
"kasian kan Arkana,di tinggalkan. Yang perlu kita, tapi kamu seperti itu memperlakukan orang. Tidak sopan,dia temanku Al. Apakah,aku pernah seperti itu.hemmm...bahkan kau sering terjadi,kepada wanita lain. Apa lagi wanitanya kecentilan dan sok kecantikan segala. Pakaiannya juga,kurang bahan dan lekukan tubuhnya nampak. Aku juga pernah,lihat kakinya nyentuh kakimu. Untung saja kaki aku yang kena, bukan kakimu. B aja aku,gak kaya kamu. Ngambekkan,kaya wanita aja". Decak Laila, dengan cemberut.
Laila,harus ekstra sabar menghadapi lingkungan hidup suaminya. Karena Al,banyak juga menjalin kerjasama dengan para wanita-wanita lainnya. Ia lebih memendam rasa cemburunya,tak ingin membuat masalah.
Sedangkan Al, sangat sensitif terhadap pria lain yang matanya jelalatan menatap ke arah istrinya.
"kau posesif sekali,aku hanya....".
"Yah...hanya,hanya saja yang kau pikirkan. Tidak untuk ku Laila. Aku posesif,karena sangat mencintaimu" Al, langsung memotong perkataan istrinya.
"Sudahlah, lupakan saja. Kau seperti ABG,yang takut kehilangan cintanya. Aku tak mungkin lari ke hatinya, Arkana. Kecuali,dia main dukun. Atau kau selingkuh, siap-siap kehilangan ku. Kalau saat ini,tidak akan Al. Apa lagi aku, sedang mengandung anak kita". Laila, mencoba memadamkan api kecemburuan sang suami.
"Ck,kalau dia berani bermain dukun. Bukan kepala dukunnya,yang aku penggal. Tapi,kepala teman laknat mu itu". Jawab Al, dengan tegas. Matanya masih terbayang-bayang,di kala Arkana memberikan suapan pertama kepada istrinya.
Cup....
Satu kecupan mendarat di pipi,Al. Sang empunya, langsung menoleh dan tersenyum kecil. Tanpa ba-bi-bu lagi,Al langsung menyambar bibir Laila. Mereka berciuman dengan mesra,tanpa memperdulikan sopir di depannya.
********
J, mengintip dari balik jendela. Ia melihat mobil anaknya,telah sampai di perkarangan.
"Ck, ngapain bocah tengil ke sini? Pasti ada sesuatu,aku merasakan ada bau-bau tak sedap". Gerutu J,namun Ayunda hanya cengengesan.
"Oh,jadi kamu tidak suka. Hemmm... menantu kita datang,begitu maksudnya". Delik mata Ayunda,sudah siap menerkam mangsanya.
"Kalau Laila, tidak apa. Yang aku khawatirkan,Al. Dia bisa saja, mengerjaiku lagi. Sedangkan kamu,malah membela dirinya. Dengan alasan, demi cucu. Kasian cucu kita sayang,dia selalu di fitnah. Belum juga lahir,dia sudah merasakan beban". Kata J, sambil menatap kedatangan anaknya.
"Hai,papah...". Senyum smrik Al,ke arah ayahnya.
"Tenang saja,aku tidak macam-macam pah. Hari ini,kamu selamat". Kekehnya Al,ia tahu jika sang ayah takut di suruh masak lagi.
__ADS_1
"sayang,duduk dulu. Kau hamil,jangan terlalu lama berdiri. Katakan,kau ingin apa". Tanya Ayunda, membuat J dan Al merasa ketakutan.
Karena permintaan Laila, sepertinya tidak wajar untuk merek. "Siap-siap pah,". Bisik Al, kepada ayahnya.
"Diam kau,jangan menakuti diriku. Mungkin saja, istrimu tidak meminta aneh-aneh". J,hanya tersenyum kecil.
Laila, membisikkan sesuatu ke telinga ibu mertuanya. Tentu saja Ayunda, tersenyum mendengar bisikan menantunya.
Sedangkan J dan Al, tercengang dan ingin tahu? Apa yang mereka bicarakan,apa lagi bisik-bisik. Mereka tambah penasaran dan bercampur rasa takut.
"Apa yang kalian bisikkan,". Tanya J, menatap ke arah istrinya.
"Kalau di beritahu,apa kalian mau melakukannya". Tanya Ayunda,ia memainkan kedua alisnya.
J dan Al, saling pandang. Seakan-akan mereka berbicara dengan mata,lalu mereka sama-sama menggelengkan kepala. Bertanda mereka, lebih baik tidak usah tahu.
"Baiklah,Ayo sayang kita pergi". Ayunda, langsung beranjak berdiri dan di iringi Laila.
"Kalian gak boleh tau,kami pergi kemana? Soalnya,kalian tidak mau apa yang kami bisikan". Jawab Ayunda, dengan santai.
"Dahh...kami pergi dulu,baybay". Laila, melambaikan tangan ke arah mereka.
"Sial,katakan apa yang kalian bisik tadi. Katakan lah, sayang". Pinta Al, dengan wajah memelas.
"Kalau kau ingin tahu, otomatis J juga harus". Sahut Ayunda. "Bagaimana, setuju atau tidak sayangku".
"Palingan mereka shopping,kita di rumah saja". J,menarik lengan Al agar duduk kembali. " Lebih baik duduk dan diam di rumah, daripada menuruti kemauan mereka".
Al, langsung menuruti perkataan ayahnya. "Pergilah,jaga istriku bu dan cucu ibu. Kalau ada apa-apa,tolong hubungi kami".
"Baiklah, bersenang-senang kalian". Jawan Laila, menyusul ibu mertuanya keluar rumah.
__ADS_1
Mereka juga masuk ke dalam mobil,entah pergi kemana. J dan Al,nampak gelisah dan mengkhawatirkan Istri-istri mereka. Yang tidak tahu,pergi kemana. Tanpa ba-bi-bu lagi,J dan Al langsung pergi menyusul.
*************
"Situ Om,iya itu". Laila, menunjuk jarinya ke arah belut tepat di belakangnya
"Dion,sana itu sana. Astaga zakir...kau sangat lambat sekali, lihatlah mereka sudah dapat beberapa ekor". Teriak Ayunda.
"Susah Tante,licin geli-geli gimana gitu". Zakir,yang diam di pojokan kolam. Saat melihat belut, mendekati dirinya.
Dion dan Zaki, mereka juga mau saat Ayunda dan Laila meminta bantuan kepada mereka. apa lagi Laila,hamil mereka takut anak bosnya ileran. ternyata Zakir, takut kepada belut. bahkan dia, teriak-teriak saat belut di lempar ke arahnya.
"Yeaahh... aku dapat satu lagi". Teriak Abraham, penuh semangat memegang belut di tangannya. Saat Ayunda, meminta bantuan kepadanya. tentu saja Abraham, langsung mengiyakan ajakan sang pujaan hati. Apa lagi tidak ada J, mereka bisa lama-lama berbicara dengan santai.
"Sini". Ayunda, langsung memberikan wadah tempat belut. Abraham, tersenyum merekah karena Ayunda membantunya.
"Apa-apaan ini, Ayunda". J dan Al, langsung menatap tajam ke arah istri mereka. Rasa cemburu J, langsung memuncak saat melihat Abraham sangat dekat dengan istrinya.
"Haiii...jangan marah dulu dong, bukanlah kalian tidak mau menuruti kemauan Laila. Hemmm...karena kalian tidak mau,jadi aku sebagai ibu mertuanya. Akan mengabulkan permintaan menantuku, Laila ingin melihat orang lomba tangkap belut. Makanya,aku suruh mereka. Alhamdulillah, mereka lebih mengerti daripada kalian". Tegas Ayunda, membuat J Langsung terdiam. "Satu lagi,karena kalian mengikuti kami sampai ke sini. Otomatis sana,menyeburlah ke kolam tangkap belut-belut itu. Jika Abraham menang,aku akan makan malam bersama nya. Kalau kau menang J,aku akan melakukan apapun".
"Oh, tentu aku menang. Lihatlah saja nanti,kau akan merengek meminta ampun". J, langsung melepaskan baju dan terlihat sixpack perutnya.
Al, langsung menutup mata istrinya. Agar tak melihat postur tubuh ayahnya,tetap saja Laila menepis tangan Al. "Turunlah sana dan buatlah kemenangan,mau aku makan malam bersama Dion dan Zakir". Tanya Laila,ia langsung menantang suaminya.
"Baiklah,awas kau nanti". Al, dengan pasrah turun dan menceburkan diri ke dalam kolam.
"Ck,kau ternyata takut belut. Laila, rekam zakir dan kirim ke ponselku. akan aku sebarkan,apa kelemahan mu Zakir. hahahahah". gelak tawa Al,ia mengejek Zakir.
"Awas kau,Al". tak segan-segan zakir,malah mendorong tubuh Al. sehingga mereka basah kuyup,lalu tertawa lepas. begitu juga Dion,yang ikut-ikutan bermain.
Jangan di tanyakan lagi Abraham dan J, mereka semangat Empat lima. demi merebut Ayunda,tak ingin kecolongan dan kesempatan emas bagi Abraham.
__ADS_1