
"Laila,jika kamu memang benar-benar mencintaiku. Bertahanlah, jangan dengarkan apa yang di katakan oleh Emily. Sampai kapan,aku sabar. Hemmm...aku selalu menuruti kemauan mu, pertama kau memintaku untuk merahasiakan hubungan kita dan kedua selalu ada alasan menolak ajakan ku menikahi mu. Jangan sampai, membuat hati ku ragu," Tegas Al,ia menatap tajam ke Laila. Huuufff....sabar Al,jangan menuruti keegoisan mu sendiri. seharusnya,kau memahami Laila sedalam mungkin. jangan sampai kau, membuat hatinya terluka apa lagi kecewa.
"Al, seharusnya kamu paham. Bagaimana di posisi aku,serba salah akunya. Aku masih terngiang-ngiang dengan ucapan Emily, aku takut. Emily, selalu nekat apa yang dilakukannya. Bukan maksudku, untuk mempengaruhi hubungan kita. Untuk saat ini,aku tidak bisa menerima ajakan menikahi mu. Aku mohon, percayalah padaku". Laila, berharap agar Al mengerti kemauannya. Maafkan aku,Al. maaf,kenapa seperti ini Tuhan. berikanlah,jalan yang terbaik untuk kami.
"Apa karena arkana? Hemm... Arkana,tahu jika kita bertunangan". Senyum smrik Al. Maafkan aku, jika membongkar rahasia kita. karena dia adalah pria yang licik, ingin memiliki mu lagi.
Laila,hanya mengerjapkan bola matanya. Ia nampak tak percaya,apa yang di dengarnya. "Apa...?kau memberitahu kepadanya,tentang hubungan kita". Tidak masalah,malah lebih baik. agar dia,tidak mengganggu ku. mungkin,yah... mungkin dia akan nekat sejauh mana lagi.
"Kenapa,hemm...kau tidak terima,aku cemburu Laila. Aku tidak ingin,dia mendekati dirimu lagi. Aku tahu,dari gelagatnya masih menyimpan rasa cinta kepada mu". Ucap Al, penuh penekanan. Tidak akan aku membiarkan pria itu, mendekati dirimu. Ck, bedebahhh..... Gerutu Al,ia benar-benar kesal kepada Arkana.
"Maafkan aku,maaf". Lirih Laila,dalam tangisannya. Aku tahu,apa yang kamu inginkan Al. Seharusnya,aku tidak seegois ini. Niatmu sungguh mulia, ingin menikahi ku.
"Tidak apa-apa,aku mengerti apa maksudmu. Maaf,aku sangat mencintaimu dan membuat cemburu buta". Al, menggenggam erat tangan Laila. "Aku sadar,kita hanya tunangan dan kau masih bebas berteman dengan siapapun atau dekat dengan siapapun. asalkan, kau ingat jika ada hati yang kau jaga".
"Jangan seperti ini". Laila,menarik tangannya. Namun Al, semakin erat menggenggam telapak tangan Laila. Aku juga mencintaimu,Al.
"Huusss...hanya sebentar Laila,aku ingin sekali memelukmu. Tapi,kau pasti tidak mau". Al, menuntun telapak tangan Laila ke arah pipi. "Kau sangat menggemaskan,sayang".
Laila, hanya tersenyum kecil dan tersipu malu-malu. Saat mendengar Al, memanggil dengan sebutan sayang. "Terimakasih,sudah bersabar menghadapi sikap ku". Al, hanya tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Al, lepaskan tanganku. Kau jangan mencium punggung tanganku,lepas". Laila, mencoba melepaskan tangannya dan matanya juga melotot.
Dengan jahilnya,Al hanya tersenyum cengengesan. Al dan Laila,saling pandang dan terdiam. Hanya senyum-senyum,tanpa berkata apa-apa. "Nikah yuk..!!". Ucap Al,ia memainkan kedua alisnya.
__ADS_1
Laila,menggenggam tangan Al. Ia tersenyum kecil dan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Al. "Yuukk...kita nikah". Jawab Laila.
Sontak membuat Al, terkejut mendengar jawaban Laila. Al,juga menjauhkan tubuhnya dari Laila. Ia menatap tajam ke arah mata Laila, mencari kebohongan namun tak di temukannya. "Aku serius, Laila". Al, meyakinkan kata-katanya lagi. Senyum merekah di sudut bibir Al, seketika memudar saat Laila menyetujui menikah dengannya.
Laila,hanya mengangguk dan tersenyum. "Iya,aku serius malah". Ia meyakinkan kata-katanya,karena Al masih tidak percaya dengan ucapannya. memang Laila,terus menolak ajakan Al untuk menikah. Tapi, untuk kali ini Laila malah serius.
"Benarkah,kau tidak membohongi ku". Tanya Al,ia tersenyum sumringah dan terlihat sangat bahagia. Apa lagi Laila, mengangguk kepalanya seolah-olah. Ia menerima ajakan Al, untuk menikah.
Al, langsung beranjak berdiri sambil menarik lengan Laila. "mau kemana,hemm...." Laila, menghentikan langkah kaki Al.
"Mau KUA,kan katanya mau nikah sama aku". Jawab Al, dengan santainya.
"Al,bukan gitu konsepnya. Astagfirullah,gak sabaran banget sih. Emang orangtuamu,tau.hemm...kita harus meminta restu dengan orangtuamu dan mengurus surat-surat pernikahan. Gak segampang itu,Maimunah...." Decak Laila, wajahnya bersemu kemerahan.
Laila,hanya tersenyum manis. Perasaannya sudah campur aduk dan jantungnya berdegup kencang.
Tiga puluh menit, kemudian.
Al dan Laila,turun dari mobil dan menuju rumah orangtuanya Al. Di sepanjang jalan tadi,Al tak henti-hentinya tersenyum merekah. apa yang di harapkan terwujud sudah,saat Laila menyetujui menikah dengannya.
Sejujurnya Laila, sangat gugup dan gelisah. Walaupun,dia begitu dekat dengan Ayunda. "Al,". Laila, menghentikan langkah kaki mereka.
"Ayok,kita beritahu kabar bahagia ini. Laila, percayalah padaku. Kedua orangtuaku, pasti senang jika kamu menjadi menantunya. Percayalah". Al,menarik lengan Laila.
__ADS_1
Laila,hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki mereka. Saat di depan rumah, terlihat jelas J dan Ayunda saling berpelukan dengan mesra.
"Papah,mau kemana". Tanya Al,ia langsung menghampiri ayahnya. Di sore hari ini,sang ayah masih berpakaian lengkap dengan baju militer dan di lantai ada tas.
"Laila,ya ampun....apa kabar sayang,lama tidak bertemu". Ayunda, langsung berlarian menuju Laila. Ia memeluk erat tubuh Laila, begitu juga dia. Laila, merasakan pelukkan hangat dari seorang ibu.
"Papah,jawab Al". Tanya Al, lagi yang belum di jawab oleh J.
"Papahmu,akan pergi ke perbatasan". Sahut Ayunda, seketika Al menatap tajam ke arah Ayahnya.
Begitu juga J, melirik ke arah anaknya dan Laila. Ia mendelik dan paham apa kedatangan anak bersama teman, perempuannya.
"Apa...? Berapa hari,pah". Tanya Al,ia terlihat gelisah. Harapannya pupus, untuk menikahi Laila secepat mungkin. Kenapa,konsepnya seperti ini sih? Ujian apa lagi Tuhan, seberat inikah menuju halalmu.
"Boy,ini adalah tugas terakhir papah. Setelah ini,papah akan pensiun. Tidak melakukan tugas bahaya,papah hanya mengantar para anggota militer ke perbatasan. Tidak lama,hanya sebulan". Senyum smrik J. Mampus kau bocah,aku tahu? apa maksud kedatangan kalian, rasakan pembalasanku. hahahha....kasian sekali,kau boy.
"Apa....? Satu bulan, lamanya. Mamah, hentikan papah". Rengeknya Al, meminta bantuan kepada sang ibu. Apa-apaan ini, kenapa selama itu.
"Mamah, tidak bisa sayang. Jangan seperti anak kecil,ini tugas terakhir papahmu". Jawab Ayunda, ia tersenyum manis saat menoleh ke arah Laila. "Jangan kau hiraukan, bagaimana sifat Al jika denganku. Manja keluar, sampai lupa dengan umur".
"Tidak apa,Tante". Kata Laila,ia cengengesan saja. Laila,hanya menggeleng kepalanya untuk memberikan kode Kepada Al.
Dengan hati pasrah,Al dan Laila hanya tersenyum kecil. "kalau Papah, pergi. bagaimana denganku,jujur. aku ingin menikahi Laila". Ucap Al,tanpa ba-bi-bu lagi. Jangan di tanyakan lagi, bagaimana ekspresi wajah Ayunda. saat mendengar ucapan anaknya,yang ingin menikah dengan seorang perempuan.
__ADS_1