
Flashback...
Saat di parkiran apartemen, Laila bertemu dengan Emily. Sebenarnya Emily,tahu rencana Al dan teman-temannya hari ini.
"Emily,". Gumam Laila,ia mengehentikan langkahnya. Aduh... bagaimana ini? Jangan-jangan Emily marah kepadaku,karena aku akan ke apartemen tunangannya Al.
"Baguslah jika kau masih ingat diriku,aku tahu..! jika kau ingin ke apartemen Al, untuk membersihkan apartemennya kan. Aku ada sesuatu untukmu,agar menjauhi dirinya ". Senyum smrik Emily.
"Maksud kamu apa? Aku tidak paham". Tanya Laila,ia merasa sangat tidak nyaman dengan perkataan Emily. Kenapa Emily, berkata seperti ini. apa dia cemburu,kalau aku sedang bersama Al.
"Kami sengaja menerima perjodohan ini dan kami bertunangan. Karena kami memiliki keuntungan masing-masing, sebenarnya Al tidak mau menuruti perkataan ku yang menerima perjodohan ini. Sebab aku beralasan untuk memancing perasaan Liam,tapi di sisi lain. Aku tahu,jika Liam sama sekali tidak peduli kepadaku. Sebenarnya,bukan memancing perasaan Liam. Tapi,aku benar-benar mencintai dan menyukai Al. Aku melakukan hal apapun,agar dia menjadi milikku. Kau lihat, kami sekarang bertunangan ". Emily, memperlihatkan cincin di jari manisnya.
Apa..?? mereka merancakan hal ini, untuk keuntungan masing-masing. maksud apa? dan ternyata Emily, membohongi Al. ia mengambil keuntungan ini, untuk menjerat Al. bukankah ini, perlakuan tidak baik.batin Laila, ia terkejut mendengar ucapan Emily.
"Laila,aku beritahu kepadamu. Al, menerima perjodohan ini. Dia ingin memancing perasaanmu,kau tahu. Jika Al, sangat mencintaimu dan menyukaimu. Atau jangan-jangan,kau juga sama". Emily, memandang Laila mulai ujung kaki sampai kepalanya.
Laila, mendengar ucapan Emily. Sontak dia terkejut mendengar,jika Al juga mencintainya dan menyayangi dirinya. Jadi kami saling mencintai, ternyata aku tidak salah menilai Al. Kenapa aku sesenang ini,batin Laila. Ia tersenyum sumringah, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak sabar menemui Al". Gumamnya Laila. "Terimakasih,atas semuanya. Kau memberitahu Kepadaku, sehingga aku tidak salah paham".
"Laila,kau jangan macam-macam dan jangan merasa senang dulu. Aku tidak rela,jika dia menjadi milikmu. Satu hal lagi,jauhi Al. Aku bisa melakukan apapun,agar kalian tak akan bersatu. Aku orangnya nekat Laila,aku minta kau melakukan sesuatu. Agar Al, membenci dirimu". Emily,menarik kerudung Laila begitu keras ke arah belakang. "Kau paham maksudku". kepala Laila, mendoak ke atas karena Emily semakin menarik kerudungnya.
Sorotan mata Emily, begitu tajam dan sangat marah kepada Laila. Laila, hanyalah meringis dan menahan kerudungnya agar tidak lepas. "Baiklah,aku akan melakukan apa yang kau pinta". Jawab Laila,air matanya lolos juga.
__ADS_1
Barulah Emily, melepaskan cengkraman kerudung Laila. Ia sedikit mendorong tubuh laila, untuk saja tidak jatuh. "baguslah,jika kau berani macam-macam. Aku akan melakukan hal yang mengerikan kepadamu, Laila". Seringai tajam Emily,ia langsung meninggalkan Laila.
Laila,hanya menangis kesegukan dan tak bisa berkata apa-apa. Ia tahu jika Emily,anak orang kaya. Sudah pasti akan melakukan apapun, yang dia mau. Satu yang dia lakukan adalah menghindari, walaupun sakit hati yang di rasakannya.
Flashback off
"Sudah lama aku merasa, bahwa Al memang menyukaimu Laila. Kurang ajar sekali Emily, melakukan hal itu. Kau tidak salah Laila,lebih baik kita menghindari Emily. Emily, terbilang perempuan liar. Kita harus berhati-hati kepadanya, setidaknya menjauhkan diri". Shelly, merangkul pundak Laila.
Ia mencoba menenangkan hati temannya, sedang di landa galau berat .
Shelly, juga mendengar apa yang di ceritakan oleh Laila.
"Pindah? Emangnya kamu mau pindah kemana? Terus,kenapa pindah Laila". Tanya Shelly, penasaran. "yang sabar Laila, kalau kalian jodoh. pasti bakalan bersatu lagi".
"Aahh..aku lupa bercerita tentang ini, kepadamu. Sebenernya dua hari yang lalu,kakak ibuku. Tante Ati, memiliki anak sudah menikah bahkan punya anak masih bayi.mereka datang ke rumahku. Dengan alasan hanya sementara,tapi aku gak yakin. Mau mengusir mereka,gak enak. Lebih baik aku pergi.Tapi,baru dua hari ini. Belang sifat asli mereka, sudah keliatan. Maksudku, mereka seperti manfaatkan diriku. Buktinya,setiap aku pulang kerja. Mereka selalu menyuruhku bersih ini,itulah. Kau tahu, mereka juga menyuruhku membeli bahan-bahan sembako. Sedangkan mereka,tinggal makan doang. Aku berpikir,ingin pergi aja". Laila, terlihat sedih dengan keadaannya sekarang.
"Sebenarnya aku,sudah lama. Ngajak kamu,tinggal di rumah orangtuaku. Apa lagi orangtuaku,pindah ke luar kota tempat nenek. Perusahaan juga di tanganin kakakku,kau lebih baik berhenti bekerja di supermarket. Bekerjalah di hotel ibuku,aku juga mengelola hotel tersebut. Tinggal sama aku aja, Laila. Kau sudah aku anggap, seperti saudara kandung. Ibuku pasti senang, mendengar berita ini. Ibuku juga lama menyuruhmu, untuk bekerja di hotel itu. Heheheh...aku lupaan". Kekehnya Shelly, membuat Laila geleng-geleng kepala.
"Gak papa,aku numpang hidup di tempatmu? Jadi gak enak akunya,lebih baik aku kost kek". Laila,mencoba mencari jalan lain. Ia tak mau merepotkan Shelly,yang begit baik kepadanya.
"Pliss....tinggal bareng aku yah,plisss...cuman kamu,teman terbaikku. Kamu gak tegakan,lihat aku sedih". Shelly, mencoba membujuk Laila. Agar dia mau di ajak tinggal bersama,di rumahnya.
__ADS_1
Laila, tersenyum sumringah dan mengangguk kepalanya. "Baiklah,aku akan tinggal di rumahmu. Tapi,besok yah. Aku mau siap-siap dulu,lalu pamit kepada teman tim kerjaku".
"Oke,aku akan mengurus tempat kerja barumu. Lumayan gajihnya gede,aku juga akan menunggu di rumah. Awas kalau bohongin aku, bakalan ngambek setahun,". Ancam Shelly, tertawa cekikikan.
"Hemm..ya sudahlah,kita pulang yukk...hari mulai malam,besok lagi". Kata Laila, mengakhiri pertemuan mereka.
"Hemm... hati-hati yah". Jawab Shelly, mereka berpisah dengan jalan beda arah.
********
Saat tiba sampai di rumah, Laila hanya menghembuskan nafas beratnya. di ruang tamu mereka tengah asyik, berbincang hangat. siapa lagi kalau bukan Bu Ati, bersama anak dan cucunya.
Laila, juga merasa tak nyaman jika berpapasan dengan suaminya Lili. Lili, adalah anak bu Ati. entahlah tatapan suaminya Lili, membuat merasa risih.
"Sudah pulang kamu Laila,di dapur banyak piring kotor. tolong, cucikan". pinta bu Ati,kepada keponakannya itu.
"Tolong juga Laila,kamu lipatin baju-bajuku dan suamiku. kau tahu,aku capek mengurus anakku". pinta Lili,kepada Laila.
Laila,hanya mendengus kesal. "aku hanya mencucikan piring saja,tak mau melipatkan bajumu. itu bukan bajuku,". bantah Laila,ia langsung meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. "yang makan siapa? yang makai baju siapa? kenapa aku yang mengerjakannya, tiba-tiba saja aku berubah jahat seperti ini". gerutu Laila,ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Aku harus bersiap-siap dan membawa sertifikat rumah ini,lebih baik aku pergi saja".
Laila, langsung bangkit dan mengambil tas lumayan besar untuk memasukkan baju dan yang lainnya. masih untung sertifikat tanah,masih ada di dalam lemari. secepatnya,ia harus mengamankan harta satu-satunya peninggalan ibunya.
__ADS_1