
Tidak hanya malam, paginya juga. Kai, melanjutkan aktivitas olahraganya.
Rea, hanya pasrah dan menerima perlakuan dari suaminya. Dia juga, menik-mati permainan sang suami. Dia juga ha-nyut dalam deka-pan han-gat,sang suami.
Satu jam lebih, akhirnya Kai tum-bang di atas tu-buh istrinya. Dia tersenyum dan memberikan beberapa ciu-man di wajah Rea.
Nafas mereka berdua, sudah ngos-ngosan. Apa lagi Rea,dia menyeli-muti tu-buh pol-osnya. Matanya sangat berat, untuk di buka. Apa lagi, tub-uhnya sangat lemah. Seakan-akan tub-uhnya, remuk.
"Aku ingin mandi,apa kamu mau mandi". Kai, ingin mengajak istrinya mandi bersama. "Aku tahu,kamu sangat susah berjalan.biar aku menggendong dirimu,".
Rea, langsung memandang ke arah suaminya dan mengangguk pelan. Sangat tidak nyaman dengan tub-uhnya, leng-ket karena keringat.
Kai, tersenyum sumringah dan langsung bersemangat untuk menga-ngkat tu-buh istrinya ke dalam kamar mandi.
Rea,tak mampu berdiri karena kakinya masih lemas tak berdaya. Saat Kai, memulai aks-inya di bawah guyuran shower.
"Kakak, hentikan". Rea, menghentikan aksi suaminya itu. "Aku sangat lelah, sekali. Bukankah,malam dan pagi tadi. Sudah kakak hajar habis-habisan, tubu-hku".
Mendengar rengekan sang istri,kai hanya mendengus dingin dan mengusap wajahnya. "hanya sekali". Kai, tak menghiraukan perkataan istrinya.
Rea, pasrah dan terbuai dalam permainan sang suami. setiap pergerakan,yang di lakukan Kai.
Dengan cepat Kai, menyu-dahi permai-nannya. Tak sanggup melihat, keadaan istrinya begitu sangat lemah.
Kai, juga memandikan istrinya seperti bayi. Penuh dengan hati-hati dan kelembutan.
Rea,di perlakukan seperti ratu. Dia tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Malu,jangan di tanyakan lagi.
Selesai mandi,Kai juga telaten memakai pakaian untuk istrinya. walaupun, Rea menolak beberapa kali. tapi,kai memaksa dirinya untuk memasang pakaian Rea.
"Kakak, bukankah ada janji dengan seseorang".
"Dua jam lagi,kita tunggu makanan datang". Jawab Kai,dia tahu tenaga istrinya terkuras habis. "Terimakasih, atas semuanya". Kai, meng-ecup sekilas bibir Rea.
Sial,kenapa bangun lagi. Mana mungkin,aku terus meng-hajar Rea. Batin Kai,dia mulai mendekati lemari pakaian.
Rea, langsung mene-gang saat melihat di selang-kangan suaminya ada sesuatu meno-njol. Dia takut,jika sang suami memakannya lagi.
Beberapa menit kemudian,makanan yang di pesan sudah datang.
Rea, langsung melahap sarapan pagi yang sudah di lewati oleh mereka.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Rea bersandar di ranjang. Sedangkan Kai, mem-eluk erat tu-buh istrinya dan matanya terpejam.
Ada dengkuran halus, mungkin saja Kai tertidur. Dia juga meminta istrinya, untuk membangunkan dirinya tepat jam dua siang.
Jam terus berputar, hingga akhirnya tepat jam dua siang. Rea, membangunkan suaminya itu. Apa lagi, dering ponsel sang suami terus berbunyi.
"Terimakasih,sudah membangunkan ku". Ucap Kai,turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
Dering ponselnya Kai, terus-menerus berbunyi.
"Siapa sih? Dari tadi, menelpon kak Kai". Rea, langsung mengambil ponselnya dan melihat nama tertera di layar. "Elvina...". Gumam Rea,entah kenapa hatinya langsung memanas. Ada sebuah pesan masuk, terlihat jelas dari layar atas.
[Kai,aku menunggumu].
Deggg.....
Rea, merasakan sesak di dadanya. Tangannya,gemetar hebat. Berlahan-lahan,dia meletakkan ponsel itu kembali.
Matanya mulai berkaca-kaca, akan tetapi dia tetap berfikir positif. Mana mungkin,suaminya berpaling kepada mantan kekasihnya itu.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Rea langsung berekspresi biasa saja. Seakan-akan dia,tidak tahu apa-apa.
"Aku pergi dulu". Kai, meng-ecup sekilas bi-bir Rea dan mengambil ponselnya di atas ranjang.
"Hati-hati,kak". Kata Rea, menatap kepergian suaminya. Dalam hati Rea,tak rela jika suaminya pergi apa lagi menemui mantan kekasihnya itu.
Karena penasaran dengan suaminya, Rea mengikuti Kai dari belakang. Walaupun dia,masih merasa nyeri di ba-gian baw-ahnya setiap di melangkah kakinya.
Namun sayang, Rea malah kehilangan jejak suaminya. "Kemana dia pergi,sial kehilangan jejak dia" ucap Rea,dan memutuskan untuk pulang ke hotel.
Berjam-jam, Rea mondar-mandir di dalam kamar hotel. Pikirannya, melayang-layang kemana-mana. Apa lagi sang suami, tidak memberikan kabar apapun.
Ting....
Sebuah pesan masuk, sepertinya ada seseorang yang tidak di kenal. Yang sudah, mengirim foto Kai bersama mantan kekasihnya. Yang tengah berbaring,di atas ranjang.
Rea, langsung menjatuhkan ponselnya karena tak mampu lagi menahan diri. Dia terduduk lemas di lantai, dengan isak tangisnya.
"Tidak,itu tidak mungkin" Rea,terus berteriak-teriak dan menggelengkan kepalanya.
Ceklekk....
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, terlihat Kai baru saja datang. Namun,dia terkejut mendengar tangisan istrinya dan langsung berlarian.
"Rea,kamu kenapa? Katakan, kenapa kamu menangis seperti ini". Kai, sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
"Kakak? Kakak, sudah pulang". Rea, terkejut dengan kedatangan suaminya. Bahkan,baju yang di kenakan masih sama dengan perginya tadi.
"Kenapa,kamu menangis? Ada yang sakit kah,milikmu masih sakit". Tanya Kai, menangkup kedua pipi Rea.
Rea,hanya menggeleng kepalanya dan menunjuk ke arah Ponselnya. Dia tak sanggup, mengucapkan kata itu.
Kai, langsung mengambil ponsel istrinya. Ada retakan di layar ponsel, Rea.
Kai, terkejut melihat sebuah foto bersama mantan kekasihnya. Yang tengah berbaring, di atas ranjang. "Ck,berani sekali dia mengirimkan foto lama ini". Decak Kai, langsung mendekati istrinya.
"Rea,itu hanya foto lama. Hanya berbaring saja,kami tidak melakukan hub-ungan in-tim. Percayalah, kepadaku". Berharap Rea, mempercayai ucapannya
"Apa ada buktinya, kakak tidak melakukan hub-ungan itu". Tanya Rea, langsung.
Deggg...
Kai, bingung karena tidak bisa membuktikan kepada istrinya.
"Lalu, bagaimana jika dia hamil. Walaupun, kalian tidak melakukan itu. Tetapi, dengan bukti kalian tidur seranjang. Mungkin,orang mengira kalian melakukan hal tak senonoh". Ucap Rea, sambil menghapus air matanya.
"Rea, percayalah...aku dan dia, hanya tidur seranjang saja". Kai, bingung harus berbuat apa lagi. Tidak ada bukti, apapun. Apa lagi Elvina,bisa saja membuat skenario licik.
"Bagaimana kak,kalau dia hamil. Siap-siap,kakak akan kehilangan ku". Kata Rea, tangannya mengepal erat.
Deggg.....
Kai, merasa sakit hati mendengar ucapan istrinya. "Tidak,aku akan membuktikan kebenarannya. Aku tidak ingin, kehilangan mu Rea. Sampai kapan pun,kamu tidak akan bisa lepas dariku". Ucap Kai, dengan tegas. Sorotan matanya, begitu tajam ke arah Rea.
Rea, bingung harus bagaimana lagi. percaya atau tidak,apa lagi dengan foto bersama mantan kekasihnya. apa lagi,di atas ranj-ang sambil berpelukan mesra.
Kai, langsung menggogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. secepat mungkin,dia bertindak jangan sampai rumah tangganya hancur karena masalah ini.
"Rea, percayalah kepadaku. aku mohon,". kai, memegang kedua pundak istrinya.
"Ayo,kak. kita pulang,". kata Rea,entah kenapa semangatnya hilang sirna. Hanya ada rasa sakit,yang sangat dalam.
Rahangnya mengeras seketika,saat mendengar ucapan istrinya. "Baiklah,kita pulang". kai, nampak kecewa karena istrinya tak mempercayai ucapannya
__ADS_1