
Hari begitu cepat,dilalui.
Rea, mengelus lembut perutnya yang sudah berusia delapan bulan. Dia, tersenyum di pantulan cermin. Sebentar lagi,dia akan menjadi seorang ibu. Betapa bahagianya,ini adalah pertama baginya melahirkan anak.
"Kau sangat seksi dan cantik,". Kai,mencium pipi istrinya dan memeluknya erat.
"Hemmm...Semuanya sudah beres,tinggal menunggu waktunya tiba. Perlengkapan bayi, sudah dan serba pink. Sangat lucu dan menggemaskan sekali". Rea, tersenyum manis dan mengelus dada bidang suaminya.
Dokter menyatakan, bahwa anak Rea dan Kai adalah perempuan.
Mendengar berita tersebut, semua keluarga sangat bahagia.
"Benar sekali,aku sangat ingin menggendong dan mengajaknya bermain-main. Terimakasih, sudah menjadi seorang istri yang sabar menghadapi sikap ku" kai, menangkup kedua pipi Rea.
"sampai kapan, terus manja-manja? Katanya,mau berangkat kerja". Rea, memusut kepala Suaminya.
"Males,gak tau kenapa? Akhir-akhir ini,males kalo jauh darimu ay". Kekehnya Kai, tersenyum kecil.
"Kita ke sebelah dulu,ibu menggoreng singkong dan menyuruh kita ke sana".
"Baiklah,kita ke sebelah. Aku sudah lama,tidak memakan singkong. Berikan tanganmu, hati-hati jalannya". Kai, selalu perhatian dan sigap kepada istrinya.
Walaupun Rea, berpikiran kalau suaminya sangat berlebihan sekali. Dia,paham jika sang suami sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Yang sudah berbadan dua, perutnya yang besar dan sering sakit pinggul.
Sesampai di rumah orangtuanya, Rea menghampiri ibunya tengah menggosip di teras rumah depan.
"Apa apa,bu? Rame-rame". Tanya Rea, penasaran.
"Itu, Dewi sudah lama tidak pulang ke sini. Pas pulang, sudah melahirkan bayi. Para tetangga sudah menduganya, waktu acara nikahan Dewi kalau dia sudah berbadan dua. Lihatlah, gosipnya tersebar kemana-mana. Usaha orangtuanya,suami Dewi sudah bangkrut. Makanya, mereka tinggal bersama orangtuanya Dewi. Karena,tidak sanggup menafkahi mereka". Ucap bu Minah, merasa kasian kepada kakak iparnya itu.
"kalau suaminya, Dewi membutuhkan pekerjaan. Kemungkinan,aku bisa membantu bu. Asalkan, jangan menumpang dengan ku". Kata Kai, tersenyum kecil.
"Nak Kai, baru-baru ini. Dapat kabar,kalau suaminya Dewi gak bisa kerja. Dia,pemalas dan hanya meminta kepada orangtuanya. Maklum lah,anak tunggal manja". Sahut tetangga lainnya.
"Mana mau, bekerja keras. Bisa-bisa, Dewi malah bekerja nantinya". Sahut yang lainnya.
"Gak lama lagi, meminta bantuan sama kalian Minah. Aku yakin itu,kalau tetangga lainnya. Yah... Ogah, termasuk aku". Timpal lainnya, juga.
Bu Minah,hanya menghembuskan nafas beratnya. "Sudah biasa,bu. Kalau,kami minta bantuan pasti beribu-ribu alasan".
__ADS_1
Bu minah,merasa kesal dengan keluarga suamiku. Saat mereka kesusahan, tidak ada membantunya. Untung saja, memiliki tetangga baik.
"Ya sudah,kita masuk ke dalam. Keburu dingin, singkong gorengnya". Bu Minah, langsung mengajak anak dan menantunya ke dalam rumah.
Kai dan Rea, menikmati singkong gorengnya. Apa lagi, cocolan petinya lumayan pedas.
"Malam nanti,ibu mau menjenguk keadaan Dewi dan ingin melihat anaknya. Orang bilang, anaknya laki-laki dan meminum susu formula. Karena Dewi,ogah menyusui anaknya. Alasannya,takut merusak tubuhnya". Bu Minah,tak habis pikir dengan keponakannya.
"Rea, kalau kamu gak mau menyusui anak kita. Gak papa,pakai susu formula. Uangku banyak, untuk membeli susu formula yang terbaik". Sahut Kai, tersenyum kecil.
Membuat bu Minah dan Rea,hanya melongo mendengar ucapan Kai.
"Eeee...kenapa,aku salah bicara kah". Tanya Kai, menghentikan suapan singkong nya.
"Gak,aku tetap memberikan ASI kepada anakku. Selagi air susu,mengalir deras. Ngapain, pakai susu formula". Rea, langsung menolak perkataan Suaminya.
"Kalau ibu, terserah kalian. Bagaimana,baiknya". Kekeh bu Minah, tersenyum kecil.
"Ibu,kenapa gak bela aku sih". Rengeknya Rea, cemberut.
"Bu,aku ini menantu kesayangan ibu. Bela akulah,bu". Kai,juga ikut merengek meminta belaan dari bu Minah.
"Baiklah,aku akan membeli susu formula terbaik di dunia ini". Kai, tersenyum sumringah.
"Tidak,aku tetap. memberikan ASI untuk anakku,tidak ada yang membantah perkataanku ". Tegas Rea, tersenyum smrik.
"Sayang, bukankah itu milikku...huuu....huuu...kenapa,dia berikan kepada dia". Kai, memeluk erat tubuh istrinya.
"Kak,kamu apa-apaan sih? Bikin malu aja,ada ibu". Rea,mencoba melepaskan pelukan suaminya. "Maaf,bu. Akhir-akhir ini,dia manja sekali".
Bu Minah,hanya cengengesan melihat kelakuan anak dan menantunya. "Gak papa,ibu paham kok".
"kakak, lepaskan pelukan mu". Rea, sesekali mencubit lengan Suaminya.
"Tidak, berjanjilah untuk tidak memberikan itu kepada anak kita. Karena ini, milikku,". Kai, terus membenamkan wajahnya di dada istrinya.
"Kakaaaaaak.....". Rea, berteriak keras. Karena Kai,meremas satu gundukan miliknya.
"Ibu,gak lihat". Kata bu Minah, langsung meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Astaga, ada-ada saja kelakuan mereka.
__ADS_1
**************
"Masuk". Bu Wahdah, membuka pintu rumahnya. Saat bu Minah,anak dan menantunya bertamu ke rumahnya di malam hari.
"Makasih,mbak". Ucap bu Minah, masuk kedalam dan diiringi Kai, Rea.
"Aku gak bikin,minuman sama cemilan. Kalian,cuman bertamu kan. Apa lagi,orang dekat gak jauh-jauh amat. Gini dong, bertamu bawa kue kering". Ucap bu Wahdah, mengambil kresek di tangan bu Minah.
Kai,hanya bersabar mendengar ucapan bibi istrinya itu.
"Dewi,ini untuk anakmu". Rea, memberikan dua kresek berisi tiga kotak susu formula dan baju untuk anaknya.
"Makasih, cuman anakku yang di kasih. Apa aku,gak". Tanya Dewi, tersenyum kecil.
Rea,hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya.
Di ruang tamu,juga ada suaminya Dewi. Kai, sempat menggeleng kepala. Karena suami Dewi,hanya santai-santai sambil bermain ponsel. Sepertinya,dia sedang bermain game online.
Kai, mendekati suami Dewi. Dia, ingin mengajak berbicara tentang pekerjaan. siapa tahu,suaminya Dewi memerlukan bantuannya.
"Satria, boleh kita berbicara sebentar". Tanya Kai, langsung. Sedangkan Satria,masih bermain game online.
"Hemmm... bicaralah,aku pasti mendengarkannya". Jawab satria, dengan wajah tegang.
"Apa,kamu memerlukan pekerjaan? Aku,bisa memasukkan mu di perusahaan ku". Kai,masih tetap tenang. Walaupun, satria masih tidak sopan. Astaga, Dewi mendapatkan suami macam apa ini? Orang berbicara serius, dia masih fokus dengan permainannya.
"Oh,tidak perlulah. Aku,masih memiliki uang banyak. Kalau habis,tinggal minta dengan orangtuaku. Ngapain, capek-capek kerja". Jawabnya satria, membuat yang lainnya tercengang.
Kai,hanya menghela nafas panjang. "Oh, baiklah kalau begitu". Kini Kai, tidak lagi berbicara.
Bu Wahdah, merasa malu kepada adik iparnya. Ada rasa kesal, karena satria suka seenaknya. Sedangkan Dewi,hanya menangis tak bersuara. Rea, mencoba menenangkan Dewi.
"Aku merasa malu, denganmu Minah. Aku minta maaf,atas kesalahan ku". Bu Wahdah, terlihat menangis dan secepatnya menghapus air matanya.
"Mbak,jangan sedih karena kami ada. kita adalah keluarga, masalah yang sudah berlalu. sudah aku maafkan, Mbak". Bu Minah, merasa iba kepada kakak iparnya.
Walaupun,masa lalu yang kelam. Sudah menyakitinya, dulu. Akan tetapi, bu Minah tetap mendoakan agar kakak iparnya. Cepat sadar dan tahu,apa yang salah.
Begitu juga, Dewi. Dia, menangis dan meminta maaf kepada Rea. Selama ini,dia selalu berbuat salah kepadanya. Tentu saja, Rea memaafkan kesalahannya. Biarlah, semua berlalu pergi.
__ADS_1
Kai dan Rea, bergantian menggendong anak Dewi. Ada canda tawa, di antara mereka. Sedangkan Satria,masih bermain game online. tak memperdulikan lagi, dengan sekitarnya.