ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Teman Lama


__ADS_3

Malam harinya, Laila tengah bersiap-siap untuk menemui Kendra. Tak lupa juga, meminta ijin kepada Al. Walaupun, Laila beberapa kali menelpon dan beberapa pesan darinya. Namun tak kunjung di angkat atau membalas pesannya.


"Al,kemana sih? Kenapa gak di angkat dan gak bales pesanku? Bagaimana ini,aku temui saja Kendra.mungkin dia, sudah menunggu kedatangan ku". Gumam Laila,ia berjalan ballroom hotel tersebut.


"Laila,". Shelly, memanggil namanya. Sontak Laila, langsung menoleh ke belakang.


"Ada apa Shelly,hemm". Tanya Laila,ia menghentikan langkahnya.


"Kau yakin, menemui teman priamu. Apa kamu sudah meminta ijin kepada Al, takutnya salah paham sih? Kalau Al,emang bucin akut sama kamu. Sudah pasti gak masalah,kalau kamu gak gak bilang dulu". Shelly,juga mengkhawatirkan hubungan temannya.


"Aku sudah menelpon dan mengirim pesan juga,tapi gak bales. Mungkin dia sibuk,atau apalah. Diakan seorang pengusaha,sudah pasti banyak kesibukan lainnya". Jawab Laila,ia tak ingin selalu mengatur kehidupan tunangannya itu.


"Oh,gak papa kalau begitu. Kamu sudah menelpon dan mengirim pesan,saat kau bertemu dengan pria lain. Al,gak mungkin marah ke kamu. Soalnya kamu juga sudah minta ijin,salah dia gak angkat telpon dan baca pesanmu". Ucap Shelly, tersenyum sumringah.


"Hemm...aku ke sana dulu, Kendra sepertinya sudah menunggu ku. Apa lagi kami,lama tidak bertemu. Dahhh...aku pergi dulu". Pamit Laila,ia melangkah pergi dan melambaikan tangannya.


Laila,masuk ke dalam restoran. Seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Tentu saja Laila,membalas lambaian tersebut.


Laila, langsung menuju meja tempat Kendra duduk. "Maaf,sudah lama menunggu ku". Tanya Laila.Kendra,berdiri lalu menarik kursi untuk Laila. "Makasih, Kendra".


"Iya,hemm.. aku baru saja datang,tidak lama". Kata Kendra,ia tersenyum kecil. Sekian lama,tidak bertemu. Laila, terlihat sangat cantik dan tetap seperti dulu.


Di sudut lain,ada seorang wanita tengah memotret mereka berdua. Di sudut bibir terpampang senyuman kecil,ia juga mengirim gambar tersebut kepada seseorang.


"Arkana, sangat merindukanmu. Mungkin besok dia akan ke sini, katanya mau jalan-jalan sih". Ucap Kendra, membuat Laila merasa tak enak.


Duhhh...kenapa jadi bahas Arkana, bagaimana ini? dulukan hanya salah paham,kenapa aku jadi gak enak.


"Oh....apa dia sudah menikah". Tanya Laila, penasaran. berharap sudah menikah sih? biar gak ragu-ragu untuk bertemu.

__ADS_1


"Belom, alumni kita dulu setauku tidak ada yang menikah. Jangan-jangan kau sudah menikah". Tanya Kendra,ia mendelik ke arah Laila. Semoga Laila, belom menikah dan dia bukan milik seseorang.


"Belom, doakan agar cepat". Kekehnya Laila, tersenyum sumringah. Duhh...kenapa jadi enak yah,kalau bahas masalah ini.


"Apa...?? jangan-jangan kau sudah memiliki calon, katakan siapa". Tanya Kendra, tersenyum kecil. Aissss... ternyata aku telat,bisa patah hati si Arkana.


"Hemm... doakan saja,maaf masih rahasia". Jawab Laila, cengengesan. Huuufff.... setidaknya, jangan sekarang deh. Aku memberitahu siapa orangnya. Tuhkan, jadi gak enak. pasti Kendra, memikirkan macam-macam atau menjaga ucapannya takut ada seseorang marah.


"Ok,tidak masalah. Kami berencana untuk mengadakan acara reuni,sudah pasti kau akan di undang". Ucap Kendra, tersenyum. Aku mana percaya, jika dia milik seseorang. karena aku tahu, bagaimana sifatmu Laila.


"Benarkah? Aku juga sangat merindukan mereka,tapi aku tidak bisa pasti datang. Takutnya ada kesibukan lain,". Jawan Laila, tersenyum sumringah. Semoga reuni nanti,aku tiba-tiba memiliki kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan.


"Baiklah, boleh minta nomor WhatsApp mu. Agar aku bisa memasukkan nomormu,ke group sekolah kita dulu". Kendra, menatap intens ke arah Laila.


Laila, langsung mengangguk kepalanya dan menyebut satu persatu angka nomornya. Walaupun di dalam hatinya, selalu waspada takut Al salah paham kepadanya.


*******


"Ada apa Al,kau seperti mencari sesuatu". Tanya Dion. Ia melihat Al, mencari-cari di sakunya.


"Iya, sepertinya aku ketinggalan ponsel di kamar hotel. Sial,". Decak Al,ia menghembuskan nafas beratnya. Sekarang dia,tidak bisa menghubungi Laila. Bagaimana ini, takutnya Laila mencariku. masa iya,aku ke hotel sekarang. takutnya klien malah datang,di tunggu-tunggu tidak ada muncul.


"Sabarlah, sebentar lagi kita akan pulang. Sepertinya klien kita,telat datangnya". Gerutu Zakir,ia sudah terlihat gelisah.


"Sabarlah, mungkin macet kali". Jawab Al,ia mengetuk jarinya di meja."Atau ada masalah di jalan".


"Aaahh... sepertinya klien kita sudah datang". Bisik Dion, kepada Al.


Al dan Zakir, langsung menoleh. Benar saja klien mereka,sudah datang.

__ADS_1


Kini mereka saling berjabat tangan dan duduk ditempat yang sudah di sediakan. Mereka meminta maaf,atas keterlambatan datang karena ada musibah di perjalanan. Al, mendengar penjelasan mereka. Ia langsung memahami dan melanjutkan kerjasama mereka.


Hampir tiga jam, mereka melakukan meeting diluar. Ada rasa lega karena sudah selesai dan berjalan dengan lancar.


Lelah dan mengantuk, itulah yang di rasakan Al. Ia merentangkan kedua tangannya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ponselku". Gumam Al,ia langsung mengambil ponselnya. Benar saja,ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk.


Mata Al, membulat sempurna saat Laila meminta ijin kepadanya. Untuk bertemu dengan temannya, seorang pria.


"Sial,siapa pria itu? Sejak kapan, Laila punya teman pria segala". Gerutu Al,ia mencoba menghubungi Laila. Namun hasilnya nihil, Laila tidak menjawab panggilannya. Ingin sekali dia pulang,tapi sudah larut malam. Apa lagi dia sekarang,berada di luar kota.


"Sial,kenapa nomornya tidak aktif? Kemana dia,apa Laila masih bersama pria lain". Gerutu Al, sambil menggaruk kepalanya nyut-nyutan.


Al, begitu cemburu saat mendengar jika Laila bertemu dengan pria lain. Apa lagi nomornya tidak aktif,entah kemana sang tunangan.


Ia mencoba menghubungi Shelly,namun tak kunjung juga di angkat. Membuat Al, semakin frustasi.


Sedangkan Laila dan Shelly,tengah asyik-asyiknya nongkrong bareng di sebuah kafe. Mereka menikmati malam mingguan,tanpa pasangan. Mereka saling curhat dan ketawa-ketiwi,tanpa memikirkan perasaan Al yang tengah frustasi tidak ada kabar dari tunangannya.


"Sepertinya ponselku,mati". Ucap Laila,ia memasukan ponselnya ke dalam tas. aku yakin,Al pasti menghubungi ku.batin Laila.


"Ponselku, sepertinya di dalam mobil. Tadi lupa bawa,pulang yuk...udah malam nih". Ucap Shelly, langsung di angguki Laila.


Laila dan Shelly, membayar minuman mereka lalu pergi meninggalkan kafe.


"Sepertinya ponselku,juga mati. Sudah dua hari,tidak aku ces". Shelly, memeprlihatkan ponselnya mati.


"Hemm...kita pulang saja, siapa tahu. Ada yang menghubungi kita". kenapa hatiku jadi gelisah,aku yakin pasti Al marah ini.

__ADS_1


"Hemm.. palingan si,hemm...ehemm..yang cariin kamu". Kekehnya Shelly. Aku tahu Laila,jika kamu khawatir karena ponsel mati dan tidak tahu kabar dari Al.


Mobil membelah jalan raya,yang di kelilingi lampu-lampu jalan. Malam hari, terlihat cerah disinari cahaya bulan


__ADS_2