ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Dua Tahun Kemudian


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


Dalam satu tahun, Laila tak kunjung hamil lagi. Apa lagi Ayunda,sering sakit-sakitan. Membuat Laila, terdiam dan wajahnya mencemaskan keadaan ibu mertuanya.


Sedangkan mereka, sama-sama tidak memiliki kesalahan. Sudah dua kali Laila, mencoba program bayi tabung. Namun semuanya, sia-sia tidak ada perkembangan dan gagal. karena dorongan sang suami, mereka mencoba program bayi tabung lagi. Laila, ingin menolak karena tak ingin mengecewakan suami dan keluarganya


Al dan keluarganya,tidak mempermasalahkan jika Laila tak hamil. Mungkin sudah takdirnya, mereka belum di berikan kepercayaan oleh Tuhan.


Hanya saja Laila,merasa sedih karena tak kunjung hamil dan gagal melakukan program bayi tabung. Ia sudah semampu mungkin, berusaha dan melakukan pengobatan herbal lainnya.


Setiap malam Laila selalu berdoa dan menangis dalam sujudnya. Ia meminta agar cepat-cepat hamil dan tidak ada lagi guncingan orang-orang sekitar.


"kita coba lagi, program bayi tabung. Siapa tahu,akan berhasil". Al, menghapus air mata sang istri.


"Tapi,aku takut kau kecewa akhirnya Al. Apa lagi, orangtuamu. Mereka sangat mengharapkan seorang cucu, pernikahan kita sudah dua tahun. Tidak ada perkembangan sama sekali, sedangkan kita. Sama-sama,tidak bermasalah". Ucap Laila, dalam isak tangisnya.


Maafkan aku, Laila. Aku berbohong,maaf. Aku tidak ingin menyakiti perasaan mu, aku harap kau akan memaafkan kesalahan ku ini. "Bagaimana,kita mengadopsi anak saja. Hemmm.. siapa tahu,kau akan hamil". Al, mencoba mencari jalan lain. Walaupun dia,tahu jika sang istri akan menolaknya. Al,juga tidak tinggal diam. ia sudah berusaha dan hasilnya nihil.


"Cukup,kau selalu menyarankan agar kita mengadopsi anak. Apa kata orang lain,Al. Mereka akan mengira,aku mandul atau sebaliknya. Kasian kedua orang tuamu,nama baiknya akan hancur karena omongan orang-orang sekitar". Laila, langsung menolaknya lagi. "Aku tidak ingin, membebani orang lain. biarkanlah, kita menunggu lagi.


"Laila,ini hanya sebuah pancingan saja. Kita adopsi yang masih bayi,anggap saja kita belajar menjadi orangtua dan sambil belajar mengurus bayi. Suatu hari,kau akan hamil dan akan mudah nantinya. Aku tidak mempermasalahkan,jika kau tidak hamil. Aku tidak pernah, menuntut kau harus memiliki anak. Bahkan, keluarga ku. Kau tahu, mamahku rahimnya di angkat karena kecelakaan. Ayolah, Laila....kita bisa mengadopsi anak yang masih bayi. Kita rawat sama-sama,". Al, berlahan-lahan mendekati istrinya.


"Tidak,aku berasa gagal menjadi seorang istri dan menantu. Aku dan mamahmu,jelas berbeda Al. Mamahmu,sudah memiliki anak. Sedangkan aku,apa? Apa lagi, orang-orang sekitar membicarakan rumah tangga kita. Sakit Al,sakit". Kata Laila, sambil menepuk dadanya.


Al,hanya menghembuskan nafas beratnya. ia tahu, semua itu berat bagi istrinya. Bagaimana ini,aku tidak bisa apa-apa.batin Al,ia benar-benar bingung entah bagaimana lagi.

__ADS_1


"Jangan dengarkan omongan orang lain,yang penting aku selalu ada untuk mu. Jangan berpikir aneh-aneh,hemmm..". Al, memeluk tubuh Laila,yang menangis kesegukan.


"Maafkan aku,Al. Maaf,". Sampai kapan, aku terus berusaha dan bersabar menghadapi ujian ini. "Al,aku pamit dulu. Aku ingin bertemu dengan mamah,". Ia langsung melerai pelukan dari Suaminya.


"Hati-hati,aku juga pergi". Ia langsung mencium kening Laila, sebelum sang istri meninggal apartemennya.


Maafkan aku,ini demi kebaikan kita. Aku harap kau, terus berdoa. Semoga saja,ada mukjizat yang tak terduga Laila. aku harap kau, terus bersabar dan berdoa. Aku selalu berdoa,agar kau bisa hamil dan tidak menyalahkan diri sendiri. Batin Al,air matanya menetes. Segera mungkin,dia hapus.


**********


Tiga puluh menit, Laila sampai di perkarangan rumah mertuanya.


Saat dia keluar dari mobil, seseorang menghampiri dirinya. "Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan". Ucap Hafizah, tersenyum kecil.


"Sudah dua tahun? Kau belum hamil,apa kau tidak curiga hemmm... jangan-jangan, rahimmu bermasalah". Hafizah, menyunggingkan senyumnya. Aku sangat bahagia sekali, kalau kau tidak bisa hamil. Untung saja, ustadz Zulkifli memilihku.


"Tidak,aku dan Al. Kami sudah memeriksakan kesehatan dan kami, baik-baik saja. Aku percaya, suatu hari nanti. Aku akan hamil". Jawab Laila,ia tersenyum manis. Walaupun hatinya, sempat teriris-iris saat mendengar ucapan Hafizah. Tidak,aku harus kuat dan percaya dengan suamiku. Rahimku, baik-baik saja.


Bodoh sekali,aku harap pernikahan mu baik-baik saja. semoga saja Al,masih setia kepada mu.


"kau yakin,apa lagi ibu mertua mu sering sakit-sakitan. Apa kau tdiak kasian,hemmm". Tanya Hafizah, seakan-akan dia meremehkan diri Laila.


"Aku akan menunggu, berapa lamanya. Bahkan,ada juga orang yang bertahun-tahun belum di berikan keturunan. Selagi, perempuan ada rahimnya. Insyaallah,dia akan hamil. Berhentilah, untuk memanasi perasaan ku". Tegas Laila,ia menahan diri untuk tidak emosi.


"Menunggu,kau hamil? Kapan Laila, dua tahun lagi atau sepuluh tahun kemudian. Kau wanita Laila, rumah tangga tanpa anak. Akan jenuh,apa lagi Al. Dia seorang pembisnis ternama dan sudah pasti. Dia menunggu keturunan, untuk meneruskan perusahaan dan lainnya. Kau tidak tahu,apa dalam hatinya. Memang Al, baik-baik saja. Tapi,belum tentu dia bahagia". Ucap Hafizah,ia tersenyum smrik. "Baiklah,aku pergi dulu. Assalamualaikum ". Puas sekali aku, mematahkan semangatnya. ingatlah Laila,aku masih dendam kepada mu.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam,". Jawab Laila, seketika air matanya luruh sudah. "Tidak,aku lebih mempercayai suamiku. Dia tidak mungkin, berbohong kepadaku". Secepatnya, Laila menghapus air matanya. Ia tak mau, jika ibu mertuanya melihat dia menangis.


"Laila, sudah datang". Ayunda, menyambut kedatangan menantunya.


"Iya,mah... baru saja". Laila, tersenyum sumringah dan menyambut pelukkan hangat dari ibu mertuanya. Maafkan aku,mah. Yang belum bisa, memberikan cucu yang di inginkan mamah.


"Mamah, keliatan sehat sudah".


"Alhamdulillah,mamah bikin kue. Kamu mau,kita ke dapur". Ayunda, menuntun tangan Laila.


"Makasih,banyak mah. Pasti buatan mamah,enak banget". Kekehnya Laila, kini mereka sudah sampai di dapur.


Aroma harum dari brownies coklat,yang baru saja di kukus "Baru saja mateng, rasakan enak tidak". Ayunda, langsung memotong kue brownies coklatnya.


"Aromanya saja,harum. Apa lagi rasanya, pasti enak". Laila, langsung menyuap satu potongan kue. Matanya terpejam, menikmati setiap kunyahan di mulutnya. "Enak mah,sumpah".


"Yang benar,enak? Gak bohong kan". Kekehnya Ayunda,ia mencoba kue buatannya sendiri. "Hemmm..benar enak, gak nyangka seenak ini. Padahal,cuman iseng doang. Bikin brownies coklat kukus, mengisi waktu luang".


"Tapi,enak loh mah. Kayanya mamah, memiliki bakat terpendam". Sahut Laila, sebenarnya dia juga sering bikin kue-kue lainnya.


"Mana ada,gak kaya kamu. Sudah ahli , bikin kue-kue enak. Gak ada niatan nih, mengembangkan bakatmu". Tanya Ayunda, mengedipkan sebelah matanya.


"Mau sih? Tapi, anak mamah gak ijinkan. Gimana dong,katanya kecapean. Makanya,gak di ijinkan mah. Padahal,aku mau memiliki toko kue sendiri". Gerutu Laila,itu adalah impian kecilnya.


"Kau bisa mendapatkan itu, asalkan. Kau mampu mengambil hatinya,Al. Coba deh, bicarakan pelan-pelan". Ayunda, mendukung impian kecilnya sang menantu. Apa Laila,belum ada tanda-tanda kehamilan. Pasti ada yang tidak beres, aku harus membicarakan tentang ini kepada Al.

__ADS_1


__ADS_2