ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Sakit (S2)


__ADS_3

Satu minggu, lebih.


Kai, uring-uringan sendirian. Setiap hari, memasak untuk Rea dan menunggu kepulangan istrinya.


Sudah satu minggu,ini. Rea, mengabaikan suaminya. Dia, benar-benar sangat marah. Karena Kai, memperkerjakan Elvina di perusahaannya.


Satu minggu, Kai membujuk Rea dan selalu perhatian kepadanya. Terkadang Kai, membelikan perhiasan dan setiap hari memberikan buket bunga mawar.


Ruang tamu, sudah di penuhi beberapa buket mawar. Akan tetapi, Rea tetap mengabaikan Suaminya itu.


Ceklekk....


Pintu rumah terbuka, terlihat Rea baru pulang kerja. Jam dinding sudah menunjukkan, pukul delapan malam.


Kai, menghela nafas beratnya dan menatap ke arah istrinya. Semakin hati, semakin berubah.


"Aku sudah memasak, untuk mu". Ucap Kai, mengikuti Rea masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih,makan saja sendiri. Aku sudah kenyang,makan bersama Tina". Jawab Rea, tanpa menoleh ke arah Suaminya.


Rea, bersiap-siap untuk membersihkan diri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kai, tersenyum dan duduk di tepi ranjang. Masih setia menunggu, istrinya selesai mandi.


Sudah beberapa kali,Rea selalu menolak ajakan Kai untuk makan malam bersama. Akan tetapi, Rea acuh saja tanpa memperdulikan perasaan suaminya.


Beberapa menit kemudian, Rea selesai dengan acara mandinya.


Saat keluar dari kamar mandi, Kai tersenyum dan memberikan sebuket bunga lagi.


"Bunga lagi? Sudah aku bilang, tidak perlu melakukan apapun. Cukup,kak". Bentak Rea, melongos melewati suaminya.


"Sampai kapan, Rea? Kamu, selalu mengabaikan diriku". Tanya Kai, meletakkan buket bunga di atas meja riasnya Rea.


"Kakak, pasti tau jawabannya. Sampai kapan,". Ketus Rea, memilih pakaian untuk di pakainya.


Kai,hany menelan ludah saja. Saat sang istri, dengan mudahnya mengenakan pakaian tepat di hadapannya.


"Rea, aku...".


"Cukup, kak. Jangan di teruskan lagi". Rea, memotong perkataan suaminya. Dia tahu,apa alasan yang di katakan Kai. "Aku muak, mendengar alasan kakak. Pasti taukan,jawab ku apa". Tegas Rea, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya, langsung terpejam dan membelakangi Kai.

__ADS_1


"Baiklah,maaf". Lirih Kai,dia keluar dari kamar. Sudah tiga malam ini,dia tidur di kamar sebelah. Sebenarnya, Kai tidak memasak malam ini. Kepalanya sangat sakit,sehingga tak mampu mengerjakan lainnya.


Sedangkan Rea, menangis kesegukan. Setelah,sang suami pergi dari kamarnya. "Tega sekali,kak. Sudah menyakiti hatiku,".


**********


Sudah jam delapan, pagi. Tidak ada tanda-tanda, kepergian suaminya itu. "sudah jam segini,kenapa kak Kai tidak masuk dalam kamar". Gumam Rea, seharusnya Kai sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Akan tetapi,jam delapan pagi. Tidak ada tanda-tanda, Kai keluar dari kamarnya.


Karena penasaran Rea, keluar dari kamar dan Calingukan mencari sesosok suaminya. Dari kamar tamu,keluar rumah dan dapur. Tidak ada batang hidung, suaminya.


Dengan hati-hati, Rea membuka pintu kamar suaminya. Beruntung sekali, Kai tidak mengunci dari dalam.


"Dia,masih tidur". Gumam Rea, menatap ke arah Kai yang masih berbaring di atas ranjang. Entah kenapa, hatinya gelisah dan ingin mendekati suaminya.


Sedikit demi sedikit, Rea mendekati tepi ranjang. Ia takut, jika Kai memergoki dirinya.


"Kakak". Rea, langsung syok melihat keadaan suaminya. Keningnya berkeringat,bibirnya pucat pias. "Astagfirullah,panas sekali".


Rea, langsung gelabakan karena tubuh suaminya panas.


"Rea,". Lirih Kai, menggenggam tangan istrinya.


Berlahan-lahan Rea, meminumkan obat untuk suaminya. "Obat apa ini? Bukan obat perangsang kan". Tanya Kai, tersenyum kecil.


"Hussssttttt... keadaan seperti,ini. Masih aja,bercanda". Decak Rea, membantu suaminya untuk duduk. "Minuman lah,biar cepat turun panasnya. Setelahnya,aku akan menggantikan pakaian kakak".


Kai,hanya mengangguk dan menuruti perkataan istrinya. "Terimakasih,masih peduli dengan ku. Yang sudah menyakitimu,".


"Hussssttttt... diamlah kak,jangan bahas ini lagi. Fokuslah, dengan kesehatan kakak". Pinta Rea,tak sanggup melihat keadaan Suaminya yang begitu lemah


Selesai minum obat, Kai berbaring lagi. Rea,juga melepaskan seluruh pakaian sang suaminya. Hanya meninggalkan, boxernya saja.


Glekkkk....


Walaupun, Kai berbaring lemah. Aka tetapi,miliknya masih tegak lurus. Apa lagi, Rea melap tubuh Kai dengan handuk basah.


"Pindah kamar,yah. Aku bantu,". Rea, meraih tangan suaminya dan menuntun ke kamar tidur mereka.


Sesampai di kamar, barulah Rea membaringkan tubuh suaminya. Setelahnya,dia mengambil baju di lemari

__ADS_1


Kai,nampak terlihat segar dari pada tadi. "Aku akan keluar, untuk mencari bubur dan sarapanku. Aku tinggal sebentar,kak". Rea, meninggalkan suaminya.


Sedangkan Kai,masih berbaring lemah. Walaupun,panasnya sudah turun. Ada air mata, mengalir di sudut matanya.


Entah, apa yang di pikirkan nya saat ini.


Tinggg.....


Sebuah pesan masuk, Kai meraih ponselnya. Ternyata Rea,yang mengirim pesan kepadanya.


[Maaf,kak. Ini nomor temanku,tadi lupa bawa ponsel. Buburnya, sudah aku titipkan ke bu Tini. Nanti,bu Tini bakalan kasih ke ibu. Aku sudah menghubungi ibu,kalau kakak sakit. Aku,mau pergi ke rumah sakit. Karena Ade,habis kecelakaan katanya. Aku, mau lihat kondisinya bagaimana].


Kai, tersenyum getir. Setelah selesai membaca pesan, dari istrinya. Tak segan-segan,kai melempar ponselnya ke sembarang arah. Entah, apa yang di pikiran Rea. Suaminya lagi sakit,malah pergi menjenguk pria lain.


Kai, mencoba bangun dari ranjang. Akan tetapi, kepalanya merasakan sangat sakit yang luar biasa. "Aaarghhh.... kepalaku,sakit sekali". Kai, meringis kesakitan sambil menahan kepalanya sangat sakit dan terjatuh dari ranjang. Hingga Kai,tak sadarkan diri.


************


"Aaarghhh......" Kai, meringis kesakitan di kepalanya.


"Hati-hati, kak". Rea, membantu suaminya untuk duduk.


"Jangan menyentuhku,jam berapa sekarang". Ucap Kai, sedikit membentak keras.


Sontak membuat Rea, tercengang dan terdiam atas perlakuan suaminya. "sekarang, sudah jam dua belas siang. Kakak, tidak sadarkan diri selama dua jam. Waktu aku pulang,dari...,".


"Cukup, jangan di teruskan". Kai, langsung memotong pembicaraannya Rea.


"Baiklah,aku akan memanasi buburnya kak". Rea, dengan lembut berbicara kepada suaminya.


"Tidak perlu,aku tidak nafsu untuk makan. Minggiiiirrr....". Bentak Kai,dia berdiri dan berjalan. Tangannya, berpegangan pada dinding dan menuju ke arah kamar mandi.


Kai,juga menepis dan menolak saat Rea ingin membantunya. Bahkan Rea, kebingungan dengan suaminya.


"kenapa,kak Kai seperti marah kepadaku? Ck,aneh sekali. Di baikin,malah ngelunjak. Apa sih, maunya". Gerutu Rea, langsung keluar dari kamar. "mungkin saja,dia habis kerasukan setan tadi".


Perutnya sudah mulai keroncong, Rea menyantap makanan yang belinya tadi. Untuk apa, memikirkan suaminya itu.


[Heran,aku sudah mulai memperbaiki keadaan rumah tangga kami. Ehh... malah dia, marah-marah gak jelas. Emang yah,pria itu gak tau diri]


Rea, langsung mengirim pesan kepada temannya Tina.

__ADS_1


[Biarin aja, Rea. Mending kita, jalan-jalan aja. Untuk apa mengurusi dia, sedangkan dia aja bentak-bentak sama kamu] Tina.


Rea, juga mencurahkan isi hatinya. Yang sesak di dadanya, apa lagi suaminya seperti itu. Tidak ada lembut-lembutnya,sering membentak keras.


__ADS_2