
Ting....Nong...Ting... Nong....
Bunyi bel rumah berbunyi, bertanda ada tamu yang datang.
Laila,yang sudah bangun sedari tadi hanya mendengar suara bel. Namun tidak ada yang membukanya,ia melirik ke arah jam. Masih jam lima pagi,ia penasaran siapa bertamu sepagi ini.
"Siapa sih? Tamu sepagi ini,apa keluarga Shelly? Mana mungkin, bukankah orangtuanya baru lusa akan datang". Laila, menurun anak tangga dan menuju ke arah pintu luar.
Ceklekk.....
Pinta terbuka, terlihat sesosok pria tengah berdiri tegak dan tersenyum sumringah ke arah Laila.
"Al..? Ngapain sepagi ini,kamu ke sini". Tanya Laila,ia keluar dan menutup pintu.
"Darimana saja? Aku sudah lama berdiri di sini, nomor ponselmu juga tidak bisa di hubungi". Tanya Al,ia Menarik lengan Laila dan masuk ke dalam mobil.
Laila,hanya menuruti kemauan Al. "masuk ke dalam saja, ngapain ke dalam mobil". Tanya Laila, dengan perasaan campur aduk.
"Katakan kenapa tidak aktif nomor ponsel mu,hemm...aku khawatir,makanya ke sini. Mana nomor Shelly,juga tidak aktif. Kompak banget, sedangkan aku kalang kabut kepikiran tentang kau dan pria itu". Ucap Al, dengan tegas. Ia masih memegang erat telapak tangan Laila.
"satu-satu ke kalau nanya,aku bingung jawab yang mana". Kekehnya Laila,ia tersenyum manis.
"Oke,kenapa nomor mu tidak aktif". Kata Al, dengan lembut.
"Astagfirullah,maaf Al. Aku lupa, sebenarnya malam tadi aku dan Shelly. Sempat nongrong di kafe,biasa perempuan. Pas cek ponselku, ternyata baterainya habis. Terus,kami pulang dan aku ces ponsel. Mungkin aku kecapean makanya ketiduran,gak sempat menghidupkan ponselku. Maaf yah....aku sudah buat kamu khawatir". Kata Laila, tersenyum manis.
Al,hanya tersenyum kecil dan menghembuskan nafas beratnya. "Berapa jam,kau dan pria itu bertemu".
"Palingan cuman sejam, itupun sambil makan. Kami hanya membicarakan masa lalu,biasa tentang sekolahan". Jawab Laila, ia tahu jika Al cemburu.
"Cuman satu jam? Ck,". Decak Al,ia langsung membenarkan posisi duduknya.ia tak lagu berhadapan dengan Laila.
"Al, jangan marah dong. Kami cuman berbicara tentang masa sekolahan dulu,tak ada yang lain". Laila, mencoba membujuk Al. Jangan bilang Al, marah karena aku bertemu dengan temanku kemarin. "Jangan ngambek dong, bukankah aku Sudah minta ijin. Lagian kamu,juga kemana? Aku telpon dan kirim pesan,gak di balas".
"Aku sibuk,ada klien kemarin. Ponselku juga ketinggalan di kamar hotel,aku lupa". Jawab Al, tanpa menoleh ke arah Laila.
__ADS_1
"ya sudahlah,aku masuk dulu. Daripada di sini,kamunya ngambek denganku". Kata Laila,saat hendak membuka pintu mobil. Secepatnya Al, menghentikan Laila.
"Hanya itu,kau tidak membujukku.hemm... malah main kabur,aku cemburu Laila. Apa lagi kamu,tidak bisa di hubungi. Aku jadi khawatir,". Lirih Al,tepat di belakangnya.
Hembusan nafasnya terasa di telinga Laila, walaupun terhalang hijabnya. Namun masih terasa,ada rasa gugup dan jantungnya berdegup kencang.
Al,ingin memeluk tubuh Laila. Sepertinya, Laila baru selesai mandi. Karena aroma sampo dan sabun,masih tercium di hidung Al. "Kau sangat wangi, Laila. Sepagi ini,kau sudah mandi".
Glekkk.....
Sontak membuat tubuh Laila, seketika menegang. Tangannya juga gemeteran,saat Al mengucapkan kata itu tepat di telinganya.
Melihat ketegangan Laila,Al baru sadar jika sang pujaan tidak merasa nyaman dengan posisi saling berdekatan seperti ini. Ia mengundurkan tubuhnya dan memberikan ruang kepada Laila. "Maaf,aku membuatmu tidak nyaman".
Laila,hanya mengangguk dan tersipu malu-malu. "Terimakasih,kau sudah menghawatirkan diriku".
Mendengar ucapan Laila,Al tersenyum. "Hemmm...aku sangat mencintaimu, Laila. Aku ingin....."
"Hussssttttt....jangan di teruskan lagi,aku tahu. Maaf, beri waktu sedikit lagi,". Pinta Laila,kepada Al. Maafkan aku,Al. Bukannya aku tidak mau, secepatnya kita menikah. Setidaknya, aku mencari aman dulu.
Al,hanya tersenyum kecil karena kecewa mendengar jawab Laila. Walaupun dia tahu,jika Laila mau menikah dengannya. " Maaf, aku akan selalu menunggu kepastiannya Laila. Asalkan kau selalu untukku,".
"Baiklah,aku juga ingin pulang. Ada yang harus aku bahas, dengan mamahku. Masalah pekerjaan,bukan masalah kita". Kata Al, ia tahu jika Laila sangat takut membongkar hubungan mereka kepada Ayunda.
"Baiklah, hati-hati di jalan". Laila, langsung turun dari mobil dan meninggalkan Al.
Al, menghidupkan mobilnya dan melambaikan tangan. Begitu juga Laila, menatap kepergian Al.
Saat Laila,membuka pintu rumah. "Ciyeehh.... ciyeehh... Pagi-pagi di apelin, uhuuyyy....". Kekehnya Shelly, sempat mengintip mereka berdua.
"Apaan sih?". Jawab Laila,ia tersipu malu dengan Shelly.
"Biasa aja kali,aku pernah gitu. Heemm....eheemm...." Shelly, menggoda Laila. "yukk...kita buat sarapan pagi". ajaknya dan langsung di angguki Laila.
**********
__ADS_1
Al, tersenyum senang karena sudah mengobati rasa rindu kepada Laila.
Beberapa menit kemudian, akhirnya sampai di depan rumah sang ibu.
"Sepagi ini,kamu sudah pulang? Kok bisa". Ayunda, menaruh curiga kepada anaknya.
"Ck, curigaan banget sama anaknya". Gerutu Al,ia terduduk di sofa dan melonggarkan dasinya.
"Sepertinya, kamu belom mandi. Lihatlah, pakaian mu masih pakaian kerja. Iiissss... baunya, sebelum pulang mandi kek". Sungut Ayunda, kepada anaknya.
"Mah,aku buru-buru makanya gak sempat mandi. Semuanya sudah beres dan berjalan dengan lancar, mereka senang bisa bekerja sama dengan perusahaan kita. Lelah sekali,mamahku sayang. Al,boleh tidak? Masakan opor ayam spesial untuk ku". Rengeknya Al,ia merebahkan kepalanya di atas paha sang ibu.
Ayunda, tersenyum dan mengangguk sambil mengelus-elus kepala anaknya. "Baiklah, mamah akan memasakkan untukmu. Ngomong-ngomong soal Laila,apa kamu tau dia dimana. Mamah,ingin menanyakan langsung kepada Laila. Tapi,lupa".
"Laila,tinggal di rumah Shelly dan kerja di hotel orangtuanya Shelly. Kenapa mamah,gak nanya langsung ke Laila kan bisa kirim pesan atau telpon ". Tanya Al, kepada Ayunda.
"Nah itu, masalahnya nomor Laila gak aktif. Sepertinya,dia ganti nomor atau Ponselnya hilang. Baguslah,kalau Laila dapat pekerjaan jauh lebih baik. Mamah,juga dukung jika Laila pergi dari rumahnya. Karena Tantenya, kelihatan banget mau memanfaatkan keadaannya". Gerutu Ayunda, sebenarnya dia pernah di posisi Laila. Di perlakukan seperti itu,hanya memanfaatkan kebaikan.
"Pergiiiiii,badan sudah gede. Masih aja manja". Usir J,agar Al cepat bangun tidak tiduran di atas paha Ayunda. J, langsung menjauhkan kepala Al dari paha istrinya.
"Pah,aku cuman rebahan di paha mamah doang,jadi bantalan Al. Gitu aja marah,dasar pria tua". Ejek Al, tersenyum smrik.
"Tua-tua begini,papah bisa membuat mamahmu tak berdaya. Jangan-jangan kau kalah denganku,". Kini J, membalas ejekkan Al.
"Tenang papah,aku jauh lebih muda dan lebih kuat. Lihat saja nanti,aku langsung mencetak gol langsung dua". Jawab Al,ia tersenyum sumringah. Wahhh... pria tua ini, benar-benar menantangi ku rupanya.
"Alahhhh... buktikan dong, jangan ngomong doang. Minggir-minggir,sana". Usir Al,kepada Al.
Al,hanya pasrah dan menjauhkan diri dari sang ibu. Ayunda,hanya menggeleng kepala melihat kelakuan suami dan anaknya.
"iya, bakalan aku buktikan nanti". Tantang Al, dengan santainya. Ck,jangan ragukan kejantanan seorang Al. akan aku buat kewalahan menghadapi, brutalnya aku saat malam pertama.hahahaha....
"Nanti? Sekarang dong, pengecut sekali jadi seorang pria". Ejek J,ia menyunggingkan senyumnya.
"Astagfirullah,J jangan bicara macam-macam. Gak baik,ingat Al jangan aneh-aneh". Sahut Ayunda, dengan geram. heran deh,ada aja yang di ributkan.
__ADS_1
"Papah tuh,yang bikin geregetan mah". Decak Al,ia beranjak pergi meninggalkan kedua orangtuanya. Untung sayang,kalau gak yah gak berani aku. Aaahh...gangguin Kai,lama gak membuat rusuh dengan adik tersayang .batin Al.
"Huuuu....cemen". Ejek J,namun dapat tamparan keras di pahanya oleh Ayunda. Ayunda, menatap tajam ke arah J. kini J,hanya diam dan tersenyum sumringah melihat seringai tajam sang istri.