinlah, kalau papa akan berhasil membawa adikmu kembali." Ardan mengecup puncak kepala Aby, lalu berdiri seraya mengacak rambut Aby. Kemudian, dia pun mengayunkan langkah dengan langkah lebar, diikuti oleh Rio dari belakang.


"Papa, Tunggu!" teriak Aby sambil berlari dengan sedikit kencang menyusul Ardan. Di tangannya seperti membawa kantongan plastik berwarna putih.


Merasa ada yang sedang memanggil namanya, Ardan memutar tubuhnya, dan mengurungkan niat untuk membuka pintu mobilnya.


"Ada apa,By? apa yang kamu bawa itu?" Ardan melirik ke arah kantongan yang ada di tangan putranya itu.


"Pah, ini obat Anin. Tadi siang dia sudah minum obat. Nanti setelah Anin berhasil papa bawa pulang, kalau waktunya sudah agak malam, Papa harus kasih obat ini untuknya. Anin tidak boleh telat minum obatnya," jelas Aby di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal.


Ardan menerima kantongan berisi obat dari tangan Aby. Sekali lagi, dia merasa kagum dengan sikap putranya yang selalu bisa berpikir ke depan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Sekarang kamu masuk ke dalam, ajak mamamu untuk pulang dulu! jangan kasih tahu masalah ini sama Oma dan Opa, ya! Nanti jantung opa bisa kumat."


Aby menganggukkan kepalanya, dan melangkah masuk kembali, setelah melihat mobil papanya, sudah menghilang dari pandangannya.


Sementara itu, di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, Ardan masih sempat memerintahkan Rio, untuk memerintahkan beberapa bodyguard untuk menjaga keamanan dan Amanda dan Aby.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lora membaringkan,Anin yang masih belum lepas dari pengaruh obat bius. Melihat wajah polos Anin, membuat perasaan Lora merasa sedikit tidak tega, dan merasa bersalah. Akan tetapi, begitu mengingat wajah Amanda, membuat rasa bencinya kembali bergejolak.


sambil menunggu Anin terbangun, Lora mendaratkan tubuhnya duduk di sofa dengan menyenderkan punggungnya. Matanya terlihat menerawang, mengingat masa lalu. Di mana dia, Jasmine dan Radit bersahabat begitu dekat. Benih-benih cintanya mulai tumbuh pada Radit seiring berjalannya waktu. Karena Radit selalu ada di saat dia butuh. Radit selalu meluangkan waktunya untuk menemani Lora, kapanpun Lora memintanya.


Lora memberikan perhatian lebih pada Radit, berharap Radit bisa peka dengan apa yang dia rasakan. Mulai dari membuat sarapan, makan siang, dan ada setiap Radit membutuhkan. Jasmine juga terlihat mendukungnya saat itu. Tapi, semuanya berubah, setelah Amanda hadir di antara mereka bertiga. Radit berubah, dan justru jatuh cinta pada Amanda.


Radit yang dulu selalu ada, bila dia butuhkan, tapi setelah Amanda hadir, Radit selalu menolak dengan alasan menjaga perasaan Amanda. Jasmine juga semakin terasa jauh, dan justru mendukung hubungan Amanda dan Radit. Masih teringat jelas di ingatannya, di mana Jasmine berkata ' Lora, mending kamu lupakan perasaan kamu pada Radit dan cobalah untuk ikhlas. Kamu jangan memaksakan agar Radit mencintaimu. Kalau memang dari awal Radit sudah mencintaimu, dia pasti dari dulu sudah menjadikan kamu kekasihnya. Tapi, kamu bisa lihat sendiri kan, Radit hanya menganggap kamu sahabat, tidak lebih. Jangan memaksakan sesuatu hal yang kamu inginkan, karena kalau dipaksakan, ujung-ujung pasti tidak akan sesuai dengan apa yang kamu harapkan'. Ucap Jasmine saat itu.


Suara lenguhan yang terdengar dari arah ranjang, menyadarkan, Lora dari lamunannya. Dia pun beranjak berdiri dan mengayunkan langkah menghampiri ranjang.


"Kamu sudah bangun rupanya?" sudut bibir Lora terangkat sedikit ke atas, menyeringai sinis.


"Tante siapa? dan Anin sekarang ada di mana?" tanya Anin dengan wajah bingung.


Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku adalah malaikat buatmu. Malaikat yang bisa membawamu pada sang 'pencipta'." sahut Lora tanpa menanggalkan seringaian sinis dari bibirnya.


"Apa Tante ini orang jahat?" Anin berusaha bangun dan duduk walaupun kepalanya masih terasa pusing.

__ADS_1


"Hei, siapa yang jahat?! asal kamu tahu, mama kamu yang jahat. Mama kamu sudah mengambil semua yang harusnya milikku. Mama kamu itu tidak berhak bahagia, aku yang harus bahagia. Dan kalau kamu sudah tidak ada, pasti mama kamu akan gila!" Lora membentak dengan suara yang tinggi, seraya menunjuk tepat di wajah Anin. Membuat gadis kecil itu, terlonjak kaget dan hampir saja menangis, karena seumur-umur, baru kali ini di dibentak oleh orang.


"Tante, mama orang baik bukan orang jahat.Tante sendiri yang membuat diri Tante tidak bahagia, karena menyimpan rasa iri dan dengki pada mama. Coba Tante buang rasa iri Tante, pasti Tante akan jauh merasa lebih bahagia." Walau rasa takut Anin begitu besar, tapi Anin berusaha memberanikan diri untuk mengingatkan Lora.


"Tahu apa kamu dengan rasa iri, hah? kamu itu masih kecil, tapi udah berani mengajariku. aku tidak iri sama mamamu, aku hanya ingin dia merasakan apa yang juga aku rasakan.Jadi, kamu jangan sok menasehati aku. Kamu itu sama sekali tidak pantas." pekik Lora lagi.


"Anin tahu Tante. Apa Tante kira Anin tidak pernah merasa iri? Anin pernah iri tante, dan rasanya sama sekali tidak enak. Anin iri sama teman-teman Anin yang bisa sekolah, bebas bermain, bisa jalan kemana-mana. Tapi, Anin tahu, kalau Anin terus merasa iri, pasti Anin akan sedih terus dan sakit Anin akan susah untuk sembuh. Dari situ Anin sadar, kalau Anin tidak boleh iri supaya Anin bisa menikmati rasa sakit Anin. Walaupun rasanya sangat sakit, Anin tetap semangat dan tidak mengeluh, dengan kebahagiaan yang didapat oleh teman-teman Anin. Jadi, sama halnya seperti Tante, coba Tante sekali saja menghargai diri Tante, dengan tidak melihat apa yang didapat oleh orang lain, pasti hati Tante rasanya akan lebih tentram dan bahagia. Jauhkan rasa iri, karena iri hati adalah penyakit yang membuat hidup kita tidak tentram dan tidak bahagia. Itu yang Anin baca selama Anin dirawat dan tidak boleh kemana-mana, Tan." Jelas Anin panjang lebar, yang membuat Lora seketika tercenung dan diam-diam mencerna ucapan yang dikeluarkan oleh bibir bocah kecil di depannya itu. Dia tidak menyangka, anak sekecil itu, bisa mengeluarkan kata-kata bijak dari bibirnya.


Keheningan terjeda cukup lama, sampai akhirnya ego Lora kembali mencuat. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya membenarkan ucapan Anin, tapi egonya berusaha menepis tidak terima dinasehati oleh anak kecil.


"Diam kamu! berani sekali kamu menasehatiku, Hah?!" suara Lora kembali meninggi bahkan lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya.


"Tante, jangan bentak, Anin! Anin takut," Anin beringsut mundur dan berhenti ketika tubuhnya, membentur sandaran ranjang.


"Hahahaha! kamu takut juga ternyata! asal kamu tahu, aku ingin sekali melihat wajah ketakutan mamamu, tapi melihat wajah ketakutanmu, juga rasanya tidak buruk, tetap saja rasanya menyenangkan." suara tawa, Lora pecah sampai terpingkal-pingkal. Dia seperti mendapat kesenangan tersendiri melihat wajah ketakutan, putri mantan sahabatnya itu. Dia seperti melihat wajah Amanda yang sedang ketakutan sekarang.


"Tunggu dulu! aku mau rekam wajah ketakutanmu, dan setelah kamu nanti tidak ada lagi di dunia ini, aku akan kirimkan video ini ke mamamu. Tante yakin kalau dia pasti akan gila, Hahahaha! membayangkan mamamu jadi gila saja, sudah membuat aku puas dan bahagia.


Lora meraih ponselnya dan sebilah pisau kecil yang diarahkan pada gadis kecil yang meringkuk ketakutan itu. Anin yang melihat kilatan pisau yang tajam itu, semakin dilanda ketakutan yang amat sangat.


"Papa, mama, kakak, tolongin Anin ... Ani takut," rintih Anin.


Brak ....


Pintu terbuka dengan keras, akibat tendangan dari arah luar.

__ADS_1


Tbc


Mohon dukungannya dong gais. Please jangan jadi silent reader. Like, vote dan komen. Biar aku makin semangat buat up nya.Thank you 🙏


__ADS_2