
Tika, nampak terkejut melihat seorang pria yang di kenalnya. Dengan cepat-cepat,dia menghampiri Rea tengah mengobrol dengan beberapa guru lainnya.
"Rea,suami kamu". Bisik Tika, sontak membuatnya terkejut.
"Kamu serius". Tanya Rea,nampak tak percaya.
Tika, langsung mengangguk kepalanya. "Dia ada di parkiran,".
Tanpa ba-bi-bu lagi, Rea langsung tergesa-gesa dan meninggalkan para guru lainnya.
Para guru lainnya, nampak heran melihat Rea seperti berlarian menuju parkiran.
"Tika,ada apa sih? Kenapa Rea, buru-buru sekali". Tanya Abidah, salah satu guru dan sekaligus teman.
"Suaminya,Rea". Jawab Tika, tersenyum sumringah.
Status Rea,sudah tersebar luas. Bahkan,orang sangat penasaran sekali seperti apa suaminya. Mendengar jawaban Tika,guru lainnya berbondong-bondong. menuju parkiran hanya untuk melihat,seperti apa suaminya Rea.
"kakak, ngapain ke sini". Tanya Rea, merasa tak nyaman karena beberapa pasang mata menuju ke arah mereka.
"Kenapa di undur menjadi dua mingguan lagi, bukankah sepakat satu minggu". Tanya Kai,ia sangat terkejut karena pernikahannya di undur satu minggu lagi.
"Ehhh....mana aku tahu? Bukankah,itu masalah orangtua kita. Tanyakan saja, kepada ayahku". Jawab Rea, langsung.
Rea,juga tak menyangka jika pernikahannya di undur satu minggu lagi. Jujur saja,dia merasa senang. Apa lagi,tidak menyediakan resepsi pernikahan segala.
"Ck,kamu senang kan? Kalau di undur-undur". Decak Kai,dengan kesal. Ia sambil memandang istrinya, mulai ujung kaki sampai ujung kepalanya.
Ada lirikan tak suka dengan pakaian istrinya, Rea menggunakan seragam guru agak ketat. Kemungkinan bajunya, ukuran kecil. Sehingga, memperlihatkan lekukan tubuhnya.
Rea, memakai seragam guru dan rok panjang. Dengan hijab, begitu simple hanya melilit di lehernya.
"Kakak,yakin kita menikah? Kan,hanya salah paham saja". Rea, sangat ragu membangun rumah tangga. Apa lagi, mereka tidak mengenali satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa tidak memakai gamis saja, haruskah memakai seragam guru. Memperlihatkan lekuk, tubuh mu". Kai,menarik ujung baju Rea.
"Kakak,ini adalah seragam guru. Apa lagi hari Senin,serempak dong dengan yang lainnya. Masa gak pernah, melihat seragam guru? Kakak, pernah sekolahkan". Tanya Rea, tersenyum kecil.
"Berhentilah, memanggilku kakak. Aku suami mu,bukan kakakmu". Kai,merasa risih saat mendengar sebutan kakak.
"Terserah akulah,mau manggil kakak apa". Bantah Rea, menyunggingkan senyumnya. "Mau aku panggil abang, seperti tukang bakso di sana". Rea, menunjukkan jarinya ke arah tukang bakso yang tak jauh dari mereka.
"Enak gak,bakso di sana". Tanya Kai, tiba-tiba perutnya keroncong saat mendengar bakso.
"Enak banget kak,mau". Tanya Rea, tersenyum manis.
"Oke, mumpung aku merasa lapar". Jawab Kai,kini mereka berjalan menuju ke arah tukang bakso.
Sesampai di tukang bakso,memang aroma baksonya sangat menggoda di lidah kai.
"Kakak duduk aja,aku pesankan baksonya". Ucap Rea, langsung di angguki Kai.
"Neng Rea,siapa neng? Pacarnya yah". Ucap sang pemilik bakso.
"Ehhh..bang Arif,dia suami Rea. Pesan dua mangkok,bakso pentol besarnya yah...". Pinta Rea, tersenyum manis.
Arif, yang masih berstatus lajang. Sudah lama menaksir Rea,namun hatinya sesak saat sang pujaan mengenalkan suaminya. "Suami? Neng Rea, kapan nikah. Gak bilang-bilang, sama abang". Kekehnya Arif, tapi hatinya sakit. Ya Tuhan,aku telat lagi.
"Baru saja kok bang, nikah secara kekeluargaan. Nanti ada kok, undangan buat abang". Jawab Rea, langsung. "Rea,duduk dulu yah...di tunggu bang".
Arif,hanya mengangguk kepalanya. Ada senyuman kecil dan mengangguk kepala,saat dia bertatapan muka dengan suami Rea. Astagfirullah,apa benar dia suaminya neng Rea. Gagah betul, badannya sangat kekar. Pantesan,neng Rea klepek-klepek dengan nya. Di bandingkan dengan ku,hanya butiran debu.
"kamu sering,makan bakso di sini". Tanya Kai, nampak tak suka kedekatan istrinya dengan tukang bakso. Apa lagi panggilannya, sangat lembut di mulut Rea.
"Sering kak,sama teman-teman juga". Jawab Rea, sesekali melirik ke arah Kai.
Sampai kapan, dia memanggilku kakak. Jangan-jangan orang mengira,kami adik kakak. Batin Kai. "Gak apa-apa,kita keluar dan meninggalkan jam mengajar mu".
__ADS_1
"Tidak apa kak,Tika bisa kok menyelesaikannya". Jawab Rea,entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Sekuat mungkin, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kalau sudah selesai resepsi pernikahan,mau tinggal dimana". Tanya Kai, ia menuruti kemauan istrinya.
"Apa boleh aku memilihnya,kak". Tanya Rea, nampak gelisah gusar. Apa dia mau,jika aku memilih untuk tinggal bersama kedua orangtuaku.
"Tentu,dimana kamu senang. Aku akan mengikuti kemauanmu". Jawab Kai, dengan santai.
"Ini baksonya,neng Rea dan masnya". Arif, menyodorkan dua mangkok bakso.
"Makasih". Ucap Kai,tapi Arif merasa takut karena mendengar perkataan Kai begitu tegas. Sepertinya,suami neng Rea bukan pria sembarangan. Bajunya aja,rapi dan bersih.
"Kak, ingin sekali tinggal bersama kedua orangtuaku. Apa lagi,ibu sering sakit-sakitan. Tapi,kata ibu... Aku harus mengikuti langkah suami,kemana perginya". Jawab Rea,hanya menunduk.
"Rea,jika itu mau mu. Oke,kita tinggal bersama kedua orangtuamu. Aku tidak masalah,apa perlu membangun rumah di sebelah kedua orangtuamu". Kai,juga bingung mau tinggal dimana. Niatnya, ingin membeli apartemen saja. Tapi,di pikir-pikir lagi. Bisa jadi, istrinya ingin tinggal dimana.
"Seriusan kak,ada sih...lahan kosong di belakang rumah orang tua ku,yang di wariskan kepada ku. Kita bisa membangun rumah disitu,gak papa kecil. Gak enak juga, anak sudah menikah tapi masih tinggal sama orang tuanya". Ada senyuman manis,di sudut bibirnya Rea. Namun, senyuman itu hilang seketika. "Tapi, orangtuanya kakak gimana".
"Kedua orangtuaku, tidak mempersalahkan tentang ini. Mereka mengijinkan, kita tinggal dimana pun. Mereka juga, pernah muda". Jawab Kai, dengan santainya.
Alhamdulillah,jika aku memiliki seorang mertua baik. Sepertinya,ibu kandung kakak Kai baik dan tidak seperti ibu mertua pada lainnya.
Akhirnya Kai dan Rea, menikmati bakso yang di pesannya tadi. Kai, nampak menikmati baksonya.
Tampan sekali, batin Rea. Sesekali melirik ke arah Kai, wajahnya memerah dan keringat di keningnya. Terlihat Kai, menikmati bakso dengan menuangkan sambel Lombok nya terlalu banyak. "Huuuu.... pedas sekali, makasih bang. Baksonya,enak sekali". Kai, memuji bakso buatan Arif.
"Terimakasih, banyak mas". Arif, tersenyum sumringah. Sepertinya,suami neng Rea menyukai masakan pedas.
"Kak,maaf aku memang sudah berstatus istri mu. tapi, masih pisah ranjang". Rea, merasa sangat bersalah. Seharusnya,aku tidak seperti ini. maafkan aku, kak.
"Rea,tidak apa. aku mengerti apa yang,kamu pikirkan.Tidak perlu meminta maaf,". kai, menatap ke arah Rea.
"Kak,kenapa ingin menikahi? apa karena mantan kekasih kakak, jelaskan kak". pinta Rea,ia takut jika suatu hari nanti. dia hanya sebuah pelampiasan,atau pelarian semata .
__ADS_1