
Laila,membawa Shelly keluar dari kamar mandi. Ia sepenuh hati,mengurus Shelly. Terlihat jelas tatapan kosong,di mata Shelly.
Laila,juga mengenakan pakaian untuk Shelly. Berlahan-lahan Laila, menyisir rambut panjang Shelly. Semoga saja,kau tidak stres memikirkan masalah ini. aku harap,jangan sampai Shelly trauma. yang aku takutkan adalah pikirannya terganggu, semoga saja tidak apa-apa.batin Laila.
Shelly, pasrah menerima perlakuan sahabatnya. "Laila,aku tak ingin bertemu dengan Herman. Aku tak pantas untuknya,aku mohon. Bahkan,aku jijik dengan tubuh ku sendiri". buliran air matanya terus-menerus mengalir.
"Tidak Shelly,kau tidak kotor. Jangan membenci dengan keadaan mu sekarang, ingatlah orang tua mu. Aku akan merahasiakan semuanya,jangan berlarut-larut dalam kesedihan ini". Laila, membujuk Shelly. Ya Allah,aku tak sanggup melihat keadaan Shelly. dia terlihat benar-benar hancur, aku takut kejiwaannya terganggu.
"Aku takut Laila,pasti orang-orang sekitar akan mengejek dan menghina diriku. Aku jijik dengan tubuh ini, Laila. Aku sangat malu,jika Herman menatap tubuh ku yang kotor ini". Isak tangis Shelly,di pelukkan Laila.
"Sssshhhttt....jangan seperti ini, Shelly. Orangnya sudah tertangkap oleh mereka,jangan menyiksa dirimu. Aku akan keluar sebentar, mengambil air minum". Laila, melerai pelukan mereka.
"Laila,jangan lama". Pinta, Shelly. Dengan cepat, Laila mengangguk kepalanya. "aku sangat takut,". pinta Shelly, sambil menggelengkan kepalanya.
Saat membuka pintu kamar, terlihat sesosok Herman. "Herman". Kata Laila, sontak Shelly langsung beranjak dari ranjang. "keluarlah,jangan masuk dan jangan mendekati Shelly. plisss...".
"Jangan masuk, Herman. Keluar,aku tidak ingin bertemu dengan mu. Keluarrr..... aku ingin Laila,yang menemani ku". Usir Shelly, dengan berteriak.
"Shelly,kau membutuhkan diriku. Jangan seperti ini,aku tahu? Ini berat bagimu, percayalah padaku". Herman, berlahan-lahan mendekati Shelly. Namun Shelly, menggelengkan kepala dan memundurkan langkahnya.
"Ayo,kita keluar Laila. Biarkanlah, mereka menyelesaikan semuanya. Air putih,sudah aku taruh satu botol di samping pintu. Ayo,kita keluar". Bisik Al, kepada Laila.
"Tidak,jangan sekarang Herman mendekatinya. Shelly, masih trauma Al ". Tolak Laila, melepaskan cengkalan tangan Al.
.
"Hussssttttt.... ayolah,kita keluar saja". Al, menarik lengan Laila dan keluar dari kamar. "kau jangan keras kepala, Herman bisa mengatasi semuanya".
__ADS_1
mendengar ucapan Al, membuat Laila hanya menghela nafas beratnya. "Semoga saja,". gumamnya dan duduk di sofa.
Klikkk...
Pintu kamar, terkunci dari dalam. "Shelly,jangan seperti ini. Aku sangat khawatir denganmu". Herman,mulai berlahan-lahan mendekati Shelly. ia tak ingin tergesa-gesa, itu sama saja dengan menakutinya.-
"Jangan mendekati ku, Herman. Aku tidak pantas untuk mu,aku sudah kotor. Aku jijik dengan tubuh ku,apa lagi kamu. Aku mohon, lepaskan tanganmu dan keluarlah....!!!" Shelly, memberontak terhadap Herman.
Herman,tidak putus asa. ia selalu memeluk erat tubuh Shelly, sampai dia tenang dalam pelukan.
"Hussssttttt....tidak apa-apa, Shelly. Aku mencintaimu sangat dalam,aku tidak peduli dengan keadaan mu. Percayalah,aku benar-benar mencintaimu". Herman, langsung memeluk Shelly dengan erat. "jangan berpikir macam-macam,aku tidak jijik dengan mu. aku selalu ada untuk mu,aku yang salah. aku yang salah Shelly, sungguh aku sangat menyesal sayang".
"Tidak....aku tidak pantas , Herman. Aku jijik dengan tubuh ku,dia sudah menyentuh tubuh ini. lihatlah,banyak sekali bekas pria itu". Isak tangisnya Shelly,ia merosot ke bawah. Dengan sigapnya, Herman langsung mengangkat tubuh Shelly dan menaruhnya ke atas ranjang.
"Shelly,aku akan menghabisi bajingan itu. Dia tak akan lepas dari ku, maafkan aku. Aku lalai dalam menjaga dirimu,aku benar-benar menyesal dan aku sangat bersalah dalam diriku sendiri". Herman, menghapus air matanya Shelly. "Aku akan menghapus jejak pria bajingan itu,akan aku lakukan. Ingatlah aku,sayang jangan mengingat pria itu. Hapus semuanya, jangan membayangkan kejadian tadi". Pinta Herman,ia menatap lekat ke arah mata Shelly.
Herman, berlahan-lahan mendekati leher jenjang putih shelly. Ia mencium dengan lembut,di daun telinganya. "Tataplah mataku, percayalah kepadaku". Bisik Herman,bibirnya menyentuh bibir Shelly.
Herman, mengecup bibir dan berlahan-lahan lid-ahnya masuk ke dalam mulut Shelly. Ini adalah ciuman pertama mereka, walaupun bibir Shelly terlihat bengkak. Mungkin bekas Marchel, melu-mat bibirnya,secara paksaan. kedua pipinya sedikit bengkak dan membiru,bekas tamparan keras Marchel.
Membuat Herman, semakin marah karena Marchel melakukan kekerasan terhadap perempuan yang dia cintai. Tunggu aku, Marchel. aku akan menyiksa mu,sudah menyakiti dan menyentuh orang yang aku cintai.batin Herman.
Sungguh hati Herman,terasa sakit melihat sang pujaan hati. Hampir di perk-osa, apa lagi melihat keadaan Shelly sangat memperihatinkan. beberapa bekas pukulan di tubuhnya dan ada beberapa goresan luka.
Sedikit demi sedikit, Herman melakukan aksinya. Ciuman mulai turun ke leher dan membuka kancing baju Shelly.
Saat terbuka, barulah terlihat banyak jejak pukulan dan gigitan. Herman,tak mampu menahan bendungan air matanya. Akhirnya menetes juga,ia segera menghapus air matanya sebelum Shelly mengetahui jika dia menangis. "Aku akan menghapus jejak pria bajingan itu, sebut namaku dan bayangkan wajahku". Pinta Herman.
__ADS_1
"Baiklah,aku akan melakukan apa yang kamu katakan". Shelly, langsung menyetujui perkataan Herman. Aku harus bisa, menghapus jejak pria itu. Shelly, merasakan gugup dan jantungnya berdegup kencang. susah payah meneguk air liurnya,saat hembusan nafas Herman terasa di kulitnya.
Nafas Herman,memburu karena tangannya mulai menyentuh lekukan tubuh Shelly. Namun dia, sekuat mungkin menahan naf-sunya.
"Hemmpptt....shhhh...." Des-ah Shelly,saat Herman bermain dua gund-ukan miliknya. Matanya terpejam rapat sambil membayangkan wajah Herman. kepalanya mendongak ke atas, merasakan sensasi yang berbeda. "Hermaaan...." Lirihnya, memanggil nama Herman.
"Yahhh... sebutlah namaku sayang,aku akan menghapus jejak pria itu". Ucap Herman, dengan suara seraknya.
Shelly,meremas rambut Herman yang bermain di dua gund-ukan mi-liknya. Bahkan, Herman juga mengigit bekas gigitan Marchel.
Shelly,hanya mengerang dan mende-sah. Ia terbawa suasana sent-uhan lembut dari Herman dan melupakan kejadian tadi.
Beberapa menit kemudian, Herman menghentikan aksinya. Cukup lama mereka berciuman dengan mesra dan saling berpelukan dengan erat.
"Kapan orang tua mu,pulang". Tanya Herman, sambil mengelus-elus rambut panjang Shelly.
"Lusa,baru mereka datang. Ada apa,tolong jangan beritahu tentang kejadian ini". Pinta Shelly,dalam pelukannya.
"Tidak, sayang. Aku akan meminta restu, untuk secepatnya menikahi mu" Ucap Herman, langsung.
Sontak Shelly, langsung mendongak ke atas dan menatap wajah tampan Herman. "Kau serius, dengan ucapan mu"
"Hemmm...aku serius, ingin menikahi mu Shelly. Aku sudah menyentuh tubuh ini,aku harus bertanggung jawab. Percayalah kepadaku,sayang". Herman, mencium sekilas bibir Shelly.
Shelly, langsung tersipu malu-malu dan merasa bahagia karena orang yang dicintainya akan menikahi dirinya. "Terimakasih,aku sangat mencintaimu ".
"Aku juga, sangat mencintaimu sayang". Kini mereka saling berpelukan dan Shelly,menangis kebahagiaan.
__ADS_1