
"Bagaimana hubungan antara kamu dan Elvina". Tanya Ayunda,kepada anaknya. Saat ini Ayunda,tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Makasih mah". Ucap Kai,saat sang ibu memberikan satu piring nasi goreng. "hubungan kami, baik-baik saja. Elvina,juga bekerja di kantor sebagai sekertarisku".
"Apa..?? Kenapa Elvina, bekerja di kantor mu? Bukankah, dia memiliki perusahaan peninggalan ayahnya". Ayunda, nampak terkejut mendengar ucapan anaknya. Sehingga,dia gelisah kepada anaknya yang sudah semakin dewasa. Sudah jelas, mereka sering berduaan. Takutnya, kenapa-kenapa nantinya.
"Sayang, biarkan saja Elvina bekerja bersama Kai. Elvina,juga bisa sambil belajar". Sahut J, tersenyum sumringah.
"J, anak kita sudah dewasa. Aku hanya takut,anak kita ini macam-macam dengan anak orang lain. Apa lagi, dengan status pacaran dan sering berduaan". Bentak Ayunda, menatap tajam ke arah Kai. "Mamah,akan berbicara dengan Elvina. Secepatnya,kalian menikah".
"Mah, Elvina tidak ingin menikah dengan ku. Umurnya bari delapan belas tahun,dia ingin menikmati masa mudanya". Sahut Kai,ia terpaksa menceritakan kepada sang ibu.
Setelah lulus SMA,Kai ingin menikahi Elvina.
Namun sayang, Elvina menolak ajakan Kai. Katanya, terlalu muda untuk menikah di usia sekarang.
Berharap kai, mampu melelehkan menunggu tiga tahun lagi. Mendengar ucapan sang kekasih, terpaksa Kai menurutinya.
"Kenapa begitu? Bukankah,kalian saling mencintai. Apa lagi yang di tunggu-tunggu,kamu mapan dan memiliki pekerjaan".
"Sudah aku bilang dari awal,kalau Elvina sepertinya hanya main-main saja dengan Kai. Aku curiga,kalau Elvina hanya balas dendam karena ayahnya tidak bisa mendapatkan ibumu". Sahut J, tersenyum smrik.
"Kai,apa kamu tidak mencurigai Elvina? Sepertinya,kamu terlalu buta dalam cinta". Ayunda, menjadi bimbang saat mendengar ucapan Suaminya.
Kai,yang langsung menghentikan makannya. "Aku akan mencoba lagi dan mengajak menikahi nya. Kalau dia,memang berencana untuk membalas dendam. Pasti akan aku,habisi dia".
"Ck,sok belagu". Gerutu Ayunda,saat mendengar ucapan J. Tiba-tiba saja Ayunda, berpikir untuk mencari tahu tentang Elvina. Takutnya,Kai malah sakit hati karena cinta.
"Kai,kau berhati-hati dalam bekerja. Papah,takut kalau Elvina membocorkan rahasia dokumen perusahaan mu kakakmu. Kau harus tahu, perusahaan peninggalan ayahnya Elvina. Mulai dulu, selalu bersaing ketat. Aku takutnya,dia mempermainkan dirimu". J, selalu menasehati anaknya itu.
__ADS_1
"Kenapa papah, selalu curigaan selama ini kepada Elvina. Apa karena ayahnya, mencintai mamah. Sehingga anaknya,papah masih membencinya". Ucap Kai,nampak gelisah gusar karena ucapan ayahnya.
"Aku selalu sering, menasehati dirimu. Karena aku, sangat mengkhawatirkan hatimu kai. Seseorang yang kamu cintai, tiba-tiba menyakitimu. Akan lama menyembuhkannya,". J, tersenyum seakan-akan mengejek-ejek anaknya.
"J,jangan menakuti anakmu. Kasian Kai,sudah pasti otaknya terpengaruh dan menambah pikiran". Ayunda, menepuk lengan suaminya.
"Sayang,aku menasehati dirinya. Kamukan tau,kalau aku sangat tidak menyukai perempuan yang licik. Lihatlah kakakmu,apa papah pernah tidak menyetujui hubungan mereka. Papah,malah mendukungnya". J, langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan. Tatapannya yang tajam,ke arah Kai.
"Nak Kai, jangan pikirkan apa yang di katakan papahmu. Jika Elvina,kamu merasa sifatnya baik-baik saja dan tidak ada kejanggalan apapun. Mamah yakin, Elvina benar-benar tulus mencintaimu". Ayunda,terus mendukung apa keputusan anaknya.
Kai,hanya diam. Otaknya terpengaruh dengan kata-kata ayahnya,sudah dari awal ayahnya tidak menyetujui hubungan mereka. "Makasih mah,aku pamit dulu". Kai, mencium punggung tangan ibunya."Assalamualaikum".
"Wa'alaikum salam, hati-hati dijalan". Jawab Ayunda, menatap kepergian anaknya.
**********"
Di perjalanan Kai, terngiang-ngiang perkataan ayahnya. "Sial". Decak Kai, sambil memukul setir mobilnya.
Saat Kai, memasuki perusahaan kakaknya. Para staf kantor, langsung memberikan hormat dan berdiri.
Kai, hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Ia berlalu melalui para staf karyawan di perusahaan, kakaknya. Hingga dia masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai atas.
Ceklekk.....
Pintu ruang kerja Al,terbuka lebar dan memperlihatkan sesosok Kai langsung masuk ke dalam.
"Tumben sekali, kamu ke sini". Ucap Al, langsung menghampiri adiknya duduk di sofa.
"Aku hanya bingung, dengan perkataan papah masalah hubungan ku". Kai, langsung ke intinya yang selalu mengganjal hatinya. "Selalu saja,tidak merestui hubungan kami".
__ADS_1
"Aku mendukung papah". Sahut Al, membuat Kai nampak kesal karena sang kakak malah membela ayahnya. "Kai,coba kamu pikirkan baik-baik. Papah,mana mungkin berucap seperti itu. Kecuali,dia mengetahui sesuatu yang tidak beres". Al, menepuk pundak adiknya.
"Lalu, Elvina selamat ini hanya mempermainkan diriku saja. Lantas,kenapa dia bertahan dan mencintaiku".
"Kai, balas dendam dan cinta? Semua itu,beda tipis saja. Ada kok, walaupun dia sangat mencintai pria tersebut. Tapi,karena egonya untuk balas dendam jauh lebih besar. Maka,di bisa melakukan apapun".
"Elvina, bekerja di perusahaan ku. Dia meminta bantuan, sambil belajar katanya". Kata Kai,ia tambah gelisah.
"Kai,cinta boleh bodoh jangan. Aku akan memerintah seseorang, menyelidiki semuanya. Kalau kamu, menyelidiki sendiri. Takutnya, Elvina tahu. Intinya,kamu ikuti apa perkataan Elvina". Al, memberikan solusi kepada adiknya.
"Mamah, menyuruhku untuk menikahi Elvina". Kata kai, membuat Al terkejut saat mendengar ucapan Kai.
"Lalu,apa Elvina mau? Bagus sih,apa yang di katakan mamah".
"Masalahnya,aku pernah mengajak Elvina menikah. Tapi, dia meminta waktu tiga tahun. Alasannya,umur masih muda dan ingin bersenang-senang dulu. Aku tidak bisa, menunggu selama itu. Mulai sekolah, sampai sekarang hanya status pacaran". Kai,malah berdecak kesal.
"Bicarakan lagi dengan Elvina,siapa tahu? Dia berubah pikiran,jika dia masih menolaknya. Berarti,ada udang di bakwan". Delik mata Al, ia sudah lama mencurigai hubungan adiknya.
"Sejak kapan udang di balik bakwan? Perasaan bakwan, bercampur udang. Iiissshhh..... aneh-aneh saja, mengubah lagu orang". Gerutu Kai, membuat Al cekikikan tertawa. "Ya sudah,aku pulang dulu dan ini dokumen penting. Papah, menyuruhku untuk menyimpan ke kamu".
"Ck, ternyata kamu takut juga dengan Elvina". Al, menyambut dokumen perusahaan tersebut.
"Masalahnya,papah dan mamah. Memiliki masa lalu, yang kelam terhadap ayahnya Elvina". Kata Kai, beranjak berdiri.
"Hemmm... hati-hati,jangan kepikiran terus. Tetap fokus,dalam pekerjaan". Kekehnya Al,kai hanya tersenyum kecil dan keluar dari ruang kerja kakaknya.
Kai, meninggalkan perusahaan kakaknya. membelah jalan raya,yang sudah padat. namun pikirannya,tak karuan. "Apa aku secinta itu, sehingga tidak menyelidiki dan mencurigai Elvina. sial, gara-gara dia berbohong kepadaku. Entah kenapa, kepercayaan ini hilang sirna". gumam Kai. "Biasanya,papah berbicara seperti itu. aku tidak mencurigai Elvina,tapi entah kenapa tiba-tiba seperti ini. kenapa kamu berbohong kepadaku, Elvina. Coba saja kemarin jujur,aku tidak akan mencurigai mu"
Kemarin Kai,tidak sengaja melihat Elvina sedang santai di sebuah kafe. sepertinya, bersama teman kuliahnya. Saat Kai, menelpon dia dan menanyakan langsung dimana ? namun jawabannya, dia sedang di kampus.
__ADS_1
Elvina, hanya kuliah seminggu dua kali. sisanya, bekerja di kantor dan menjadi sekretaris Kai. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan,dalam diri Elvina.