
"Rea,bangun... Astaga,kenapa bisa tidur di kantor sekolahan. Banguuun....". Tina, beberapa kali membangunkan sahabatnya.
"Hoaaammm....aku ngantuk, Tina. Jam istrirahat,belum di mulai. Buatkan aku,kopi. Mataku, sangat ngantuk". Rengeknya Rea,masih menempelkan kepalanya di meja kerja.
Bagaimana tidak mengantuk, setiap malam di hajar habis-habisan oleh suaminya. Belum lagi, paginya juga. Rea, tak mampu menolaknya jika suaminya sudah memulai aksinya.
Tina,hanya menggeleng kepalanya. "Kalau main,sama suami. Ingat waktulah,gak kaya gini". Ledek Tina, langsung. "Ya sudah,aku kantin. Akan aku bawa bakso dan kopimu".
"Terimakasih, Tina". Kekehnya Rea, langsung menenggelamkan di atas meja.
Ade, melihat ke arah Rea.dia,mulai mendekati meja mantan kekasihnya itu. "Tumben-tumbenan,dia tidur di kantor? Apa dia, kelelahan atau apa". Gumam Ade, ingin lebih dekat lagi. Tiba-tiba.....
"E'ehmmm....". Seseorang, berdehem di belakang Ade.
"Ngapain,mau ganggu Rea". Ucap Sarah,yang baru janda tanpa anak itu. "Pantesan saja,kamu di tolak mentah-mentah oleh Rea. Karena suaminya, sangat kaya dan tampan. Jauh,darimu Ade". Sarah,menarik kerah baju Ade hingga lebih dekat dengan wajahnya.
"Kalau,mau mesra-mesraan jangan di sini". Kata Rea, melihat aksi mereka.
Sontak Ade dan sarah, langsung menjauhkan diri masing-masing.
"Rea, apa yang kamu lihat. Tidak seperti,yang kamu bayangkan". Ade, langsung menjelaskan tentang terjadinya ini.
"Memangnya,aku membayangkan apa? Kalau,kalian ada apa-apanya. Yah, baguslah" kata Rea, membuat sarah tersenyum lebar.
"Pak Ade,apa yang di katakan bu Rea memang benar. Apa lagi, kita ini hemmm... sama-sama, tidak memiliki pasangan". Sarah,mulai mendekati tubuh Ade sambil mengigit bibir bawahnya.
"Ogahhh....iiiihhhh...." Ade, langsung pergi sambil bergidik geli.
Rea dan Sarah,hanya cekikikan tertawa melihat kepergian Ade.
"Tumben,kamu malas-malasan di kantor". Tanya Sarah,duduk di sampingnya.
"Ngantuk, Sarah. Pengen tiduran aja,". Jawab Rea,masih menempelkan kepalanya di atas meja.
"Rea, beruntung sekali kamu menikah dan memiliki suami seperti dia. Aku pengen sekali dan gak capek-capek kerja,lalu Tina juga mau nikah. Aku, sudah jadi janda". Sarah, mengeluh masalah percintaan nya.
"Yah...gak masalah sih,aku belum punya anak juga. Terus, suamiku ngizinin aku kerja". Jawab Rea, tersenyum kecil. Kasian sekali, Sarah. Baru satu tahun, menjalankan rumah tangga. Dia, sudah bercerai dengan suaminya. Tapi, aku penasaran sekali. Kenapa, mereka bercerai? Lalu,kenapa Sarah menyembunyikan masalahnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Tina membawa makanan dan minuman.
"Kamu makan di sini,kira di kantin". Kata Rea,ia menghirup kopinya. "Makasih,Yah".
"Hemmm... sama-sama,gak mood makan di kantin. Ngapain Sarah,ke tempat mu". Tanya Tina,yang langsung kepo.
"Dia, cuman memuji pernikahan ku. Karena dapat suami, seperti kai. Lalu, curhat dia merasa sedih atas perceraiannya. Kamu tau,gak? Sarah,kenapa cerai". Tanya Rea,yang Kepo juga.
"Aku ingatin kamu,yah. Jangan terlalu dekat, dengan sarah. Katanya,dia kepergok berduaan dengan pria lain. Makanya,di cerai suaminya. Tapi,kamu diam aja. Gak usah, ngomong sama siapapun. Kayanya,dia ada yang di incar. Hati-hati lo,suamimu". Bisik Tina,merasa tak nyaman dengan kedekatan Rea dan Sarah.
Rea,hanya menutup mulutnya dengan tangan. "Astaga,baru tau aku. Pantesan,selama janda tampilannya. Behhhh....kemarin,aku melihat dia di kafe. Gak tau,sama temannya. Penampilannya,lepas hijab dan rambutnya di warnain". Kata Rea, akhirnya mereka sama-sama menggosip.
Perbincangan mereka, terhenti saat jam mengajar sudah di mulai.
***********
Sekitar jam satu siang,para guru-guru akhirnya pulang.
"Rea, tunggu". Sarah,yang berlarian menghampiri Rea.
"Rea,kami ikutkan masak-memasak di rumah ibu Atin. Berangkat bareng yuk,aku jemput kamu". Kata Sarah,yang tersenyum manis.
Bu Atin,yang tertua. Dia, mengadakan acara masak-masakan di rumahnya. Sekalian,acara kecil-kecilan untuk para guru-guru juga.
"Gak bisa, kemungkinan aku di antar sama suami malam ini". Rea, menolak ajakan Sarah.
Sarah,malah tersenyum saat mendengar ucapan Rea. "Ohhh...ya sudah,gak papa. Aku pulang yah,ketemu di rumah bu Atin". Sarah, menepuk bahu Rea dan pergi ke motornya agak jauh dari Rea.
Rea,hanya menghela nafas beratnya. Sepertinya, Sarah mengincar suaminya. Kelihatan sekali, dengan gelagat Sarah.
Tiba di rumah, Rea nampak marah-marah. Saat melihat baju gamisnya, berwarna putih. Terkena lunturan baju lainnya, Lilis hanya menunduk dan takut.
"Lilis....!!! Kenapa seperti ini,ha? Bisa nyuci gak sih? Sudah aku bilangkan,jangan menyentuh baju-baju ku". Bentak Rea, menghempaskan baju itu ke tanah.
"Maafkan, aku Rea. Aku tidak tahu, sebenarnya aku taruh di atas mesin cuci. Ehhh...malah jatuh ke dalam,terus campur dengan lainnya. Maaf,aku ceroboh Rea". Lilis, ingin meraih tangan Rea.
"Jangan menyentuhku, Lilis". Rea, menepis tangan Lilis. "Sudah aku bilang,jangan menyentuh barang-barang ku. Sejak kapan,kamu berani masuk ke dalam rumah ku ha? Aku saja, tidak mengijinkan mu masuk". Rea, mendorong tubuh Lilis.
__ADS_1
Hingga Lilis,jatuh ke tanah. Kebetulan, Kai baru datang dari kerja.
"Rea,ada apa ini? Kenapa,kamu malah mendorong Lilis ". Kai, langsung berlarian menghampiri istrinya.
"Lihatlah,bajuku seperti ini kak. Baju kesayangan ku, pemberian ayah dan ibu". Rea, menunjukkan jarinya ke arah bajunya.
Kai,mengusap wajahnya dengan kasar. "Lilis,mana ayah dan ibu? Kenapa pekerjaan mu, seperti ini".
"Maaf,aku salah dan ceroboh. Aku, tidak tau? Jika baju Rea,masuk ke dalam mesin cuci dan bercampur dengan lainnya". Jawab Lilis,dalam isak tangisnya. "Paman dan bibi, mereka pergi bersama. Entah,kemana".
"Ayo,kak. Kita masuk, kedalam. Aku gak,mood berhadapan dengan dia". Rea, menarik lengan suaminya. "Tumben-tumbenan,kakak pulang. Biasanya,jam empat atau jam lima".
"Ada berkas,yang tertinggal. Aku mengambil dan kembali lagi,kamu mau ikut". Tanya Kai, mengajak suaminya. "Kemungkinan,malam baru pulang. Karena ada janji dengan klien,malam ini. Sementara,kita bisa ke rumah orangtuaku".
"Gak bisa, kak. Aku ada acara, dengan guru-guru lainnya. Acara masak-masakan, di rumah bu Atin. Maaf,aku gak bisa". Jawab Rea, sambil melihat suaminya mencari berkas penting itu.
Kai,hanya menghela nafas panjang. Sudah pasti, istrinya memiliki banyak waktu bersama mantan kekasihnya. "Ya sudah,kalau selesai aku menemui mu. Karena ini, tidak bisa di batalkan. Ingatlah, berhati-hati dengan Lilis. Sepertinya,dia ingin mengambil hati kedua orangtuamu. Saat aku, berangkat kerja pagi tadi. Lilis, sepertinya menyudutkan dirimu. Seakan-akan,dia membuat dirimu buruk di mata orang-orang". Kai, mengelus lembut pipi Rea.
"Hemmm...aku tahu,kak. Hati-hati di jalan, " Ucap Rea, tersenyum manis.
Kai, menarik tangan istrinya dan jatuh ke pangkuan. Tentu saja, Kai ingin meminta vitamin agar semangat bekerja. Di ambang pintu, seseorang mengintip kemesraan mereka dan mengepalkan kedua tangannya.
Cukup lama mereka, berciuman. Akhirnya, Kai pamit pergi ke kantor lagi.
Rea,melepas kepergian suaminya dan melambaikan tangan. Matanya tertuju,ke arah Lilis tengah santai di bawah pohon.
Rea, menuju ke pintu belakang rumah orangtuanya. Dia, ingin mencek bagaimana pekerjaan Lilis.
Di wastafel banyak cucian piring,yang belum di cuci Lilis. Bahkan,baju kedua orangtuanya masih belum selesai di cuci. "Lilis,kenapa cucian piring dan jau belum selesai. Malah, nyantai aja". Rea, menghampiri Lilis.
"Sabunya habis,kamu pikir nyuci gak pake sabun bersih? Makanya,jangan mikir aneh-aneh". Jawab Lilis, dengan suara keras.
"Aku cuman nanya,loh. Tenang saja,aku akan membelikan sabun dan lainnya. Hari sudah siang, cucian piring masih menumpuk sabunnya masih ada". Kata Rea,yang sudah kesal.
"Iya,iya.... bakalan aku,cuci kok. Ribet amat,kaya emak-emak ". Gerutu Lilis, beranjak masuk ke dalam rumah.
"Astagfirullah, kenapa ibu punya keponakan jauh seperti dia". Rea,hanya menggeleng kepala dan menuju ke arah warung.
__ADS_1