
"Aku membawakan mu,kue brownies coklat buatan mamah mertuaku. Enak sekali,kau pasti suka". Laila, meletakkan satu kotak berisi kue buatan ibu mertuanya.
"Hemmm.... terimakasih, tahu saja. Kalau aku ingin memakan kue,tapi malas beli". Ia mencomot satu potong kue. "Hemmm... enak sekali,". Gumam Shelly, ia tersenyum manis.
Saat ini Shelly,hamil delapan bulan. Laila, memandang perut sahabatnya yang sudah mekar.
Shelly, menuntun tangan Laila dan menaruh ke atas perutnya. Sontak membuat Laila, terkejut. Padahal, Shelly sering kali melakukan hal ini. "Semoga kau tertular hamil juga,aku selalu berdoa agar kau cepat-cepat hamil. Oh yah,dua hari lagi aku ada cek kehamilan ku. Kau mau kan menemani ku, Herman sedang sibuk".
"Boleh, aku akan menemani mu. Aku ingin melihat perkembangan,anakmu". Jawab Laila, sambil mengelus-elus perut Shelly. Ya Allah, berikanlah aku kepercayaan dan tanamkan zuriat di rahimku. Aaammiiinn.
"Bagaimana,kamu periksa kandungan juga. Siapa tahu,kau hamil tidak ketahuan. Cuman USG saja, tidak apa-apa". Ucap Shelly,agar Laila ikut periksa kandungan.
"Periksa kandungan? Gak ah,aku gak hamil. Malah nanti kecewa hasilnya, pasti rahimku kosong melompong". Jawab Laila, dengan raut wajah sedih.
"Maaf,aku membuatmu sedih. Apa kamu sudah memakan buah zuriat, yang di berikan ibuku". Tanya shelly.
Kedua orangtuanya Shelly,juga mengkhawatirkan keadaan Laila. Yang tak kunjung hamil, kebetulan sekali. Ada seseorang menyarankan, agar Laila memakan buah zuriat. Semoga saja Laila, cepat hamil. Apapun,yang di sarankan oleh orang lain. Laila, langsung melakukannya dengan semangat.
"Tidak apa Shelly, terimakasih. Kedua orangtuamu,sudah mengkhawatirkan keadaan ku. Kau juga, semoga bersalin normal dan keduanya sehat. Aku tak sabar, menggendong bayi mungilnya". Kekehnya Laila,ia tersenyum merekah dan menyimpan rasa kesedihan nya.
"Aku deg-degan sekali, bagaimana aku bersalin nanti. Sungguh,aku merasa takut Laila". Shelly, menggenggam erat tangan Laila.
__ADS_1
"Bawa santai saja,hanya sakit sebentar. Setelahnya,hilang apa lagi saat kamu melihat bayi mungil. Pasti,rasa ketakutan dan sakit mu. Akan hilang sirna, percayalah. Oh yah,Al pasti tidak mengijinkan aku periksa tanpa dia. Lebih baik,aku tidak perlulah".
"Tidak perlu meminta ijin segala,kau hanya periksa bukan bersalin Laila. Percayalah,siapa tahu? Selama ini Al, menyimpan Sesuatu. Dari raut wajahnya, beda Laila". Shelly,tetap meminta Laila untuk berperiksa.
Benar juga,apa kata Shelly. Entah kenapa,Al selalu melarang ku. Di saat mau periksa kandungan, sendiri tanpa dia.kenapa aku tidak curigaan selama ini,apa terpengaruh dengan kata-kata manisnya. "Baiklah,aku akan berperiksa tanpa meminta izin kepadanya".
"Siapa tahu,ada sesuatu yang di sembunyikan Al. Laila,jangan menyalahkan diri sendiri. Bahkan,ada yang berpuluh-puluh tahun. Mereka di karuniai seorang anak,apa lagi kalian baru dua tahun. Tidak masalah, Laila. Jangan kau hiraukan,apa perkataan orang ". Ucap Shelly,ia mencoba menenangkan pikiran Laila.
Laila,hanya mengangguk kepalanya dan tersenyum. "Terimakasih, Shelly". Mereka berdua saling berpelukan.
*********
Di perusahaan, Ayunda tengah menemui anaknya.
Dan lebih parahnya lagi,Al memalsukan keterangan pemeriksaan medis Laila. Agar Laila,tak terus-menerus menyalahkan dirinya dan bertindak macam-macam.
Ayunda, terduduk lemas di sofa. Ia langsung tak percaya,apa yang dia alami menantunya. "Kau tahu,apa penyebabnya Al". Tanya Ayunda, kepada anaknya.
"Aku masih menyelidikinya mah,aku curiga kejadian kita berlibur waktu itu. Kenapa Laila, tiba-tiba pingsan. Hasil keterangan pemeriksaan, Laila mengonsumsi obat yang menyebabkan rahimnya bermasalah. Ada seseorang,yang sudah merencanakan semuanya. Aku takut, Laila meminum sembarangan dan ada seseorang mencampuri obat di dalam minumannya. Mustahil, obatnya sangat hebat sekali". Jawab Al,ia mengusap wajahnya. Seakan-akan dia gagal, menjaga kesehatan sang istri.
"Apa kau yakin? Kalau itu masalahnya, pasti ada cara mengobatinya Al. Lakukanlah, jangan diam saja". Bentak Ayunda, membuat Al tersentak kaget.
__ADS_1
"Mah,aku sudah melakukan dan berusaha. Semuanya, tidak ada hasilnya. Aku meminta bantuan kepada seseorang, berapapun harganya aku sanggup. Tapi, tidak bisa. Rahimnya, lama-kelamaan menjadi bahaya karena obat itu. Bisa saja, rahimnya akan di angkat. Aku juga bingung, kenapa ini terjadi. Seharusnya,aku tidak menuruti kemauan ku dan menikah dengan Laila. Agar dia, tidak seperti ini". Al, merasa dirinya yang bersalah kepada Laila.
"Apa? Kenapa seperti itu,jangan sampai Laila tahu? Ini bisa saja, menjadi masalah kedepannya nanti. Laila, sangat baik dan dia akan melakukan apapun. Untuk membuat orang-orang sekitar, bahagia. Mamah,tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena setiap manusia, tak luput dari kesalahan. Yang kau lakukan adalah, selalu setia kepadanya. Apapun terjadi, jangan sampai terobsesi ingin memiliki anak Al". Pinta Ayunda dan merangkul pundak anaknya.
"Aku tahu mah? Apa yang harus dilakukan,aku mencintainya. Mah, suatu hari nanti. Rahim Laila,akan di angkat agar penyakitnya tidak menular ke organ tubuh lainnya. Karena obat itu, sangat kuat dan baru saja di buat oleh seseorang. Tolong,jangan beritahu siapapun hal ini. Kita tunggu beberapa tahun lagi, semoga saja penyakit Laila hilang". Kata Al,yang sudah pasrah menerima semuanya.
"Mamah,pamit dulu. Kau jangan berpikir bahwa, jagalah kesehatan. Jangan menambah pikiran Laila, kasian dia". Ayunda, tersenyum kecil dan pamit pulang.
Al, tersandar di sofa ruang kerjanya. Menatap ke langit-langit,ruang kerjanya. "Dua hari lagi,aku akan melakukan pemeriksaan terhadap Laila. Semoga ada perubahannya". Gumam Al
**********
Ayunda, menceritakan semuanya. jika Laila, tidak bisa hamil karena ada obat yang kuat mampu membuat rahimnya bermasalah. lama-kelamaan, mungkin saja rahimnya akan rusak dan di angkat. Ayunda, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Laila. seandainya,dia tahu penyakitnya.
J, nampak berpikir sejenak. ia seperti tidak mempercayai,ada obat seperti itu. "Aku akan menyuruh Al, mengambil darah Laila. aku memiliki seorang pria tua,tinggalnya di pendalaman. Sangatlah jauh,dia bisa membuat ramuan herbal. dulu,aku kena racun yang hampir merenggut nyawaku. beliau,sudah membantu hanya meminum herbal buatannya. rasanya, seperti aneh sekali. aku akan ke sana,siapa tahu ada".
"Kau kapan terkena racun? kenapa tidak bilang kepadaku J. kau membohongi ku ha". Ayunda,nampak syok mendengar ucapan Suaminya.
"Sayang, waktu itu. kita belum kenal,Jangan salah paham dong. mungkin satu mingguan,aku ke sana. doakan saja, semoga ada hasilnya ". J, mengecup bibir Ayunda sekilas.
"Terimakasih,atas kepedulian sayang, terhadap menantu mu". Ayunda, memeluk tubuh J.
__ADS_1
"Laila adalah istri Al,yang aku anggap seperti anak sendiri. apapun yang aku bisa,akan aku lakukan. semoga saja, pria tua itu masih ada belum meninggal. aku akan meminta konfirmasi, dengan orang disana. aku tahu,kau sangat menginginkan seorang cucu. bersabarlah,Kai masih ada". J, menenangkan hati Ayunda.