ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Memaksa (S2)


__ADS_3

Rea, merapikan pakaian suaminya. Yang baru saja di bawa Kai,tadi.


"Mamah, meminta kita bermalam di rumahnya. Kapan kamu,bisa". Tanya Kai,baru selesai mandi.


"Hari Sabtu sore,kita akan kerumah orangtuamu. Karena minggu,aku libur bekerja. Bukankah,kakak juga libur". Jawab Rea, sambil memasukkan baju-baju suaminya ke dalam lemari.


"Oke, nanti aku kabari mamah ku". Kai, mendekati istrinya. Dia, berniat untuk membantu Rea.


"Duduklah,aku bisa membereskan semuanya". Rea, menarik lengan suaminya duduk di tepi ranjang.


Saat Rea, ingin menjauhkan diri. Akan tetapi,kai menarik tangan istrinya dan jatuh ke pelukan.


"Kakak,aku masih belum selesai membereskan pakaiannya". Rea, ingin bangkit dari pangkuan suaminya.


Namun Kai, menahan istrinya itu. "Diamlah,aku otakku lelah sekali. Aku membutuhkan dirimu". Bisik Kai, tiba-tiba menyambar bibir sang istri.


Rea,hanyut dalam dekapan hangat sang suami. Sedikit demi sedikit, Rea bisa menyeimbangi ciuman Kai.


Tok....Tok...Tok...


Pintu kamar mereka,di ketuk oleh seseorang. Hingga ciuman mereka, di hentikan langsung.


"Sebentar,aku membuka pintu dan kamu kenakan pakaian sekarang". Rea, mengecup sekilas di pipi Kai.


Kai, tersenyum sumringah karena mendapatkan ciuman dadakan.


Ceklekk....


"Ibu,ada apa". Tanya Rea, tersenyum manis.


"Ibu, ingin membicarakan sesuatu. Ayo,ikut ibu". Bu Minah,menarik lengan anaknya.


Rea,di bawa ibunya ke dapur karena ada membicarakan sesuatu hal yang penting. "Ada apa,bu? Kenapa kita,bicara ke sini segala". Tanya Rea, semakin penasaran.


"Kamu ingin tahu? Itu,paman mu bercerita kepada ayahmu. Kalau pamanmu, meminta bantuan kepada Kai. Agar Dewi, bekerja di tempat suamimu dan bisa barengan berangkat kerjanya. Semua sudah tersebar,ke tetangga lainnya. Apa nak Kai,belum bercerita". Bu Minah, langsung gelisah karena mengkhawatirkan rumah tangga anaknya.


"Masa sih,bu? Tapi,kakak belum bercerita. Bisa jadi dia lupa,aku tanyakan nanti". Rea,merasa tak nyaman. Apa jadinya,kakak sepupunya dekat dengan suami.


Membayangkan saja,dia tak mampu tiap hari mereka selalu bersama. Apa lagi, Dewi kecentilan melebihi batas normal.


"Hanya alasan bu,memang paman meminta bantuan kepadaku. Memberikan pekerjaan, untuk Dewi. Karena tidak enak, menolaknya. Aku hanya beralasan,karena tidak nyaman bu". Kai,yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Jadi,kakak tidak sepenuhnya memberikan pekerjaan. Lalu, nantinya bagaimana kak? Pasti paman, selalu menanyakan ini terus". Rea, tiba-tiba kesal dengan sikap suaminya.


"Gampang,aku sudah memberikan alasan kuat. Besok aku,akan memberitahu paman". Kai,mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Baguslah,ibu merasa tenang. Kau tahu,ibu sangat mengkhawatirkan ini". Bu Minah, langsung tenang mendengar alasan menantunya.


"Bu,aku mana mungkin tergoda dengan dia. Anak ibu,jauh lebih baik". Sahut Kai, tersenyum kecil.


"Rea, kamu sudah menikah. Keluar dari kamar, seharusnya kenakan hijab mu. Siapa tahu,ada tamu ayahmu atau pria lain bertamu". Bu Minah, menasehati anaknya.


"Ibukan tahu, jika aku setengah ukhti dan setengahnya Kunti. Ayolah,bu....hanya di rumah,tidak ada pria lain". Rengeknya Rea,ia selalu melepaskan hijabnya setelah di rumah.


"Tidak apa,bu. Terserah Rea, bagaimana nyamannya dia". Kai,malah membela istrinya.


"Nak Kai,kamu jangan terlalu memanjakan dia. Dia akan menjadi,keras kepala" kata bu Minah,mendelik ke arah anaknya.


Rea,hanya tersenyum-senyum sendiri dan mendapatkan cubitan di pipinya yang di berikan oleh ibunya.


"Apa kakak, sudah menyelesaikan masalah dengan mantan kekasih". Tanya Rea,saat mereka sudah masuk ke dalam kamar.


"Hemmm...dia tak akan, mengganggu kita lagi". Jawab Kai, berbaring di atas ranjang.


"Secepat itu? Jangan membohongi ku,kak. Ingat dengan ancaman ku,ini juga demi rumah tangga kita". Rea, langsung mendekati suaminya dan duduk di tepi ranjang.


Kai,malah tersenyum. Malah dia mengecup bibir, Rea.


"Kebiasaan deh,cium mulu. Untung di kamar,jangan sampai di tempat terbuka". Gerutu, Rea. "Mau masak dulu,buat makan malam. Gak papa kan,di tinggal dan gak usah manja".


Kai,hanya tersenyum kecil melihat kepergian istrinya. "Sangat menggemaskan". Gumam Kai,dia bangkit dari ranjang dan mengambil laptopnya.


************


Pagi harinya, Rea menemani suaminya di teras rumah. Sebentar lagi,kai mau berangkat bekerja.


"Kalau ada sesuatu, hubungi aku". Kata Kai, mengecup kening istrinya.


Rea,yang tersipu malu-malu dan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Kakak, Dewi ke sini bersama ibunya". Kata Rea, yang melirik ke arah mereka.


"Eeehhh....mau berangkat kerja, gini nak. Kata suamiku,mau memberikan pekerjaan kepada Dewi. Kira-kira kapan yah,anak ku bekerja. Jadi, Dewi pagi-pagi sudah siap dan berangkat bareng kamu". Ucap bu Wahdah, tersenyum merekah. Apa lagi di saksikan,para tetangga lainnya.

__ADS_1


"sebentar bi,aku menghubungi sekertaris pribadiku. Ada gak nya,kalau lebih jelas. Bibi,bisa berbicara langsung ". Kai, langsung menghubungi sekertarisnya itu.


Saat telpon di angkat,sang sekertaris mulai berbicara panjang lebar. Tentu saja, sudah di rancang oleh Kai.


Bagaimana tidak kesal, ternyata di perusahaan Kai tidak ada lowongan kerja. Bu wahdah, bertambah kecewa karena Rea tersenyum.


"Begini,masa tidak mau membantu bibi. Kamukan,bosnya. Masa tidak ada pekerjaan, untuk Dewi ". Bu Wahdah, terus-menerus memaksa Kai.


"Maaf,bi. Tidak ada, kalau pekerjaan lain ada. Tidak jauh,dari perusahaan. Kai, melihat ada lowongan kerja di rumah makan. Tapi,buka jam sepuluh pagi. Gak mungkin, Dewi ikut dengan ku yang berangkat jam enam pagi". Kai,harus bisa mencari alasan lagi.


"Gak mau,kalau kerja di rumah makan. Aku mau,kerja di kantoran. Gajih gede dan gak bikin malu,pelit banget sih? Pasti gara-gara Rea,yang tidak mau mengijinkan aku bekerja di kantor suamimu kan". Dewi, langsung menuduh Rea.


"Aku,kak? Jangan asal tuduh,aku mana tau soal pekerjaan suamiku. Mana pernah juga,aku ke sana. Seharusnya,kakak sadar diri deh. Kalau mau kerja,cari sendiri napa". Kata Rea,yang sudah emosi.


"kalau mau kerja di perusahaan,ada perusahaan kakakku. Gak tau, posisinya dimana. Gajihnya juga lumayan,biar aku berbicara dengan kakakku. Agar kamu bisa di terima,menimal ijazah SMA. Mau gak? Kalau,mau. Nanti aku bicarakan". Kai,tak ingin istrinya di tuduh macam-macam.


"Yahh...aku gak ada Ijazah SMA,karena gak naik. Jadi berhenti, sekolah". Kata Dewi, dengan bibir mengerucut .


"Kitakan keluarga,masa kamu gak bantu". Timpal bu Wahdah, dengan memelas.


"Oke, nanti aku akan membicarakan tentang ini". Kai,hanya mendengus dingin.


"Di tunggu lo,jadi kalau berangkat bareng kamu kan". Tanya Dewi, dengan wajah berbinar seketika.


Rea, langsung melotot ke arah suaminya.Cemburu,itu sudah pasti.


"Maaf,kalau berangkat kerja barengan tidak bisa. Karena beda arah,aku juga sering ada janji di luar perusahaan dengan seseorang". Kai, langsung menolaknya.


"Kamukan bisa,antar aku dulu. Masa aku, berangkat kerja menggunakan motor butut itu. Gak maulah,bikin malu aja". Rengeknya Dewi,ia ingin sekali ikut bersama Kai.


"Gak bisa,aku sering ada janji dengan klien di luar. Terkadang,tidak ke kantor". Kata Kai,mulai kesal.


"Kak Dewi,kalau sudah banyak tabungan. Tinggal beli yang baru, setidaknya berusaha lah. Masa mau merepotkan suamiku, untung sudah di berikan pekerjaan". Sahut Rea,juga ikut-ikutan kesal.


"Rea,bisa diam gak? Kamu gak usah,ikut campur urusan mereka". Bu wahdah, langsung meninggikan suaranya.


"Kamukan bisa,antar aku ke kantor baru pergi. Masa gak bisa sih? Bilang aja, pelit gak mau antar". Sungut Dewi, mengerucut bibirnya.


Kai,hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Intinya aku tidak bisa,titik. Aku berangkat dulu, sudah telat. Kak Dewi,kalau mau niat bekerja berangkatlah dengan seadanya. Kalau gak,gak papa". Tegas Kai, langsung mengecup bibir Rea sekilas.

__ADS_1


Setelahnya,dia langsung masuk ke dalam mobil. Rea,masih mematung dan mulutnya ternganga melihat aksi suaminya itu.


Dewi, nampak menghentak kakinya karena kesal. "Gak tahu,malu".


__ADS_2