ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Nyonya Besar Ayunda


__ADS_3

Byuuuurrrrr.....


Satu ember air, menyirami tubuh Al. Saat membuka pintu rumah, tiba-tiba saja. Dari atas kepalanya, di guyuri Air bersama ember. Ia mengusap wajahnya, dengan kedua tangannya. ia tahu, siapa pelakunya? siapa lagi, kalau bukan adiknya sendiri.


"Hahahaha... rasakan pembalasan ku,mana papah? Aku berharap,papah yang dulu kena". Kai, tertawa lepas saat menyaksikan langsung keberhasilan penjebakan terhadap kakaknya.


"Awas kau, Kai. Bermain dengan ku,ha". Tunjuk Al, dengan geram. Namun, ancaman Al bagi sang adik hanyalah masalah sepele semata.


"Hahahah, bleeeeee...makanya, janganlah main-main dengan ku kak. Bay". Kai,juga menjulurkan lidahnya ke arah Al.


Braakkkk....


Kai, langsung menutup pintu kamar nya dengan kencang. Al,dengan langkah gontai, keadaan basah dan berdecak kesal.


Al, menuju ke dalam kamarnya. Saat membuka pintu kamar dan melangkah kakinya tiba-tiba.


Bruuuukkk....


"Aaakkhh...Kaiiiiii.....!!!". Teriak Al,ia terjatuh ke lantai. Karena lantainya licin, oleh minyak. "Sial,awas kau....ini sakit sekali". Ia meringis kesakitan, mencoba berdiri sendiri.


Kai, tertawa lepas di dalam kamarnya. Ia membayangkan wajah,sang kakak begitu menahan rasa sakit di bagian bokong nya.


J dan Ayunda,tiba di perkarangan rumah. Mereka berdua,turun dari mobil dan membawa belanjaan.


Saat membuka pintu rumah, mata Ayunda melotot seketika. Bagaimana,tidak melotot. Rumahnya, seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan dimana-mana, bahkan vas bunga pecah.


J,yang dapat tatapan tajam dari Ayunda. Hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya.


"Sayang, kami bisa membereskan semuanya. Kau tenang saja,jangan marah-marah. Oke,aku akan membeli vas bunga yang baru lagi. Kau tenang saja dan duduk manis". J, menuntun tangan sang istri duduk di sofa.


Ayunda, tersenyum kecil dan menurut perkataan Suaminya. "Baiklah, bereskan. Sekarang juga...!!! ". Bentak Ayunda. J, hanya manggut-manggut.


J, langsung menggedor-gedor pintu kamar anak-anaknya. Untuk membantu membereskan semua, sebelum Nyonya besar Ayunda bertanduk dua.

__ADS_1


Al dan Kai, terpaksalah mereka membereskan semuanya dan berbagi tugas masing-masing. Ayunda,hanya mengawasi gerak-gerik suami dan anaknya. ada senyuman hangat, di sudut bibirnya. seakan-akan dia sangat bahagia, melihat keluarga kecilnya.


Satu jam kemudian, akhirnya mereka selesai membereskan semuanya. Al dan Kai,merasa lega dan tersandar di sofa sambil menghela nafasnya.


*********


Sedangkan di tempat lain, Laila tengah membujuk Shelly. Agar mau menemui calon suaminya.


"Shelly,kau harus menemui calon suamimu" pinta Laila,ia tersenyum manis.


Shelly,hanya menghembuskan nafas beratnya. "Ck, bisakah nanti saja? Aku sedang tidak mood,". Pasti Kendra,yang datang bersama keluarganya. Huuufff, akhirnya aku dan Herman memang tidak berjodoh.


"Ayolah,hari ini kalian bertunangan dan memakaikan cincin. Kau harus menemuinya, Ayo...." Pinta Laila,ia menarik-narik tangan Shelly.


"Tapi,...."


"Tidak ada tapi-tapian, nurut aja. Kau akan senang,jangan manyun dong. Ini baru temanku, Shelly". Laila, tersenyum sumringah melihat Shelly mulai berdiri dari duduknya.


Laila, menuntut tangan Shelly menuju ruang tamu. Walaupun, Shelly merasakan teramat-amat gugup dan takut. Aku yang bertunangan,kenapa Laila tersenyum kegirangan seperti itu.batin Shelly, wajahnya nampak cemberut. "kau senang sekali, melihat aku bersedih seperti ini. memaksaku, untuk berdandan dan memakai baju bagus".


"Hemmm... terserah kau saja". gumam Shelly.


Hatinya juga ikut menangis,karena tidak berjodoh dengan pujaan hati. Shelly,terus menunduk kepalanya. Tak berani menatap,ke arah lain.


"Shelly,". Ucap seorang pria, yang tengah berdiri di depannya.


Suara ini, batin Shelly. Ia langsung mendongak kepalanya,benar saja dia adalah Herman. Matanya,mulai berkaca-kaca seakan-akan ini mimpi. "Herman,". Gumamnya,ia terkejut. Bukankah, Kendra yang akan melamarnya dan orangtuanya juga menjodohkan mereka. Kenapa Herman,bukan Kendra? Maksudnya apa.


"Papah,mamah? Maksudnya apa". Tanya Shelly,ia menatap ke arah orangtuanya.


"Benar,nak. Herman dan kedua orangtuanya, melamar mu. Bukankah,kalian saling mencintai". Jawab ayahnya, Shelly.


Sontak membuat mata Shelly, berbinar seketika. Ia memeluk erat tubuh,pria yang di hadapannya. "Apakah,ini tidak mimpi". Kata Shelly, menangis kebahagiaan di pelukan Herman.

__ADS_1


"Tidak,ini tidak mimpi. Semuanya, benar-benar nyata". Jawab Herman,ia juga memeluk erat tubuh Shelly.


Laila,juga menitikan air matanya. Saat melihat temannya,tengah berbahagia.


Antara keluarga setuju dan sepakat untuk menikahi anak mereka, tepatnya dua bulan lagi.


karena orangtuanya Herman,ada pekerjaan di luar negeri. begitu juga orangtuanya Shelly,harus mempersiapkan segalanya.


Shelly,tak henti-hentinya tersenyum merekah dan memandang ke arah Herman. ia tak menyangka,jika bersama Herman. tapi,di pikirannya beribu pertanyaan untuk orangtuanya.


Karena sudah selesai dengan semuanya, keluarga Herman pamit pulang.


Setelah kepulangan keluarga, Herman. kini Shelly,mulai menanyakan beberapa hal kepada kedua orangtuanya .


"Papah, mamah. Kenapa tiba-tiba, Herman. Bukankah,kalian sudah menjodohkan aku dan anak sahabat papah". Tanya Shelly, sebenarnya dia takut bertanya kepada orangtuanya.


"Nak,papah dan mamah. Mana mungkin egois,karena yang kami cari adalah kebahagiaan mu". Jawab pak Bahar,ia tersenyum kecil.


"Benar nak, untuk apa kami menjodohkan mu dengan pilihan kami. Sedangkan kamu, tidak bahagia sama sekali. Kau berhak, menggapai kebahagiaan sendiri dan kami tidak akan menghalanginya". Pak Bahar, menghapus air matanya anaknya.


"Terimakasih. Pah,mah. Shelly, tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Jujur, Shelly sangat bahagia sekarang. Makasih,pah,mah". Shelly, memeluk kedua orangtuanya.


"Tapi, bagaimana kalian tahu? Kalau Herman,membawa orangtuanya ke sini". Tanya Shelly,ia penasaran juga.


Laila,juga penasaran dengan semuanya. "Hemmm...aku juga penasaran, beritahu kami."


"Sebenarnya,kemarin Herman. Hemm.. menemui papah,di kantor. Dia mengatakan, bahwa hari ini membawa orangtuanya untuk melamar mu. Maafkan,papah dan mamah. Karena sudah menjodohkan mu, dengan anak sahabat kami". Pak Bahar, menjelaskan semuanya.


"Herman, anaknya yang baik. Dia bermohon-mohon kepada papahmu, untuk meminta restu. Jujur saja,papah dan mamah. Langsung kaget,saat Herman benar-benar bersimpuh di kaki papahmu. Agar perjodohan itu,di batalkan". Kata bu Kania, membuat Laila dan Shelly senyum-senyum.


"Benarkah, Tante. Waw, Herman benar-benar nekat". Sahut Laila, langsung.


"Pada akhirnya,papah yang berbicara kepda langsung sahabat papah. Walaupun, dengan berat hati dan perjodohan itu batal. Tenang saja, sahabat papah. Mereka saling paham, namanya anak zaman sekarang tidak bisa di paksakan. Asalkan,anak papah bahagia selalu". Pak Bahar,mengelus lembut pucuk kepala Shelly.

__ADS_1


Shelly, menangis haru, mendengar ucapan kedua orangtuanya Karena merestui hubungan antara dia dan Herman.


Alhamdulillah, sekarang Shelly tidak sedih lagi. memikirkan hubungan mereka, sekarang aku sudah meras lega. batin Laila,ia tersenyum manis. melihat temannya,saling berpelukan dengan orangtuanya. jujur saja, Laila juga merindukan kedua orangtuanya yang sudah tiada.


__ADS_2