ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Mencari Dia


__ADS_3

"Hanya satu cara untuk menutupi aib keluarga ini, nikahkan saja Liam dan Emily. Setelah itu, silahkan mereka berdua ingin melanjutkan pernikahan atau tidak. Ini semua demi kebaikan keluarga, sedangkan Emily tidak lagi. Hemmm...itulah,karena Liam orang yang terakhir melakukan hubungan itu dengan Emily". J, memberikan saran untuk mereka.


"Sayang, pernikahan bukan hal main-main. Kalau mereka menikah lalu bercerai, bukankah mereka sudah mempermainkan ikatan pernikahan suci ini". Sahut Ayunda, menatap tajam ke arah Suaminya. Bisa-bisanya dia memiliki ide segila ini,dia kira pernikahan adalah permainan begitu.batin Ayunda.


"Aku setuju,". Jawab Liam, dengan mantap. "Agar semuanya cepat beres dan aku juga merasa lega.Jika aku menikahi Emily, karena aku juga bersalah sudah menyentuh Emily. Walaupun dalam keadaan tidak sadar,anggap saja aku bertanggung jawab. Di jalanin oke,kalau tidak terserah". Liam, pasrah menerima semuanya.


"Liam,sejak kapan ayahmu mendidik seperti itu ha? Kau laki-laki, Liam. Tak sepantasnya kau, melakukan ini terhadap wanita". Bentak Farhat, sedari tadi sudah marah kepada anaknya.


"Farhan, mereka sudah besar dan dewasa. Setidaknya amankan dulu, aib keluarga ini. Anakku tidak papa, menanggung status Janda jika mereka bercerai suatu hari nanti. Daripada seorang gadis tapi tidak perawan, aku takut jika suatu hari nanti akan menjadi masalah besar". Regan, berpihak kepada J.


"Aku akan menikah dengan Emily,satu hal lagi. Aku tidak akan menceraikan Emily, kecuali dia yang meminta atau menggugat cerai di pengadilan agama ". Ucap Liam, menunduk tak berani menatap wajah ayahnya.


"maafkan aku, maafkan anakku Melisa". Vivian, memeluk erat tubuh temannya.


"Tidak apa, mereka sudah besar dan dewasa. Kedepannya nanti, mereka bisa berpikir jernih". Melisa,hanya tersenyum kecil. Biarkanlah anak-anak yang menjalin hubungan dengan pikiran mereka masing-masing.


Sebagai orang tua,hanya membimbing kedepannya nanti. "Bagaimana Emily,apa kamu mau menikah dengan Liam". Ucap J, dengan tegas.


Mendengar ucapan J, membuat Emily hanya mengangguk kepala. "Aku setuju,Om". Jawabnya. Biarkanlah aku menikah dengan Liam, bukankah suatu hari nanti aku bisa bercerai dengan baik-baik.


"Baiklah,kita nikahkan mereka secepat. Biarkanlah mereka berpikir bagaimana kedepannya nanti,kalian akan tinggal bersama". Ucap Regan, dengan tegas.


Sesama antara orang tua, mereka sepakat untuk memilih ide J. sudah pasti bahan guncingan orang-orang sekitar,kenapa Emily menikah dengan Liam. padahal Al,yang bertunangan dengannya. Seperti biasa,para orang tua melakukan pernikahan seperti pada umumnya.

__ADS_1


J, tersenyum sumringah saat Ayunda menatap wajahnya. Ck,sok bangga karena ide dia berhasil, Gerutu Ayunda. Ia mengumpat suaminya dalam hati.


"Ingat Emily,menikah adalah menjalin hubungan serius. Jangan main-main dalam pernikahan ini, tergantung kalian menjalankan seperti apa. Setidaknya menerima satu sama lain,antara pasang kalian. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, Tante hanya bisa mendoakan mu. Semoga kedepannya nanti, menjadi istri yang baik". Ayunda,mengelus lembut rambut panjangnya Emily.


"Makasih,Tante. Maaf, aku mengecewakan Tante. Tolong,jangan membenci Emily". Ia memeluk erat tubuh Ayunda, menangis kesegukan.


"Peluklah orang tuamu dan meminta maaf". Bisik Ayunda. "Tante,yakin mereka akan menerima semuanya dengan lapang dada".


Emily,hanya mengangguk lalu mendekati ayahnya. Sedari tadi hanya diam tanpa menoleh ke arah anaknya,ada rasa sakit di hati Regan. Anak pertama nya sudah menorehkan luka,yang sangat dalam.


"papah, maafkan Emily. Emily tahu,jika papah benar-benar kecewa dan sakit hati karena aku melakukan hal yang sangat fatal bagimu. Maafkan anakmu,papah. Maafkan aku,pah...maaf". Lirih Emily,ia menangis sejadi-jadinya di kaki ayahnya. Emily, meminta iba dan meminta maaf sebesar-besarnya kepada sang ayah.


Tangis Vivian, pecah melihat anaknya memohon ampun kepada ayahnya. Emily, terus-menerus meraung-raung menangis di kaki ayahnya.


"Berdirilah Emily, maafkan papahmu. Maaf,papah gagal mendidik dirimu". Akhirnya hati sang ayah,luluh juga. Ia memeluk erat tubuh anaknya,yang menangis kesegukan di pelukkan. Walaupun hati seorang ayah, begitu sakit hati dan kecewa. melihat anaknya seperti ini,di saat rapuh dan lemah. sejahat-jahat nya seorang anak, bagaimana kelakuan anaknya dan membuat masalah besar. seorang ayah,tetap memaafkan anaknya.


sebagai orang tua,tak kuat menahan melihat anaknya memohon-mohon meminta ampun dan maaf. agar kesalahannya di maafkan, tapi apakah seorang anak bisa memaafkan kesalahan orangtuanya.


Liam,hanya mematung tak berani mendekati ayahnya. jari-jari tangannya gemeteran dan wajahnya dari tadi pucat pias.


"Farhan,jangan diam saja. Peluklah anakmu,dia membutuhkan dirimu". Bisik J, sambil menyenggol lengan Farhan. Walaupun seorang anak laki-laki,ia juga membutuhkan pelukkan ayahnya di saat rapuh seperti ini.


Mendengar perkataan J, Farhan langsung mendekati anaknya dan memeluk. Begitu juga Liam,ia tersenyum kecil saat merasakan pelukkan sang ayah. Sudah lama dia tak merasakan pelukkan,dari ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Jadilah laki-laki bertanggung jawab,boy. Papah, serahkan kepada mu. Papah,tidak menuntut apapun darimu". Sekarang kau sudah besar nak, papah lupa. kapan terakhir memeluk dirimu, seperti ini. papah,masih ingat saat kau kecil selalu papah gendong kemana-mana.


"Terimakasih,pah. Maafkan aku, Liam janji tidak melakukan hal bodoh ini lagi. Setidaknya ke depan nanti, Liam akan berhati-hati ". Kini Liam, memeluk erat tubuh ayahnya. Terimakasih, atas kejadian ini. aku merasakan kedamaian dan kasih sayang kedua orang tuaku. entah sejak kapan,aku merasakan pelukkan papah. apa karena kami, memiliki kesibukan masing-masing. sehingga melupakan hal sekecil seperti ini,aku beruntung memiliki orangtua yang masih utuh.


Mereka berdua menangis bersama, begitu juga Melisa mendekati suami dan anaknya. mereka menumpahkan kerinduan yang mendalam, entah kapan terakhir kalinya mereka saling berpelukan.


Sedangkan Ayunda, memeluk erat tubuh J. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada suaminya. J dan Ayunda,sering melakukan harmonis dalam keluarganya. walaupun Al, merasa risih di peluk sang ibu dan memberikan ciuman bertubi-tubi.


"Kau ingat boy,jangan laki-laki pengecut ". J, mengacak-acak rambut Al. Sekarang bocah tengik ini, semakin besar.


"Baguslah, semuanya sudah beres". Kata Al, tersenyum smrik. "Papah,aku akan melakukan misi selanjutnya". walaupun J, bukan papah kandungku. setidaknya aku, merasakan kehangatan dalam keluarga ini.


"Lakukanlah,jika itu terbaik boy". Jawab J,kini Al meninggalkan mereka yang sedang terharu.


Setibanya Al,di dalam mobil. Ia melihat isi Ponselnya,penuh dengan panggilan tak terjawab.


(Bagaimana,apa kalian sudah dapat perempuan itu?) Al.


(Maaf,Tuan. Kami tidak menemukan keberadaan perempuan itu, katanya dia sudah tidak bekerja di supermarket. Dia sudah berhenti,baru saja)


(Apa...?? Cari di tempat lain).


Al, langsung mematikan telpon sepihak.

__ADS_1


Perintah Al,ia begitu kesal dan memukul setir kemudi mobilnya. "Sial,kemana dia kabur. Laila, kemana kau pergi akan aku cari sampai dapat" geram Al. "Kau sudah mempermainkan diriku, Laila". Al, langsung menancapkan gas mobilnya.


Satu-satunya info,dia kerumahnya Laila terlebih dahulu. Siapa tahu, Laila ada di sana. Al, juga memerintahkan kepada Dion, Zakir dan Herman. mencari keberadaan Laila,siapa tahu mereka mendapatkan informasi dimana Laila.


__ADS_2