
"Lilis,mau ikut gak? Malam ini,ada acara masak-masakan di rumah bu Ati. Teman kerja di kantor sekolah,kalau mau ikut siap-siap. siapa tahu,kamu juga bisa kenalan sama mereka. Gak usah bantuin,juga gak papa". Rea, mengajak Lilis yang sedang membersihkan meja makan.
"Ikutlah, Lilis sambil cari teman-teman juga". Bu Minah,juga menyuruh Lilis pergi.
"Iya,bi. Aku siap-siap sekarang". Jawab Lilis, tersenyum kecil.
"Baju yang bagus,ada gak? Kalau gak ada,aku pinjamin mau? Masih baru kok,gak pernah aku pakai". Tanya Rea, walaupun dia tidak menyukai Lilis. Tetapi,di hati kecilnya masih berbaik hati.
Lilis,hanya mengangguk kepala. Rea, langsung menuju ke rumahnya. Dia mengambil satu set gamis, sekaligus dengan hijab.
Niatnya, ingin bersama suami. Akan tetapi,suaminya sibuk dengan pekerjaan.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah meninggal perkarangan rumah dan menuju ke rumah bu Ati.
"Lilis,kalau mau jalan-jalan ke luar rumah. Boleh saja, asalkan pekerjaan rumah sudah selesai. Tapi harus ingat waktu, Mentang-mentang di ijinkan malah keluyuran sana sini dan mengabaikan pekerjaan. Kalau mau keluar,pakai saja motor ku. Tinggal bilang,beres". Rea,juga kasian kepada Lilis. Takutnya,dia bosan di rumah terus.
"Terimakasih, Rea. Sebenarnya,aku ada niatan keluar rumah. Pengen jalan-jalan, besok. Apa lagi hari minggu,mau beli pakaian. Kamu liat sendirilah, pakaian aku kucek begitu. Tapi,aku boleh minjam uang gak. Aku cicil deh,kalau gajihan. Tapi,jangan bilang ke siapa-siapa yah". Pinta Lilis,dia merasa tak nyaman.
Mendengar ucapan Lilis, Rea langsung terdiam. Kasian juga,dia tidak mempunyai baju yang tidak layak. Baju-bajuku,juga tidak banyak. Malah,gak bagus kalau aku kasih ke dia. Batin, Rea. "Emangnya,mau minjam berapa".
"Gak banyak, cuman lima ratus ribu aja. Takutnya, kebanyakan dan lama melunasinya". Kekeh Lilis, sambil menyetir motornya.
"Oke,ini uangnya. Kamu simpan, seratus ribu juga gak papa. Kamu bayarnya, setiap kali gajihan". Rea, memberikan uang lima lembar berwarna merah.
"Makasih,banyak". Lilis, langsung mengambil uang dari Rea. Dia, tersenyum merekah tanpa di ketahui Rea.
Tibalah mereka,di perkarangan rumah bu Ati. Terlihat banyak para guru-guru, berdatangan juga.
Bahkan,acara masak-masakannya sudah di mulai.
Banyak orang bertanya-tanya,siapa yang di bawa Rea. Tentu saja, Rea langsung memperkenalkan Lilis kepada lainnya.
Lilis, merasa senang karena di sambut hangat oleh teman kerja Rea.
Memang benar, Lilis hanya diam dan berbincang hangat dengan temannya Rea. Sedangkan Rea, membantu di dapur yang hampir selesai.
__ADS_1
Rea,juga memberitahu kepada temannya. Jika Lilis,kakak sepupunya dan tidak memberitahu kalau dia pekerjaan di rumah orangtuanya.
Hingga akhirnya, mereka makan bersama-sama.
"Aku kira, kamu berangkat dengan suami". Bisik Sarah, tersenyum kecil. Sarah, selalu calingukan mencari sesosok yang di carinya.
"Gak,dia sibuk ada pertemuan klien katanya. Kemungkinan, sebentar lagi datang". Jawab Rea, sambil melanjutkan acara makannya.
Acara makan malam bersama, berjalan dengan lancar. Rumah bu Ati, semakin ricuh karena perbincangan mereka.
"Lilis, kamu kerja atau tidak". Tanya Sarah, tiba-tiba saja Lilis memandangi ke arah Rea.
Rea,hanya mengangkat kedua bahunya. "Ak-aku kerja di rumah orangtuanya, Rea. Cuman beres-beres rumah,anggap saja Art gitu,". Jawab Lilis, tersenyum kecil.
"Berapa gajihnya, Rea". Tanya bu Ati.
"Kata suamiku,dua juta". Jawab Rea, tersenyum.
"Wahhhh...besar itu,apa lagi makan di jamin dan tempat tidur juga". Sahut yang lainnya.
"Gak,dia cuman kerja di rumah ibuku saja. Kerjaannya ngepel,nyapu,cuci piring dan nyuci baju. Kalau masak,ibuku saja. Karena ayahku, tidak suka jika memakan masakan orang. Kalian tau sendirilah,rumah orang tua ku gak gede amat". Jawab Rea,dia mengatakan sejujurnya
"Oh,enak itu. Kerjaannya,cuman seberapa gak capek-capek amat lah". Sahut lainnya.
"Kata siapa, capek juga kok. Kalau, kerjanya itu-itu mulu". Sahut Lilis,sontak membuat lainnya terdiam sejenak.
Rea, nampak tak suka dengan ucapan Lilis. Apa lagi,yang lainnya hanya menggeleng kepala.
"kamu bersyukur loh, dapat kerjaan gak seberapa dan gajihnya juga gede. Aku yakin,kamu tidak pernah telat makan kan". Tanya Ade, langsung. Seakan-akan,dia membela Rea.
Lilis,hanya mengangguk kepala. "Iya," jawabnya, dengan santai.
"Assalamualaikum,". Ucap seseorang, di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam,". Sahut mereka bersamaan,sontak menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Orang sekitar tercengang, dengan kedatangan kai. Nampak jelas dada bidang kokoh,di balik baju kemeja ketatnya berwarna putih dan dua kancing baju terbuka. Di tambah lagi, menggulung lengan bajunya ke atas.
Ada tatapan mata,suka dan ada juga tidak suka. Atas kedatangan Kai, matanya tertuju ke arah Rea yang berdekatan dengan Ade.
Tentu saja Kai, melangkah kakinya dan mendekati istrinya. Ia memberikan jarak, antara istri dan mantan kekasihnya. Kai, menatap tajam ke arah Ade. Mata mereka,saling bertemu.
"Baru pulang,Kai? Sayang, makanannya sudah habis dan di lewati". Kekehnya Sarah, memecahkan keheningan.
Sontak Rea dan Tina, saling menatap satu sama lain. Pasalnya, Sarah sok kenal dengan sebutan nama Kai.
"Aduuuhhh...baru datang, ternyata suami Rea. Maaf, kamu terlambat".kata bu Ati, tersenyum.
"Gak papa,bu. Karena saya, juga sibuk". Jawab Kai,masih memasang wajah datar.
"Kak, senyum napa". Bisik Rea,sambil berjinjit agar sampai ke telinga suaminya.
Susah payah Kai, tersenyum kecil. Itupun, mampu melelahkan hati kaum hawa. Terlihat,lesung pipinya.
"Suaminya Rea, ngomong-ngomong. Ada gak,teman priamu? Siapa tahu aja,kenalin ke kita yang jomblo-jomblo ini". Ucap lainnya, membuat Kai garuk-garuk kepala.
Dia,sama sekali tidak banyak memiliki teman. Kai, selalu bersama Andrew sang sekertarisnya. Teman tim basket waktu sekolah dulu,dia sudah tidak berhubungan lagi.
Rea, mengerutkan keningnya. Dia,yang sebagai istrinya. Tidak pernah, melihat suaminya nongkrong bersama teman. Apa lagi,dia hilang ingatan.
"Teman? Maaf,saya tidak punya teman". Jawab Kai, dengan santainya.
"Tidak, punya teman? Masa sih". Mereka bisik-bisik dan bergumam satu sama lain.
"Ada, sekertaris pribadinya". Sahut Rea, langsung. "Tapi, tidak tahu? Dia, jomblo apa tidak".
"Kenalin,dong". Rengek Sarah, langsung bergelut manja di lengan Kai.
Tentu saja Kai, melepaskan tangan sarah. "jangan pegang-pegang,saya". Tegas Kai, sedikit menjauhkan dirinya. Ingin sekali Kai, mendorong tubuh Sarah. Akan tetapi,dia sadar dengan yang lainnya. Kai, tidak ingin di nilai jika Rea mendapatkan suami kasar.
Orang-orang sekitar,nampak tercengang dengan sikap Sarah. Begitu juga, dengan bentakan Kai sangat tajam. Mereka hanya saling menyenggol, sepertinya suami Rea.tidak suka,di pegang oleh wanita mana pun.
__ADS_1