ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Mengagumi Ayahnya


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain. Al dan teman-temannya, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan melepas masa lajangnya. Padahal Laila dan Shelly, benar-benar membutuhkan mereka saat ini.


Pesta di mansion, milik ayahnya. Mereka mengadakan minum-minuman dan musik. Tidak ada perempuan sama sekali,yang ada hanyalah para pria saja.


Ponsel-ponsel mereka sudah di amankan dan tidak ada yang memegangnya. Takut mengganggu suasana mereka, padahal Laila dan Shelly berulangkali menghubungi mereka.


Mereka menikmati suasana pesta, beberapa botol minuman yang sudah habis dan cemilan di atas meja.


"Bulan madu,kemana kalian". Tanya Dion, sambil menuangkan wine di gelasnya.


"Nanti saja lah,tunda dulu. Tunggu aku,gak lama cuman dua bulan lagi. Biar kita barengan,bulan madunya". Sahut Herman, membuat yang lainnya cekikikan tertawa.


"Tidak,aku ingin berbulan madu tanpa di ganggu siapapun. Yang jelas rahasia,dong. Siapa tahu, kalian iri dan mengganggu kesenangan ku". Bantah Al,ia tersenyum kecil.


"Herman, ngapain juga nungguin kamu yang masih lama. Ogah banget,Al barengan sama kamu". Kata Zakir, melemparkan satu batal ke arah Herman.


"Hahahaha,siapa tahu? Al dan Laila,mau barengan sama aku gak salahkan". Kekehnya Herman, membuat Al geleng-geleng kepala.


"Huuuussttt....Yang aku harapkan adalah,Al dan laila. Mereka secepat-cepatnya, memiliki anak. Aaahh... berharap aku memiliki keponakan perempuan yang sangat cantik dan imut". Kata Dion,ia tersenyum merekah.


"Jadi,kau dan Laila tidak menunda kehamilan dulu". Tanya Zakir, langsung."Yah, maksud ku... kalian tidak menikmati masa-masa indah bersama. Jika, kalian memiliki anak secepatnya. Siap-siap saja,kau dan Laila akan renggang karena menyisihkan waktu bersama anak".


"Hemmm... tapikan Zakir, mereka malah memperkuat ikatan pernikahan. Apa lagi mereka memiliki anak, keluarga kecil mereka akan lengkap". Sahut Dion lagi.


"Tapi,itu terserah Al dan Laila. Kau tahu Al,kalian kan pacaran setelah menikah. Sudah pasti,kau akan jenuh karena Laila akan sibuk dengan anak kalian. Ketahuilah, Perempuan akan stres mengahadapi sikap suaminya saat tidak mengerti keadaan nya. Kau harus ekstra sabar dan penuh perhatian, seorang perempuan akan sensitif terhadap kata-kata yang tidak enak di dengarnya". Herman, menjelaskan bahwa menikah dan memiliki anak memang mempengaruhi perasaan masing-masing. Asalkan,satu sama lain selalu pengertian dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Al,hanya menyungging senyumannya saat mendengar ucapan temannya. "Terimakasih atas nasehat kalian,aku beruntung memiliki teman seperti kalian semua. Sungguh, aku bukan anak kecil lagi. Yang hanya memikirkan kebutuhan dan keegoisan ku. Aku menikah Laila, adalah membina rumah tangga kami. Memang,aku dan Laila sepakat untuk tidak menunda kehamilan. Kami, serahkan kepada Tuhan. Bagaimana nanti,cepat atau lambat kami di berikan keturunan. Percayalah,aku bukan pria brengsek yang kalian pikirkan".


"Sudahlah,jangan memikirkan hal seperti itu. Ingat,kita membina rumah tangga. Satu sama lain,harus saling imbang dan jangan terpengaruh oleh duniawi dan keegoisan. Aku juga berharap, semoga menemukan seorang perempuan yang sepemikiran denganku. Kurang lebih seperti, Laila". Kekehnya Dion, membuat yang lainnya hanya cengir kuda.


"Baiklah,kita lanjutkan dengan pestanya". Kata Herman, menanting segelas wine ke depan dan di ikuti oleh yang lainnya.


"Selamat atas pernikahan kalian Al, selamat menempuh hidup baru". Ucap mereka bersamaan. Mereka nampak bahagia,atas pernikahan temannya besok. Bahkan, mereka tidak tahu ponsel mereka masing-masing berbunyi.


*********


Di dalam kamar hotel, Laila dan Shelly nampak terkejut mendengar suara bel berbunyi kembali.


"Laila, bagaimana ini? Dia masih memencet bel kamarmu". Kata Shelly, membuat Laila juga takut.


"Laila.....!!! Seseorang memanggil namanya,tepat di balkon kamar hotel sebelahnya.


"Laila.....!!!!" Teriak seseorang lagi.


"Benar,ayo...kita ke balkon, sepertinya dari sana ,". Shelly, menarik tangan Laila menuju balkon.


Saat sampai di balkon, Laila dan Shelly tersenyum kecil. Ternyata J, memanggil namanya. "Papahnya Al". Gumam Laila, di angguki oleh Shelly.


"Kenapa,tidak kalian buka pintunya. Kalian baik-baik sajakan". Tanya J,ia nampak cemas melihat gelagat mereka.


"Kami,tidak bisa membuka pintunya. Hemmm...karena terhalang oleh lemari, tenaga kami lemas sekali tidak bisa mendorong lemarinya". Jawab Laila, mereka sudah terkurung berjam-jam di kamar dan melewatkan makan siang mereka.

__ADS_1


"Baiklah,aku akan ke balkon kalian dan membantu menggeser lemari itu". Kata J,ia mulai menaik ke atas balkon dan berpegang pada dinding. Membuat Laila dan Shelly, menegang melihat aksi ayahnya Al.


"Hati-hati Om". Kata Shelly, sedari tadi meremas tangan Laila. Ya ampun, kenapa yang tua lebih menggoda dan segar sih? oh my god, lihatlah otot tubuhnya yang begitu kekar sekali.


Dan akhirnya J, berhasil ke balkon kamar Laila. "Apa yang terjadi, kalian kuat menggeser posisi lemari ini dan tidak sanggup lagi untuk mengembalikan ke tempat awal". J,nampak heran seperti ada sesuatu yang terjadi.


"Tadi ada seseorang yang usil,entah apa? Beberapa kali orang itu, memencet bel dan mendobrak pintu kamar ini. Mungkin karena ketakutan dan cemas, tiba-tiba saja kami sanggup menggeser lemari dan menghalangi pintunya". Laila, memberitahu kepada calon papah mertuanya.


" Benarkah? kalian memiliki kekuatan di saat genting, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Padahal sekitar hotel dan di sudut manapun,sudah di jaga beberapa pengawal. Aku akan mencek dan mencari tahu". J,mulai menggeser lemarinya.


"Tapi, Om...kenapa Al dan teman-temannya, tidak mengangkat telpon kami. Mereka sedang apa dan apa perlu bantuan untuk menggeser lemarinya". Tanya Shelly,ia gugup sekali.


"Mereka sedang melakukan pesta kecil-kecilan di mansion, setahuku mereka juga menyimpan ponsel ke dalam kotak dan menguncinya. Sehingga, tidak ada mengganggu mereka. Tidak perlu,aku bisa melakukan sendiri ". Jawab J,ia berlahan-lahan menggeser lemarinya. "tenang saja,tidak perempuan di acara pesta kecil-kecilan mereka, tidak perlu khawatir".


Laila dan Shelly, nampak terkejut saat melihat aksi ayahnya Al. Terlihat jelas lengan kekar di balik kemeja dan sixpack perutnya terlihat sedikit karena kemeja yang di kenakan terangkat sedikit. Di saat J, menggeser lemari dan terlihat jelas pemandangan yang langka .


Laila, memalingkan wajahnya. Sedangkan, Shelly wajahnya nampak memerah melihat pemandangan begitu indah. "Seandainya, ayah Al seorang duda. Aku akan berpaling haluan ke ayahnya dan siap menjadi ibu tiri Al". Kata Shelly,tanpa sadar. Shelly, senyum-senyum sendiri. dia tanpa henti, memandang ke arah J.


"Apa..? Kau gila sekali, tutup matamu. Seandainya,mamah Ayunda melihat sifatmu yang mencuri pandang ke suaminya. Bisa-bisa matamu,akan di congkel oleh mamah Ayunda". Kata Laila, membuat Shelly ketakutan dan bergidik ngeri.


J, menepuk tangannya. Dia sudah berhasil, menggeser lemarinya. "Sudah selesai, kalian lapar". Tanya J,sontak Laila dan Shelly langsung mengangguk kepala bersamaan. "Bagus,aku akan keluar untuk mencari makanan dan kalian tetap di sini. Jangan membuka pintu kamar ini, sebelum aku kembali". Ada senyuman kecil di sudut bibir J.


Membuat Shelly, bertambah klepek-klepek dengan ayahnya Al. Laila, melihat Shelly memandang ke arah calon papah mertuanya. Ia langsung mengusap wajah Shelly,agar sadar.


"Terimakasih,pah. Kami akan, menunggu kembalinya papah". Jawab Laila.

__ADS_1


"Oke,". Sahut J, langsung meninggalkan mereka dan Laila Langsung mengunci pintu kamarnya. "Kau aneh sekali, tatapan mu itu Shelly".


"Astaga Laila,aku hanya mengagumi papah mertuamu saja. Ternyata,lebih hot papahnya di bandingkan Al. Kau lihat, kekar dan sixpack perutnya. Oohh .. sungguh pandangan luar biasa Laila, sungguh beruntung sekali karena mendapatkan bonus di hari ini". Ucap Shelly,ia tersenyum sumringah dan Laila hanya geleng-geleng kepala. Entah kenapa, temannya menganggumi ayahnya Al.


__ADS_2