
Bruaakkkkkkk....
Herman dan Dion, mendobrak pintu secara bersamaan. akhirnya, pintu berhasil mereka dobrak.
Terpampang nyata di atas ranjang, Shelly tengah di bawah Kungkungan Marchel. seketika Marchel, bangkit dari ranjang. begitu Shelly,ia langsung menarik selimut dan meringkuk di atas ranjang.
Amarah Herman, sudah memuncak. Apa lagi melihat keadaan Shelly,sudan tak menggunakan sehelai benang apapun. Herman, langsung menyeret paksa tubuh Marchel. Matanya sudah menyeringai tajam, walaupun Marchel memohon-mohon untuk tidak menghajar dirinya.
Braakkkk.....
"Aaarghhh.... ampunilah aku, Tuan. aku janji,tidak akan melakukan nya lagi. maafkan aku,maaf." Marchel, memohon iba kepada Herman. yang siap-siap untuk menghajarnya habis-habisan.
Tubuh Marchel, langsung di hempaskan ke meja. Shelly,yang di atas ranjang menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. ia masih menatap ke arah Herman, terlihat jelas dia sangat marah.
"Shelly....!!!". Teriak Laila,ia langsung menghampiri sahabatnya.
"Laila,aku takut". Shelly, langsung memeluk erat tubuh Laila. rambut Shelly, basah karena keringat dan wajahnya juga basah karena air matanya.penampilannya sangat berantakan sekali, jari-jari tangan nya terlihat gemetaran.
Terlihat jelas wajah Shelly,pucat pias. Laila, merasakan tubuhnya gemetaran. "Tenangkan dirimu, Shelly. Kau aman sayang". Laila, langsung memeluk tubuh Shelly.
"Aku-aku sudah kotor Laila,dia menye-ntuh tub-uh ku". Isak tangisnya,bibirnya bergetar. Di sudut bibirnya, terlihat bekas luka dan lembam bekas tamparan keras.
Buughhhh.... Buuughhh..
Buuughhh.... Buuughhh...
Herman, membabi buta menampar dan menendang tubuh Marchel. Itupun di bantu oleh Dion dan Zakir.
__ADS_1
"Kurang ajar,kau menye-ntuh Shelly. Akan aku patahkan tanganmu,pria bajingan".
"Laila,bawa Shelly pergi dari sini. Zakir,antar mereka" pinta Al,kepada temannya. kasian sekali Shelly, semoga tidak sampai kebablasan. bisa-bisa Laila, menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi,jangan di bawa pulang ke rumahnya. Ke apartemen mu saja". Pinta Laila,ia langsung menuntun tubuh Shelly. Yang masih berselimut melekat di tubuh nya, bahkan pakaian Shelly tidak bisa di gunakan lagi.
Ya Allah,baju Shelly tak layak di gunakan lagi. Apa jangan-jangan Shelly,tidak mungkin? Kami tidak terlambat kan,batin Laila. Ai matanya luruh,saat memegang pakaian Shelly.
"mana pakaiannya, Laila". Pinta Zakir,namun Laila hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh,tidak... baiklah, selimuti tubuhnya agar tak lepas. Seluruh klub ini,tidak orang. Kami sudah mengosongkan semuanya, cepatlah pergi". Zakir, mengikuti dari belakang.
Shelly,hanya diam dan menangis kesegukan. Rambutnya yang sudah acak-acakan,tak karuan lagi. "Pelan-pelan, Shelly. Kau aman,kami sudah menolongmu". Laila, mencoba menenangkan hati Shelly.
"Aku takut, Laila. Aku sangat takut,dia menye-ntuh tub-uh ku". Isak tangis Shelly,ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak,jangan jangan menangis lagi. Masuklah ke mobil,kita tinggalkan tempat ini". Laila, menuntun Shelly untuk masuk ke dalam mobil.
Sedangkan di klub malam, Marchel sudah tak sadarkan diri. Ia sudah berlumuran darah,mulut dan hidungnya. Bahkan kepalanya sudah,Al langsung menghentikan aksi Herman. Sudah cukup memberikan hukuman kepada Marchel.
"Tenangkan dirimu, Herman. Shelly, membutuhkan dirimu. Dia akan di kurung di ruang bawah tanah, Dion akan mengantarkan ke sana. Setelah dia,siuman kau bisa melanjutkannya lagi". Al, memeluk tubuh Herman.
Herman, mulai meras tenang. Terlihat kening dan tubuhnya, sudah basah karena keringat. Amarahmya juga, berlahan-lahan memudar. "Baiklah, kita susul mereka". Ucap Herman, nafasnya ngos-ngosan karena habis menghajar Marchel. Awas kau Marchel,aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak rela,karena kau sudah menye-ntuh tub-uh orang yang aku sayang
Al, langsung menuntun Herman masuk ke dalam mobil dan pergi menuju apartemen miliknya.
"Tenangkan dirimu, Herman. Shelly, membutuhkan dirimu". Al, menye-ntuh pundak Herman. "Mungkin saja,dia trauma dengan kejadian ini. Semoga saja, Shelly tidak terganggu dan stres".
__ADS_1
"Bagaimana Al,apa jangan-jangan? Shelly,tidak mau bertemu dengan pria lagi. Termasuk aku,aku yakin dia trauma dengan kejadian ini". Herman, sekarang benar-benar frustasi karena memikirkan keadaan Shelly.
"Aku telpon ayahku, mungkin dia bisa membantu kita". Jawab Al,ia langsung menghubungi ayahnya.
Beberapa kali Al, menghubungi ayahnya. Namun tidak di angkat olehnya, sehingga Al jadi kesal karena ayahnya.
[ Aku sibuk,boy. Kirim pesan saja]. J
Al, langsung mengirim pesan panjang dan menceritakan semuanya. Al,juga meminta bagaimana solusinya.
[ Hanya ada satu,boy. Solusinya adalah Herman. Dia akan menghapus jejak pria itu yang sudah menyentuh tubuhnya. Ketahuilah boy, hanya itu yang ampuh. Asalkan, Herman bisa menahan dirinya jangan terbawa naf-su. Ingat itu, hilangkan semua ingatan Shelly terhadap pria yang sudah menyentuh tubuhnya. Berlahan-lahan, Herman berbicara dengan lembut agar terbiasa dan jangan buru-buru melakukan hal itu. Biarkanlah, Shelly merasakan sentuhan lembut dari Herman dan melupakan pria bajingan itu. Kau paham,boy]. J
Saat Al dan Herman, membaca pesan dari J. Herman, seketika membeku. Jujur saja,dia tak pernah menyentuh tubuh perempuan. Apa lagi Shelly, mereka hanya pernah bergandengan tangan saja. Herman, benar-benar menjaga Shelly. "Aku salah,aku tidak bisa menjaga Shelly. Tapi,ide ayahmu memang benar. Apa aku, sanggup melakukannya". Herman, benar-benar bingung. Ia mengusap rambutnya, ke belakang.
"kalau kau, benar-benar melakukan hal itu. Kau harus secepatnya,menikah Shelly. Apa kata ayahku,memang benar. Kau harus menghapus jejak pria bajingan itu,kasian Shelly. Mungkin dia, terbayang-bayang wajah pria bajingan itu". Decak Al,ia juga marah terhadap Marchel.
"Tidak Al,aku tidak bisa melakukan hal itu. apa lagi menyentuh tubuh Shelly, dia selalu aku jaga Al. aku dan Shelly,hanya pernah bergandengan tangan saja. selebihnya,kami tidak pernah. selama ini, hubungan kami baik-baik saja. walaupun,tidak memiliki hubungan spesial lainnya". kata Herman,ia benar-benar menyesal sudah lalai terhadap Shelly.
******
Di apartemen, Laila langsung membawa Shelly ke dalam kamar. "Kau mandi dulu, bersihkan tubuhmu Shelly". Laila, memberikan handuknya.
"Baiklah,kau jangan kemana Laila. Jangan tinggalkan aku,aku takut sekali. Hidupku,sudah hancur Laila. Aku tak sanggup lagi, tubuh ku sangat kotor". Isak tangisnya Shelly,ia terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Laila, menghidupkan kran shower dan membasahi tubuh sahabatnya. Shelly, menggosok-gosok tubuhnya. Seakan-akan kotoran di tubuhnya,masih ada.
"Hentikan Shelly,jangan terus-terusan kau menggosok tubuh mu. Lihatlah, tubuh mu sudah merah dan akan perih". Laila, langsung menghentikan aksinya Shelly.
__ADS_1
Laila,juga mematikan kran shower. Walaupun dia, ikut-ikutan basah kuyup. "Tidak Laila, kotoran itu masih ada melekat pada tubuh ku. Dia menyentuh tubuhku,aku jijik Laila. Tubuhku, masih kotor. Ini sangat menjijikkan,aku tidak bisa melupakan sentuhan nya". Shelly, meraung-raung meratapi nasipnya.
Laila,juga ikutan menangis dan memeluk erat tubuh sahabatnya. Ia tahu,jika sang sahabat begitu hancur hidupnya. Ia juga menyangka sahabatnya, mengalami pelecehan sek-sual. Bahkan hampir di perkosa, dengan secara mengerikan. Tubuh Shelly,berbekas pukulan dan gigitan. Ada memar dan kebiruan, sungguh tragis yang sudah terjadi kepada sahabatnya.