
Plakkkk......
Plakkkk....
"Hahahaha, bagaimana Annisa? Apa aku, tidak bisa kasar kepada seorang Wanita". Al, memberikan dua tamparan keras di wajah Annisa.
Annisa, terhuyung ke belakang dan hampir jatuh. Rasa perih menjalar ke dua pipi dan perasaannya. Seorang pria yang, sangat di cintainya. Tak segan-segan, menampar wajahnya. "Al,kau menampar ku" isak tangisnya,ada darah segar mengalir di sudut bibirnya.
[29/12 11.08] Erlina: Elvina,juga nampak syok melihat apa yang terjadi di hadapannya sendiri.
"Kenapa,hemmm...? Tidak terima,aku memperlakukan dirimu seperti ini ha". Al, mencekram rambut Annisa ke belakang.
Hingga Annisa, meringis kesakitan dan menahan rambutnya. "Aaaakkhh... sakkiiiiiit... lepaskan aku,Al". Kepalanya mendongak ke atas,menahan rasa sakit.
"Ck,ini adalah pelajaran yang sudah menganggu istriku. Kemungkinan,nyawa kalian akan tiada juga di tanganku". Seringai tajam Al,lali melepaskan cengkraman tangannya di rambut Annisa.
Karena hempasan,Al di rambut Annisa. Membuat dia, tersungkur ke lantai. "Aaaargghhh.... kau jahat,Al. Tidak pantas di sebut dengan,pria baik. Aku sangat menyayangimu, seperti pria idaman. Nyatanya,kamu perlakuan seorang wanita seperti ini".
"Yahhh...kau baru tahu? Jika,aku memang jahat. Di saat orang lain, menyakiti seseorang yang aku cintai. Jadi, siap-siap saja menghadapai hukuman berat. Oh,aku ingin memberitahukan kepada mu Sesuatu yang penting. Jika adik tirimu,yang sudah mengambil alih perusahaan itu. Jadi,kau tidak memiliki apapun. Bahkan, kematian mu adalah keinginan mereka". Senyum smrik Al, menatap tajam ke arah Annisa.
"Tidak,itu tidak mungkin? Mereka, selalu baik denganku. Mungkin saja, kamu hanya mengada-ada". Bentak Annisa,syok mendengar kenyataan bahwa adik tirinya berkhianat dengannya.
Al, memberikan beberapa bukti kuat. Betapa terkejutnya Annisa, selama ini dia hanya di permainkan oleh mereka. "Aaaaaaaahhh...tidak,tidak mungkin....kurang ajar sekali, mereka". Teriak Annisa, mengepalkan tangannya.
Plakkkk ......
Satu tamparan keras,yang di berikan Al lagi. "Huusssstttt.... untuk apa,kamu berteriak-teriak keras ha? Semuanya, sudah percuma Annisa"
"Uhuukkk...Al, lep-lepaskan ak-aku...". Annisa, mencoba melepaskan tangan Al. Yang mencekik,di lehernya itu.
Setelah puas, mencekiknya. Al, mendorong kuat tubuh Annisa dan terbentur ke dinding. "Aaaargghhh....uhukkk.... uhuukkk....". Annisa, terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Dia, tersandar di dinding menahan rasa perih di bagian tubuhnya.
Al,juga mulai menjauhkan diri dan melepas sarung tangannya. Tak sudi, kulitnya menyentuh kulit Annisa.
"Annisa,". Elvina, mencoba mendekatinya. Akan tetapi, dia tidak bisa. Karena rantai besi di kakinya, tidak sampai. Tubuh Elvina, sudah gemetaran sejak tadi. Melihat keadaan Annisa, sudah mengenaskan saat ini.
"Aaaakkhhh.... sakkiiiiiit,Lepa.....ss". Elvina, terkejut siapa yang menarik rambutnya ke belakang. Ternyata Kai, sudah menyeringai tajam. "Kai,kau....". Buliran air matanya, mengalir deras.
__ADS_1
Akan tetapi,hati Kai tidak akan luluh begitu saja. Apa lagi, kejahatan Elvina sudah melewati batasnya. Dia, hampir saja membunuh istri dan calon anaknya. Sorotan matanya, begitu tajam dan membuat Elvina hanya menggeleng kepalanya.
Dengan sekuat tenaga, Kai menghantamkan kepala Elvina ke dinding. Bahkan, berkali-kali tak memperdulikan suara teriakkan kesakitan Elvina.
Kening Elvina, sudah mengeluarkan darah segar. Dia, tersandar di dinding menahan rasa sakit. Tak kuat lagi, rasanya menahan sakit di bagian kepalanya. Penglihatannya, sudah memburam. Memandang wajah Kai, nampak buram samar-samar.
"Hahahaha..... bagaimana, Elvina? Bukankah,kau ingin sekali aku menyiksa dirimu". Kai,menarik dagu Elvina. Wajahnya, sudah bersimpuh darah segar.
"Kai,aku salah menilai mu. Sekarang aku sadar,jika kamu tidak memiliki cinta dengan ku lagi. Kenangan indah bersama,yang dulu kita lewati. Sudah hilang, tak tersisa lagi. Kai,aku sungguh tidak percaya dengan sikapmu" Ucap Elvina, tersenyum.
"Bukankah,aku sudah memperingatkan kepadamu? Untuk tidak, mengusik kehidupan ku. Nyatanya, ancaman ku hanya angin lalu". Kata Kai, membuat Elvina semakin ketakutan.
Dua pria bertubuh besar, sudah meletakkan dua jirigen berisi minyak minyak. Siap untuk membakar, Annisa dan Elvina hidup-hidup.
"Siram ke arah mereka,". Perintah J,yang tak ingin berbasa-basi lagi.
Byurrr.....Byurrr....Byurrr...
Dua pria tersebut, menyiram minyak ke tubuh Annisa dan Elvina. Inilah detik-detik terakhir, mereka menghirup udara segar.
Al dan Kai, sudah siap untuk menjatuhkan korek api. Annisa, menggeleng kepalanya. Sedangkan Elvina,lemas tak berdaya lagi.
Api mulai menjalar ke arah Annisa dan Elvina,hingga tubuh mereka terbakar.
"Aaaaaaakkkkhhh..... Toooloong..... Aaaaakkkkhh...panasssss.....panaaaassss". Annisa dan Elvina, berteriak-teriak histeris menahan rasa panas di sekujur tubuhnya.
J,Al dan Kai. Mereka, langsung meninggalkan tempat itu. Tak memperdulikan lagi. Mereka,masih berekspresi biasa saja. Seakan-akan,tidak melakukan apapun.
***************
Esok harinya, Rea mendapatkan pesan dari kakak iparnya.
[Lihatlah,berita di televisi Rea]. Kakak ipar, Laila.
Dengan cepat Rea, menghidupkan televisi dan melihat berita. Membuatnya syok dan terduduk lemas di sofa.
Berita tersebar luas,atas meninggalnya Annisa dan Elvina. Dalam kecelakaan tunggal dan mobilnya terbakar. Mengakibatkan, mereka juga ikut terbakar.
__ADS_1
"Innalilahi wainailaihi rojiun,". Air mata Rea,luruh sudah. Tidak menyangka, jika mereka sudah tiada secepat itu.
Dengan tergesa-gesa, Rea masuk ke dalam kamar dan membangunkan suaminya.
"Kakak,bangun....bangun...". Rea,terus menggerakkan tubuh Kai.
Kai, langsung mengerjapkan matanya dan membawa Rea ke dalam pelukannya. "kakak, lepaskan aku dan dengarkan perkataan ku". ucap Rea, yang diam dalam pelukan Kai.
"Hemmm ... katakan saja, biarlah seperti ini". Kai,malah mempererat pelukannya.
"Di televisi ada berita tersebar, kalau Annisa dan Elvina meninggal dunia. Meninggalkan karena kecelakaan tunggal dan mobilnya terbakar kak. Sangat mengerikan,aku jadi kasian dengan mereka. Walaupun, mereka mencoba membunuhku dan kakak ipar". Rea, bergidik ngeri membayangkannya.
"Huusssstttt...jangan memikirkan hal itu, tidak baik sayang. Anggap saja, sebuah karma yang mereka tuai". Kai, mencium sekilas bibir istrinya.
"Tapi, aku...."
"Huusssstttt... diamlah,jangan membahasa tentang ini. Aku lapar,apa kamu sudah masak". Tanya Kai, mengalihkan pembicaraannya.
Pasti kak Kai, mengalihkan pembicaraannya. Menyebalkan sekali,pasti selalu seperti itu. Batin Rea, mencubit perut suaminya.
"Aaaakkhh....sayang,kenapa kamu mencubit perut ku". Kai, meringis kesakitan.
"Menyebalkan, sekali. Aku gak mau masak,mau makan di luar aja". Rengeknya Rea,bangun dari ranjang.
"Baiklah,bersiap untuk pergi dan aku mau mandi dulu". Kai, bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
Kai, menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya. Tentu saja, kecelakaan Annisa dan Elvina hanyalah sebuah drama. Untuk menutupi semuanya, bahkan polisi mana pun tidak akan mendapatkan bukti apapun.
Karena ayahnya, sangat cerdik untuk menghilangkan bukti dan sidik jarinya. Sangat mengagumkan,hasil kerja ayahnya. "Maafkan aku, Elvina". Gumam Kai,yang sudah lelah menghadapi sikap Elvina. Cukup beberapa kali, mengancam dan memperingati Segalanya. Akan tetapi, Elvina tak menghiraukannya.
Rea,yang sudah siap dan menunggu suaminya.
Ting....
Sebuah pesan masuk di ponselnya, tertera nama kakak iparnya.
[Aku mencurigai papah J, penyebab kecelakaan Annisa dan Elvina. Cobalah untuk berpikir panjang]
__ADS_1
Deeeggg.....
Jantung Rea, langsung berdegup kencang. Saat membaca pesan, dari Laila. Saat suaminya muncul, Rea secepatnya menghapus pesan kakak iparnya itu dan tersenyum ke arah Kai.