ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Antara Dua Pilihan (S2)


__ADS_3

"Ceroboh". Kai, menarik hidung mancung Elvina.


"Auuukk....sakit". Ringis Elvina, sambil memegang hidungnya. "Benar ini gelangnya,emang ketemu dimana".


"Darimana kamu tahu? Bahwa,gelang itu benar yang hilang". Tanya Kai, langsung. "Bisa sajakan,aku membelinya dengan model sama"


"Lihatlah,aku memberikan ciri agar aku mengetahuinya. Kalau gelang ini,asli yang kemarin". Elvina, memperlihatkan benang kecil berwarna ke emasan.


"Ehhh... pantesan sama warnanya, sehingga aku tidak melihat ada cirinya. Kalau ada, bakalan aku buang cirinya". Ucap Kai, cengir kuda.


"Ngomong-ngomong, dapat darimana? Dari tadi,gak di jawab". Sungutnya Elvina.


"Cantika,katanya milik dia. Pas aku ancam, baru ngaku kalau nemu di kantin". Kai, memberitahu siapa menemukan gelang itu.


"Oh, tapi kenapa kamu tahu? Kalau gelang ini, milikku yang kamu kasih. Gak mungkin kan,kamu asal tuduh sembarangan". Elvina, mendelik ke arah Kai.


"Ck,aku yang memesan spesial desainnya. Tentu,hanya satu di dunia ini. Lihatlah,jika kamu menggunakan kaca pembesar. Ada tertera,namaku dan namamu". Kai, tersenyum dan mencubit pipi Elvina.


"Haa....? Benarkah,aku baru tahu,wahh.... spesial sekali,". Elvina,hanya mencubit lengan Kai dengan malu-malu.


"Hemm...lain kali hati-hati,matamu sembab apakah kamu baru selesai menangis". Tanya Kai, memandang dua bola mata Elvina.


"Kai,kamu nanya? Astaga, bukankah mulai kemarin aku menangis dan kepikiran gelang ini tau. Berapa sih? Harganya,takut kalau hilang lagi". Elvina,tak henti-hentinya memandang gelang yang begitu indah dan cantik.


"Hanya empat puluh juta, membuatnya sedikit rumit dan susah". Jawan Kai, dengan santai.


Elvina, langsung melepas gelang tersebut dari tangannya. Kai,hanya mengerutkan keningnya saat melihat Elvina. Melepaskan gelang, pemberiannya.


"Kenapa di lepas,hemm... pakailah, sangat indah di tanganmu".


"Aku simpan saja,Kai. Ini sangat mahal,anting aku aja cuman tiga jutaan. Itu, masih mahal bagiku". Elvina, memasukkan gelangnya ke saku seragam sekolahnya.


Elvina,lahir di keluarga Samad kaya dan terpandang. Apa lagi,dia adalah anak tunggal. Kemewahan yang ingin dia dapatkan, sangatlah mudah baginya. Apa lagi memiliki seorang ayah, bekerja keras dalam mengembangkan perusahaannya.


Elvina,tak ingin menghamburkan uang begitu saja. Dia lebih suka menabung dan tidak banyak memiliki barang mewah dan elegan.

__ADS_1


***********


Saat pulang sekolah,Kai membawa Elvina ke sebuah toko emas. Yang ingin di beli, untuk di pakai hari-hari. Biar saja gelang,yang dulu di simpan.


Cukup lama Kai, memilihkan gelang untuk Elvina. Hingga akhirnya, Elvina tertarik suatu gelang emas berwarna putih. Harganya sekitaran tiga jutaan, tidak terlalu besar.


Kai,hanya menggaruk kepalanya. Biasanya, perempuan kalau memilih emas. Sudah pasti,mencari harga yang sangat mahal.


"Cantikan, harganya juga terjangkau gak mahal. Semoga saja, gak hilang lagi". Ucap Elvina, memandang gelang yang melingkar di tangannya.


Setelah selesai, mereka pun pulang kerumah masing-masing.


"Ciyeehh...baru pulang, mojok dulu kah". Tanya Al, kepada Kai yang baru pulang.


"Ngapain ke sini? Gak kerja". Tanya Kai,duduk di sebelah Al.


"Ngapain kerja,kan banyak anak buah. Hahahaha....". Jawab Al,tertawa terbahak-bahak.


"Ck, mentang-mentang bos". Decak Kai, langsung meminum jus jeruk kakaknya.


"Kapan naikan kelas,kalau lulus mau kerja atau gapai mimpimu". Tanya Al, sebenarnya dia tahu apa mimpi Kai.


"Aku tahu,apa mimpimu? Kamu ingin, mengikuti jejak papah kan. Menjadi seorang militer,". Jawab Al,namun Kai hanya tersenyum kecil. "Kai,aku sebagai kakakmu. Tidak masalah,mengejar mimpi mu. Aku sanggup, mengerjakan perusahaan. Tenang saja,aku bosnya"


"Bagaimana papah sama mamah? Aku tahu, seorang kakak bisa membujuk papah dan mamah. Tapi,aku tidak mau menyakiti perasaan mereka. Yang setiap detik, mengkhawatirkan keadaan ku". Kai, bimbang saat ini.


"Masalah orangtua atau kekasih mu,ha? Papah dan mamah,mana mungkin mengkhawatirkan keadaan mu. Mereka berdua, sangat sibuk dengan cucu-cucu mereka. Apa lagi, Laila di nyatakan hamil kembar lagi". Kata Al, sedangkan Kai hanya melongo mendengar perkataan kakaknya.


"Ke-kembar lagi? Apa,kakak ipar sanggup". Kai,nampak tak percaya jika kakak iparnya hamil kembar lagi.


"Namanya juga keturunan, nanti kalau istrimu hamil. Aku doakan, selalu kembar. Hahahahha". Gelak tawa Al, sedangkan Kai hanya mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana,mau menggapai mimpi mu atau kerja di perusahaan".


"Gak mau kemana-mana,aku kerja langsung kalau lulus sekolah". Jawab Kai,ia sudah siap kehilangan mimpinya.


"Seriusan,ya sudah. Kalau itu pilihan mu,kelas tiga SMA nanti. Kamu harus membagi waktu, untuk belajar mengurus perusahaan. Kamu sanggup". Tanya Al,ia tahu jika adiknya pasti sanggup.

__ADS_1


"Yaelah, sanggup lah". Jawab Kai, tersenyum kecil. "Ya sudah,aku mau bersih-bersih dulu". Kai, menepuk pangkal paha kakaknya.


"Kai, berpikir panjang lah. agar kamu,tidak menyesal di antara dua pilihanmu. ini adalah, terkait masa depan". kata Al, mencoba mengingat adiknya.


Setelah masuk ke dalam kamar,ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. menatap ke atas langit-langit, kamarnya. "Sial, pilihan yang rumit" gumam Kai.


***************


Ujian kenaikan kelas,sudah selesai.


Kai dan murid-murid lainnya. Di nyatakan naik kelas,namun perasaan Kai menjadi tidak keruan.


"Tidak kerasa,kita hampir lulus sekolah Kai. Kamu,mau kuliah dimana". Tanya Elvina,ia berbaring di atas pangkal paha Kai.


"Aku tidak kuliah,aku ingin mengejar mimpi ku". Jawab Kai.


Elvina, melonjak terkejut mendengar ucapan sang kekasih. "Mimpimu? Maksudnya apa,Kai".


"Aku ingin mengikuti jejak papah ku, menjadi seorang militer". Jawab Kai, tersenyum kecil.


"Militer? Bukankah,kamu ingin bekerja di perusahaan kakakmu dan membantunya. Apa kamu benar-benar serius,". Elvina,nampak sedih karena sang kekasih sungguh ingin mengejar mimpinya.


"Aku berubah pikiran, kedua orangtuaku setuju. Maaf,aku membuat mu sedih". Kai, mencoba mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya, Elvina merasa berat apa pilihan sang kekasih. Sebagai kekasih,dia tetap mendukung apa pilihannya. "Baguslah,kalau orangtuamu menyetujuinya. Aku ikut senang,aku selalu mendukung apa pilihan mu". Elvina, sekuat mungkin menahan air matanya.


"Terimakasih,kamu selalu mendukung apa pilihan ku". Kai, memeluk erat tubuh Elvina.


"Iya,kita pulang yuk..sudah hampir sore, pasti aku juga gerah". alibi Elvina,ia ingin secepatnya pulang ke rumah.


"Pulang langsung,atau makan dulu". Kai, memberikan pilihan. sebenarnya,di Ingin lebih lama dengan Elvina. hanya tinggal beberapa bulan lagi, mereka akan ujian kelulusan sekolah.


"Pulang saja,aku pagi tadi sudah berbicara dengan bi Iyam. untuk memasak kesukaan ku". alibi Elvina,ia tersenyum kecil.


Kai,hanya mengangguk dan percaya dengan ucapan sang kekasih. mereka pun, meninggalkan taman bunga dan mengantar Elvina pulang.

__ADS_1


beberapa menit kemudian, Elvina berlarian masuk ke dalam rumah. setelah,Kai meninggal perkarangan rumah Elvina.


Saat masuk ke dalam kamar, Elvina langsung menumpahkan air matanya. Sudah dipastikan, hubungan akan renggang karena Kai jauh dari nya dan jarang bertemu. akankah, hubungan antara mereka akan selalu bersama.


__ADS_2