ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Berubah (S2)


__ADS_3

"Apa jangan-jangan,kamu berbohong kepadaku. Saat kamu, memberitahu jika aku adalah suami yang buruk. Berarti benar,kita menikah tetapi aku menjalin hubungan dengan dia". Kai, menunjukkan jarinya ke arah Elvina.


Elvina, tersenyum merekah di dalam hati. "Benar,kita menjalin hubungan Kai. Aku kekasihmu,kita saling mencintai".


Rea, yang sudah lemas mendengar ucapan suaminya. Kakinya, mundur satu langkah. "Kakak, tidak mempercayai perkataanku dan orangtuamu kak". Tanya Rea, menatap ke arah Suaminya.


"Aku kecewa Kepadamu, Rea. Kenapa, tidak bilang sejujurnya kepadaku? Kamu egois Rea,di saat cinta mulai tumbuh. Tetapi, kebohongan mu terbongkar. Jujur,aku kecewa berat kepadamu. Aku tahu,kamu mencintaiku dan takut kehilangan. Bisakah,jangan sampai seperti ini". Ucap Kai, tidak sadar sudah menyakiti Rea.


Air matanya luruh sudah, Rea mencoba untuk tegar. "kak,aku dan keluargamu. Berkata dengan sejujurnya, tidak ada kebohongan semata. Kalian,memang sudah berakhir lama".


"Tidak,kai. Dia,yang sudah mencuci otak kedua orangtuamu dan berpihak kepadanya. Tapi,aku senang. Akhirnya,kamu benar-benar melupakan Kai. Aku sangat kecewa, sungguh". Elvina,berlari menuju pintu keluar.


Akan tetapi, Kai malah mengejar Elvina. Membuat Rea, terduduk lemas di lantai.


Suaminya tega, membiarkan dia sendiri tanpa menoleh ke belakang. "Sesakit ini,kah". Isak Rea,memukul dadanya.


**********


Malam harinya, sekitar jam delapan malam. Suara mobil, berhenti di depan rumah.


Rea, segera menghapus air matanya. Sedari tadi,terus mengalir tak henti-hentinya.


Ceklekk....


Pintu rumah, terbuka dan terlihat sesosok suaminya yang baru pulang. "Aku pulang, karena tidak nyaman dengan orangtuamu". Ucap Kai, dengan dingin.


Rea,hanya diam dan duduk kembali di sofa. Dia,merasa suaminya sudah berubah saat mendengar suara suaminya.


"Apa mereka, balikan lagi". Kata Rea, kepalanya di penuhi dengan pertanyaan. "Mungkin aku,malu untuk muncul di perusahaan Kai. Seakan-akan, semuanya benar. Aku,yang sudah menghancurkan hubungan mereka". Isak tangisnya Rea,saat melewati para staf kantor. Mata mereka,terus memandang Rea saat keluar dari perusahaan. Bisik-bisik, itu sudah pasti.


Ketika sampai di rumah, orangtuanya Rea. Menanyakan,dimana suaminya. Terpaksa, Rea berbohong. Jika sang suami,tengah sibuk bekerja dan dia pulang lebih awal.


Malam semakin larut, Rea enggan masuk kedalam kamar. Seakan-akan, kakinya berat melangkah untuk tidur bersama suaminya.


Apa lagi,dia sudah membayangkan. Suaminya dan mantan kekasihnya, tengah berduaan. Tentu saja, mereka menumpahkan rasa rindu yang sangat terdalam.


Membayangkan saja, Rea tak sanggup. Apa lagi, semuanya benar-benar nyata. "Bukankah,dia berjanji tidak akan menyakiti ku lagi. Buktinya,dia jauh lebih menyakiti ku". Rea, meringkuk di atas sofa. Sakit, itulah yang di rasakannya.


Cukup lama Rea,menangis dan akhirnya tertidur pulas.


*********

__ADS_1


Pagi harinya, Rea sudah tidak mendapatkan suaminya di dalam rumah. Sudah sekililing, namun tidak ada batang hidung Kai.


Rea,juga bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ternyata,dia bangun kesiangan.


Saat,menatap sekeliling kamar. Rea,mengenang kebersamaan dengan suaminya. Ada canda tawa dan keharmonisan rumah tangganya. Terkadang mereka, bermain bersama-sama penuh dengan tawa.


"Kenap,aku terlihat pucat sekali. Apa karena malam tadi,". Gumam Rea, terlihat dia sangat malas berangkat bekerja.


Tiiiiittt.....


Pas sekali, Tina datang untuk menjemputnya.


"Sama aku aja, berangkatnya". Kata Tina, langsung di angguki Rea."kamu,sakit Rea? Kelihatan sekali, wajahmu pucat".


"Aku gak papa,kok. Cuman, malas aja". Jawab Rea,yang duduk di belakang Tina.


"Ada masalah,lagi". Tanya Tina,yang sudah menebak pikiran sahabatnya.


"Hemmm...lebih berat,lagi". Jawab Rea, memeluk erat tubuh temannya.


Kasian Rea,aku punya ide untuk menghilangkan galaunya. Walaupun sedikit,gak papa.


"Ya sudah, kita jalan-jalan saja dan ceritakan semuanya kepadaku". Tina, langsung menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang.


*********


Baru saja sampai, Tina sudah merengek-rengek meminta penjelasan Rea. Ada apa, tentang rumah tangganya.


Dengan berat hati, akhirnya Rea menceritakan semuanya. Tentu saja, sebagai sahabat yang baik. Tina, tidak terima perlakuan suaminya itu.


"Sampai kapan, Rea? Kamu,terus di sakiti pria itu. Jujur,aku sebagai sahabat mu. Tidak terima dengan, perlakuan nya". Decak Tina,yang sudah marah.


"Sudahlah,aku ikut alurnya saja. Dan aku sadar, ternyata benar. Mereka memang saling mencintai, walaupun Kai sudah hilang ingatan. Di matanya, terlihat jelas. Bahwa dia, sangatlah mencintai Elvina. Aku tahu,dia masih menyimpan foto-foto kebersamaan mereka". Ucap Rea, yang sudah pasrah.


" Rea,yang sabar yah. Pria,bukan dia saja". Tina, memeluk erat tubuh sahabatnya itu.


"Sakit,Tina. Sangat sakit, cepat atau lambatnya. Kedua orangtua kami,akan tahu. Kai, meminta satu kali kesempatan untuk berubah. Nyatanya, kesempatan itu di sepelekan". Kata Rea, matanya memandang ke arah Ponselnya. Terlihat, seseorang tengah menelponnya.


Deggg...


"Dari mamah mertuaku, jangan-jangan sudah tahu". Kata Rea, jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


"Bagaimana, angkat tidak". Tanya Tina,juga ikut gugup sekali.


Ting.....


Pesan masuk di ponselnya, Rea. Ternyata dari, Ayunda.


[Sayang,kamu tidak apa-apa kan? Kamu, baik-baik sajakan? Tenanglah,mamah dan papahmu. Akan, memberikan pelajaran kepada anak tengil itu]. Mahmer.


Rea, tersenyum kecil saat membaca pesan dari ibu mertuanya.


"Beruntung sekali,kamu mendapatkan mertua sebaik beliau. Tetapi, anaknya kaya setan". Kata Tina, cengengesan.


[ Tidak perlu,mah. Aku, bisa menyelesaikan semuanya].


Rea, langsung membalas pesan dari ibu mertuanya. Saat sudah terkirim,dia langsung mematikan ponselnya.


"Kita jalan-jalan,belanja pernak pernik. Lumayanlah, hiasan dinding rumah". Ajak Tina, mencoba membahagiakan temannya.


"Ayok". Rea,meraih tangan sahabatnya dan berjalan beriringan.


Aku sangat mencintaimu,kak. Tapi, aku tidak sebodoh itu. Batin Rea, tersenyum smrik.


***********


"Jam berapa sekarang? Kenapa, baru pulang ha". Tanya Kai, sedikit membentak.


Rea dan Tina, memang benar mereka pulang sekitar jam sembilan malam. Hari ini, mereka menikmati liburan mereka.


"Kakak,nanya". Kata Rea, tersenyum kecil.


"Hemm....kenapa, tidak izin kepada ku ha? Kemana saja,". Kai, bertanya lagi.


"kakak, bertanya-tanya". Kata Rea, membuat Kai mengerutkan keningnya.


"Jawab Rea, jangan membuatku marah". Tegas Kai, rahangnya mengeras seketika.


"huuuff... Baiklah,aku akan menjawab pertanyaan kakak. Ngomong-ngomong,aku datang jam berapapun gak masalah. akukan,hanya mengikuti apa yang di lakukan kakak. Misalnya,kakak pulang larut malam. Aku,juga akan larut malam pulang". Jawab Rea, duduk santai di sofa.


"sejak kapan,kamu berubah seperti ini? Kenapa, ucapan mu sangat berbeda-beda". Kai, masih menatap tajam ke arah istrinya.


"Suamiku, yang tersayang dan tercinta. Kamu,nanya kau berubah? Gak salah,hemmm... sepertinya,kakak yang berubah menjadi-jadi. Buktinya, masih mengejar wanitamu itu. Ingatlah,kak... Cinta boleh, bodoh jangan. Bay....". Rea, melenggang pergi dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Ucapan Rea, seakan-akan menyindir Kai. Cukup lama kai, mencerna ucapan istrinya.


__ADS_2