ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Kedatangan Seseorang (S2)


__ADS_3

"Ck,uang kemarin buat beli ponsel baru ternyata". Ucap Rea, melihat ponsel Lilis di atas meja makan. "Yang rajin kerjanya, jangan malas-malasan".


Lilis, hanya diam sambil mencuci piringnya.


"Jam berapa kamu bangun, Lis? kenapa, cucian baju masih menumpuk". Tanya Rea, berdecak kesal. r


Karena pekerjaan rumahnya, sudah selesai. Rea, langsung mencuci baju-baju orangtuanya. Tinggal di masukin,ke mesin cuci dan tidak perlu di kucek-kucek juga. "Kenapa,gak di jawab Lis? Jangan-jangan kamu,baru bangun". Tanya Rea,lagi.


"Terserah aku,mau bangun kapan Rea. Jangan mengurusi ku, orangtuamu saja tidak masalah jika aku bangun kapan. membersihkan rumah ini kapanpun,aku mau juga". Jawabnya, Lilis tersenyum smrik.


"Ha? Kamu di sini kerja, Lis. Kalau,suka seenaknya saja. Lebih baik,kamu pergi gihhh....gak usah kerja,anggap saja kamu pembantu dan orangtuaku majikan mu. Jangan sok belagu,deh. Di biarkan,malah ngelunjak ".


"Aku kerja dengan orangtuamu,bukan kamu Rea. Gak usah, kamu ngomong macam-macam segala". Bentak Lilis, langsung meninggalkan Rea yang masih berdiri.


Rea,hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lilis. "Bisa-bisanya sih,ibu mengerjakan keponakan seperti dia". Gerutu Rea, ingin sekali dia mengacak-ngacak wajah Lilis itu.


Rea, melanjutkan pekerjaannya. Dia, semampu mungkin meringankan pekerjaan ibunya. Apa lagi,sang ibu sering sakit-sakitan.


"Loh,kamu nyuci baju ayah dan ibumu? Mana Lilis,kenapa kamu mengerjakan tugas ini". Kai, menghampiri istrinya itu.


"Tidak tau,dia sok belagu banget kak". Jawab Rea, tersenyum kecil.


"Bentar,aku cari Lilis. Masa,dia enak-enak makan gajih semata". Gerutu Kai, langsung menuju ke luar. Kai, calingukan mencari sesosok Lilis. Dia, berhenti di depan pintu kamar Lilis.


Beberapa kali, Kai menggedor-gedor pintu kamar Lilis. Akan tetapi, tidak ada jawaban apapun. "Keluarrrr... Apa perlu,aku dobrak pintu ini". Teriak Kai,yang sudah emosi.


Ceklekk.....


"Ada apa,sih? Ganggu aja". Lilis, nampak berdecak kesal karena di ganggu Kai.


"Pekerjaan kamu, masih banyak. Kenapa,malah santai-santai di kamar ha? Apa perlu,aku mengantar mu pulang. Sekalian, aku membongkar semuanya. Bagaimana, kelakuan kamu ha". Bentak Kai, suaranya sampai terdengar ke luar.


"Nak Kai,ada apa ribut-ribut". Pak Broto, langsung menyusul ke sumber suara itu.

__ADS_1


"Lilis, dia tidak mau mengerjakan tugasnya Ayah. Dia,malah mendiamkan diri di dalam kamar. Sedangkan Rea, mengerjakan tugas dia". Tunjuk Kai, langsung.


"Paman,aku...aku cuman,ada perlu tadi di kamar". Alibi Lilis,yang tertunduk.


"Ya sudah,besok paman akan memulangkan mu Lis. Beberapa hari ini, pekerjaan mu tidak becus. Terus saja, kamu asyik dengan ponselmu. Bahkan,bangun telat terus. Ingin sekali,bibimu menasehatimu. Akan tetapi,dia merasa tak nyaman". Ucap pak Broto, membuat Lilis menjadi gemeteran sudah.


"Paman, jangan pulang kan aku. Aku minta maaf,dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi". Rengek Lilis, sudah menangis kesegukan.


"Pulangkan saja,aku sudah dapat Art yang lebih bagus dari dia". Kai, langsung setuju dengan ayah mertuanya.


Lilis,nampak meremas ujung bajunya saat mendengar ucapan Kai. "aku mohon paman dan Kai, berikan aku kesempatan satu kali lagi". Lilis, bermohon-mohon kepada pak Broto.


Pak Broto, menoleh ke arah menantunya. Dia, ingin meminta jawaban yang tepat. "Baiklah, kami memberikan kesempatan satu kali lagi. Ini semua karena istriku,tidak nyaman dengan bibimu". Pak Broto,menghela nafas beratnya.


"Cepat sana, kerjakan tugasmu jangan malas-malasan". Perintah Kai, langsung.


Lilis,hanya mengangguk dan menuju ke arah dapur. Sesampai di dapur, Lilis mengambil alih pekerjaan Rea. Kebetulan sekali, baju-baju hanya tinggal di jemur.


Beberapa kali ponsel Lilis,berdering di atas meja. "Siapa yang menelpon, Lilis? Aku angkat,gak yah". Gumam Rea,ia menatap ke arah layar ponselnya Lilis.


Sedangkan Lilis,masih menjemur pakaian orangtuanya Rea. Mata Rea, membulat sempurna. Saat membaca nama,di layar ponselnya Lilis. "Ade,". Kata Rea, langsung meraih ponselnya dan benar saja Ade mantan kekasihnya.


Karena foto profil WhatsAppnya,sama di ponsel Rea. "Ada hubungan apa,mereka? Ada yang tidak beres, sudahlah. Palingan mereka,lagi pedekate". Rea, meletakkan ponsel Lilis kembali tempat.


***********


Besok harinya,di perusahaan.Kai,tengah di sibukkan dengan beberapa berkas-berkas di meja.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk". Teriak Kai, dari dalam.


Ceklekk.....

__ADS_1


Seorang perempuan cantik,tengah melenggang masuk ke dalam. Sepertinya,dia ingin menghampiri Kai.


Kai, langsung bangun dari tempat duduknya. Matanya memandang ke ujung kaki dan kepala, perempuan itu. Dia, nampak kebingungan karena perempuan di hadapannya tidak di kenal.


"Siapa kamu? Berhentilah....." Kai, langsung mencegah perempuan itu.


"Kai,apa kamu melupakan ku". Tanya seorang perempuan itu, semakin mendekati Kai.


"Lepaskan, tanganmu dari bahuku. Siapa kamu,ha? Aku tidak mengenali mu". Bentak Kai, mendorong tubuh perempuan itu. Agar lebih menjauhkan dirinya, nampak sekali perempuan itu tersenyum dan terus mendekati Kai.


"Elvinaaaaa....". Teriak seseorang,di ambang. Siapa lagi,kalau bukan Rea. sepertinya,dia habis membuatkan kopi untuk suaminya. Dengan langkah cepat, Rea menghampiri suaminya itu dan berada di tengah antara mereka.


"minggiiiirrr....aku perlu,Kai". Elvina, mencoba menyingkirkan Rea. Akan tetapi, Kai langsung mencegahnya.


"Jangan sentuh istriku, siapa kamu ha? Berani sekali, macam-macam". Sekali lagi, Kai membentak keras kepada Elvina.


"kak,dia mantan kekasih kakak. Bukankah,aku sudah menceritakan semuanya. Elvina, sudah lama Kai mengalami kecelakaan dan dia hilang ingatan. Sampai detik ini,dia masih belum mengingat masa lalunya. Setiap bulan kami kontrol,namun tidak ada perubahannya. maaf, pergilah...". pinta Rea,saat dia selesai menjelaskan semuanya.


Elvina, nampak syok mendengar penjelasan Rea. "Tidak,itu tidak mungkin. Dia, melupakan ku Rea".


"Bukan hanya kamu, tapi orangtuanya saja dia lupa". Jawab Rea, tersenyum. "Aku juga,di lupakannya".


"Kai,aku kekasihmu dan kita saling mencintai. Dia,dia yang sudah merebut mu dariku". Elvina, seakan-akan membuat skenario terhadap Kai. Mendengar ucapan saling mencintai, membuat Kai nampak kebingungan.


"Apa? Tidak mungkin,kita sudah berakhir. Karena kamu, menghianati kepercayaanku dan keluargaku. Itu semua,dari orangtuaku dan istriku. Yang sudah menjelaskan, tentang hubungan kita". Jawab Kai, tidak mempercayai perkataan Elvina.


"kamu ingin buktikan,ini lihatlah". Elvina, mengotak-atik ponselnya dan mencari sesuatu ". Lihatlah, ini adalah foto-foto kebersamaan kita. Kamu, tinggal geser saja dan kamu Rea. diaaaamm.... jangan ikut,campur".


"Kaka, percaya kepadaku dan keluargamu. Itu,hanya foto lama kalian". Rea, menyentuh tangan suaminya. Tidak,aku percaya padamu kak. Jika kakak, tidak goyah dengan ucapan dia.


Akan tetapi, Kai masih fokus dengan foto bersama Elvina. "Kai,keluargamu tidak menyetujui hubungan antara kita. Karena aku,anak musuh ayahmu J. Kau tahu,J bukan ayahmu. Dia adalah ayah, angkat saja dan sekaligus kembaran ayahmu. Kamu menikah dengan Rea, karena di jodohkan. Demi kebaikan bersama dan orangtuamu. Maka, hubungan antara kita menjadi korbannya". Isak tangis Elvina, berharap rencananya berhasil.


Rea,nampak terkejut mendengar ucapan Elvian. "Kurang ajar sekali,kau berbohong kepada Kai. Kakak,apa yang di katakannya. Semua itu,hanya bohong semata. Bukankah,aku menjelaskan semuanya".

__ADS_1


__ADS_2