
"Dalam tiga bulan,kita akan bercerai". Ucap Liam, dengan tatapan tajam. Maafkan aku, Emily. aku sangat mencintai kekasihku,bukan dirimu. walaupun Liam, tak tega melakukan hal ini.
"Apa...? Ti-tiga bilan,kau jangan macam-macam Liam. Bukankah kau sendiri, mengatakan semuanya di hadapan orang tua kita. Kau tidak akan menceraikan ku, jika aku tidak meminta cerai. Maksud mu apa, Liam". Emily, mencekram lengan Liam. Kenapa Liam, berubah pikiran seperti ini? apa yang di katakan saat di depan orang tua kami, sangat beda apa yang di katakan sekarang.
Liam,hanya menyinggung senyuman kecilnya. "Kau pikir,aku mau bertahan memiliki seorang istri seperti dirimu. Tak sudi rasanya, kita akan tinggal di apartemen miliku dan tidur juga terpisah. Karena keluarga kita,tidak ikut campur dalam rumah tangga yang kita jalani. Walaupun kita menikah,jangan harap kau aku perlakuan seperti seorang istri. Paham...ingat,aku tak akan menyentuh dirimu sampai kita bercerai nanti".
"Tidak,aku tidak setuju. Bukankah kau berjanji di hadapan orang tua kita, agar tidak main-main dalam pernikahan ini. Setidaknya,kita jalani dulu jangan secepatnya itu kita bercerai". Bantah Emily, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gara-gara kau,aku hampir kehilangan orang yang aku sayang. Yaitu kekasihku, Emily. Dia memberikan kesempatan kepadaku,kami tetap menjalani hubungan. Walaupun kita menikah,dia sanggup bertahan selama tiga bulan. Kau harus terima Emily,ini semua gara-gara kau. Jika kau,tidak melakukan hal buruk malam itu. Kita tidak mungkin menikah dan melakukan hubungan terlarang itu". Liam, menunjuk jarinya ke wajah Emily.
Apa..? Liam, memiliki seorang kekasih. kenapa aku baru tau? siapa perempuan itu,apa jangan-jangan...
"Tidak,aku tidak akan meminta cerai kepadamu. Kau sudah berkata seperti itu,didepan orang tuaku. Kita tak akan bercerai, sebelum aku yang meminta dan menggugat cerai di pengadilan agama". Senyum smrik Emily,ia merasa menang sekarang. Tidak akan aku melepaskan mu, semudah itu Liam.
Kau pikir,aku adalah pria bodoh. yang tidak bisa melakukan apa yang aku mau,oh...kau salah Emily,aku lebih kejam. inilah pembalasan dariku, yang berani menjebakku waktu itu.
"Benarkah,kau tidak ingin bercerai dengan ku dalam waktu sedekat itu. Aku memiliki bukti, jika kau bermain dengan beberapa pria. Terutama Andreas, seorang anak pembisnis dan musuh ayahmu. Bukankah, kalian menghabiskan waktu sampai pagi di dalam hotel. Hemmm...yakin, tidak menuruti perkataan ku". Liam, mengancam Emily.
Apa? Liam, memiliki bukti sekuat itu. Jangan,jangan sampai ayahku tau. Bisa-bisa aku,tidak di anggap anaknya lagi. Ini tidak boleh terjadi,batin Emily. "Brengseeekk....kau pria brengsekk, Liam. Kau licik,". Emily, memukul dada Liam. Amarahnya sudah menggebu-gebu,air matanya luruh sudah.
__ADS_1
"Seharusnya kau, berterima kasih kepadaku. Karena mau menikahi dirimu,yang sudah bekas beberapa pria lain. Setelahnya,aku terbebas terlepas dari masalah ini. Aku tak peduli dengan mu, Emily. Walaupun benar, Al pelakunya yang sudah menyebar video tersebut. Aku tidak marah kepadanya,anggap saja melakukan hal yang benar. Emily, jika kita mencintai seseorang. Janganlah berpikir,untuk mendapatkan dirinya secara licik. Berjuanglah secara baik-baik,agar kedepannya tidak mendapatkan masalah seperti ini. Bukankah semuanya adalah rencana licik mu, lihatlah apa yang kau dapat. Yaitu karma,yang kau dapat". Senyum smrik Liam,tidak ada penyesalan apa yang terjadi. Bagi Liam,ini adalah pelajaran dalam hidupnya. Agar kedepannya menjadi lebih baik dan berhati-hati lagi.
Emily, hanya menangis kesegukan dan mengepalkan kedua tangannya. Menyesal, tidak ada gunanya saat ini. Kenapa seperti ini? kenapa aku,yang mendapat karmanya. ini tidak adil, kepadaku.batin Emily.
"Aku mohon Liam, jangan secepat itu kita bercerai. Setidaknya satu tahun,aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tua ku lagi". Pinta Emily, meminta iba kepada Liam.
"Maaf, Emily. Aku tidak bisa,ada hati yang aku jaga. Kau bisa menolak pernikahan ini, sebelum terjadi. Tapi, lihatlah kedepannya nanti. Bagaimana kamu, menjelaskan semuanya kepada calon suamimu nanti. Seharusnya kamu berpikir, rata-rata pria lain. Banyak yang tidak menerima,calon istrinya yang tidak perawan lagi. Ingat itu, lebih baik terima saja. Aku hanya sanggup bertahan dalam pernikahan ini,hanya tiga bulan". Ucap Liam,lagi.
Emily,luruh sudah di lantai. "Tinggalkan kekasih mu, Liam. Kita bina rumah tangga ini, secara baik-baik. Aku mohon,jika sampai kita bercerai dengan waktu sedekat itu. Apa kata orang tuaku, mereka sangat kecewa Liam ". Ucap Emily, sambil menangis kesegukan.
"Apa yang aku katakan,tidak bisa di ubah lagi Emily. Aku harap,kamu bisa menerima semuanya". Liam, langsung meninggalkan Emily yang masih terduduk di lantai. Ia meraung-raung meratapi nasipnya, menangis sejadi-jadinya.
"Aku harus menemui pria brengsek itu,yang sudah mengambil paksa keperawananku". Decak Emily,ia langsung bergegas ke luar rumah dan masuk ke dalam mobil. Ia menancapkan gas mobilnya, dengan kecepatan tinggi.
Banyak sekali muda-mudi yang sedang bersantai, sambil berbincang hangat bersama teman-teman.
Emily,keluar dari mobil. dengan raut wajah yang sangat marah,ia juga menutup pintu mobil dengan keras. Atas kedatangan Emily, orang-orang sekitar tercengang.
"Hallo,sayang Emily. Tumben-tumbenan kau datang ke sini, apa kau merindukanku". Tanya William, tersenyum manis.
__ADS_1
Plakkk.....
Emily, menampar wajah William. Sontak semua temannya, terheran-heran apa yang di lakukan.
"Kau berani menampar wajah ku,ha? Kau pikir,kau siapa". Bentak William, begitu emosi.
"Pria brengsekk.... gara-gara kau, merebut paksa keperawananku. Habislah semuanya,aku kehilangan Al dan kepercayaan keluarga ku". Bentak Emily, mendorong tubuh William. "kau pria brengsekk,yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mu".
William adalah musuh terbesar Al, dalam balap motor saat masa-masa sekolah dulu.
"Hahahaha... Emily, Emily... bukankah kamu,juga menikmati sayang. Aaahh...aahh...ahhh.. lebih keras, William. Aku hampir sampai,". William, memeragakan bagaimana Emily menyukai permainannya.
"Hahahahaha.....". Gelak tawa teman-teman William. mereka semua menertawakan Emily, begitu rendah harga diri di mata pria lain.
Wajah Emily, memerah seperti kepiting rebus. Ia sangat malu dan bercampur dengan amarah. "Brengseeekk,kau pria brengsekk William ". Teriak Emily, begitu keras.
"Hahaha...iya,aku pria brengsek. Yang sudah membuat dirimu mende-sah,sayang". William,mencolek dagu Emily. "Makanya jadi perempuan itu,jangan terlalu polos sayang. Ckckck, kau kira aku bodoh.hemmm...aku yakin, sudah beberapa pria lain yang mencicipi tubuh mu ini.hahahhaa....".
Dada Emily,naik turun mengontrol dirinya sendiri. Ingin sekali dia, mencabik-cabik wajah William. "Kau,sudah menghancurkan masa depan ku. Kau tega William, kau jahat". Isak tangisnya. Brengseeekk,dia malah tertawa atas penderitaan ku.
__ADS_1
"Emily.....!!!". Teriak seorang di belakangnya, secepatnya dia menoleh siapa yang memanggil namanya.
"Papah....". Gumam Emily,ia sangat terkejut melihat ayahnya. Bukan hanya ayahnya saja,tapi dengan J, Farhan dan Liam.