
Prangggg....
Rea, terkejut mendengar sesuatu yang pecah di dalam kamarnya.
Secepatnya, Rea masuk dan melihat mangkok bubur pecah kemana-mana.
Tanpa berkata apa-apa, Rea langsung memungut pecahan mangkok di lantai. "Aaauukkk.... Sssshhhhh...". Tangannya,terluka dan kaca menusuk di telapak tangannya. "Sial,". Gumam Rea,darah segar mengalir di tangannya.
"Rea...kamu". Kai, langsung memegang tangan istrinya yang berdarah. "Maaf, ini semua karena aku".
"Tidak, apa-apa". Rea, beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia, membersihkan luka di telapak tangannya.
Selesai membersihkan lukanya,dia melihat Kai dengan pelan membersihkan lantai yang kotor.
"Kakak, berbaringlah. Aku saja,yang mengerjakan semua ini. Kakak, sedang sakit". Rea, merebut lap di tangan suaminya.
Akan tetapi kai, malah menangkap tangan istrinya. "bagaimana, keadaan Ade? Apa dia, baik-baik saja".
Rea, langsung mengerutkan keningnya dan merampas lap di tangan Kai. Dia, langsung membersihkan lantai. "maaf, maksudnya apa? Ade, emangnya dia kenapa".
Sekarang kai,malah tercengang mendengar ucapan istrinya. "Eeee... bukankah, kamu tadi pergi kerumah sakit".
"Rumah sakit? Lalu, siapa yang sakit kak. Ngapain,aku pergi dan keluyuran. Sedangkan, suamiku berbaring lemah". Jawab Rea, masih kebingungan kemana arahan pembicaraan suaminya itu.
Kai, langsung mengambil ponselnya dan terlihat layarnya retak. "Lihatlah,ini pesan yang kamu kirim kepadaku". Kai, memperlihatkan pesan WhatsApp kepada Rea.
"Layarnya,kenapa pecah".
"Aku banting,karena mu Rea". Jawab Kai, langsung.
"Astagfirullah,siapa yang mengirimkan pesan ini? Aku tidak kemana-mana,kak? Sumpah,aku lama karena antri bubur. Soalnya ,banyak yang beli juga. Saat aku pulang,kakak tidak sadarkan diri di bawah. Aku tidak meminta bantuan, kepada siapapun. Takutnya,ayah dan ibu malah syok". Rea, menjelaskan semuanya. Akan tetapi, Rea dan Kai kebingungan. Siapa pelakunya, sudah membuat kesalahpahaman antara mereka.
"Jadi,ada seseorang yang mencoba menggoyahkan rumah tangga kita. Siapa saja,yang kamu temui saat pergi membeli bubur tadi pagi". Tanya Kai, berharap mendapatkan informasi.
"Ada,tetangga sebelah. Dia,nanya mau kemana? Aku jawab,mau ke depan untuk membeli bubur". Jawab Rea, langsung.
__ADS_1
"Berarti, benar. Ada seseorang,yang menguping pembicaraan kalian. Aku yakin, pelakunya Lilis". Kai, mencurigai Lilis pelakunya.
"Bisa jadi, dia mendengar ucapan ku. Terus,dia menggunakan nomor baru atau nomor orang lainnya". Sahut Rea. "Lalu, bagaimana dengan Elvina? Apa dia, sudah berhenti".
Kai,nampak gelisah dengan pertanyaan Rea. "Belum,dia,dia...".
"Cukup,kak. Aku tahu,apa alasannya". Rea,nampak kecewa lagi kepada suaminya itu.
"Sayang,aku tidak semudah itu. Untuk memecatnya,dia sudah menandatangani kontrak kerja. Tidak sembarang,aku mohon mengertilah. Asal kamu tahu,aku sudah mengingat semuanya". Ucap Kai, dengan lembut. Tangannya, memegang kedua bahu Rea.
Mata Rea, membulat sempurna. "Kakak,ingat semuanya. Kakak, tidak berbohong".
"Tidak,aku ingat semuanya. Maafkan aku, Rea. Maaf,aku janji tidak akan menemui dia lagi. Aku akan bekerja, dirumah saja. Sebelum Andrew, mendapatkan tanda tangan kontrak Elvina. Aku serahkan semuanya, kepada Andrew". Kai, tersenyum manis dan menatap bola mata sang istri.
"Baguslah,kakak sudah mengingat semuanya". Rea, memeluk erat tubuh suaminya itu.
Terimakasih, atas semuanya sayang. Sejauh ini,kamu masih bisa memaafkan semua kesalahan ku. Maafkan, aku rea. Memeluk erat tubuh, istrinya.
**************
"Baik, sangat baik. Bahkan,uang yang aku pinjam untuk ibu. Tidak perlu,di bayar. Bahkan, gajihku full bulan ini. Akan tetapi, Rea sangat beruntung memiliki suami seorang CEO. Aku ingin sekali, merebutnya bu dan membuat dia tunduk kepada ku. Jika aku,bersama suaminya Rea. Sudah pasti, hidup kita bergelimang harta". Ucap Lilis,kepada ibunya.
Lilis,di berikan jatah libur selama tiga hari. Dalam kesempatan liburannya,dia meminta pulang kampung. Katanya,rindu rumah dan keluarganya di sana.
"Wahhh...ibu, bakalan memiliki mantu kaya raya dong. Ya sudah, buktikan kemampuan mu nak. Pepet terus, suaminya Rea dan berikan perhatian penuh kepadanya". Bu Bidah, malah menyetujui rencana anaknya.
"Masalahnya adalah,dia sangat dingin bu. Susah untuk di taklukan,apa lagi. Dia, sangat mencintai Rea. Itu,yang bikin kesal". Decak Lilis,yang terobsesi dengan Kai.
"tenanglah,ibu memiliki seseorang yang bisa membantu kita". Kata bu Bidah, tersenyum smrik. Lilis,juga tersenyum sumringah mendengar ucapan ibunya.
Kedatangan Lilis, membuat para tetangga iri kepadanya. Baru satu bulan, bekerja. Penampilan Lilis, sungguh berubah drastis.
Para tetangga di kampungnya,memuji dirinya.
Saat ini,bu Bidah membawa anaknya ke ujung kampung. Melewati pohon rindang dan tidak ada rumah penduduk sama sekali.
__ADS_1
Lilis, merasa ketakutan saat ini. Entah kenapa,ibunya membawa ke tempat tujuan seperti ini. Setiap kali, Lilis bertanya-tanya kemana tujuan? Bu Bidah, selalu menyuruh Lilis diam.
Hingga akhirnya bu Bidah dan Lilis, berhenti di sebuah rumah kecil dan terlihat terawat dengan baik.
"Ru-rumah siapa,bu". Tanya Lilis,yang sudah gemeteran dari tadi.
"Hussssttttt....ikuti saja,apa kata ibu". Kedip mata bu Bidah,mulai mengetuk pintu rumah itu.
Tok....Tok....Tok...
"Mbah...Mbaaahhh....". Bu Bidah, beberapa kali memanggil seseorang yang di sebut Mbah.
Lilis, masih calingukan melihat sekeliling hutan.
Kreeekk....
Pintu kayu, terbuka lebar. Terlihat, sesosok pria yang bertubuh besar dan berbulu lebat. Apa lagi, kumis dan janggut panjangnya. Lilis, bergidik ngeri melihat penampilan pria di hadapannya itu.
"Masuk....". Ucap pria itu, langsung.
Bu Bidah,menarik tangan anaknya. Agar masuk ke dalam rumah,pria yang menyuruh mereka tadi.
"kenalkan,dia adalah mbah dukun Karso. Ibu,yang meminta air untuk mu. Agar secepatnya, mendapatkan pekerjaan enak. Terbuktikan,kamu dapat pekerjaan enak". bu Bidah, menjelaskan kepada anaknya. Lilis,yang sedari tadi hanya diam dan mengangguk saja.
"Hahahaha....bagus,bagus. Akhirnya,anakmu sudah berhasil ternyata. Lantas, kenapa ke sini lagi". Ucap Mbah Karso, tersenyum lebar. Seakan-akan,dia tidak tahu apa-apa.
"Begini Mbah,anak saya jatuh cinta dengan menantu majikannya. Akan tetapi,pria itu tidak menyukai anak saya". Ucap bu Bidah,tentu saja mbah karso paham maksudnya.
"Iya,mbah. saya ingin,pria itu jadi milikku Apapun caranya,akan saya lakukan". Lilis , langsung mengungkapkan keinginannya.
"Hahahaha....itu, sangat sulit sekali. Akan tetapi,mbah bisa melakukannya. Asalkan,kamu harus mengikuti ritual yang harus di lakukan". Kata mbah karso, sambil mengelus-elus janggut panjangnya.
Glekkk...
Sebenarnya, Lilis ragu dengan mbah dukun di hadapannya. takutnya,malah dukun cabul yang mencari keuntungan saja. Demi sang pria yang di cintainya,dia harus rela melakukan apapun. Walaupun, tidak berhasil. Bukankah, berusaha lebih baik dari pada tidak.
__ADS_1
"Lilis, sanggup Mbah". Jawab Lilis, dengan mantap. Bu Bidah, tersenyum lebar. Dia, tidak sabar menjadi orang kaya dan bergelimang harta. Sedangkan mbah karso,hanya tertawa terbahak-bahak mendengar persetujuan Lilis.