
"Laila,aku mohon. Aku ingin berbicara padamu". Hafizah, mencekal lengan Laila.
"Membicarakan apa? Tentang kau,ingin merusak hidupku. Lupakan saja Hafizah,aku sudah memaafkan mu. Aku dan kau,berbeda. Karena aku, tidak pernah memendam rasa dendam kepadamu. Walaupun kau, melakukan buruk kepadaku". Tegas Laila, matanya berkaca-kaca namun tetap dia tahan. Agar air matanya,tidak lolos di waktu sekarang.
"aku tahu,kau sangat marah kepadaku. Aku sungguh menyesal, maaf. Aku bersalah Laila,". Terlihat jelas raut sedih di wajah, Hafizah.
"Aku harap,atas kejadian ini. Kau bisa memetik pelajaran,agar menjadi seorang istri lebih baik lagi. Aku sudah tidak mau, mengungkit masalah ini". Ucap Laila,ia melepaskan cengkalan tangan Hafizah.
"Aku tahu,kau sangat mencintai Suamiku. Bahkan suamiku,juga masih mencintaimu. Aku ijinkan,jika suamiku menikahi mu Laila. Maaf,aku sudah menghalangi cinta kalian". Lirih Hafizah, hatinya melongos terasa perih.
Mendengar perkataan Hafizah,sontak Laila terheran-heran. Apa Hafizah,sadar mengatakan hal itu kepadanya. "Maksudmu apa, Hafizah? Kau tidak melantur kan dengan perkataan mu".
"Aku serius, Laila. Aku ingin kau, menjadi maduku. Ustadz Zulkifli,akan adil terhadap kita. Aku hanya menebus kesalahanku, yang sudah menyakiti hati kalian. Aku ikhlas Laila,aku senang jika kamu menerima lamaran ini untuk suamiku". Hafizah,menarik nafas dalam-dalam,agar dia bisa mengeluarkan kata-kata ini.
"Mana ada, Hafizah. Seorang istri, mengikhlaskan hatinya. Saat sang suami, menikah lagi. Apa lagi calon madunya adalah di cintai suaminya sendiri, apakah kau tidak takut? Jika sang suami,malah memperdulikan cintanya di bandingkan istri pertama. Apa kau tahu,konsekuensi dari masalah ini. Jika aku, menyetujui lamaran untuk suamimu. Jangan-jangan rasa bencimu,semakin dalam". Laila, mencoba memancing perasaan Hafizah.
Hafizah, mengepalkan kedua tangannya di balik gamis. Bibirnya bergetar, seakan-akan dia tak bisa berbicara lagi. "Aku ikhlas Laila,jika Suamiku. Suatu hari nanti,tak memperdulikan diriku lagi. Aku akan tetap bertahan, demi anak kami. Satu yang aku harapkan, membahagiakan suamiku. Aku senang jika kita berbagi suami, Laila". Hafizah, menggenggam telapak tangan Laila.
"Benarkah? Kau bertahan,hanya untuk anak? Kau tahu, Hafizah. Aku tidak menjawab sekarang,mau atau tidak menjadi madu mu. Aku perlu waktu tepat, untuk menjawab pertanyaan mu itu". Senyum smrik Laila,ia langsung meninggalkan Hafizah yang masih berdiri.
Saat jauh dari Hafizah, barulah Laila menangis kesegukan. Sakit,itulah yang di rasakan Laila. "Aku memang mencintainya,tapi apakah cinta sesakit ini. Harus rela menjadi istri kedua, demi orang yang kita cintai. Walaupun kami sama-sama saling mencintai, apakah semua ini harus terjadi ". Gumam Laila,ia menghapus air matanya dengan kasar
**********
Saat pulang bekerja, Laila melihat nampak ramai di rumah Ayunda.
__ADS_1
"Ramai sekali,bu? Emang ada apa,". Tanya Laila,kepada tetangganya.
"Oh,katanya teman bu Ayunda datang. Dengar-dengar Al,mau di jodohkan dengan anak temannya". Jawab tetangga Laila.
Laila, termenung sejenak. Saat mendengar jika Al,akan di jodohkan dengan seseorang. Entah kenapa tiba-tiba, perasannya menjadi tak menentu.
Tak berselang lama Al dan Emily, keluar dari rumah. Tentu saja Al, langsung menatap ke arahnya.
"Kenapa Al dan perempuan itu, menghampiriku? Kenapa perasaanku, seperti ini? Seperti tak rela,saat Al di jodohkan dengan perempuan lain". Gumam Laila,ia tersenyum kecil saat Al dan Emily di hadapannya.
"Laila,kau baru pulang bekerja". Tanya Al,ia tersenyum kecil. maafkan aku,aku melakukan hal ini ingin menguji. apakah kau,menyukaiku atau tidak.
"Hemm... iya,siapa dia". Tanya Laila,ia menatap ke arah Emily. Apa dia adalah tunangan Al, sangat berkelas. beda jauh denganku, tentu aku minder dengan mu Al.
Laila, terkejut mendengar jawaban Emily. Seakan-akan lututnya lemas, seketika.kini matanya berkaca-kaca,lalu menoleh ke arah Al.
"Selamat Al, semoga kalian secepatnya menikah". Laila, mencoba menenangkan hati dan tersenyum sumringah.
Al, menatap lekat ke arah Laila. "Baiklah,kami permisi dulu. Masih ada keluarga lainnya, selamat beristirahat". Pamit Al, begitu juga Emily.
Laila, melangkah kakinya dengan gontai saat membuka kunci pintu rumahnya. Saat terbuka, barulah dia masuk ke dalam. Ia bersandar di balik pintu rumah,menangis kesegukan.
Betapa sakit hatinya,saat mendengar jika Al sudah bertunangan dengan perempuan lain."Tidak, kenapa kamu tiba-tiba aku menangis? Apakah aku sudah mencintainya,kenapa aku baperan seperti ini. Apakah karena kebaikannya, terhadapku? Tidak,dia hanya menganggap ku sebagai teman. Tidak lebih,Al tidak mungkin menyukaiku. Kenapa sesakit ini,jika kita mencintai seseorang dalam diam-diam. Kenapa rasanya sakit sekali, melebihi kehilangan ustadz Zulkifli. Apakah aku mencintai,Al. Begitu dalamnya,". Isak tangis Laila,tidak ada siapapun yang menenangkan perasaannya saat ini.
Sedangkan Al,masih menatap ke rumah Laila. Sebenarnya dia tak tega, memberitahu kepada Laila. Jika dia,memang sudah bertunangan dengan Emily.
__ADS_1
Al, menerima perjodohan tersebut. Hanyalah sebuah keuntungan masing-masing,di balik semua ini. Emily, sudah mengatur semuanya. Demi mendapatkan Al,ia sengaja membohongi siapapun.
"Apakah dia, perempuan yang kau suka". Tanya Emily,kepada Al. Ia curiga kepada Al,sedari tadi hanya diam saja.
"Kalau iya,emang kenapa? Ingat, rencana ini hanya skenario semata". Tegas Al,ia menatap tajam ke arah Emily.
Emily,susah payah meneguk air liurnya. Ia tahu jika Al, sedang marah begitu menakutkan. "Tenang saja, rencana ini hanyalah sebuah keuntungan masing-masing". Untuk sekarang hanyalah sebuah keuntungan, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya? Kau akan menjadi milikku, seutuhnya Al. Seringai tajam, Emily.
*********
selesai acara makan malam, Hafizah menghampiri suaminya di ruang baca.
semenjak kejadian tersebut,sang suami lebih banyak menyibukkan dirinya di bandingkan memperdulikan Hafizah.
Dengan perubahan sikap suaminya, Hafizah merasakan sakit hati. setiap malam dia menangis,tanpa di ketahui suaminya. namun di balik itu semua, Hafizah sadar karena semua ini adalah kesalahannya.
"Mas,aku ingin berbicara padamu". ucap Hafizah, membawa secangkir teh hangat. namun hatinya merasa perih,di atas meja sudah ada teh mungkin buatannya sendiri.
Ya Allah, kenapa tiba-tiba suamiku seperti ini? bahkan dia membuat minuman sendiri,tanpa menunggu aku yang membuatkannya.batin Hafizah,ia mengurungkan niatnya untuk menaruh teh si atas meja sang suami. sekuat mungkin dia, menahan air matanya agar gak luruh.
"bicaralah, jika itu penting. kalau tidak,kau lebih baik beristirahat. bukankah kau, sedang hamil. jangan suka bergadang,nanti aku menyusul jika sudah selesai pekerjaanku,". ucap ustadz Zulkifli,tanpa menoleh ke arah istrinya. ia masih menatap buku di tangannya, seakan-akan enggan memandang wajah Hafizah.
Saat Hafizah,sudah tertidur pulas barulah sang suami tidur di sampingnya. saat bangun di pagi hari,sang suami telah tiada. malah bersantai di ruang tamu,tidak ada lagi suara lembut membangun diri Hafizah untuk sholat berjamaah.
Hafizah,masih teringat masa-masa ustadz Zulkifli. setiap subuh, membangun Hafizah untuk sholat berjamaah. namun Hafizah, selalu menolak dengan alasan kantuk. sekarang Hafizah, barulah menyesal karena perhatian tersebut tidak ada lagi.
__ADS_1