ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Kasus (S2)


__ADS_3

Arlo dan teman-temannya,di larikan ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan medis mereka, tidak terlalu parah luka dalam. namun Arlo,sudah kehilangan jari tengahnya.


Arlo, seorang anak pejabat. Ayahnya sangat marah, melihat kondisi anaknya begitu tragis. Apa lagi Arlo,anak kebanggaannya.


"Ayah,harus menangkap pelakunya itu dan berikan hukuman setimpal". Pinta Arlo, kepada ayahnya.


Ayahnya bernama Raden,beliau sudah membawa anggota kepolisian. "Katakan nak, bagaimana ciri-ciri pelakunya".


"Kami tidak tahu,ayah. Tapi,dia menggunakan mobil berwarna hitam tidak ada plat nomor mobilnya dan menggunakan topeng tengkorak ayah". Ucap Arlo, wajahnya masih terlihat bekas rantai besi. "Dia juga menyerang kami, menggunakan rantai besi".


Mendengar penjelasan anak pak Raden, membuat para polisi saling menoleh. "Pak Raden,kami memiliki beberapa kasus tentang anak anda. Apa lagi,anak anda melakukan balap motor liar. Dia juga pernah tauran,antar sekolah. Beberapa kasus, tentang anak anda terutama kejadian beberapa bulan lalu. Dia sedang mabuk dan menabrak seorang anak. Kemungkinan,karena kelakuan anak anda. Menyebabkan,ada orang yang membalas dendam perbuatannya. Kami akan melakukan penyelidikan kasus ini, tapi kami akan memberikan sangsi kepada anak pak Raden. Jika kami,tidak memiliki bukti apapun. Maka,kasus ini akan kami tutup. Tolong, anaknya di nasehati pak dan kami permisi". Beberapa anggota kepolisian, beranjak pergi meninggalkan ruang Arlo.


Walaupun pak Raden, memohon-mohon untuk menangkap siapa pelakunya. Di rela membayar berapapun,tapi para anggota kepolisian. Langsung menolak mentah-mentah, mereka juga akan memberikan peringatan kepada pak Raden. Yang lalai,menjaga anaknya, mengakibatkan kerugian para warga lainnya.


"Aaaargghhh..... bagaimana ayah, aku tidak terima seperti ini". Arlo,mengusap kepalanya ke arah belakang. Arlo,di nyatakan memiliki beberapa kasus. sehingga, sangat susah para kepolisian membantu.


"Bagaimana lagi, karena kasus mu ini. Ayah, hampir saja kehilangan jabatan. Sudahlah Arlo,jangan berulah lagi. Anggap saja ini, pelajaran terpenting dalam kehidupan mu". Tegas pak Raden,sudah di kuasai oleh emosi.


Pak Raden, langsung keluar dari ruangan anaknya. Dia benar-benar kecewa, kepada anak pertamanya yang selalu di banggakan selama ini.


Karena ayahnya Arlo,sudah keluar. Barulah, teman-temannya langsung masuk ke dalam dan menemui Arlo. Mereka takut,kena amarah ayahnya Arlo.


"Arlo, astaga jarimu benar-benar putus". Aydin, langsung syok melihatnya.


"Bagaimana ini, bukankah kita masih bertanding basket lagi bulan depan. Sedangkan,jari Arlo". Roy, langsung memotong pembicaraannya.


Arlo,nampak marah dan menatap tajam ke arah temannya. "Kenapa ha? Apa kalian ingin menggantikan posisi ku ha? Sebagai ketua tim basket, begitu yang kalian pikirkan". Teriak Arlo,dia sangat marah. Karena menjadi ketua tim basket, adalah impiannya.


"Arlo,kami melakukan hal ini. Juga terpaksa,mana mungkin kamu. Sedangkan,jari kamu saja putus. Bagaimana bermain nanti,". Sahut Joy, langsung.

__ADS_1


"Tidak,aku bisa menggunakan jari palsu. Lihatlah saja nanti,bahwa aku mampu dan tak akan di gantikan oleh siapapun". Tegas Arlo, yang sudah berteriak keras.


Teman-teman lainnya, hanya saling pandang dan terdiam. "Baiklah,kami memberikan kamu kesempatan untuk ini. Jika terjadi sesuatu,maaf kami terpaksa menggantikan posisi mu". Kata Jody, memberikan kesempatan kepada Arlo.


"Ck,aku yang sudah membawa tim basket kita lolos dalam pertandingan ini. Tanpa diriku,kalian bisa apa". Decak Arlo,yang begitu sombong sekali.


"Jangan lupa,Arlo. tanpa tim,kau bukan apa-apa juga". sindir Soni, membuat Arlo hanya diam tak berkata apa-apa lagi.


"Kami pamit dulu,jaga dirimu baik-baik. Sepertinya,pria bertopeng tengkorak itu. Masih mengincar dirimu, berhati-hatilah". Aydin, merasa tidak nyaman bersama Arlo.


Aydin,yang langsung meninggalkan ruangan tersebut. Yang juga di ikuti, oleh lainnya.


Arlo, sangat frustasi karena memikirkan siapa pria bertopeng tengkorak tersebut. Apa lagi jari tengahnya, putus. Ia takut, posisinya sebagai ketua tim basket akan di gantikan. "Tidak,aku harus mencari siapa pelakunya. Aku adalah Arlo,tidak akan pernah menyerah begitu saja". Seringai tajam Arlo.


*************


Arlo dan teman-temannya, seperti biasa turun ke sekolah. Seakan-akan,tidak terjadi apapun. Sepanjang perjalanan, menuju ke kelas. semua mata murid-murid lainnya, tertuju kepada mereka. karena mereka sudah tidak turun sekolah,selama empat hari.


Braakkkk.....


Roy, menggebrak meja belajar Kai. Karena mereka langsung mencurigai,Kai. mereka menduga,karena Kai membalas dendamnya.


"empat hari yang lalu, kau kemana? Katakan". Roy, langsung menarik jaket Kai.


Sehingga kai, berdiri dari duduknya. Roy,juga membuka masker dan melihat tatapan tajam dari Kai. "Ck,sok tampan". decak Roy.


Roy, langsung melepaskan tangannya dari jaket Kai. Kini Arlo,yang menghadapi Kai. mereka saling bertatapan,dan menyimpan rasa benci.


"Aku tahu, kau yang sudah menghajar kami kan. Pasti tidak lupa, kejadian empat hari yang lalu. Seorang pria menggunakan topeng tengkorak,aku yakin. Itu adalah dirimu, katakan". Ucap Arlo,ia menyeringai tajam.

__ADS_1


"Lalu,kau memiliki bukti. Aku bisa saja, menuntut atas tuduhan mu itu. Apakah, orang-orang sekitar percaya dengan ucapan mu". Jawab Kai,ia tersenyum smrik.


"Yah.... untuk saat ini,aku memang tidak memiliki bukti apapun. Tunggulah, beberapa hari lagi. Kepolisian, sudah menyelidiki kasus ini". Arlo,malah menepuk pundak Kai. "Kau siap-siap, mendapatkan hukuman mati di tanganku". Bisik Arlo,lalu pergi bersama temannya.


"Lakukanlah, jika itu memang benar". Kai, hanya tersenyum dan tertawa lepas di dalam hatinya.


karena Arlo dan teman-temannya, sudah keluar. kini para kaum perempuan, berbondong-bondong masuk ke dalam kelas.


Biasanya Elvina,yang pertama untuk menemui Kai. Tapi,kali ini tidak.


Alayya, yang sekaligus kakak kelasnya. Langsung duduk di samping Kai, karena Kai menutup kepalanya menggunakan jaket. "Kai, kau tidak apa-apa kan". Alayya, menyentuh pundak kai.


"Pergilah". Tegas Kai,yang langsung menepis tangan Alayya.


"Apa dia sudah mengatakan,hal yang tidak baik. Katakanlah, biar kami melaporkan ke guru". Alesha,juga ikut bicara.


"Pergilah, ini urusan laki-laki". Kai, langsung mengusir mereka.


"Sudah-sudah,bubar kalian. Ngapain ke sini ha, bikin panas dan sumpek". Teriak Afina, merupakan kakak kelas. Dia dan teman-temannya, membubarkan murid-murid lainnya.


Kini keadaan di kelas, tidak seperti tadi. "Kak Alayya, silahkan pergi dan keluar. Sebentar lagi, bel masuk segera berbunyi". Alesha, merupakan ketua kelas. Meminta kakak kelasnya,keluar.


"Ck,aku adalah kakak kelas kalian. Lagipula,bel sekolah belum berbunyi. Kau tidak berhak, mengusir ku". Senyum smrik Alayya, membuat Alesha geram.


"Terserah,". Bentak Alesha,ia menghentakkan kakinya dan duduk di kursinya.


"Ya ampun,kakak kelas kita. begitu setianya,rela duduk dan berbicara. tapi, Kai tidak menjawab apa ucapan yang di lontarkan. Rajin bener,kakak kelas kita". Cantika, langsung menyindir kakak kelasnya.


Alayya, bangkit dari duduk dan mendorong tubuh Cantika. "kurang ajar sekali,aku ini Kakak kelasmu. tidak pantas, berbicara seperti itu". kata Alayya, tersenyum smrik. ia langsung beranjak pergi. Cantika, nampak kesal kepada kakak kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2