ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Benalu Oh Benalu (S2)


__ADS_3

Pak Broto, langsung menghubungi temannya. Kebetulan sekali,teman pak Broto memiliki rumah hanya berhalat tiga buah rumahnya.


Teman pak Broto, pindah ke kota sebelah. Rumahnya,hanya di tinggalkan kosong begitu saja. Tetapi, perabotan rumah tangga masih lengkap.


Teman pak Broto,merasa senang ada yang mendiami rumahnya itu.


Saat ini pak Broto, sudah masuk ke dalam rumah temannya. Yang di ikuti, dengan lainnya juga.


"Rumahnya, lumayan besar bi". Ucap Rea, melihat sekililing ruangan tersebut.


"Hemmm...lagian, rumahnya baru di renovasi kayaknya". Sahut Kai,dia juga melihat sekeliling.


Bu Bidah,nampak cemberut mendengar ucapan mereka."Broto, seharusnya mendukung jika menantumu membangun rumah untukku. Palingan gak seberapa besar, biaya pembangunan rumahnya. Toh, menantumu kaya raya".


"Bu, sudahlah jangan membahas tentang ini lagi". Rengeknya Lilis, merasa tidak nyaman dengan perkataan ibunya.


"Tangannya sudah tidak seberapa panjang dan luas. Palingan bisa, membangun satu rumah kecil. Yang ada ruang tamu dan satu kamar, kemungkinan dapur tidak bisa lagi". Kata pak Broto, sudah termasuk sabar menghadapi keluarga istrinya.


"Mbak,kami bisa membantu segini saja. Jangan libatkan menantuku,dia tidak berhak untuk ikut campur". Bu Minah,juga angkat bicara.


"Alaaahhh... bilang saja, punya mantu pelit". Sindir bu Bidah, mengerucut bibirnya.


"Hahahahha..benar sekali, menantunya itu pelit". Sahut seseorang di ambang pintu,siapa lagi kalau bukan bu Wahdah.


"Eeeee...ada Mbak wahdah,lama gak ketemu. Benar sekali, menantunya pelit untuk bibi-bibinya". Kini bu Bidah,malah menyudutkan Kai.


"Benar, waktu itu anakku meminta pekerjaan dan mau berangkat barengan. Malah,dia gak mau. Dasar pelit,". Bu wahdah,juga mengejek Kai.


"Sudahlah,ayo kita pulang nak". Pak Broto, menepuk pundak menantunya.


"Oh,kalian menganggap aku pelit? Lantas, bagaimana dengan hutang-hutang Lilis. Dia, seringkali meminjam uang kepada ku dan kedua mertuaku. Aku rela, menggantikan uang mertuaku yang di pinjam oleh Lilis. Saat Lilis, meminjam uang akan tetapi aku tidak menagihnya dan malah mengikhlaskannya. Sedangkan istriku, sudah beberapa kali melarang rendah hati ku kepada Lilis. Satu hal lagi,aku pelit dimana nya bi? Bukankah, Dewi sudah aku katakan bahwa dia bisa bekerja di perusahaan kakakku. Asalkan,jangan menumpang dengan ku. Apa kata orang-orang nanti,di saat setiap hari selalu bersama ku. Satu hal,aku hanya menjaga nama baik keluarga. Akan tetapi, pikiran kalian sangat berbeda hanya mementingkan diri sendiri. Lilis,aku tegaskan kepada mu. Mulai sekarang, jangan bekerja di rumah orangtuanya Rea. Sore ini juga, Art akan di ganti yang jauh lebih baik. Sudah cukup,kalian semena-mena terhadap kami". Tegas Kai, dengan menahan rasa amarahmya sudah.


Bu Wahdah dan bu Bidah, langsung berubah menjadi diam. Saat mendengar ucapan Kai, sangat tajam.

__ADS_1


"ini gajih, terakhir mu Lilis". Rea,tak segan-segan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah. Dia, meletakkan di atas meja. Tak memperdulikan tatapan dari, bibi-bibinya itu. Rea,hanya menyungging senyumannya.


Membuat Lilis dan lainnya,juga terkejut dengan sikap Rea.


Pak Broto dan bu Minah ,hanya diam tak berkata apa-apa. "Ayo,kita pulang bu. Sudah cukup,kita membantu mereka".


"Ayo,". Bu Minah, langsung meninggalkan mereka. Yang di susul oleh Kai dan Rea,tak memperdulikan suara teriakkan mereka.


Caci maki yang di lontarkan, oleh bu Bidah dan bu wahdah. Begitu juga Lilis, kepalanya nyut-nyutan memikirkan hal ini.


"Lihatlah,bu. Apa yang ibu, lakukan ha? Semuanya,hancur". Bentak Lilis,kepada ibunya. "Lagian, ngapain ibu ke sini ha. Bikin masalah saja, sekarang aku bagaimana bu".


"Kenapa,jadi salahin ibu? Seharusnya,kamu salahin mereka. Punya mantu,pelit banget. Mentang-mentang, punya menantu kaya raya. Masa, membuatkan rumah untuk kita gak mau". Decak bu Bidah, duduk di kursi.


"Astaga, Lilis gak nyangka dengan pikir ibu. Buat aku, pusing saja". Lilis, langsung keluar dari rumah dan ingin meminta maaf kepada orangtuanya Rea.


Saat tiba di rumah, orangtuanya Rea. Lilis,nampak terkejut melihat Kai membereskan semua barang dan bajunya.


Kai, menatap tajam ke arah Lilis. "Aku tegaskan, sekali lagi. Pergi dan bawa barang-barang mu ini,tak pantas untukmu mendapatkan bantuan kepada kami. Di bantu,malah ngelunjak ha. Di kasih hati,malah minta jantung". Ucap Kai, dengan emosi menggebu-gebu.


Pak Broto dan bu Minah,hanya diam saja. Apa yang di lakukan, menantunya memang benar.


"Benar,usir saja dia. Gak pantas, mendapatkan kebaikan kalian. Gak tau diri". Sahut tetangga lainnya,juga.


"Benar,usir saja.kasian ibu mertua,kai". Timpal lainnya.


"Benalu oh benalu ". Salah satu tetangganya, tiba-tiba bernyanyi.


Banyak lagi cibiran orang-orang sekitar caci maki, sepertinya mereka tidak suka dengan sikap Lilis.


Lilis, merengek-rengek meminta maaf kepada Kai dan orangtuanya Rea.


Tetapi saja, mereka tak menghiraukan rengekan Lilis. Sudah cukup, untuk memberikan kesempatan kepada Lilis sang keponakannya itu.

__ADS_1


************


[Kai, bisakah kamu menolong. Datanglah,ke sini. Aku sedang di apartemen,aku sakit. Tolonglah aku,aku kedinginan]. Elvina.


Kai, hanya membaca pesan dari Elvina dan tidak membalasnya.


Rea, melihat sang suami meletakkan ponselnya kembali. Membuatnya penasaran,siapa yang mengirimkan pesan malam-malam begini. "Pesan dari,siapa? Bahkan, beberapa kali ponsel mu berdering".


"Elvina, katanya sakit dan meminta bantuan kepadaku untuk menemuinya". Jawab Kai, tak perlu di sembunyikan lagi.


"Lalu,kamu ingin ke sana dan menemuinya". Tanya Rea, sudah menyipitkan bola matanya.


"Emangnya,boleh sayang". Tanya Kai, tersenyum smrik.


"Boleh, silahkan pergi sana". Jawab Rea, mengizinkan suaminya pergi.


Akan tetapi, izinnya seorang istri. Bagaikan, sebuah senjata akan siap membunuhnya secara langsung. "Heheheh...gak berani sayang,mending kita main kuda-kudaan. Ngapain, mikirin dia". Kai, langsung memeluk tubuh istrinya.


"Auuukk... jangan terlalu erat, memeluk kak. Aku tidak bisa,bernafas". Rea, mencubit perut suaminya.


"Aaaakkhhh....sakit sekali, sayang. Jangan di cubit,di elus-elus manja saja". Kai, menuntun tangan istrinya ke dalam celananya.


"iiiihhhh....ada anaconda,yang sembunyi di sini". Kekehnya Rea, *******-***** milik suaminya.


"Uughhh.... teruskan sayang, mainkan milikku". Bisik Kai, terdengar suara seraknya.


"Udah tegak aja,". Bisik Rea, sudah mulai berani memainkan milik suaminya. Astaga,aku benar-benar ketularan virus mesum kak kai.


"Pastilah,kalau dekat dengan istriku pasti tegak. Pengen,di manja-manja". Kai, menciumi seluruh wajah Rea. "pengen jenguk,dekeknya". Bisik Kai, tepat di telinga Rea. Dengan malu-malu, Rea hanya mengangguk pelan.


Tak sabar lagi, mereka melanjutkan permainan selanjutnya. Hawa dingin memasuki ruang kamar,diluar nampak hujan deras. Petir menyambar-nyambar dan menggelegar hebat.


Akan tetapi, sepasang suami-istri. Malah berkeringat,seisi kamar menjadi panas dalam penyatuan mereka.

__ADS_1


Hanya terdengar suara desa-han, saling bersahutan satu sama lain. Menikmati suasana malam,yang dingin bercampur aduk. Kai, memperlakukan secara pelan-pelan. Agar tidak, menyakiti sang istri dan anaknya.


Rea, begitu menikmati permainan sang suami. Yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Kata-kata cinta,yang din


__ADS_2