
"Ck,kenapa nasip kita sama". Decak Zakir, wajahnya terlihat muram.
"Masih untung,aku, Dion dan Zakir. Coba Al dan Kai, telinga mereka biru kemerahan. Sadisss .... punya emak,kaya mamah Ayunda". Herman, bergidik ngeri.
Saat ini mereka tengah berkumpul dan malas-malasan, setelah meeting tadi.
Terlihat jelas Al dan Kai, nampak lesu tak semangat. Karena Ayunda, memarahi mereka habis-habisan. Apa lagi jeweran Ayunda, sangat luar biasa. Kedua telinga Al dan Kai, berubah merah kebiruan. Bahkan, sangat sakit di sentuh sepertinya bengkak.
"Kalian tau sendiri,gimana mamah Ayunda? Malah, cerita-cerita bukan-bukan. Taukan, akibatnya". Dion, seakan-akan meledek Al dan Kai.
"Aku dan Kai, tidak membicarakan tentang rumah tangga kami. Eeee...malah Laila dan Rea,membuka masalahnya. Berharap mamah gak dengar, tau-taunya sudah menguping dari awal". Sahut Al, langsung.
"Tau sendirilah,gimana mulut Wanita. Apa lagi,suami memiliki kesalahan besar. Beehhh...sampai kakek nenek, bakalan di ungkit-ungkit mulu ". Sambung Kai,juga.
"Iya, coba aja mereka punya salah. Kata maaf,terus di goyang hot di atas ranjang. Luluh langsung,hati kita. Bahkan, melupakan masalah istri". Timpal Zakir,yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iiissss... Kita seperti reuni yah, curhatan hati seorang suami". Kekehnya Dion, cekikikan tertawa. "Bercanda....canda". Dion, langsung menyenggol lengan Herman. Dia, langsung gelisah saat mata teman-temannya menatap tajam ke arahnya sendiri.
"Auuukkkk...sakir pe'aaaa...malah pegang-pegang". Al, langsung menampar lengan Herman,saat Herman memegang telinga Al.
"Sumpah...telinga kalian, bengkak. Jangan-jangan, infeksi ini. Bawa ke rumah sakit,siapa tahu dapat salepnya". Herman,masih melihat telinga Al.
"Nantilah, gak semangat kalau kemana-mana". Jawab Kai,tersandar di kursinya.
"Kok bisa,sih? Sampai bengkak, seperti itu. Jadi,mamah Ayunda ganas juga. Pantesan J, bertekuk lutut dan tidak berani macam-macam". Dion,juga melihat telinga Kai,yang bengkak.
"Benar,ayah kalian sangat bucin akut sama Mamah Ayunda. Tapi,kenapa sifat kalian gak ada keturunan seperti J? Jauh beda, jangan-jangan sifat kembarannya kaya seperti kalian". Zakir, menerka-nerka saja.
"Masalahnya, papah J sangat rapat menyimpan apapun. Sampai saat ini,aku belum bisa memecahkan siapa papah J. Masih banyak misteri,yang tersembunyi kan. Aku ingin sekali, mengetahui siapa pembunuh ayahku. Aku dengar-dengar, kecelakaan pesawat ada seseorang yang melakukannya ". Ucap Al, membuat yang lainnya tercengang.
"Se-seriusan...wahhh,gimana kita bekerjasama? Jadi penasaran,". Herman, langsung menawarkan diri. Begitu juga,Zakir dan Dion.
"Kami curiga, kalau papah J seorang agen rahasia. Tapi, dulunya. Hanya itu,kecurigaan aku dan Kai. Pernah suatu hari, aku menanyakan hal ini kepada papah J. Tetap saja,dia jawab seorang militer khusus". Al, mencurigai ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya,benar kecurigaan mu itu. Bisa saja kan,cukup masa lalunya yang suram dan di kubur selamanya. Tidak ingin, menceritakan tentang ini kepada anak dan cucunya. Seharusnya,kamu dan Kai sudah cukup mencurigai ayah sendiri. Baguslah,dia menyimpan rapat-rapat. Agar, tidak jadi bahan pikiran kalian" Dion, mencoba menenangkan pikiran mereka.
"Benar,aku setuju dengan pendapat Dion". Sahut Zakir, langsung .
Al dan Zakir,hanya manggut-manggut mendengarnya. "Sudahlah kak,jangan mencurigai papah lagi. Semakin kita,mengorek masa lalu papah. Semakin rapat,apa lagi umur orangtua kita sudah tidak muda lagi. Punya cucu juga,uban mulai tumbuh banyak di kepala papah". Kai,juga menghentikan kecurigaan kakaknya.
"Iya,tapi....aku masih penasaran,pasti papah memiliki rahasia besar. Sesuatu yang di simpannya,siapa tahu? Harta Karun,rame kan jika ada petualangannya". Kekehnya Al, membuat yang lain geleng-geleng kepala.
"Alaaahhh... ngapain mikir begitu,Al. Masalahmu dan mamah Ayunda, belum kelar-kelar". Ledek Zakir, cekikikan.
"Tapi,kalian tidur satu kamar kan. Masih bisa,main kuda-kudaan sama istri". Tanya Herman, penasaran.
"Mana ada,malah aku satu kamar sama Kai". Jawab Al, dengan kesal.
"Kai,masih aman kan lubang satunya? Gak,di bobolin sana Al". Tanya Zakir, mendekati Kai.
Pletakkk....
"Wouuy, Ogah banget. Masa jeruk makan jeruk, emangnya kita apaan ha". Teriak Al, langsung melempar pulpen ke arah Zakir.
"Aku masih normal,kali". Gerutu Kai, mendengus dingin.
"Kai, sebenarnya kita-kita ini. Meragukan dirimu,kan kamu orangnya kaya tertutup rapat. Pacaran aja, waktu SMA. Kami kira,kamu gak normal. Hahahaha". Gelak tawa Herman, sedangkan yang di sindir menahan dirinya.
"Sama,aku langsung terkejut mendengar jika Kai menikahi wanita. Hahahaha....kirain, Elvina sebagai pelarian semata-mata". Sambung Al,juga tertawa lepas.
"Hahahaha....kaget aku,hahahha... ternyata,Kai normal". Zakir, ikut-ikutan tertawa lepas.
"Puassss.... sudah meledekku,ha? Keturunan Negredo, tidak ada yang tidak normal. Malah, semakin perkasa. Gak kaya kalian, jangan-jangan baru main sudah K.O". Kini Kai,membalas ledekan mereka.
Sontak Al, Zakir, Dion dan Herman. Mereka tidak terima, dengan ejekkan Kai.
"Wahh....Wahhhh...Wahhh....kau mengejek kakakmu ini,kai...!!! Salah, sangat salah. Aku lebih perkasa darimu". Tegas Al, tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Benar,aku juga".
"Aku juga,malah Shelly menyerah karena tak mampu lagi". Sahut Herman, tersenyum merekah.
"Hahahaha.... Anda,salah sangka terhadap kamu Kai. Tentu saja,kami perkasa dalam urusan ranjang". Dion, menyunggingkan senyumnya itu.
"Oh, benarkah? Bagaimana,kita buktikan. Siapa,yang paling besar". Kai,malah menantang mereka.
Al, Zakir, Dion dan Herman. Mereka langsung,setuju dengan tentangan kertas kai.
Entah,siapa yang jadi pemenangnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sudah selesai dengan tantangan Kai.
Raut wajah Al,Dion, Herman dan Zakir menjadi muram karena Kai pemenangnya.
"Hahahaha.... pemenangnya aku, paling besar dan panjang". Kai,merasa puas mengalahkan kakak dan teman-temannya itu.
Saat Kai, ingin keluar dari ruang meeting. Akan tetapi, pintunya terkunci dari luar. "Eeee... pintunya, terkunci". Kai, mencoba membuka handel pintu beberapa kali.
"Masa,sih? Waduhh...mana kedap suara lagi". Gerutu Dion, menggedor-gedor pintunya.
"Hubungi seseorang, kalian punya ponselkan? Jangan dia aja, cari juga kunci di mana-mana". Perintah Kai, langsung saja mereka melaksanakan perintah Kai.
Al, beberapa kali menghubungi seseorang di luar. Akan tetapi, tidak ada jawaban sama sekali. "kemana Lin? Kenapa, panggilan ku tidak di angkat-angkat ". Gerutu Al,terus berlanjut menghubungi seseorang lainnya.
"Kami sudah mencari kemana-mana? Tetap saja, tidak ada. Siapa,yang melakukan hal ini? Kenapa,kita semua di kunci di sini". Herman,nampak kebingungan dan membuka jendela kaca. Betapa terkejutnya, melihat ke bawah sangat tinggi.
"Bodoh,mau lompat? Mau mati". Ejek Al, malah santainya duduk saja.
Sedangkan Kai, Zakir dan Dion. Terus-menerus, mendobrak pintunya. Akan tetapi, tidak bisa sama sekali. Bagaimana bisa,di balik pintu beberapa penghalang agar pintunya kuat. Siapa lagi pelakunya adalah, Ayunda dan istri-istri mereka.
"Rasakan kalian,ayo...kita basmi sang pelakor itu". Kata Ayunda, mengajak menantu dan istri-istri sahabat anaknya.
__ADS_1