
Dua puluh orang,anak buah J. Mereka berlutut langsung, di hadapan J dan yang lainnya. Mereka semua, bersalah sudah menyakiti dua menantu bosnya sendiri.
"Kalian, sudah berani menyakiti menantuku ha". Ucap J, dengan tegas.Mereka hanya menunduk dan tidak berani menatap. Apa lagi, menjawab perkataan J.
Laila dan Rea,merasa iba kepada mereka. Memang benar, mereka sudah melakukan kesalahan besar. Akan tetapi, hukuman dari J pasti lebih kejam lagi.
"Papah, mereka tidak salah". Laila, langsung angkat bicara. Membuat yang lainnya, tercengang mendengar ucapan Laila.
"Benar, mereka tidak salah. Mereka, ingin menangkap kami. Tapi, kami melawan pah. Luka yang di tubuh kami,semua ini gara-gara Annisa dan Elvina. Saat mereka mengejar-ngejar,kami". Rea,juga angkat bicara.
"Rea, Laila,kenapa kalian membela mereka? Mereka, sudah salah sayang. Lihatlah, keadaan kalian sangat berantakan". Sahut Ayunda, mengelus lembut pipi menantunya.
"Tidak,mah. Kami,hanya ketakutan itu saja. Mereka, hanya membuat kami ketakutan. Tidak lebih, dari apapun". Jawab Laila, berusaha menutup semuanya.
Anak buah J,terdiam ada rasa penyesalan terhadap Laila dan Rea. perasaan mereka, langsung tersentuh saat mendengar pembelaan menantu bosnya.
"Tuan, maafkan kami. Kami, tidak tahu? Jika, mereka adalah orang-orang sekitar anda". Ucap pria,yang tergores luka di wajahnya. "kami,hanya takut itu saja".
"Baiklah,jika memang benar bahwa bukan kalian yang menyakiti menantuku. Lalu,dua wanita itu. Apa sudah di tangkap,atau apa". Tanya J, rahangnya sudah mengeras dari tadi. J, tidak sabar untuk menyiksa dua wanita itu yang sudah ingin mencelakai dua menantunya
"Sudah, mereka kami amankan". Jawabnya, dengan ketakutan. "kami,kurung di tempat lain".
Laila dan Rea, masih memandang ke arah ayah mertuanya. Ada teka-teki yang tersembunyi, begitu J menatap tajam ke arah menantunya.
J, mengetahui jika menantunya itu. Sudah tahu,apa di dalam sana. Dia, berusaha yakin bahwa menantunya bisa menutupi rahasia ini. Kemungkinan J,akan berbicara kepada menantunya tanpa yang lain. Jika ada, kesempatan untuk bersama.
"Sayang,kita pulang. Alhamdulillah,masih bisa memeluk kalian". Isak tangis Ayunda, membuat J luluh dengan suasana seperti ini. "mamah, sangat begitu mencemaskan keadaan kalian. Seakan-akan,detak jantung mamah berhenti berdetak".
"mamah, sudahlah". Laila,tak sanggup menahan air matanya dan memeluk erat tubuh ibu mertuanya.
"Aku tidak akan, melepaskan mereka berdua pah". Ucap Kai, langsung. Dia, tidak terima melihat kondisi istrinya seperti ini.
"Aku juga,aku ingin memberikan pelajaran kepada mereka". Sambung Al,tak kalah amarahnya. Tak puas rasanya, untuk tidak melenyapkan orang yang sudah menyakiti istrinya.
"Pulanglah,biar ini urusan papah. Mereka sangat, membutuhkan kalian" tegas J,mulai berjalan dan meninggalkan lainnya. Tak lupa,anak buahnya mengikuti dari belakang.
"Mah, sepertinya papah". Laila, berkata kepada Ayunda. Dia tahu, bahwa ayah mertuanya sedang marah besar.
"Hussssttttt...biar mamah, lakukan sendiri. Al, Kai kalian bawalah Laila dan Rea pulang. Lalu,obati mereka. Papahmu,biar mamah urus". Ayunda, memerintahkan anaknya untuk segera pulang.
Ayunda, meninggalkan mereka dan mengejar Suaminya. Yang sudah,mulai jauh.
Al dan Kai,terus membujuk istrinya untuk pulang. Walaupun, Laila dan Rea mengkhawatirkan keadaan ibu mertuanya.
__ADS_1
"J,tunggu...!!!" Ayunda, menahan lengan suaminya.
J, menghembuskan nafas beratnya dan memerintahkan kepada anak buahnya untuk pergi lebih dulu.
"Kamu marah, karena masalah ini". Ayunda, ingin menyentuh pipi Suaminya. Akan tetapi,di tepis oleh J.
"Beberapa hari, kemungkinan aku tidak pulang. Pergilah,aku tidak ingin membahasnya lebih jauh". Ucap J, terdengar tegas di telinga Ayunda. J,juga tidak memandang ke arahnya. Membuat Ayunda,jadi kesal dan kecewa.
Mata Ayunda,mulai berkaca-kaca sekuat tenaga untuk menahan air matanya. "Lebih baik,kamu tidak pulang sekalian". Bentak Ayunda dan langsung meninggalkan suaminya.
J,hanya memandang istrinya pergi semakin jauh. Sedangkan Ayunda, tangisnya sudah pecah menelusuri pinggir pantai. Dia,juga tidak ingin menatap ke arah belakang.
Hingga akhirnya, Ayunda sampai di mobil. Hatinya,melongos sakit saat J tak juga menyusul dirinya.
"Ayo,pulang" Ucap Ayunda,kepada sang sopir. Awas saja kamu,J. Ingatlah nanti,aku akan mendiamkan dirimu. Batin Ayunda,akan membalas sakit hatinya.
*********
"Alhamdulillah,janinnya baik-baik saja dan tidak ada kekurangan apapun". Ucap sang dokter,yang baru saja memeriksa kondisi Rea.
"Alhamdulillah," Ucap kebersamaan, mereka.
Ayunda, yang begitu khawatir kepada menantunya. Dia, langsung membawa ke rumah sakit. Laila,juga di periksakan dan kondisinya di nyatakan baik. Ayunda, bersyukur karena kedua menantunya tidak terjadi apa-apa.
Saat di ruang tamu,J sudah menunggu kedatangan mereka.
Hanya Al, Kai, Laila dan Rea saja. Yang menyapa J, dengan senyuman.
Akan tetapi, Ayunda cuek dan tak memperdulikan kedatangan suaminya.
Dia, langsung masuk kedalam kamar. Saat ingin menutup pintunya,J sudah menghalangi kakinya.
Ayunda,hanya berdecak kesal dan menjauhkan dirinya. "Untuk apa, pulang? Bukankah,aku sudah bilang. Jangan pulang,".
"Maafkan aku,sayang". J, memeluk erat dari belakang.
"Lepaskan aku,J. Pergilah,aku tidak membutuhkan dirimu". Ayunda, mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Tidak,aku tidak akan melepaskan pelukan ini. Aku tahu,kamu sangat marah besar kepadaku. Maafkan aku,sayang". J, menuntun Ayunda ke atas ranjang.
Akan tetapi, Ayunda terus memberontak dan akhirnya jatuh di bawah Kungkungan J.
Ayunda,hanya memalingkan wajahnya tak ingin memandang ke arah Suaminya.
__ADS_1
Cup
Cup
Cup
Beberapa kali,J mencium wajah Ayunda. Dia, ingin sekali ******* bibir istrinya. Tetapi, Ayunda terus menghindarinya.
Walaupun mereka, sudah memiliki cucu. Jiwa kemudaan nya,masih melekat pada hati mereka.
"Maafkan aku,sayang". Bisik J, dengan suara seraknya di telinga Ayunda. "Aku sangat, merindukanmu".
"Lepaskan, aku dan pergilah....". Ayunda,tak henti-hentinya menyuruh J untuk pergi.
"Yakin, memintaku untuk pergi. Hemmm....jangan mengubah pikiran ku, Ayunda. Aku akan pergi, jika itu maumu". Suara dingin J, akhirnya keluar juga. Dia, menjauhkan dirinya dari atas tubuh Ayunda.
Ayunda,masih terdiam di atas ranjang. Air matanya mengalir deras, sedangkan J duduk di tepi ranjang.
J, memandang istrinya menangis kesegukan. Dia, langsung memeluk tubuh Ayunda dan mengeluarkan kata-kata manis dan mengubah perasaan Ayunda.
"Jangan menangis, sayang. Aku hanya, bercandaan soal tadi". Suara lembut, terdengar di telinga Ayunda.
"Jahat sekali,kamu benar-benar ingin pergi ha...!!". Ayunda,terus memukul dada bidang J.
"Aaakkhh....aku tidak bisa,jauh darimu sayang. Mana mungkin,aku pergi". J,menangkup kedua pipi Ayunda dan mencium bibirnya dengan lembut.
******************
Di tempat lainnya, Annisa dan Elvina di kurung di ruangan. Sepertinya, mereka masih di bangunan kosong.
Kaki mereka,di ikat menggunakan rantai besi. Hanya ada teriakan dan tangisan,yang mereka lakukan. Akan tetapi, semuanya sia-sia.
Pintu terbuka lebar, terlihat sesosok Al dan Kai muncul. Di belakang mereka,juga ada J dan duduk santai di salah satu kursi yang disediakan.
Annisa dan Elvina, langsung tersenyum merekah saat melihat pria yang mereka cintai.
"Al, aku tahu? Kamu,akan datang dan menolongku". Kata Annisa, tersenyum merekah.
"Kai, aku sangat mencintaimu. Terimakasih, sudah datang dan menyelamatkan diriku. Aku tahu,kamu tidak akan membiarkan aku kesakitan seperti ini. Ayahmu, sudah mengurung kami". Ucap Elvina,ada senyuman manis di sudut bibirnya.
"Al, cepatlah ke sini dan lepaskan rantai di kakiku.kakiku, sangat sakit Al. Aku sangat merindukanmu,". Pinta Annisa,terus berusaha mendekati Al yang tengah berdiri di hadapannya.
Annisa dan Elvina,merasa kebingungan. Kenapa, mereka tidak ada membantu untuk melepaskan rantai besi di kaki mereka.
__ADS_1
"hahahahha....hahahahha...". Suara gelak tawa,yang keluar dari mulut Al dan Kai. Membuat Annisa dan Elvina,merasa ketakutan. Apa lagi J,tengah Santai-santai menikmati permainan selanjutnya.