ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Detik-detik


__ADS_3

Hari demi hari, berlalu.


Laila, menyiapkan dirinya untuk besok hari menjadi pengantin wanita. Sekarang dia berada di sebuah hotel,dimana letak acara pernikahannya besok. Ia tengah bersantai sendiri,tanpa seseorang yang menemaninya.


Senyuman mengembang di bibirnya,ia sudah mendapatkan jodohnya. Tuhan, mengabulkan doa-doanya untuk di pertemukan dengan imamnya kelak dan membina rumah tangga bersama.


Seperti mimpi,dimana aku dan Al akan membangun keluarga kecil kami nanti. Tapi,aku tak ingin semua itu hanyalah mimpi. Alhamdulillah,aku di pertemukan dengan imamku. Semoga acara besok, berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun.batin Laila,ia tersenyum manis saat memandang gaun pengantin di kamarnya.


Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunannya. Laila, segera menuju pintu dan membukanya. Tak lupa mengintip di lubang kecil dan terlihat Shelly,yang di balik pintu tersebut.


Ceklekk.....


"Haiii...". Shelly, melambaikan tangannya dan tersenyum sumringah. "Kau tahu,aku sampai lupa nomor berapa kamar hotelmu". Ocehan Shelly. "Sungguh luar biasa,aku tercengang dengan dekorasi pelaminan mu besok. sangat indah dan lampu-lampu kristal menghiasi langit-langitnya. Tak sabar untuk besok, melihat kamu duduk di pelaminan".


"Ayo,masuk... pantesan lama,kenapa tidak menghubungi aku saja. Aku bisa menjemput mu,". Tanya Laila,kini mereka duduk di sofa.


"Tidak,kau besok akan menjadi pengantin wanita. Aku tidak mau, merepotkan dirimu. Bahkan,aku gelisah dan mencemaskan keadaan mu". Jawan Shelly, ia tersenyum.


"Mencemaskan aku,kenapa? Aku baik-baik saja,kau jangan terlalu lebay". Kekehnya Laila, kebetulan sekali dia sendirian di kamar hotel.


"Astaga,kau tidak cemas begitu? Kau akan menikah dengan Al,kau tahu siapa dia? Jangan bodoh Laila,kau sendirian di kamar ini. Seharusnya,kau khawatir dan takut. Karena Al, seorang pembisnis ternama dan terkenal. Banyak wanita-wanita cantik, yang menginginkan dirinya. Siapa tahu,ada seseorang yang berniat jahat. Lalu seseorang itu, tiba-tiba menculikmu". Kata Shelly, seketika Laila membeku.


Awalnya,dia tak mengkhawatirkan keadaannya dan tidak ada rasa takut sama sekali. Hanya merasa gugup dan gelisah,karena besok hari. Ia bahkan, tidak memikirkan sejauh itu. Mendengar ucapan Shelly,ia merasa takut sekali.


"Kau,kau menakutiku. Jujur,aku tidak sampai kepikiran ke situ. Hampir saja,aku melakukan kesalahan". Kini Laila, terlihat sedih. Secepatnya, Shelly memeluk tubuh Laila.


"Tenanglah, semoga tidak apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, mungkin kau besok tidak jadi menikah". Kekehnya Shelly,namun dia dapat pukulan di lengannya.

__ADS_1


"Kau senang, aku tidak jadi menikah? Huuufff... kau jahat sekali ". Gerutu Laila, kepada Shelly.


"Aku yakin,Al dan teman-temannya. sudah pasti mengamankan seisi hotel ini,mana mungkin Al hanya diam saja. Kau sangat berarti baginya, Laila". Kata Shelly, ia memainkan kedua alisnya. "Ciyeehh.....besok nikah,malam pertama nih".


"Apa-apaan sih? Gak usah berpikiran negatif deh,kamu juga bisa nanti. Gak lama,dua bulan lagi bakalan nyusul nih". Laila, menggoda Shelly. Ia mencolek-colek lengannya, mereka tertawa lepas bersama.


Ting....Nong...Ting.. Nong...


Glekk...


Suara bel kamar berbunyi, membuat Laila dan Shelly ketakutan.


"Siapa,apa kamu ada janji dengan seseorang". Tanya Shelly,kepada laila.


Namun Laila,hanya menggeleng kepalanya. "Sebenarnya,ada janji malam nanti. Setauku,anak buah yang merias aku besok. Dia mau menghias kuku dan tanganku. Biar besoknya,gak buru-buru banget. Acaranya pagi kan,akad nikah terus di lanjutkan dengan resepsi pernikahan nya. Aku juga,tidak ada memesan makanan".


"Ponsel kamu, juga tidak berbunyi. Berarti orang yang di balik pintu itu,bukan orang yang kita kenal". Shelly, langsung menggogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Untuk mencari bantuan kepada Herman, takutnya ada orang yang ingin berbuat jahat.


"Oke, kita intip deh". Shelly, langsung mendekati pintu kamar dan mengintip di lubang kecil.


"Shelly,kau tahu siapa? Ayo, katakan". Laila, langsung bergegas menggeser posisi Shelly. Ia juga ingin mengintip dari lubang kecil, namun hasilnya nihil. "Tidak ada,orang. Terus,siapa dong".


Shelly, melirik ke arah Laila. "Gak mungkin,kalau orang lain. Bukankah,hotel ini sudah di jaga ketat". Gumamnya.


"Mungkin saja,ada orang yang iseng atau....Aaahh, sudah lah. Aku hubungi Al,biar dia bisa menghubungi penjaganya". Laila, berlalu dan mengambil ponselnya.


Shelly,yang sesekali mengintip di lubang kecil dan tidak melihat siapapun. Apa jangan-jangan Kenny,atau wanita lainnya. Gawat,aku harus menghubungi Herman juga.batin Shelly.

__ADS_1


"Al,tidak mengangkat telpon ku". Kata Laila,kepada Shelly.


"Sebentar,aku sedang menghubungi Herman. Ponselnya,memang berdering tapi tidak di angkat. Ada apa dengan mereka,kemana mereka". Decak Shelly,ia begitu kesal.


"Zakir dan Dion, mereka sama tidak mengangkat telpon ku. Apa lagi mamah Ayunda, nomor mereka aktif semua.tapi,kemana coba? Gak ada yang mengangkat telpon kita". Gerutu Laila, ia duduk lemas di sofa.


"Benar-benar keterlaluan,kemana mereka? Sampai telpon ku,juga tidak di angkat" Shelly, duduk di samping Laila.


Mereka berdua saling meletakkan ponselnya, di atas meja. Beberapa saat kemudian....


Ting.....Nong....


Glekkk...


Laila dan Shelly, langsung menatap ke arah pintu yang baru saja ada seseorang memencet bel. " Siapa sih? Iseng banget,deh". Gerutu Shelly,ia beranjak berdiri. "Aku akan membuka pintu dan mengeceknya. Kau di sini dan kunci pintu kamarnya,jangan membuka pintu siapapun. Sebelum aku,datang".


"Tidak,aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Bisa saja, mereka ingin mencelakakan diriku. Aku tidak mau, malah kau yang celaka". Laila, langsung mencegah Shelly. "Biarkanlah,dia iseng selalu memencet belnya. Sampai dia bosan,kita di dalam saja. Agar aman,oke".


Shelly, semakin gelisah. Apa lagi kedua orangtuanya, tidak mengangkat telpon darinya. Bel kamar terus-menerus berbunyi,namun tak mereka hiraukan.


Laila,juga semakin gelisah. Entah kenapa,tidak ada satupun yang mengangkat telpon darinya. Laila, bertambah ketakutan saat ganggang pintu kamar nya berbunyi. Seakan-akan,ada seseorang yang memaksa masuk dan mendobrak pintu juga.


Mereka panik sekali,apa yang harus dilakukan. "Shelly, bantu aku mendorong lemari ini". Teriak Laila, sedari tadi Shelly menahan pintu.


"Baiklah,aku ke sana. Semoga pintunya, tidak kenapa-kenapa". Shelly, bergegas membantu Laila yang sedang kesusahan mendorong lemari.


Susah payah, mereka mendorong lemari menuju ke arah pintu. Saat lemari sudah menahan pintu, tidak ada seseorang mendobrak pintu kamar tersebut. Hening seketika dan tidak ada juga orang yang memencet bel.

__ADS_1


Kini Laila dan Shelly, merasa tenang. Hanya tersisa kelelahan saja dan berbaring di atas ranjang. "Sumpah,aku takut sekali Laila. Seandainya,aku di culik. Aku harus jawab apa? Apa lagi menghadapi Al, bisa-bisa kepalaku melayang". Kata Shelly, nafasnya masih ngos-ngosan.


"Apa jangan-jangan Kenny,kan dia mantan Al. Siapa tahu aja,dia iseng untuk nakutin kita". Laila, hanya menerka saja. Shelly, langsung bangkit dan duduk. ia terkejut dengan ucapan, Laila.


__ADS_2