
"Semuanya sudah beres. Ayo,kita pulang" ucap Rea, menatap ke arah Kai.
Kai, beranjak berdiri dari tempat duduknya dan mengangguk kepala.
Mereka berdua, meninggalkan hotel. Tempat dimana dua insan, pengantin baru. Menghabiskan waktu bersama, walaupun hanya sekejap.
Rea, membuang muka ke jendela mobil dan Kai terus menyetir mobilnya. Sesekali melirik ke arah, Rea. Dia tahu,jika sang istri tengah marah dan kecewa.
"Rea, percayalah bahwa aku dan dia tidak melakukan apapun. Memang benar,kami hanya tidur satu ranjang. Tapi,aku tidak menyen-tuhnya seperti suami-istri". Kai,membuka suaranya. Walaupun, tidak ada jawaban dari Rea.
"Mau pulang,atau makan dulu". Tanya Kai,
Sempat melirik sekilas ke arah, Rea.
"Tidak, langsung pulang saja". Jawab Rea,ia merasakan sesak di dadanya. Sekuat mungkin, menahan air matanya.
Hening tidak ada, perbincangan hangat antara mereka. Hingga sampai di rumah, orangtuanya Rea.
"Assalamu'alaikum". Ucap Kai dan Rea, bersamaan.
"Wa'alaikum salam". Jawab pak Broto dan bu Minah. Mereka menyambut kedatangan,anak dan menantunya.
"Sudah pulang,kirain bermalam di sana lagi". Ucap pak Broto, menepuk pundak menantunya.
"Besok kami,kerja pak. Jadi,kami memutuskan untuk pulang". Alibi Kai, berharap sang istri tak berbicara apapun tentang ini kepada orangtuanya.
Jika sampai membicarakan nya, mungkin detik ini juga. Kai,akan di usir dari rumah ini. Nama baik keluarga Rea dan keluarganya,akan tercoreng.
Kai,menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. Ia langsung meme-luk Rea,dari belakang. "Jangan diam saja,aku mohon".
"Lepaskan kak, selesaikan masalah kakak dan mantan pacar kakak. Aku tidak tenang, menjalani rumah tangga seperti ini". Air matanya luruh sudah, sedari tadi ia menahan.
"Hussssttttt....jangan menangis,baik. Aku kan menyelesaikan semuanya, maafkan aku". Kai, menghapus air mata istrinya.
"Secepatnya kak,jangan sampai ketahuan kedua orangtuaku. Jika mereka tahu, siap-siap saja. Kakak, tidak akan bertemu lagi dengan ku". Rea,tahu konsekuensi jika berita ini sampai ke telinga kedua orangtuanya.
__ADS_1
Berpisah, sungguh tak sanggup bagi Rea. Entah kenapa,cinta itu tumbuh secepat ini. Ia membalas pelukan, suaminya.
"Tenanglah, orangtuamu tidak akan pernah mendengar berita ini. Percayalah, semua akan baik-baik saja". Kai, mengecup kening istrinya.
Rea, meleraikan peluk-annya. Ia berganti pakaian, tepat di hadapan Kai.
Dengan jahilnya,kai malah melo-rot handuk yang menu-tupi seluruh tu-buh istrinya. "Kak,jangan...Uughhh,jangan kak. Ini masih siang, apa lagi di rumah orangtuaku". Rea, menghentikan aksi suaminya.
"Siapa suruh, berganti pakaian tepat di hadapan ku. Apa sengaja,hemmm...mau mengg-odaku". Bisik Kai,dari belakang.
Bulu kuduk seketika berdiri,Rea hanya menggelengkan kepalanya. "Mana ada,aku cuman mau ganti pakaian. Gerah,tau. Kak,lepas dong tangannya. Geli,tau....!!".
Kai, langsung membalikkan bad-an istrinya dan mele-mpar handuk ke semba-rang arah. Kai, menyu-su seperti bayi.
Rea,hanya melotot melihat aksi suaminya.
Astaga,kenapa dia tiba-tiba seperti ini?baru tahu,jika kak Kai sangat m-e-sum. Batin Rea, memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kai, sedari tadi menik-mati dua buah melon. Sesekali,dia mendongakkan kepalanya ke atas. Mereka masih posisi, berdiri.
Setelah puas meny-usu,kai menghentikan aksinya. "Sial, panggilan alam tiba-tiba". Kai, langsung mem-ungut han-duk istrinya dan memberikan kepadanya.
*************
Jam enam pagi,Kai pamit untuk berangkat kerja. Ia harus ke rumah orangtuanya dulu,ada berkas-berkas yang di ambil. Setelahnya, barulah dia pergi ke perusahaan.
Saat di persimpangan jalan,Kai melihat sesosok pria yang di kenalnya. Yaitu,ayah Dewi sedang mencari tumpangan.
"paman, naiklah. Aku akan mengantar". Kai,membuka pintu mobil untuk pak Hakim
"Wahhh... Terimakasih,nak. Padahal,paman mau telat ini. Dari tadi,gak ada yang lewat". Pak Hakim, tersenyum sumringah dan naik ke mobil Kai.
Kai,hanya tersenyum dan mengangguk. Ia langsung menancapkan gas mobilnya, dengan kecepatan sedang.
"Paman kerja dimana? Jauh kah". Tanya Kai,hanya basa-basi.
__ADS_1
"Paman hanya,mandor bangunan. Tak jauh,lurus lalu belok saja. Nak,apa ada kerjaan di perusahaan mu. Siapa tahu, Dewi bisa bekerja di sana. Lumayanlah, Dewi bisa bekerja dan berangkat barengan sama kamu". Pak Hakim, tersenyum kecil.
Waduhhh...gawat darurat ini, kalau masalah pekerjaan ada sih. Tapi,kalau berangkat bareng aku. Gak lah, apa lagi Dewi kecentilan melebihi batas normal. Batin Kai,dia termenung sejenak. "Wahhh... kebetulan sekali,gak ada lowongan paman. Nanti,aku tanyakan. Siapa tahu,ada". Alibi Kai, berharap nanti lupa saja.
"Iya,di tunggu nak. Soalnya, Dewi gak ada kerjaan juga di rumah. Kalau berangkat bareng, kamu. Kan bisa hemat,kalian juga keluarga an". Kekehnya pak Hakim, membuat Kai malah tak enak.
Selesai mengantar pak Hakim, barulah Kai melanjutkan perjalanan ke rumah orangtuanya.
Tentu saja pak Hakim,bahan pertanyaan orang lain. apa lagi,pak Hakim belum pernah di antar menggunakan mobil mewah ke tempat kerja.
"wiiss...siapanya pak Hakim," Tanya seorang teman pak Hakim.
Saat pak Hakim,keluar dari mobil mewah. menjadi pusat perhatian, lainnya.
"Oh,yang tadi. Dia Calon menantu saya". jawab pak Hakim, tersenyum sumringah.
"Waahhh... sepertinya,kaya raya calon menantunya pak Hakim". sahut lainnya, kini jadi bahan pembicaraan mereka.
********
Rea,juga bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
"Bu, ini uang buat beli ikan sama sayur". Rea, terpaksa meminta bantuan kepada ibunya. Karena tukang sayur dan ikan, agak siangan baru ada.
"Eeee...gak usah,nak. Ibu,ada uang kok dari bapak. Simpanlah,buat kamu. Bukankah,kamu sudah membeli bahan sembako lainnya. Gak enak,apa lagi uang suamimu kan. Ibu,ada uang kok. Kamu ini,yah". Bu Minah, langsung mengembalikan uangnya.
"Bu,ambil saja. Kalau masih ada sisanya,ambil buat ibu. Nanti,kalau ikan sama sayur habis. Aku kasih lagi,jangan lupa bilang yah bu". Rea, mengembalikan uang itu lagi.
Bu Minah,hanya tersenyum dan mengambil uang itu. "Baiklah,ibu ambil. Sekalian,mau masak buat pekerja membangun rumahmu itu".
"Ya sudah,bu. Rea, berangkat dulu". Rea, langsung mencium punggung tangan ibunya. "Assalamualaikum".
"Wa'alaikum salam,". Jawab bu Minah, melanjutkan membuat minuman untuk para pekerja di belakang rumahnya.
"Sudah selesai,bikin minumannya. Gak enak, kalau gak di kasih air teh. Walaupun,nak kai. Melepas tanggung jawab, masalah makan dan minum". Pak Broto, mendekati istrinya.
__ADS_1
"Nak kai,dia tidak mau merepotkan kita pak. Ini ibu,mau belanja sayur dan ikan. Sekalian,buat mereka juga. Jangan bilang ke menantu mu,dia tidak ingin membuat kita capek. Kamu juga,jangan terlalu capek". Bu Minah, langsung meninggalkan suaminya.
"Terimakasih, sudah memberikan menantu sebaik dia. Aku sebagai seorang ayah,tenang jika meninggalkan anaknya bersama dengan orang yang tepat". Gumam pak Broto,air matanya menetes.