
"Al,jangan bicara macam-macam. Pernikahan tidaklah main-main,ingat itu". Tegas Ayunda,yang masih berdiri di samping Laila. "mamah,tidak mau jika anakku main-main dalam pernikahan".
"Papah,mamah..aku serius,bahkan aku sudah melingkarkan jari manisnya Laila. Sebuah cincin,kami sudah bertunangan tanpa kalian tahu". Jawab Al, tersenyum sumringah.
Pletakkk......
"Aauuukkk...". Kening Al,di jentik oleh J. "Pah, apa-apaan sih. Sakitttt...." Al, memusut keningnya. Dasar pria tua, seenaknya menindasku. Al, mengumpat dalam hati
"Kau benar-benar kelewatan batas Al, seenaknya seperti itu hemm...kau klaim Laila,oh...atau jangan-jangan kau paksa". Delik mata J, sedikit melotot.
"Laila, katakan kepada Tante. Apakah, anak Tante sudah memaksa mu. Katakan sejujurnya,jangan takut. Ada Tante,yang siap menghajar bocah tengik itu". Ayunda, menyeringai tajam ke arah Al.
Al,hanya meminta pertolongan kepada J. Namun J,malah memperkeruh keadaan saja. Sedangkan, Laila hanya menoleh ke arah Al. Yang sedari tadi, perasaan Al campur aduk.ia sangat takut,tidak dapat restu dari kedua orangtuanya.
"Tante Ayunda, sebenarnya...hemmm, kami sama-sama saling mencintai. Tidak ada paksaan apapun". Jawab Laila,Al merasa lega karena kejujurannya.
"Dengarkan pah,mah...kalau kami saling mencintai satu sama lain, tidak ada paksaan sedikitpun". Sahut Al, sebelum Ayunda angkat bicara.
Ayunda, menatap ke arah Laila. Ia memegang tangannya dan tersenyum sumringah. "Kau memang pantas menjadi menantuku".
Laila, terlihat bahagia mendapatkan restu dari Ayunda. "Terimakasih,Tante". Laila,hanya tersipu malu-malu.
"Panggil mamah,jangan Tante lagi. Karena kamu,akan menjadi menantuku. Sini mamah,peluk" Ayunda dan Laila, mereka saling berpelukan. Alhamdulillah, akhirnya punya mantu juga.
"Baiklah,kalau seperti ini ceritanya. Menikah adalah jalan terbaik untuk kalian,tapi tunggu aku pulang". Kata J, dengan tegas.
"Pah,bisa tidak di tunda kek. Kenapa gak dulu-dulu saja,malah sekarang. Yang ada tambah kacau,aku ingin secepat menikahi Laila. Gara-gara papah,malah nunggu sebulan,". Decak Al,dengan kesal.
J,hanya cekikikan tertawa dalam hati. Sebenarnya,dia pergi hanya satu minggu. "Sabarlah menanti boy,biar semakin indah". Kekehnya J, membuat Al tambah geram kepada ayahnya.
__ADS_1
Pria tua, benar-benar mencari masalah kepadaku. Sial,kenapa seperti ini. "Aiiiss... pahamilah aku pah,". Rengeknya Al.
"Al,kau itu seorang laki-laki. Jangan berlagak seorang perempuan,dasar kebelet nikah". Sahut Ayunda. "Pergilah, sayang. Biar aku urus bocah tengik ini,aku harap Laila sanggup merawat bayi besar ini. Tenang saja Laila, kalau dia macam-macam. Mamah,yang akan bertindak". Tegas Ayunda,sontak membuat Al semakin takut.
J,hanya angkat tangan. Ia tak sanggup melawan amarah sang istri,lebih baik mengalah saja demi perkasuran.
Al,mengusap wajahnya dengan kasar. Ia terduduk lemas di sofa,laila mendekati dirinya. "Sabarlah,tidak akan lama. Hanya sebulan,bukan setahun". Laila, mencoba membujuk calon suaminya.
"Laila,satu bulan itu. Sangatlah lama,". Jawab Al, wajahnya nampak gelisah sudah.
"Tidak perlu, kamu membujuknya Laila. Semakin kamu membujuk dirinya,maka dia akan semakin manja". Sahut Ayunda, terlihat jelas di wajah Al jika sang ibu akan membela calon menantunya.
"Baiklah,aku akan pergi. Tolong,jaga ibumu dan adikmu itu. Laila,jangan terlalu memanjakan dia. Walaupun,aku bukan ayah kandungnya. Aku akan selalu berdoa, yang terbaik untuk kalian berdua". Ucap J, tersenyum kecil.
J, pamit pergi dengan mereka karena sudah di jemput seseorang. Ayunda, sempat menitikkan air matanya melihat kepergian sang suami.
Al, terpaksa membiarkan ayahnya pergi. walaupun hatinya, begitu kesal karena J pergi. ia harus sabar, menunggu kedatangan ayahnya.
********
Tok....Tok....
Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Al. "Masuk". Teriaknya dari dalam.
Ceklekk....
Pinta terbuka, terlihat Dion dan Zakir langsung masuk kedalam dan menuju Al.
"Ciyeehh...ada yang mau nikah nih". Ejek Zakir, ia cekikikan.
__ADS_1
"Selamat yah,bro...tapi, nunggu satu bulan lagi. Sabar bro, semoga berjalan dengan lancar,". Kata Dion,ia tersenyum dan memainkan kedua alisnya.
"Bete tau, gara-gara pria tua itu. Harus menunggu pulang lagi,satu bulan. Sial,berasa seabad". Decak Al,ia beranjak berdiri.
"Yah,sabar Al. Lagian Laila,juga gak kemana-mana sih". Sahut Zakir,ia cengengesan. " susah juga yah,kalau kebelet nikah. apa-apa berasa lama dan gelisah ".
"Palingan si Arkana,yang berani nekat mendekati Laila". Sahut Dion, terkekeh juga.
"Makanya itu,bahaya ini. Takutnya Arkana, mencuci otak Laila. Ada solusi gak,". Tanya Al,kepada temannya.
Namun Dion dan Zakir,hanya mengangkat kedua bahunya. "payah". Decak Al,ia memberikan maps kepada mereka. "Kerjaan itu,aku pergi dulu".
"Uuuhhh...bucin". Teriak Dion dan Zakir,saat melihat kepergian Al. Walaupun, teriakkan mereka tak di hiraukan oleh Al.
*********
Di sebuah kafe yang terletak di pinggiran kota. Emily, mencoba bekerja sama kepada Arkana.
"Bagaimana,kau ingin bekerja sama dengan ku. sebenarnya,aku sudah curiga. jika, Laila dan Al memiliki hubungan spesial. ternyata Laila,menantang ucapanku. dasar perempuan tidak tahu diri, perempuan miskin yang ingin mengubah kehidupan dengan menikah pria kaya seperti Al". decak Emily,ia mengaduk-aduk minumannya.
Arkana, menatap tajam ke arah Emily. yang terus-menerus menjelekkan Laila,ia tersenyum kecil dan membenci Emily. "Emily, jangan menjelekkan seseorang. apa lagi perempuan seperti Laila,dia jauh lebih baik darimu". senyum smrik Arkana.
Sial,malah membela perempuan miskin itu. ternyata,kau memang pantas bersanding dengan Laila. batin Emily, begitu kesal kepada Arkana. "Jaga mulutmu,Arkana. kau ikuti saja perintahku dan bisa mendapatkan Laila kembali".
"Ckckck....aku bekerjasama dengan mu,jangan harap Emily. aku tidak seperti dirimu,yang terobsesi begitu besar. aku memang mencintai Laila,tapi aku tahu batas. ingatlah,jika kamu sampai menyakiti Laila walaupun seujung kuku. kau siap-siap dengan hukumanku,". Arkana,mengancam Emily.
Sepertinya, Arkana tidak bisa di ajak kerjasama. aku harus mencari bantuan lain, percuma saja kalau seperti ini. "Hemmm... terserah apa katamu. kau payah sekali,kenapa membiarkan mereka bersatu. kalau kita bekerjasama untuk memisahkan mereka,kau juga untung dan mendapatkan Laila,". Emily,mencoba mempengaruhi pikiran Arkana.
Sepertinya, Emily mencoba mencari jalan lain. agar aku,bisa bekerjasama dengannya. Ck, perempuan bodoh. "percuma,jika mereka berpisah. Tapi, hati mereka masih tertuju satu sama lain. Al, tidak bisa di remehkan. Sudah pasti,dia selalu waspada dan mengawasi Laila. bukankah,kamu sudah menikah. apa kurangnya Liam,". tanya Arkana,ia tersenyum kecil.
__ADS_1
"Kami sudah berjanji,akan bercerai setelah tiga bulan pernikahan ini. Liam, masih berhubungan dengan kekasihnya. Gila, bukan? bahkan, kekasihnya rela menunggu Selama tiga bulan". jawab Emily, dengan santai.
"Emily, begitulah jika Al bersama mu. kau bahagia memilikinya, tapi dia mati rasa padamu. percuma saja,jika kamu menghabisi nyawa Laila. sedangkan cinta dan kasih sayangnya, sepenuhnya untuk Laila ". Arkana, mencoba menyadarkan hati Emily. agar dia tak terus-menerus, terobsesi ingin memiliki Al.