
Rea,yang baru sampai di rumahnya. Sudah di sambut,oleh kakak sepupunya itu.
"Darimana saja? Sudah sore,baru pulang. Mau perempuan jadi apa kamu, Rea? Bukankah,kamu beberapa hari lagi akan mengadakan resepsi pernikahan. Seharusnya,diam saja. Gak usah kemana-mana". Tegur kakak sepupunya itu, terdengar nada tak suka.
"Sudahlah kak, Dewi. Kalau tidak tahu, apa-apa. Jangan sok, komentar deh". Jawab Rea,yang tak pernah akur dengan kakak sepupunya.
"Aneh,aku ini cuman mengurangi kebiasaan kamu. Yang suka keluyuran, bersama Tina". Decak Dewi, langsung.
"Kak,aku dan Tina hanya jalan-jalan sekitar sini. Jangan mikir macam-macam deh,aku baru pulang karena bersama suamiku. Bukan,bersama suami orang lain". Rea, langsung membungkam mulut kakak sepupunya itu.
"Kamu....". Dewi, langsung menunjuk ke arah Rea.
Namun, Rea hanya menyunggingkan senyum dan langsung masuk ke dalam rumah.
Rea, calingukan mencari kedua orangtuanya. Namun,di rumah tidak ada siapapun.
Tidak berpikir panjang,dia langsung membersihkan diri karena sudah tak nyaman.
Air dingin mengguyur tubuhnya, matanya terpejam. Namun, ingatannya terngiang-ngiang saat dia berpelukan dengan Kai.
"Astaga,kenapa aku mengingat kejadian tadi". Gumam Rea,ia hanya senyum-senyum sendiri.
Beberapa menit kemudian,dia sudah bersantai di ruang tamu. Sambil melihat-lihat gambar,desain rumah.
"Semuanya, bagus-bagus. Aku sampai, kebingungan pilih yang mana". Gumam Rea,tak sadar jika kedua orangtuanya sudah datang.
"Assalamualaikum". Ucap bersamaan,kedua orangtuanya.
"Wa'alaikum salam,ehh...ayah, ibu". Rea, langsung menyalami orangtuanya.
"Apa ini,nak". Pak Broto, langsung mengambil sesuatu di meja.
"Itu,gambar desain rumah. Suami Rea, meminta memilih sendiri dan terserah model bagaimana. Karena sudah, menyerahkan semuanya kepadaku". Jawab Rea, langsung
__ADS_1
"Oh...kalian jadi,bikin rumah di belakang rumah ini". Tanya pak Broto,kepada anaknya.
"Iya,Ayah...kak Kai, menyerahkan semuanya kepada Rea. Terserah,mau tinggal dimana? Kami,sudah berdiskusi tentang ini. Rea,gak mau jauh dari ayah dan ibu. Suami Rea,tidak keberatan kok". Kata Rea,hanya menunduk kepala.
"Kalau sudah sepakat, terserah kalian saja. Besok,ayah akan membicarakan tentang ini kepada mertuamu besok". Pak Broto,hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada anaknya.
Bu Minah, melirik ke arah tangan anaknya. Ada sesuatu,yang tak pernah dia lihat. "Gelang dan cincin,kapan kamu membelinya sayang".
"Ehhh....ibu, ini gelang pemberian kak Kai dan cincin pernikahan kami". Jawab Rea, tersenyum kecil.
"Alhamdulillah,kamu mendapatkan suami sebaik nak Kai. Ibu dan ayah, selalu berdoa agar menemukan suami yang baik dan selalu menjadikan dirimu ratu di hidupnya". Bu Minah, merasa sangat bahagia. Jika anaknya,di perlakukan seperti ratu.
Kebahagiaan seorang anak, adalah pertama. Awalnya,bu Minah menantang pernikahan mereka. Karena takut, anaknya tidak bahagia. Saat bertemu kedua orangtuanya,Kai. Bu Minah yakin,kalau mereka keluarga baik-baik.
***********
Besok harinya,tepat di sore hari.
Kedua orangtuanya Kai,kakak dan kakak iparnya, berserta keponakannya sekaligus. Mereka datang, kediamannya istrinya Rea.
Rumah pak Broto,di penuh dengan kedatangan orang-orang sekitar. Ayunda, memperkenalkan anak pertama dan menantunya. Begitu juga dengan, cucu-cucunya.
"Bu Ayunda, cucunya cantik dan ganteng". Bu Minah, merasa sangat bahagia karena kedatangan cucu besannya itu.
"Alhamdulillah, yang dua di rumah. Gak di bawa,karena masih umur beberapa bulan. Ada baby sitter, yang menjaganya. Kapan-kapan,ke sana yah. Main-main gitu,biar Kai yang membawa kalian". Kata Ayunda, langsung di angguki Bu Minah.
Orang-orang sekitar, terlihat kagum keluarga suami Rea. Melihat kedua mertuanya Rea,masih terlihat tampan dan cantik. Apa lagi J, terlihat sangat tampan dan berpakaian rapi.
Sepertinya pak Broto dan J, pembicaraan mereka langsung nyambung dan ada tertawa lepas. "Begini pak J, sebenernya aku meminta ijin. Apa benar, menantu ku sudah membicarakan masalah tempat tinggal mereka". Pak Broto,tak ingin menjadi salah paham di kemudian hari.
"Pak Broto,yang menikah adalah mereka. Mereka menikah, untuk kebahagiaan bersama. Dimana pun, mereka ingin tinggal. Itu terserah mereka, asalkan demi kebaikan dan kebahagiaan. Kakaknya,juga tinggal tidak bersama kami. Malah tinggal di apartemen,karena anak mereka masih kecil. Dan ibunya,tak sanggup mengurus. Kami menyewa orang dan kami sebagai kedua orangtua. Kami tidak mengerjakan apapun,sebisa mungkin membantu anak dan menantu kami". Kata J, tersenyum kecil.
Pak Broto,merasa lega mendengar jawaban besannya itu. "Terimakasih,pak J. Aku sangat senang, mendengar jawaban dari anda".
__ADS_1
Melihat kebahagiaan keluarga pak Broto,ada yang merasa senang dan ada juga tak suka dengan kebahagiaan mereka. Rasa iri dan dengki,mulai bermunculan di hati mereka.
Siapa lagi kalau bukan, kakak-kakak pak Broto dan keluarga istrinya juga.
"Dewi,ke sini juga toh". Ucap salah satu, tetangga bu Minah.
Bu Minah, nampak terkejut melihat sesosok Dewi. Ia duduk tak jauh,dari Rea dan Laila.
Bu Minah, nampak gelisah karena keponakannya itu memiliki skandal dengan suami orang.
Dewi, yang menaruh rasa benci dengan Rea. Apa lagi, memiliki suami yang kaya dan mertua yang baik. Dia ingin, menghancurkan segalanya.
"Aduhhh...kenapa Dewi,ke sini? Takutnya, besan bu Minah malah berpikiran gak-gak". Sahut ibu-ibu lainnya.
"Kenapa sih? Aku ke sini,mau melihat juga kali. Apa lagi,aku jauh lebih penting karena aku sepupunya Rea". Kata Dewi, dengan bibir mengejek.
"Maaf, ucapan keponakanku" bu Minah, merasa tak nyaman dengan kedatangan Dewi.
"Maaf, kalau dia ke sini? Emangnya,kenapa". Ayunda, tipe wanita kepoan. Tentu saja, kekepoannya meronta-ronta.
"Maaf, bu Minah. Bukannya, ingin mempengaruhi keadaan. Seharusnya,bu Minah jujur saja". Bisik seseorang ibu-ibu,di samping bu Minah.
Ayunda, mencurigai ibu-ibu sekitar besannya itu. Sepertinya, mereka nampak tak suka dengan kebahagiaan keluarga ini. Ck, mereka kira aku bakalan kecewa kalau ada masalah apapun. Emang yah, ibu-ibu julid dan penuh iri hati dan dengki. Batin Ayunda, tersenyum kecil. Astagfirullah..
"Hussssttttt....kalian kenapa sih? tiba-tiba, mengungkit masalah itu. Gak enak,kalau di bicarakan masalah Dewi. kaya gak ada, masalah lain aja". seorang ibu-ibu,membela bu Minah.
"Bu Minah,jangan merasa takut.Apapun, masalah yang melanda, asalkan bukan anak ibu. gak masalah kok, mungkin saja masalahnya sudah kelar. atau ada orang sekitar bu minah,ada yang tidak suka dengan kebahagiaan keluarga ini". Ayunda, langsung angkat bicara dan melirik sekilas ke arah ibu-ibu.
"Biasa bu,penyakit iri hati dan dengki". sahut ibu lainnya.
"Hemmm...benar itu, mungkin iri. melihat bu Minah, dapat besan kaya bu Ayunda". Timpal lainnya.
memang benar,ada raut wajah ibu-ibu lainnya. nampak tak suka, dengan perkataan Ayunda. masalah ibu-ibu, Ayunda tak masalah. malah dia ingin sekali,mengompori agar hatinya semakin panas. bagi yang iri hati, terhadap besannya ini.
__ADS_1
Bu Minah,merasa lega Karena besannya itu.tidak mengambil hati, takutnya sang besan tidak menyukai keluarganya.