
"Bos, saya mendapatkan informasi. Jika Elvian,masuk rumah sakit. Dia, seperti orang gila. Kejiwaannya terganggu,karena trauma". Ucap,seorang anak buah kai.
"Trauma? Trauma apa,". Kai,nampak penasaran dengan kondisi Elvina.
"Nona Elvina,di perkosa segerombolan anak muda. Di sekap selama dua hari, keadaannya sangat memperihatinkan". Jawab anak buahnya, dengan gugup.
Kai, langsung menuju rumah sakit. Dimana Elvian,di rawat. Entah kenapa, hatinya merasa sesak. Saat menerima kabar Elvina,namun di sisi lainnya. Bukankah,dia melakukan kekerasan terhadap Elvina.
Kai, menampar setir kemudinya. Seandainya,dia tidak menyuruh anak buahnya membuang Elvian di pinggir jalan. Kemungkinan, Elvina tidak mengalami pemerkosaan.
Saat sampai di ruang inap, Elvina. Nampak jelas, di wajahnya memar dan kebiruan.
Sepertinya,dia mengalami kekerasan. Kai,hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Tak sanggup melihat, keadaan Elvina.
Walaupun Elvina, sudah sadarkan diri. Dia,hanya diam dan duduk di ranjang pasien. Tatapannya, kosong dan seperti orang bengong. Kedua tangannya,di ikat tali panjang.
"Tuan, silahkan jika anda ingin menemuinya". Ucap seorang dokter, berdiri di sampingnya.
"Baiklah,dok. Tapi,tolong dampingi saya. Takutnya,dia memberontak saat melihat saya". Kata Kai, langsung di angguki dokter tersebut.
Ceklekk.....
Pinta ruang terbuka lebar,dan Kai merasa gelisah dan gugup. Takutnya, Elvina mengamuk-ngamuk.
Elvina, menatap tajam ke arah Kai. Mulutnya, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. "Kai....Kai....kai, syukurlah. Syukurlah,kamu datang". Elvina, kegirangan loncat-loncat saat melihat Kai.
Sontak Kai, dokter dan perawat. Nampak aneh, melihat ke arah Elvina. "Aku takut,aku takut kai. Mereka, mereka,mereka, menye-ntuh ku". Isak tangis Elvina,di pelukkan.
Kai, hanya diam dan ingin melepaskan pelukannya. Namun, dokter hanya menggeleng kepala.
"Aku sangat mencintaimu,kai. Jangan tinggalkan aku,aku takut". Elvina, semakin ketakutan dan menunjuk ke sembarang arah. "Kai,tolong aku. Mereka, mereka mulai mendekati ku".
"Hussssttttt.... tenanglah,aku di sini. Mereka tidak akan, menyakiti mu dan melukai mu". Kai,menahan kedua bahu Elvina. Tatapan mata mereka, saling bertemu. Tatapan itu, adalah tatapan yang di rindukan oleh kai.
Cup.....
Deggg....
Kai, terkejut melihat aksi Elvina. Tiba-tiba saja,dia mengecup sekilas di bibirnya.
Dokter dan perawat, langsung keluar dari ruangan. Takutnya,malah mengganggu mereka.
__ADS_1
Maafkan aku, Rea. Batin Kai,saat ini dia memang bersalah. Ada air mata, menetes di sudut matanya.
Sudah dua jam,kai merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien. Bersama Elvina,karena Elvina minta di temani tidurnya.
Namun Kai, tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya, tertuju kepada istrinya.
Berlahan-lahan Kai, menjauhkan diri dan turun dari ranjang. Berlahan-lahan,dia keluar dan menutup pintu ruang inap Elvina.
Kai,juga menjelaskan semuanya. Apa hubungannya, dengan Elvina. Sang dokter, memahami segalanya dan meminta nomor ponselnya Kai. Siapa tahu,dia memerlukan bantuan.
[11/12 17.33] Erlina: Di sepanjang jalan, Kai memikirkan masalah ini. Bagaimana,jika ketahuan sang istri. Apa lagi,dia pulang selarut ini. Bahkan, panggil dan pesan Rea tak di balas Kai.
Hingga akhirnya,dia sampai di perkarangan rumah orangtuanya Rea.
"Kakak,kenapa tidak mengangkat telpon ku". Rea,yang sedari tadi menunggu di teras rumah. "Aku khawatir, dengan keadaan kakak". Rea, memeluk erat tubuh suaminya.
Semakin sesak dada Kai, bukankah dia sama saja menghianati kepercayaan istrinya. "Maaf,kakak banyak kerjaan dan sakit kepala". Kai,memegang pelipis keningnya.
"Ibu,bantu buatkan minuman jahe. Biar, enakkan". Bu Minah, langsung bergegas menuju dapur.
Maafkan aku,aku salah. Mengkhianati kepercayaan mu dan orangtuamu. Batin Kai, terus-menerus menyalahkan dirinya.
"Kakak, badannya bau seperti obat". Rea,yang mencium-cium pakaian yang melekat di tubuh suaminya.
"kasian sekali,kakak. Mungkin, banyak pekerjaan dan pikiran,". Gumam Rea, sambil meletakkan tas suaminya di atas meja.
Rea,juga membuka tas yang selalu di bawa suaminya itu. "Tidak ada rokok, berarti benar. Kalau kak Kai, tidak bisa merokok. Baguslah,jadi sehat tanpa merokok".
Beberapa menit kemudian, Kai yang sudah selesai mandinya.
"Aku sudah menyiapkan, baju ganti kakak". Rea, memberikan baju ganti kepada suaminya.
Kai, tersenyum dan memeluk erat tubuh istrinya. Maafkan aku, Rea. Maaf,aku sangat bersalah sudah membohongi mu. Sungguh,aku tidak mampu menceritakan semuanya. Aku takut,aku takut kehilanganmu. Batin Kai,yang tak mau melepaskan pelukannya.
"Kakak, cepat pakai bajunya. Nanti,malah masuk angin lo". Rea, langsung meleraikan pelukannya.
"Maaf,habisnya aku kangen sama kamu. Pengen,bawa kamu ke kantor setiap hari". Kai, mengecup pipi kanan istri nya.
Rea,hanya tersipu malu-malu. "Gak bisa kak,aku kerja lo". Rea,hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tok....Tok...Tok...
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu kamar, Rea langsung membukanya.
"Makasih,bu". Rea, mengambil minuman jahe untuk suaminya. Setelah kepergian ibunya, barulah Rea menutup pintu kamar lagi.
"Kak, minuman lah. Bagus, untuk kesehatan kakak". Rea, memberikan segelas minuman jahenya.
Malamnya Kai, tidak bisa tidur. Matanya enggan untuk tertutup,apa lagi ada panggilan dari rumah sakit. Sudah pasti,dari dokter.
Kemungkinan Elvina,tengah mencari dirinya.
[Awasi gerak-gerik Elvina dan cari tahu,apa rencananya]
[ Baik,bos]
Kai,merasa ada yang janggal dengan Elvina. Dia tidak gegabah terlebih dahulu dan ingin cari tahu keseluruhannya.
Takutnya, Elvina hanya berpura-pura trauma dan bekerja sama dengan dokter itu.
Dering, ponselnya berbunyi beberapa kali. Tetap saja, Kai abaikan saja.
"Kakak, kenapa tidak tidur". Rea,yang terbangun saat membuka matanya perlahan. Apa lagi,dia merasakan pergerakan di sampingnya.
"Entahlah,kenapa mataku susah di pejamkan". Jawab Kai,tengah bersandar.
"Oh,mau sesuatu kak. Minum atau makan,". Kini Rea,juga ikut-ikutan duduk.
Kai,hanya tersenyum smrik saat memandang wajah cantik istrinya. "Yah...aku ingin memakan mu,siapa tahu? Aku bisa tidur, dengan nyenyak". Kai, langsung menyambar istrinya.
"Aaaahhh.... kakak, pelan-pelan". Desis Rea,saat dua melonnya di remas-remas oleh Kai.
Dengan semangat, Kai menjalankan aksinya. Memberikan kenik-matan panjang, untuk sang istri.
"Kakak,aku mencintaimu". Bisik Rea,yang memeluk erat tubuh suaminya.
Deggg....
Kai,yang mendengar ungkapan isi hati Rea. Tiba-tiba saja, dia menghentikan maju mundurnya. "Terimakasih, Rea". Kai,mencium bibir istrinya.
"Aku tahu,kakak masih mencintainya kan. Aku tahu,kakak hari ini pergi kemana". Air mata Rea, luruh sudah.
Sebenarnya,dia tidak bisa tidur dari tadi. Hatinya,ada sesuatu yang mengganjal.
__ADS_1
Kai, langsung terdiam dan membeku. Saat mendengar ucapan istrinya. Darimana dia tahu? Itulah yang ada di pikiran Kai. Akan tetapi, Kai enggan melepaskan penyatuannya. mi-lik nya masih,terbenam di dalam Rea.