ANTARA DUA PERASAAN

ANTARA DUA PERASAAN
Operasi (S2)


__ADS_3

"Aaaakkhh....". Dewi, memejamkan matanya saat sang suami ingin menampar wajahnya.


Akan tetapi, tamparan itu tidak melayang di wajahnya. Karena Kai, menahan tamparan satria.


"Berhenti.... menyakiti, wanita". Kai, menghempaskan tangan satria.


Rea, secepatnya memeluk Dewi yang sudah menangis dan ketakutan.


"Brengseeekk.....siapa kamu,ha? Main ikut campur, dalam urusan keluargaku". Bentak satria,yang di selimuti amarah. Saat dia, ingin memukul Kai. Dengan cepat,kai menendang perut Satria.


"Aaarghhh...". Satria, meringis kesakitan dan tersungkur ke tanah.


Dewi,juga menjelaskan bahwa suaminya kesal Kepadanya. Karena, tidak di berikan uang untuk membeli paket data.


Satria,yang terobsesi dengan game online nya. Jika, sesuatu yang tidak terpenuhi. Dia, nekat untuk menyakiti siapapun.


Satria,di usir oleh orang sekitar dan keluarga istrinya. Tak lupa, Kai memberikan bogem mentah di wajahnya.


Dengan langkah gontai, satria meninggalkan istri dan anaknya. Setelah dia, mengatakan kata talak kepada Dewi.


"Terimakasih, sudah menolongku". Ucap Dewi, tersenyum manis. Hatinya, merasa hangat karena Kai menolongnya. Beruntung sekali,jika aku memiliki suami seperti Kai. Dia, sangat sempurna menjadi seorang suami. Tapi,kenapa harus Rea? Yang selalu, beruntung sekali dan aku. Aku, selalu seperti ini.


Dewi,tak henti-hentinya memandang wajah Kai. Membuat Kai,merasa risih dan merangkul pinggang istrinya.


Saat pulang, Kai tak henti-hentinya mengomel tentang Dewi. "Aku risih, dengan tatapan Dewi".


Rea, mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang suami. "Hemm... benarkah,kalau begitu jangan dekat-dekat kak".


"Iidiihhh...siapa,juga mau dekat-dekat. Kalau,gak menolongnya tadi. Mana mau,aku ke sana". Jawab Kai, langsung membuka bajunya. "Mau mandi, gerah dan takutnya ada virus".


Mendengar ucapan Kai, Rea hanya cekikikan tertawa dan melihat sang suami menghilang di balik pintu.


Saat ke ruang tamu, dia melihat sesosok Dewi di ambang pintu. Rea, langsung mempersilahkan masuk ke dalam.


"Aku, memerlukan pekerjaan" Dewi, tertunduk dan tangannya meremas ujung bajunya.


"Kai,pasti akan membantumu. Tetapi,kamu harus berangkat sendiri. Dia, sangat susah dekat dengan seorang wanita". Jawab Rea, sebenarnya dia tak rela jika Dewi berangkat kerja dengan suaminya.


"Rea,kamu bisakan membujuknya untuk ku". Dewi, memohon kepada Rea.


"Dewi, sudah lama Kai tidak pergi ke kantor. Dia, bekerja di rumah. Apa lagi,aku tengah hamil besar. Maaf,aku tidak mengijinkan kamu berangkat kerja bersama suamiku". Rea, menepis tangan Dewi.

__ADS_1


"Rea, sampai kapan? Kamu, tetap mencurigai ucapanku". Dewi, memasang wajah sedih.


"Sudahlah,jangan membahas ini terus. Kalau,kamu berniat untuk bekerja. Masalah berangkat kerja, bisa kamu pikirkan. Tanpa,memohon untuk berangkat bersama suami orang". Bentak Rea, sebenarnya dia sudah emosi.


"Seperti itukah, kelakuan mu kepada keluarga. Dimana,letak hati nurani mu Rea". Ucap Dewi,mencekal lengan Rea saat ingin meninggalkannya.


"Lepaskan tanganmu, Dewi". Rea, mencoba melepaskan cekalan tangan Dewi. Akan tetapi, di kesusahan untuk lepas.


"Tidak, Rea. Sebelum,kamu mengijinkan dan membujuk suamimu". Jawab Rea,saat Rea menghempaskan tangannya. Tiba-tiba,dia terhuyung ke samping dan....


"Aaaaakkkkhh.... kakaaaaaak...". Perut Rea, terbentur meja dan merasakan teramat sangat sakit di bagian perutnya.


"Reaaaa... maafkan,aku...maaf". Dewi, gelabakan melihat Rea kesakitan. Dia,tidak sengaja melakukan hal ini.


"Aaaakkhh... sakkiiiiiit.... Aaaakkhh....". Rea, meringis sambil menahan perutnya.


"Reaaaaaaa.... sayang,kamu... jika terjadi, sesuatu pada istriku. Habis di tanganku". Ancam Kai, menyeringai tajam.


Dewi,hanya syok melihat apa yang terjadi. "Kai, maafkan aku...aku tidak sengaja". Dewi,terus memohon-mohon untuk tidak menyalahkan dirinya.


Bu Minah, syok melihat keadaan anaknya saat ini.


Kai, dengan sigap menancapkan gas mobilnya. Hatinya, tak kuat melihat keadaan istrinya.


"Aaaakkhh....bu, sakiiitttt... an-anakku, ti-tidak apa-apa kan... an-anakku ti-tidak apa-apa kan bu". Rea, menggenggam erat tangan ibunya.


"Rea, kamu yang sabar dan sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit". Kai,juga gelisah dan bercampur aduk perasaannya. Matanya, sudah berkaca-kaca sekuat tenaga untuk tetap menyemangati istrinya.


**************


Tiba di rumah sakit,Rea secepatnya di beri pertolongan. Kai, sudah memberitahu kepada keluarganya.


"Tuan, istri anda mengalami pecah ketuban dan secepatnya anak kalian segera di lahirkan. Maaf,kami akan melakukan tindakan operasi sesar. Ini semua, demi kebaikan ibu dan anaknya". Dokter, menyatakan bagaimana keadaan istrinya.


Kai, langsung mencekram baju dokter tersebut. "Berikan terbaik untuk istri dan anakku,jika terjadi sesuatu. Kau,akan mendapatkan akibatnya". Sorotan matanya, begitu tajam.


Sang dokter,hanya menahan rasa takutnya. "Baik,kami akan melakukan yang terbaik".


"Bagus,kalau tidak....aku akan menghancurkan rumah sakit ini dan nyawamu". Tegas Kai,masih mencekram baju dokter tersebut.


"Nak,jangan seperti ini. Lepaskan,nak". Bu Minah, mencoba menasehati menantunya.

__ADS_1


Dengan kasar, Kai melepaskan cengkeramannya.


"lakukan, sekarang...!!!". Teriak,kai yang tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar. Para dokter,hanya diam dan mengangguk kepala. Mereka, ketakutan karena keluarga Negredo sangat berkuasa.


Beberapa saat kemudian,J, Ayunda,Al dan Laila. Mereka semua,tiba di rumah sakit.


Saat ini Ayunda dan bu Minah,hanya menangis dan berpelukan. Saling menguatkan satu sama lainnya, menunggu bagaimana operasi sesar Rea.


Kai,masih setia menunggu di depan pintu ruang operasi. Tak henti-hentinya,air matanya mengalir. Ingatannya, terbayang-bayang saat Rea menahan rasa sakitnya.


"Minah,mana anak kita". Pak Broto,yang baru saja datang bersama pak hakim, istri dan anaknya.


"Pak,anak kita di dalam". Bu Minah, menangis di pelukan pak Broto.


"Sabar,semoga anak dan cucu kita baik-baik saja"


Pak Broto,tak kuasa menahan air matanya.


"Maafkan,aku". Lirih Dewi, yang sudah menunduk saja.


"Gara-gara kamu, menantuku seperti ini". Ayunda, ingin sekali menerkam Dewi. Akan tetapi,J langsung menangkap istrinya.


"Hussssttttt....jangan sekarang,di sini rumah sakit sayang". J, memeluk istrinya.


Bukan hanya Ayunda, Laila juga ingin memangsanya. Akan tetapi,Al dengan sigap menahan Laila. "Lepaskan aku,Al. Gara-gara dia, Rea seperti ini".


Mendengar suara Dewi,hati kai seketika memanas. Apa lagi,dia menemukan istrinya bersama Dewi. Sekuat tenaga, untuk tidak melakukan hal apapun.


"Aku meminta,kau pergi dari sini Dewi. Sebelum,aku bertindak macam-macam". Ancam Kai, seketika Dewi Berlahan-lahan mengundurkan langkahnya.


Tiga jam berlalu,pintu operasi terbuka lebar. Seketika,kai dan keluarganya langsung menghampiri dokter tersebut.


Mereka langsung, mempertanyakan bagaimana keadaan Rea dan anaknya.


Dokter,hanya tersenyum dan mengatakan.


"Alhamdulillah, semuanya selamat dan sehat. Ibu dan anaknya, baik-baik saja"


"Alhamdulillah,kami ingin melihatnya dok". Ayunda, langsung ingin menyelonong masuk kedalam. Tetapi,di cegah dokter lainya


Kai, tersenyum dan menangis kebahagiaan. Mendengar kabar,jika istri dan anaknya baik-baik saja dan sehat. Semua orang juga,menangis kebahagiaan dan tidak sabar bertemu Rea dan bayinya

__ADS_1


Mereka semua, mengucapkan selamat kepada Kai atas kelahiran anaknya. Ruang tunggu,menjadi ricuh dengan suara mereka.


"Selamat,tuan Kai. Anak kalian, berjenis kelamin laki-laki" Ucap dokter tersebut, seketika langsung terdiam dan menatap sang dokter. seakan-akan, ingin membunuhnya secara langsung.


__ADS_2